TRIPANJI PERSATUAN NASIONAL

1. HAPUSKAN HUTANG LUAR NEGERI 2. NASIONALISASI INDUSTRI ASING 3. INDUSTRIALISASI NASIONAL

30 Januari 2011

Penyatuan Kekuatan Nasional




Ketika neoliberalisme atau penjajahan kembali (rekolonialisme) semakin banyak mengorbankan sektor-sektor sosial, maka gerakan perlawanan juga seharusnya sudah berlangsung secara luas dan melibatkan banyak sektor sosial. Keragaman sektor sosial yang menjadi korban ini seharusnya menjadi basis material untuk perjuangan anti imperialisme.

Dari tahun 1998 hingga sekarang ini, pelajaran penting yang prlu diambil adalah terus berkembangnya berbagai manifestasi radikalisme massa rakyat, baik perjuangan yang bersifat spontan dan ekonomis maupun perjuangan-perjuangan politik. Tidak sedikit diantara perjuangan-perjuangan itu yang meraih kemenangan kecil, seperti penggulingan penguasa lokal, berhasil menunda kebijakan reaksioner, dan lain sebagainya.

Di samping itu, jika kita tinjau dan periksa kembali keadaan, maka tidak bisa dipungkiri bahwa keresahan sosial sedang mewabah. Keresahan tidak saja mencapai sektor-sektor sosial yang dirugikan secara langsung oleh ekonomi neoliberal, seperti kaum buruh, petani, dan rakyat miskin lainnya, tetapi juga sektor-sektor yang terganggung oleh konsekuensi neoliberal seperti kelompok lingkungan, kaum agamawan, dan lain-lain.

Juga dinamika baru dalam perimbangan kekuatan internasional saat ini, yakni pertentangan yang semakin jelas antara kepentingan negeri-negeri imperialis dan munculnya negara-negara yang memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Mana ada negara di dunia sekarang ini yang tidak berbicara soal kepentingan nasionalnya, meskipun dengan berbagai ekspresi yang berbeda; jika negeri imperialis punya kepentingan nasional untuk memperluas pasar dan eksploitasi, maka negeri dunia ketiga mengekspresikan kepentingan nasionalnya dalam bentuk nasionalisme ekonomi atau kemandirian nasional. Juga fenomena pergolakan politik di negeri-negeri Arab, khususnya Tunisia, Aljazair, dan Mesir, yang judul besarnya adalah “anti-kediktatoran dan reformasi politik”.

Sementara itu, akibat dari berbagai kebijakan neoliberalisme di Indonesia, maka hampir semua rumusan mengenai problem pokok bangsa Indonesia saat ini sudah mengerucut pada imperialisme. Dan, sebagai konsekuensi dari ketundukan dan keterlibatan langsung rejim SBY-Budiono sebagai mesin neoliberal, maka bisa disimpulkan pula bahwa “rejim SBY-Budiono adalah pusat dari masalah, yaitu imperialisme”.

Dulu, Bung Karno punya rumusan sangat jitu dalam soal bagaimana melawan imperialisme dan neo-kolonialisme, yaitu: “sammenbundeling van alle revolutionaire krachten.” Sementara untuk sekarang ini, dengan memperhatikan rumusan politik mengenai siapa kawan, siapa musuh, dan kaum netral, maka rumusan yang paling tepat adalah: “mempersatukan semua kekuatan yang bisa dipersatukan, untuk melawan imperialisme, khususnya perwakilan imperialisme di Indonesia: SBY-Budiono”.

Apa yang hendak ditegaskan editorial ini, adalah “bahwa jika perjuangan anti-imperialisme mau berhasil di Indonesia, maka ia harus menggabungkan segala potensi kekuatan nasional yang ada. Tidak bisa perjuangan anti-imperialisme itu dilakukan sekaligus dengan memperbesar barisan atau jumlah musuh, atau menyerang musuh-musuh non-pokok, dan melemahkan potensi-potensi kekuatan nasional yang bisa didorong maju.”

Soal serangan imperialis terhadap persatuan nasional ini, saya mengutip satu pernyataan dari salah seorang penulis pidato Bung Karno, yaitu Nyoto, yang berkata: “kolonialisme melakukan usaha pecah-belah, mengadu domba suku-bangsa yang satu dengan yang lain, partai yang satu dengan yang lain, agama yang satu dengan yang lain, usaha-usaha separatisme, pendeknya, menyuap semua orang yang bisa disuap, memecah-belah segala sesuatu yang bisa dipecah-belah, dan dengan demikian mencoba merusak Republik, agar abadilah kekuasaan kolonial mereka.”

Kemudian, apa yang menjadi tugas kita selanjutnya adalah mengubah imbangan kekuatan yang ada saat ini, tentunya agar memihak posisi kita. Kita harus mendorong maju kekuatan politik atau individu yang berfikiran pro-kepentingan nasional, baik tokoh di parlemen ataupun di luar parlemen. Disamping itu, untuk mengubah imbangan kekuatan itu, maka kita perlu juga memikirkan soal bagaimana “membangunkan 230 juta rakyat indonesia dari tidurnya”, agar mereka menjadi tenaga-tenaga anti-imperialis. Tidak mesti seluruhnya memang, tetapi harus sebagian besarnya.

Metode-metode pembangunan kekuatan, seperti advokasi, konsultasi kerakyatan, media alternatif, memenangkan kekuasaan lokal, dan lain sebagainya, bisa menjadi metode perjuangan bersama untuk mengubah imbangan kekuatan tersebut.

Salam

Organisasi Pergerakan Serukan “Penggulingan SBY-Budiono”




Oleh : Andi Nursal

Sejumlah organisasi pergerakan di Jakarta, diantaranya Repdem, Petisi 28, Gapura, LMND, FPPI, Komunitas Kretek, dan FAM UMT, menggelar aksi keliling untuk mensosialisasikan rencana aksi besar-besaran pada tanggal 28 januari 2011 mendatang.

Aksi dimulai di jalan Jalan Salemba, dimana puluhan peserta aksi berbaris membagi-bagikan brosur dan seruan aksi. Sementara itu, di samping barisan massa aksi, sebuah mobil pembawa sound-system bergerak agak pelan.

Orator menyampaikan pidato mereka secara bergantian di atas mobil sound-system. Dengan antusias rakyat di pinggir jalan menyaksikan iringan-iringan massa aksi, bahkan ada diantara warga yang rela menghentikan aktivitas.

Dari lampu merah jalan Pramuka, kemudian ke Salemba, lalu bergerak menuju jalan Diponegoro. Jalur ini dikenal sebagai jalur revolusi pada saat kebangkitan gerakan rakyat pada tahun 1998.

Di jalan Diponegoro, massa mengakhiri aksi keliling dengan membakar ban dan sebuah poster besar bergambar SBY. Aktivis Komunitas Kretek, Roso Suroso, tampil membacakan puisi perlawanan yang diberi judul “citra pesona”.

Serukan penggulingan SBY-Budiono

Tuntutan utama Front Pemuda untuk Revolusi Indonesia adalah penggulingan rejim neoliberal, SBY-Budiono. Dalam pandangan mereka, rejim SBY-Budiono sudah mengalami gagal di segala bidang, tetapi berusaha menutupi kegagalan itu dengan berbagai kebohongan.

Salah satu orator, yaitu Faisal dari Repdem, menyoroti kegagalan SBY dalam memberantas korupsi dan menegakkan hukum. Alih-alih bisa memberantas korupsi, kata Faisal, SBY justru tidak sanggup mengungkap dengan terang kasus Gayus Tambunan.

Sementara orator lainnya, Hendra Lamen Saputra dari LMND, menjelaskan soal pengangguran yang semakin membengkak di bawah rejim SBY-Budiono, termasuk pengangguran terpelajar alias sarjana.

Mantan Gitaris Led Zeppelin, Jimmy Page, Berkunjung Ke Kuba



Oleh : Rudi Hartono (PL)

Musisi Inggris Jimmy Page, yang juga dikenal gitaris band musik terkenal Led Zeppelin, membuat kejutan dengan berkunjung ke Kuba untuk beberapa hari.

Kantor berita resmi Kuba, Prensa Latina, melaporkan bahwa musisi berusia 67 tahun ini meninggalkan Kuba pada hari Senin lalu, setelah mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Kuba dan membeli souvenir khusus bergambar “Che Guevara hasil potret Alberto Korda, juga membeli sejumlah CD musisi lokal.

Jimmy Page, yang turut menulis lirik lagu terkenal “Stairway to Heaven” bersama vokalis Robert Plan, menginap di hotel tua di Havana, Hotel Saratoga, yang juga pernah menjadi tempat menginap musisi rock n roll dunia lainnya.

Led Zeppelin telah menginspirasi sejumlah band lokal di Kuba dan menjadi pengikut setia band tersebut di negara kepulauan itu. Bahkan, ketika mengetahui kunjungan Jimmy Page ini, sejumlah musisi lokal berusaha bertemu dengannya.

Musisi dari band lokal, Tesis de Menta, sebuah band yang mengibarkan bendera rock di Kuba, dengan vokalis yang juga penyiar radio terkenal, Juan Camacho, berhasil mewujudkan “mimpinya” setelah bertemu dan berdiskusi dengan Jimmy Page pada hari Sabtu lalu.

Setelah sempat dikerumuni banyak orang di lobby Hotel, Jimmy Page, yang mengenakan celana pendek dan kaos hitam, berbicara selama dua puluh menit dengan musisi Kuba mengenai karirnya.

Ia tertarik dengan karya tater Maxim, markas besar band rock Kuba, yang banyak dipengaruhi oleh Led Zeppelin dalam kancah lokal.

Penyanyi Tesis de Menta, Beatrix Lopez, mengatakan kepada Prensa Latina bahwa “dengan semangat muda” dan juga dengan “kuat”, Jimmy Page bercerita mengenai perkawannya dengan gitaris Inggris, Jeff Beck, yang juga menjadi bagian dari band terkenal, The Yardbird, pada tahun 1960-an.

Ia dengan antusias memuji karya musisi Belgia yang berakar pada Arab, Natasha Atlas, yang dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Eropa.

Perdomo, pemimpin Band Tesis de Menta, menambahkan bahwa gitaris Led Zeppelin ini, yang lagunya “Stairway to Heaven” dipilih majalah musik “Rolling Stone” sebagai musik terbaik dalam sejarah, mengekspresikan ketertarikan pada band rock Kuba dan berbagai genre lokal yang berkembang.

Jimmy Page mendirikan Led Zeppelin pada tahun 1968 dengan Robert Plant, yang beberapa bulan lalu kebetulan mengunjungi Kuba, bassis John Paul Jones, dan pemain drum John Bonham. Led Zeppelin, band rock paling berpengaruh sepanjang sejarah, akhirnya bubar pada tahun 1980. Sejak itu, anggota band hanya bertemu dan berkumpul pada acara-acara khusus.

Reuni terakhir mereka terjadi pada tahun 2007 di sebuah stadion di London, dalam sebuah konser untuk menghormati orang yang membantu Led Zeppelin dan mendirikan Atlantic record, Ahmed Ertegun (1923-2006).

Setelah pertunjukan itu, bereda rumor secara luas bahwa mereka akan kembali dalam satu panggung, tetapi untuk sekarang, band Led Zeppelin tidak mungkin untuk disatukan. Para penggemar Led Zeppelin di seluruh dunia masih berharap band ini bisa bersatu kembali dan meramaikan kancah musik dunia.

Mahasiswa Menyindir SBY Dengan Mengumpulkan Koin



Oleh : Kamarudin Koto

Puluhan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggelar aksi pengumpulan koin untuk gaji Presiden SBY. Dengan mengenakan topeng bergambar Presiden SBY, para peserta aksi mengedarkan kardus kosong untuk mengumpulkan sumbangan koin dari rakyat.

Aksi ini dilakukan di persimpangan Hotel Sahid Surabaya. Sebuah spanduk berukuran besar, dengan bertuliskan “Gerakan Recehan Dari Rakyat untuk Gaji Presiden, dipampang di pinggir jalan. Sementara seorang aktivis menyampaikan orasi-orasi mengenai tujuan aksi ini.

Menurut Ketua LMND Jatim Arif Fachruddin Ahmad, aksi ini merupakan sindiran kepada Presiden SBY, yang meminta kenaikan gaji di tengah krisis ekonomi hebat sedang melanda mayoritas rakyat.

“Keluhan Presiden itu tidak beralasan. Sebab, meskipun sudah 7 tahun belum menerima kenaikan gaji, tetapi gaji Presiden SBY masih termasuk yang tertinggi di dunia,” ujar Arif.

Dengan melontarkan keluhan mengenai gaji, Arif Fachruddin menganggap Presiden SBY seperti tidak mau tahu dengan penderitaan yang dialami oleh rakyat. “Seorang negarawan seharusnya lebih peka dengan penderitaan rakyat, ketimbang dirinya,” ujar Arif Fachruddin.

Minggu lalu, di depan peserta rapat pimpinan (rapim) TNI dan Polri 2011, Presiden SBY melontarkan keluhan mengenai gajinya yang belum naik selama 7 tahun. “Sampaikan ke seluruh jajaran TNI dan Polri, ini tahun keenam dan ketujuh, gaji presiden belum naik. Iya, ini betul,” kata SBY saat curhat di depan prajurit TNI.

Terhadap pernyataan itu, berbagai kalangan pun melontarkan kritikan pedas terhadap Presiden yang bekas Jenderal itu. Sebagian besar menganggap curhat Presiden mengenai gaji tidaklah etis.

Di jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, muncul semacam gerakan moral untuk menyumbangkan koin kepada Presiden. Soal gaji bagi pejabat memang persoalan sensitif, apalagi di tengah krisis ekonomi yang melanda rakyat.

Koin akan diserahkan kepada Partai Demokrat

Aksi pengumpulan koin ini tidak dilakukan untuk sehari saja, tetapi rencananya akan dilanjutkan hingga beberapa hari ke depan. Untuk besok, LMND Surabaya berencana akan menggelar aksinya di taman Bungkul, daerah gusuran pembangunan tol tengah kota, dan kampung Stren Kali.

“Kami tidak melakukannya di kampus, sebab kampus sedang liburan,” ujar Arif Fachruddin.

Selain itu, tambah Arif Fahcruddin, uang koin yang berhasil dikumpulkan akan diserahkan kepada Presiden SBY melalui partainya, yaitu partai demokrat. “Kami akan mendatangi kantor Partai Demokrat dengan pakaian gembel, dan menyerahkan koin ini untuk diberikan kepada Presiden,” tegasnya.

Gerakan Pemuda Desak Rejim SBY-Budiono Mundur



Oleh : Ulfa Ilyas

Sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda, yang tergabung dalam Gerakan Pemuda untuk Revolusi Indonesia (GPRI), menyerukan agar rejim SBY-Budiono segera mengundurkan diri sebelum digulingkan paksa oleh gerakan rakyat.

Seruan itu disampaikan oleh GPRI saat menggelar aksi massa di depan Istana Negara, siang tadi (28/1). Aksi dimulai depan stasiun Gambir, lalu bergerak dengan “long-march” menuju Istana Negara.

Seorang demonstran mengenakan topeng bergambar “SBY dengan hidung pinikio” berdiri di barisan terdepan. Disamping itu, ada pula patung SBY mengenakan kopiah dengan di beri warnah merah pada bagian pipi kanan dan kiri.

“Ini adalah perlambang dari rejim kebohongan, yaitu pemerintahan yang suka membohongi rakyat dengan janji muluk-muluk dan manipulasi statistik, “ ujar demonstran bertopeng Pinokio.

Ketika massa GPRI sampai di jalan Merdeka Utara, sekitar 200 meter dari Istana Negara, massa berhenti dan menggelar orasi-orasi politik secara bergantian. Lamen Hendra Saputra, ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, memandu setiap pimpinan organisasi untuk menyampaikan orasi-orasi.

Saat berada tepat di depan Istana Negara, ratusan demonstran ini melemparkan koin secara serempak ke arah istana, sebagai sindiran atas “curhat Presiden yang meminta kenaikan gaji”.

“Saudara-saudara, mari kita lemparkan koin ini ke dalam istana negara. Supaya Presiden SBY, yang tidak tahu malu, mengerti akan penderitaan rakyat,” ujar korlap di atas mobil pembawa sound-system.

Tuntutan Tritura

GPRI, yang beranggotakan sedikitnya 35 organisasi pergerakan mahasiswa dan rakyat, mengajukan tuntutan yang disebut “Tritura”, atau Tiga Tuntutan Rakyat, yaitu turunkan harga, tangkap koruptor dan pengemplang pajak, dan turunkan rejim SBY-Budiono.

Ketiga tuntutan itu, menurut seorang orator dari mahasiswa, merupakan jawaban mendesak atas persoalan rakyat sekarang ini, tetapi jika tidak segera diwujudkan, maka bangsa Indonesia akan semakin terpuruk.

GPRI memandang bahwa rejim SBY-Budiono, parlemen, dan seluruh penegak hukum sudah melakukan penghianatan kepada rakyat. Akibatnya, pemerintahan dijalankan dengan penuh kebohongan, hukum diputar-balikkan, dan berkhianat kepada Pancasila dan UUD 1945.

Sebagaimana dikatakan oleh humas GPRI, Agus Priyanto, bahwa tidak ada lagi alasan untuk mempertahakan rejim SBY-Budiono, sebuah rejim yang terus-menerus melakukan pembohongan dan manipulasi kepada rakyat, sementara rakyat dibiarkan terus hidup miskin dan melarat.

SBY Bisa Berakhir Seperti Ben Ali Di Tunisia

Menjawab pertanyaan soal masa depan pemerintahan SBY, tokoh pemuda dan pimpinan Petisi 28, Haris Rusli Moti mengatakan, pemerintah SBY akan berhadapan dengan dua keadaan, yaitu meluasnya perlawanan rakyat dan kehilangan legitimasi politik.

“Jika Presiden SBY tidak mengambil langkah-langkah radikal untuk mengatasi persoalan seperti kasus century dan mafia pajak, maka dia akan bernasib seperti Presiden Ben Ali di Tunisia atau Husni Mobarak di Mesir,” kata Haris Rusli Moti.

Sementara jika SBY memilih untuk bertahan, maka dia akan kehilangan “kekuasaan secara real” untuk menjalankan pemerintahan karena kehilangan kepercayaan sangat luas dari masyarakat.

Untuk itu, Haris Rusli Moti memberikan dua pilihan kepada SBY, yaitu mundur secara terhormat atau digulingkan oleh gerakan rakyat seperti kasus Tunisia dan Mesir.

Sejumlah aktivis ditangkap

Meskipun waktu sudah pukul 18.00 WIB, massa GPRI tetap bersemangat dan memilih bertahan di depan Istana Negara. Tidak hanya itu, sebagian demonstran yang beragama Islam menjalankan shalat magrib di depan Istana Negara.

Tidak lama kemudian, pihak kepolisian memberikan ultimatum agar massa segera meninggalkan lokasi aksi. Akan tetapi, tuntutan itu diabaikan oleh demonstran dan seorang orator menegaskan bahwa mereka akan tetap bertahan hingga SBY keluar menemui massa.

Namun, bersamaan dengan dikeluarkannya ultimatum terakhir, hujan deras mengguyur daerah sekitar istana negara. Meski begitu, mahasiswa tetap memilih berdiri di lokasi sambil membentuk rantai manusia.

Akan tetapi, tatkala barusan pasukan PHH bergerak dari arah depan Istana Negara menuju arah kumpulan demonstran, para mahasiswa ini memilih untuk membubarkan diri.

Sayang sekali, barisan belakang massa GPRI sempat bentrok dengan pasukan PHH dan sejumlah aktivis tertangkap. Tidak diketahui secara pasti mengenai jumlah aktivis yang tertangkap. Akan tetapi, dari pihak LMND mengaku, empat orang anggotanya ditangkap oleh pihak kepolisian, yaitu Anton (Unisma Bekasi), Lukman (Unisma Bekasi), Bili (Unisma Bekasi), dan Stefanus (IISIP).

Tidak hanya itu, mobil komando dan sopirnya pun sempat ditahan oleh Polisi, sebelum akhirnya dibebaskan kembali. Lubis, seorang aktivis Rakyat Bergerak, juga sempat ditangkap dan dipukuli Polisi, tetapi kemudian dibebaskan.

Gerakan Koin Pesangon Untuk SBY Di Jogjakarta



Oleh : Muhammad Fatoni

Ratusan massa dari Beberapa organisasi gerakan di DIY menyiapkan pesangon buat pemerintahan SBY. Massa yang tergabung dalam komite Revolusi Rakyat ini menggelar aksinya longmarch dari Tugu Yogyakarta sampai kantor pos besar DIY.

Dalam orasinya Slamet Was Air selaku Koordinator umum Komite revolusi rakyat menilai, pemerintah SBY sudah keterlaluan. Selama tujuh tahun pemerintahan hanya seperti “polisi India”, yaitu serba terlambat dalam segala hal. Selama ini kebijakan-kebijakan tidak membela rakyat, tetapi lebih mementingkan pencitraan figur presiden.

Sebagaimana era kapitalis lanjut ini yang penuh kebohongan. Pemerintah akibat citra-citra mampu bertahan hingga dua periode dengan membohongi publik. Ada kriteria kebohongan atau pengingkaran menurut Komite Revolusi Rakyat. Pertama, ingkar hukum. Kasus mafia hukum buktinya. Bagaimana mungkin orang dipenjara justru nglencer, kasus HAM yang tak dituntaskan, dan sebagainya. Hukum telah diplintir. Kedua, ingkar janji atau dusta yang sengaja melalaikan janjinya. Hukumnya seperti berkhianat, karena melalaikan amanat konstitusi.

Koin pesangon untuk SBY

Selain menggelar aksi massa, Komite Revolusi Rakyat juga mengumpulkan koin untuk pesangon Presiden SBY jika sudah dipecat. Ada banyak sekali warga masyakat yang menyumbang koin untuk pesangon SBY.

Penggalangan koin untuk SBY ini sekaligus sebagai sindirian atas curhatnya beberapa pekan lalu, saat meminta kenaikan gaji di hadapan anggota TNI/Polri. Di mata gerakan mahasiswa ini, curhat SBY itu sangat kontradiktif dengan kenyataan yang dialami oleh rakyat, seperti kaum buruh yang tidak pernah naik upahnya, kaum tani yang sulit menjual hasil produksi, hingga sebagian besar rakyat sulit mendapatkan pekerjaan.

Ketua Partai Rakyat Demokratik DIY, Budiman HK, menjelaskan bahwa banyak sekali persoalan yang dihadapi rakyat, diantaranya persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lain sebagainya, yang butuh perhatian Presiden SBY.
“Masih banyak kasus gizi buruk, rakyat makan nasi aking, putus sekolah, hingga kasus bunuh diri, yang seharusnya diperhatikan oleh SBY,” tegasnya.

Komite Revolusi Rakyat mempunyai catatan mengenai 9 dosa besar SBY-Boediono, yaitu: Pertama, tidak tuntasnya kasus Lumpur Lapindo, Munir, Marsinah, Wartawan Udin, Tanjung Priuk, dan lain-lain sehingga tidak adanya supremasi hukum di Indonesia; Kedua, Berkiblatnya perekonomian Indonesia pada neo-liberalisme; Ketiga, Membiarkan biaya pendidikan dan kesehatan semakin mahal sehingga tidak terjangkau oleh rakyat; Keempat, Ketidak berpihakan terhadap kaum buruh; Kelima, Membiarkan perlakuan diskriminatif terhadap buruh perempuan; Keenam, Menaikkan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, dan telepon; Ketujuh, Tidak selesainya polemik undang undang keistimewaan Yogyakarta secara benar dan proporsional; Kedepalan, Tindakan kriminalisasi terhadap para anggota oragnisasi rakyat yang menentang kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat; dan kesembilan, gagalnya mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Komite revolusi rakyat, yang terdiri dari 21 organisasi gerakan di DIY diantara HMI MPO, SMI, GMKI, IMM, Pembebasan, LMND, PRP, NPMSB IKPM Kep Riau, PPMI dan PRD, melakukan pembakaran Foto SBY, juga melakukan pemblokiran jalan yang mengakibatkan malioboro macet.

Aksi diakhiri dengan pengiriman koint receh di kantor pos besar DY hasil dari penggalangan kepada dari rakyat jogja sejumlah 99.000 sebagai pesangon untuk SBY dari rakyat yogjakarta.

24 Januari 2011

Oliver Stone, Amerika Latin dan Indonesia


Oleh : Zulkhair Burhan

Opini Gita Wirjawan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, mengenai Nasionalisme Ekonomi (Kompas/7 Oktober 2010) menuai banyak tanggapan kontra karena pandangannya dianggap justru menafikan kedaulatan ekonomi. Tema mengenai kedaulatan belakangan memang seolah menjadi tidak penting seiring dengan semakin terintegrasinya kita (Indonesia) dengan logika pasar bebas dihampir semua sektor kehidupan. Kedaulatan kemudian hanya menjadi konsumsi akademis bagi para “penikmat” kajian-kajian kritis dan selalu berakhir tragis ketiga berhadapan dengan logika Negara yang justru dibanyak aspek menganggap kedaulatan menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan apalagi ketika berhadapan dengan “kuasa besar”. Namun tidak banyak dari kita yang tahu bahwa di belahan dunia lain yang justru “sedapur” dengan negara Paman Sam terdapat beberapa negara di kawasan Amerika Latin yang sedang giat berusaha menerjemahkan dan mempraktekkan kedaulatan dalam makna yang sebenarnya.

Oliver Stone & Revolusi Bolivarian

Apa yang sedang terjadi di kawasan Amerika Latin inilah yang coba dipotret seorang sutradara langganan Academy Award, Oliver Stone, melalui film bergenre dokumenter dengan durasi sekitar 120 menit yang berjudul South of The Border. Film ini, menurut Stone, bertujuan untuk mengkhabarkan bahwa dibagian selatan Amerika sedang terjadi perubahan yang jarang disorot dan sebaliknya para pemimpin di kawasan ini sering menjadi objek propaganda “hitam” media barat.

Meski film ini berisi wawancara dengan beberapa presiden di kawasan Amerika Latin, antara lain; Hugo Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia), Lula da Silva (Brasil), Christina Kirchner (Argentina) dan suaminya yang juga mantan presiden Nestor Kirchner, Fernando Lugo (Paraguay), Rafael Correa (Ecuador), dan Raul Castro (Cuba). Namun Stoner lebih fokus mendokumentasikan keberhasilan Venezuela dibawah Hugo Chavez dengan Proyek Bolivarian-nya. Lalu bagaimana sebenarnya proses pembangunan yang sedang terjadi di negeri Simon Bolivar itu?

Michael Lebowitz, menyatakan bahwa pembangunan yang sedang gencar di Venezuela pada dasarnya bertumpu pada tiga aspek, yaitu: (1) pembangunan manusia (human development), (2) pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, (3) kepemilikan sosial dan pengambilan kebijakan berbasis partisipasi dalam komunitas dan tempat kerja. Dan menurutnya lagi, konstitusi Venezuela sangat mengakomodir ketiga aspek diatas sebagai alternatif atas logika kerja neoliberalisme. Ketiga aspek ini tidak hanya menjadi lip service atau retorika politik belaka namun lebih dari pada itu dia terejawantah dalam kebijakan ekonomi politik pemerintahan Chavez.

Mengenai pembangunan manusia misalnya, dalam rangka meningkatkan produksi pangan yang dikemas dalam kebijakan “Kedaulatan Pangan” melalui kerjasama bilateral dengan China yang disepakati pada bulan April lalu, pemerintahan Chavez akan mengiri petani-petaninya bersekolah di universitas-universitas terkemuka di Tiongkok. Atau misalnya melalui kebijakan yang disebut Canaima, Kementerian Pendidikan Venezuela tahun ini akan memberikan 768 ribu laptop mini secara gratis untuk kelas 1 dan 2 tingkat Sekolah Dasar. Selanjutnya, dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, khususnya kebutuhan pangan melalui kebijakan “Kedaulatan Pangan” yang bertujuan untuk menghindari ketergantungan terhadap produk impor, maka pemerintahan Chavez mengambil langkah serius dengan mengucurkan dana sekitar kurang dari setengah milyar bolivar pada tahun 1998 hingga 20 milyar bolivar pada tahun 2009. Karena program ini pula sehingga Venezuela berhasil mengurangi angka malnutrisi dari 21 % menjadi 60% pada periode yang sama. Selain itu, Chavez juga menasionalisasi perusahaan Agroislena milik Spanyol yang menyediakan bahan-bahan pertanian. Terakhir, dan ini yang saya kira penting, terkait kepemilikan sosial dan partisipasi dalam pengambilan kebijakan. Ini bisa terlihat pada program yang disebut “Tiznados River Socialist Agrarian Project”, program ini berupa pendirian perusahaan produksi pangan milik negara dengan berbasis partisipasi pekerja dalam pengambilan keputusan, sebagai bentuk tanggungjawab terhadap komunitas lokal, dan menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan dibanding pencapaian profit. Selain itu, sejak 4 tahun terakhir rakyat Venezuela telah mengorganisir diri dalam dewan-dewan komunal. Tiap dewan beranggotakan sekitar 150 keluarga di daerah perkotaan. Sementara di daerah pedesaan dan masyarakat adat, tiap dewan terdiri 20 dan 10 keluarga.

Dewan-dewan inilah yang menjadi jembatan aspirasi terhadap pemerintah dan juga digunakan untuk meningkatkan kapasitas masing-masing anggota dewan dengan mendiskusikan banyak hal termasuk melakukan diskusi rutin menyangkut konstitusi Negara.

Sejalan dengan tiga pondasi serta prakteknya diatas, Chomsky dalam New World of Indigenious Resistance, melihat bahwa spirit yang melandasi setiap aktivitas kehidupan masyarakat di Amerika Latin pada umumnya dan Venezuela pada khususnya adalah spirit “comunalidad” dan “interculturalidad”. Yang dalam konteks Venezuela bisa diartikan bahwa dalam keberagaman tetap terjalin semangat komunalisme. Spirit ini pula yang secara substansial melandasi keteguhan prinsip Chavez untuk mempertahankan kedaulatan Negara, sekali lagi tanpa tawar menawar.

Kita: Indonesia

Kasus Venezuela yang saya paparkan diatas bukan berarti tanpa cela karena disana sini juga masih terdapat banyak kekurangan. Namun yang membuatnya berbeda karena sejak awal semua kebijakan dijalankan untuk kepentingan masyarakat dan melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses pembangunan. Di banyak aspek kita tentu sangat berbeda dengan Venezuela sehingga sangat rumit untuk mengadopsi ide-ide perubahan ala Chavez hingga menjadi manifest di bangsa ini. Namun yang mungkin membuat kita sama adalah bahwa dibanyak aspek kedaulatan kita sedang diuji ketangguhannya. Bangsa ini bukan hanya dipusingkan dengan persoalan perbatasan yang selalu mengundang kisruh tapi juga soal pilihan platform pembangunan yang seringkali justru harus “menggadaikan” sedikit demi sedikit kedaulatan yang kita miliki. Dan parah nya karena harus menjadikan rakyat yang seharusnya menjadi pemegang kedaulatan tertinggi menjadi korbannya.

Venezuela dan beberapa negara di Amerika Latin juga sedang menghadapi berbagai macam persoalan menyangkut kedaulatan dan di banyak kasus selalu berhadapan vis a vis dengan negara seteru utamanya, Amerika Serikat. Namun perlahan-lahan tapi pasti mereka terus membenahi diri dengan pilihan platform pembangunan yang betul-betul berbasis partisipasi aktif masyarakat sehingga kosa kata “kedaulatan” menjadi ritme aktivitas masyarakat mereka tiap hari dan tidak hanya menjadi konsumsi intelektual namun miskin makna dan pengejawantahan.

Akhirnya, mengutip seorang Taoist terkenal, Lao-Tzu yang mengatakan bahwa seorang pemimpin dikatakan baik ketika apa yang dilakukannya membuat rakyatnya selalu merasa sedang merawat diri sendiri. Betulkah kita sedang merawat diri kita sendiri?

Cerita sexi


BAYANGAN YANG HILANG


Parno semaput. Bayangannya tiba-tiba hilang. Sedang bayangan teman-temannya tetap ada menjulur sekian derajat ke sebelah barat.
"Lho, bayanganku mana?" serunya terkejut.
Teman-temannya saling pandang.
"Kok bayanganku tak ada?" Parno berlari ke sungai. Ia bertambah panik karena bayangan dirinya tak menampakkan wujud aslinya. Tuhan tak adil! Bukankah aku belum mati, dan kenapa bayanganku tak ada?! gerutunya dalam hati.
"Ragil, kamu lihat bayanganku?" tanya Parno sekembali dari sungai.
"Tersangkut di pohon barangkali!" sahut Ragil sekenanya.
"Jangan bercanda kamu, Gil!" hardik Parno kesal.
"Bukannya kamu yang bercanda dengan pertanyaanmu itu?"
"Aku serius, Gil. Coba lihat, bayanganku tidak ada, kan?"
Ragil memperhatikan tubuh Parno yang berdiri tegak. "Gila! Tak ada bayangannya!" teriaknya tak sadar. Terus memanggil teman-temannya yang lain. Teman-teman lainnya pada bingung.
"Eh, ke mana bayangan diri kamu, Parno?" tanya Parmin terheran-heran.
Lalu Darto mengelilingi tubuh Parno, " Kok bisa ya, bayanganmu tidak kelihatan? Sedang matahari begitu tajam menyorot kita!" Akhirnya ketiga temannya itu kabur meninggalkan Parno yang bingung, berteriak sendirian:
"Bayangan Parno hilang! Bayangan Parno hilaaannngg!"
***
Kejanggalan yang dirasakan Parno tidak akan diketahui orang lain jika Parno tidak over akting. Tapi karena Parno sering panik sendiri akhirnya semua orang jadi tahu kalau kepanikan Parno itu dikarenakan ia merasa kehilangan bayangannya sendiri. Orang-orang yang akhirnya jadi pada tahu itu, akan memperhatikan tindak-tanduk Parno jika lewat di depannya. Akibatnya Parno jadi sering salah tingkah atau menjauhkan diri dari terik matahari agar 'kejanggalannya' tidak begitu tampak. Parno akhirnya sering memilih berjalan di tempat yang teduh atau membawa payung untuk menghindari sorot matahari.
"Lihat si Parno, kayak banci saja siang-siang begini pakai payung!" celoteh Mirjan yang tidak tahu masalah yang sedang dihadapi Parno.
Orang-orang yang melihatnya pada tertawa.
"Pantatnya sambil digoyang, dong," teriak Gojek memberi aplus.
Parno jadi serba-salah. Tujuannya bawa payung untuk mengelabui orang-orang yang tidak tahu bila dirinya sudah tidak punya bayangan. Bukan untuk bergaya. Sial! gerutu Parno, kesal.
Di rumah, Parno merenung. Kenapa ia kehilangan bayangan dirinya. Apakah bayangan diri itu bisa hilang seperti barang-barang lainnya? Misalnya seperti benda-benda yang ada di dalam rumahnya? Kalau dicuri, apa bayangan bisa dijual? pikiran Parno mulai ngelantur. Mau cerita kepada ibunya, tak mungkin karena ibunya sudah lama meninggal.
"Rini, apakah kamu punya bayangan?" tanya Parno kepada adiknya yang sedang asyik membaca buku.
"Bayangan apa maksud, Mas?"
Parno menarik tangan adiknya terus diajak keluar rumah. "Coba kamu berdiri tegak," pinta Parno.
Rini yang masih bingung itu menuruti saja perintah kakaknya. Rini menegakkan diri di bawah matahari. "Nah, tuh kan, kamu punya bayangan. Tapi kenapa...," Parno tak meneruskan ucapannya.
"Kenapa apanya, Mas?" kejar Rini semakin tak mengerti.
"Kamu tidak melihat, Rin? Kamu tidak melihat bayangan yang lepas dari tubuhku?"
Sang Adik memperhatikan tubuh kakaknya dari kepala sampai ke kaki. "Hah! Mas Parno tidak punya bayangan? Ba-Bapaaakk," Rini berlari ke dalam rumah meninggalkan Parno sambil berteriak-teriak memanggil ayahnya.
***
"Kurang ajar! Siapa yang mencuri bayanganku?" tukas Parno sambil berjalan menuju stasiun siang itu. Kereta tiba-tiba lewat di jalur sebelahnya. "Kereta saja punya bayangan, masak aku tidak!"
Kereta yang baru datang itu berhenti di jalur empat. Para penumpang berhamburan keluar sambil menenteng bawaannya melewati Parno yang tengah dilanda kebingungan yang amat sangat. Parno melihat semua penumpang yang turun dari kereta memiliki bayangannya sendiri-sendiri. Ini benar-benar aneh, pikirnya. Lalu ia berdiri di dekat WC umum, tujuannya untuk menghindari terik matahari. Ia melihat kantin. Beberapa orang tengah makan siang di kantin itu. Glek! Jakun Parno bergerak naik turun. Lapar di perut Parno menguap. Parno masuk ke kantin, pesan makan dan air teh dingin. Selesai makan ia keluar stasiun, berjalan menuju pasar. Para pedagang kaki lima berjajar di sisi trotoar.
"Jambret. Jambreeett!" teriak seorang ibu tepat di sebelah Parno. Para pedagang kaki lima berhamburan ke tengah jalan setelah mendengar perempuan itu berteriak.
"Mana jambretnya, Bu?" tanya tukang pakaian dalam.
"Ituu!"
"Yang ini?!" teriak tukang buah sambil membawa pisau menunjuk ke arah Parno.
"Bukan, bukan itu. Tapi yang bawa tas Ibu itu. Itu...." seru perempuan itu sambil menuding-nuding seorang lelaki yang matanya beringas.
Namun tidak diduga, tiba-tiba saja lelaki itu ikut-ikutan berteriak maling sambil menunjuk ke arah Parno. Tapi Parno kali ini cerdas, ia yang sudah kehilangan sejak lama, balas berteriak dan balik menuding maling ke arah lelaki itu.
"Ini dia malingnya!" teriak Parno langsung. "Orang ini yang mencuri bayangan saya!"
"Betul, dia malingnya!" balas perempuan yang tasnya dijambret tanpa peduli apa yang dimaksud Parno.
Para pedagang yang sudah kalap menyergap lelaki itu dengan benda apa saja. Seakan tak ada kompromi lagi bagi pejambret atau pencuri, pelaku langsung diseret, digebuk, ditendang, dihantam sampai bonyok.
"Bakar saja!" teriak seseorang dari dalam kerumunan.
"Betul! Biar tahu rasa dia!" sambut pengamen pasar menimpali.
Seorang yang terpancing amarahnya sertamerta menyiramkan minyak tanah ke tubuh pejambret itu dengan leluasa. Tanpa dikomando, seseorang lagi langsung menyalakan korek api dan melemparkannya ke tubuh pejambret itu hingga menyala besar. Pejambret yang sudah babak belur itu langsung kelojotan dilalap api. Hanya beberapa menit, pejambret naas itu tewas ditempat.
Sadis! gumam Parno. Dan ketika polisi datang, para penjagal sudah bubar.
Tak ada yang ditangkap, kecuali beberapa orang dimintai keterangannya mengenai peristiwa pembakaran orang hidup-hidup di tengah jalan, termasuk perempuan yang jadi korban pejambretan.
"Eh, Mas! Kamu tidak ikut ke kantor polisi?" tanya tukang buah kepada Parno.
"Ah, itu tidak penting. Yang penting sekarang, saya harus menemukan bayangan saya! Paham?"
Tukang buah itu terlolong.
***
"Bapak tahu di mana bayangan saya?" tanya Parno kepada tukang parkir. Karuan saja tukang parkir itu terbengong-bengong ditanya seperti itu. "Bapak tahu kan, Pak?"
"Ah, cari saja sendiri!" sahut tukang parkir sambil mencibir.
Parno mendatangi tukang rokok dan bertanya lagi seperti yang ia lakukan kepada tukang parkir tadi.
"Maaf anak muda, bayangan kamu tidak ada di sini. Sana, cari saja di rumah sakit!"
"Terima kasih atas petunjuknya, Pak."
Tukang rokok itu tertawa, "Baru buka sudah disatroni wong edan!" dengusnya. "Cari saja sampai bodoh di rumah sakit jiwa! Dasar gila!"
Parno tidak ke rumah sakit, melainkan berjalan menuju tempat pembuangan sampah.
"Pak! Paaak! Itu Mas Parno, Paaak!" teriak Rini yang mendadak melihat kakaknya berada di tempat pembuangan sampah sedang mengorek-ngorek tumpukan sampah dengan kakinya.
"Parnooo...." suara sang Ayah terdengar satir, memanggil. Parno yang masih asyik mengais di tumpukan sampah. "Parno!"
Parno menoleh.
"Sudah kau temukan bayanganmu, Nak?" tanya sang Ayah, menyembulkan seulas senyum.
"Belum, Pak. Apa Bapak menemukan?"
"Sudah, Nak. Sekarang bayanganmu ada di rumah!"
Parno girang. Ia berjingkrak. Teman-teman Parno terkekeh.
Bahkan tawa Darto nyaris tak bisa dihentikan. Akhirnya mereka beramai-ramai membawa Parno pulang.
***
"Sebenarnya, siapa yang menjadikan Parno seperti ini?" tanya Pak Bejo, orangtua Parno kepada teman-temannya setelah Parno 'dikamarkan'.
"Begini, Pak," Darto menyambar duluan pertanyaan Pak Bejo. "Kalau kita membantah apa yang dikatakan Parno mengenai bayangannya yang hilang, kami bisa celaka, Pak. Bahkan, kita-kita ini pernah kena pukul gara-gara membantah apa yang dia katakan."
"Benar, Pak. Kalau Parno memberitahukan bayangan dirinya hilang, kita harus spontan terkejut atau pura-pura kaget. Kalau tidak, bisa gawat Pak. Kepala ini, bisa ditimpuk pakai batu!" timpal Parmin sambil menyorongkan kepalanya ke hadapan Pak Bejo.
Pak Bejo terenyuh.
"Iya, Pak," Rini menimpali. "Kalau Rini tidak menjerit sambil berlari waktu itu, rambut Rini bisa dijambaknya. Pokoknya, apa yang dibilang Mas Parno, kita harus pura-pura terkejut, dan pura-pura mencari apa yang Mas Parno cari!"
Pak Bejo makin sedih hatinya. "Tapi kenapa kalian baru ngomong sekarang, heh? Kalian juga sama gendengnya kalau begitu!"
"Tapi Parno tidak bahaya lho, Pak," kata Darto tenang.
Mata Pak Bejo melotot. "Tidak bahaya, dengkulmu! Wong syarafnya terganggu kok dibilang tidak bahaya. Aneh sampean ini!"
"Yang saya tahu," Ragil buka suara, "Parno jadi begini karena dia tidak punya cita-cita, tidak punya masa depan. Jangankan masa depan, masa lalunya pun Parno lupa. Nah, bagaimana Parno merasa tidak punya bayangan diri, kalau dia sendiri tidak pernah membayangkan sesuatu!"
Pak Bejo makin bingung. Apa ini gara-gara aku jarang di rumah? Tidak dekat dengan anak-anak? Jarang berdiskusi? Tidak terbuka dengan mereka? Apa Parno tahu kalau aku suka....
Pak Bejo tidak kuasa melanjutkan perkataan yang melintas di benaknya. Lalu lamunannya terputus oleh suara Parno yang terdengar nyaring dari dalam kamar:
"Paaakk! Bayangan Parno mannaaaa!" ©

Cerita Porno


OBITUARI BAGI PECINTA MATAHARI

Aku membaca tulisan seorang teman di sebuah milis. Dalam tulisannya dia berkata, BAGIKU CINTA TELAH MATI HARI INI. Mungkin untuk saat-saat seperti ini, aku akan sepakat dengan dia. Cinta tak layak hidup dalam jiwaku. Sebuah peristiwa telah membuatku merasa bahwa cinta hanya sesuatu yang terlihat main-main, dan diucapkan secara main-main oleh seorang laki-laki yang ingin bermain-main dengan mengatas-namakan cinta. Sungguh luar biasa.

Tiba-tiba aku teringat Nyai Ontosoroh. Perempuan yang sungguh luar biasa dalam karya tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Pada mulanya Nyai Ontosoroh membenci tuannya yang bernama Tuan Mellema, atas sikap yang memperbudak dirinya. Tapi apa yang dilakukan Tuannya telah membuatnya menjadi jatuh cinta. Walaupun akhirnya, Nyai Ontosoroh harus terluka melihat keadaan orang yang sangat dicintainya itu. Bagaimana perasaan Nyai Ontosoroh saat tahu bahwa Tuan Mellema seringkali berkunjung ke Rumah Pelesir? Tidakkah ia merasa sangat dikhianati? Tersakiti jiwanya? Terluka dan kecewa?

Tidak. Aku memang tidak seperti Nyai Ontosoroh. Aku mungkin lebih beruntung jika dibandingkan dengan dia. Tapi perasaan dikhianati, tersakiti, terluka dan kecewa yang dirasakan Nyai Ontosoroh sama dengan yang aku rasakan sekarang.

Semua terjadi begitu tiba-tiba. Aku dipaksa untuk percaya bahwa apa yang aku dengar itu benar adanya. Sebuah berita yang selama ini tak pernah terbayangkan akan aku dengar. Bukankah selama ini aku merasa bahwa kau adalah sebuah medan magnet yang membuatku harus berada di dekatmu senantiasa? Bahwa akulah perempuan yang menjadi bumi, sedang kau adalah matahari? Kita berada pada perputaran yang pasti, dan kaulah yang menerangi siangku, sedang rembulan membawakan cahayamu untuk tetap bisa menerangi hatiku? Sungguh! Berita itu membuatku merasa bahwa kehidupanku akan menjadi segelap malam.

Mungkin kau lupa, pertama kali kita kenal, kau senantiasa berkata, bahwa akulah senja, yang senantiasa kau temui dalam perpindahan waktu dari siang ke malam. Sungguh, pujian yang baru kurasakan sekarang bahwa itu hanyalah sebuah rayuan gombal.

Tapi baiklah, ini kurasa bukan waktu yang tepat untuk mengenang apa yang telah terjadi di antara kita. Karena ada hal yang lebih penting dari semua itu. Sebuah berita kematian. Ya, aku mendengar berita kematian itu. Semula terdengar begitu samar, lantas seiring waktu, kabar kematian itu semakin jelas, semakin tegas. Ya, benar sekali, kabar itu adalah kabar kematian atas cinta yang kita bangun. Sebuah perjalanan singkat yang terlalu menyayat.

Aku tahu, mengharapkanmu untuk memilih adalah kemustahilan. Sebab kau selalu merasa bahwa hatimu adalah lingkaran. Siapa pun boleh datang dalam hidupmu, lantas berbagi cerita, hingga cinta pun bisa kau bagi. Aku tahu diri untuk hal ini. Jadi, biarlah aku yang memutuskan untuk pergi. Melupakan apa yang telah terjadi. Melupakan seluruh peristiwa yang indah bersamamu. Mengembalikan lagi jarak. Semoga saja, saat aku bertemu lagi denganmu, aku merasa bahwa kau adalah kawan biasa.

Menyedihkan sebetulnya, apalagi berpikir aku akan menjauh darimu, orang yang kucintai. Meski sampai detik ini pun, aku tak pernah tahu, untuk siapakah cinta yang kau miliki itu sesungguhnya. Mungkin setelah ini, akan ada lubang yang menganga dalam dadaku, sebab namamu telah kulepas dengan paksa. Rasa kehilangan akan menerjangku dengan kekuatan yang sangat tinggi. Aku mungkin akan kalah, lantas terhempas, terseret terbawa arus, tenggelam atau bahkan hilang ditelan gelombang besar bernama: KEHILANGAN. Tapi bukankah lebih baik menghilang daripada harus tetap tegak dengan dada berlubang karena merasa diabaikan?

Ya, aku merasa hanya menjadi boneka mainanmu. Kapan pun kau menginginkanku, aku akan dengan senang hati menjadi budakmu. Aku perempuan, kodratku adalah menerima sebuah kata ajaib yang mampu memperkuat setiap kelemahan, yang mampu membuat dekat apa pun yang jauh, yang mampu membuat indah apa pun yang terlihat buruk. Tapi kini, kata ajaib itu telah merubah wujudnya. Aku melihatnya sebagai sebuah mimpi buruk belaka.

Hidup harus terus berjalan, tanpa atau pun denganmu. Kehilangan adalah hal yang lumrah dalam hidup. Luka yang menganga dalam dada itu mungkin takkan terobati dalam hitungan dua sampai tiga tahun, bahkan mungkin lebih, tapi aku telah menyiapkan semuanya. Telah kusiapkan perbekalan, peta baru, penunjuk arah, sebuah tenda, raincoat, senter dan segenggam keberanian. Ranselku telah sarat. Aku telah siap menghadapi jalan yang terbentang panjang di hadapan, menghadapi cuaca dan musim yang akan cepat berganti, menentang badai dan topan kehidupan. Tanpamu. Bagimu ini mungkin terdengar berlebihan.

Malam ini juga aku berangkat. Memulai peta perjalanan baru. Meninggalkan semua kenangan yang pernah tercatat dalam puisi-puisi cengeng, dalam catatan panjang kesedihan. Meninggalkan sayu matamu yang senantiasa membuatku merasakan sebuah keterasingan yang menenggelamkan. Aku akan pergi jauh. Mencoba mencari jalan baru agar kita tak pernah bertemu lagi dalam bentuk kebetulan sekali pun, kecuali jika tuhan menginginkan.

Tak ada kata perpisahan bagimu, sebab kita tak pernah benar-benar bertemu. Kita hanya bertemu secara lahir, sedang jiwa kita tetap berjalan berjauhan. Satu hal yang ingin aku katakan kepadamu dan tak pernah berhasil kukatakan sebelumnya, bahwa aku mencintaimu sepenuh hati, sepenuh jiwa. Andai saja tak ada kabar kematian itu, aku akan sangat percaya bahwa kau menginginkan aku, utuh.

Kepergian ini tak pernah terencana. Aku memutuskan semuanya tiba-tiba. Di tengah-tengah kebahagiaan kita atas sebuah mimpi bersama. Sebab sebetulnya, kau dan aku adalah sepasang manusia tangguh yang mampu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain.

Jangan pernah menyesal atas kepergianku ini. Bukankah setiap orang bertemu untuk berpisah? Sejak Adam dan Hawa diciptakan, pertemuan dan perpisahan menjadi sebuah peristiwa yang sangat biasa. Atau mungkin memang kau takkan pernah menyesal, bahkan sebaliknya. Kau akan bahagia dan tertawa setelah kepergianku ini. Sebab setelah ini, tak akan ada lagi yang merengek minta dicintai. Tak ada lagi yang akan menyita sebagian besar waktumu. Tak ada lagi yang mencoba memaksamu untuk mengambil keputusan-keputusan sulit.

Telah kusiapkan semuanya malam ini. Ya, hanya malam ini waktuku untuk bersiap. Sebab nanti, tepat saat hari berganti dan tanggal telah bertambah satu, aku akan benar-benar menghilang dalam hidupmu. Aku tak akan mengambil jalan di tempat biasa kau melangkah.

Aku ingin mencumbu bibirmu untuk yang terakhir kalinya, menatap matamu lekat, dan membiarkan pelukanmu membuatku merasakan kedamaian yang sangat, tapi semua itu tidak aku lakukan.

Aku pergi untuk tsunami yang tengah memporak-porandakan seluruh batinku. Aku pergi untuk meredakan gempa yang datang bertubi-tubi menghancurkan gedung-gedung berhiaskan namamu dalam dadaku. Aku pergi untuk sebuah cinta yang tak bisa berwujud. Aku pergi untuk menata ulang semuanya. Membangun kembali peradaban dalam hati yang telah rusak dan lebur oleh amukan badai.

Terima kasih untuk hari-hari yang tak mungkin terjadi seandainya kita tak bertemu. Terima kasih untuk seluruh perhatian yang kau curahkan, meskipun aku tahu, itu hanyalah sebuah cinta yang semu. Terimakasih karena kau mengajariku arti cinta dan sakit. Sebuah sinergi yang membuatku hidup Namun semuanya telah meyakinkan aku, bahwa hidup memang indah untuk dilalui.

GAYUS TAMBUNAN




23 Januari 2011

Manusia Gerobak dan Gaji Presiden SBY



Oleh : Ulfa Ilyas

Hari sudah menghampiri malam. Agak gelap memang, sebab hampir seharian penuh matahari ditutupi oleh awan tebal. Di pinggir jalan, dekat sebuah sekolahan di kawasan Tebet, Jakarta, sesosok tubuh lelaki tergeletak begitu saja. Tidak jauh dari situ, seorang ibu dan anak perempuan sedang asyik bermain.

Sutarmin, nama sosok lelaki tersebut, mengaku pertama-kali menginjakkan kaki di Jakarta pada tahun 2009. Dia memilih menjadi “manusia gerobak” di Jakarta lantaran uang dari menjual sawahnya sudah habis, sedangkan rumahnya di sita pengadilan atas gugatan saudaranya sendiri.

Awalnya, dia berniat mencari pekerjaan serabutan di Jakarta, tetapi tidak ketemu-ketemu juga. Akhirnya, karena tidak ada keluarga dekat yang bisa ditempati bernaung untuk sementara, Sutarmin pun memilih “gerobak” sebagai tempat tinggalnya.

“Saya ini mau bekerja apa saja, asalkan itu bisa menghasilkan duit dan halal. Lama saya mencari-cari, tapi tidak ketemu juga. Ya, sudah…saya memilih hidup seperti ini,” katanya dengan suara agak pelan.

Pemandangan manusia gerobak memang bukan hal baru di Jakarta. Setidaknya, dalam beberapa tahun terakhir ini, jumlah manusia gerobak sepertinya kian bertambah. Mereka bisa ditemukan di setiap jalan-jalan di Jakarta, pinggir-pinggir ruko, di bawah jembatan layang, dan lain-lain.

Meskipun jumlahnya kian bertambah, tetapi kami masih sulit mendapatkan data resmi dari pemerintah perihal angka pasti “manusia gerobak” ini. Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Yanrehsos) DKI Jakarta memperkirakan jumlah mereka ini mencapai ribuan orang.

Hidup dari mengais sampah dan plastik bekas

“Bila tidak bekerja, anda tidak makan,” itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Sutarmin. Dengan bermodalkan gerobak yang ditariknya setiap hari, Sutarmin dan keluarganya menyusuri jalan-jalan Jakarta untuk mengais sampah dan mengumpulkan plastik bekas.

Jika lagi beruntung, sehari Sutarmin bisa menghasilkan uang Rp20 ribu. Tetapi, jika cuaca kurang baik atau jika ada razia, maka dia hanya bisa mengumpulkan paling banyak Rp10 ribu.

“Jumlah uang segitu hanya cukup untuk membeli nasi dua bungkus, dua biji tempe, dan sambel. Itupun, istrinya saya harus berbagai dengan anak saya,” jelasnya.

Meskipun begitu, Sutarmin masih memendam cita-cita yang sangat mulia, yaitu membuka warung makan bersama istrinya. “Kalau nanti punya duit, saya bercita-cita membuka warung. Nanti, hasilnya saya gunakan untuk membiayai sekolah anak saya,” ungkapnya.

Dengan pendekatan Pemda DKI yang sangat represif kepada mereka, ruang gerak Sutarmin dan kawan-kawannya pun semakin terbatas. “Kami lebih baik menghindar dan mencari tempat aman. Kalau terkena razia, masalahnya bisa banyak,” katanya.

Selain mendapat perlakuan kasar dan kehilangan gerobak, mereka yang terkena razia pun akan dikirim ke Panti Sosial Kedoya atau Cipayung. “Bukan mendapat pembinaan dan pelatihan di sana, tetapi katanya diperas juga,” ujar Sutarmin mengisahkan cerita teman-temannya yang pernah terkena razia.

Presiden curhat soal gaji

Ketika saya memberitahu Sutarmin, bahwa Presiden SBY baru saja “curhat” mengenai gajinya yang tidak naik selama 7 tahun, ia langsung memotong pembicaraan dan berkata: “memangnya gaji Presiden SBY berapa, mas?”

“Kalau menurut The Economist, ini adalah majalah ekonomi paling bergengsi di dunia, gaji SBY sebesar US$ 124.171 atau sekitar Rp 1,1 miliar per tahun. Gaji SBY nomor 16 tertinggi di dunia,” jawabku.

“Masya Allah,” kata Sutarmin tersontak kaget. “Jumlah gaji yang segunung itu masih dikira masih kurang. Curhat lagi.”

Bagi orang kecil seperti Sutarmin, pernyataan Presiden sangat melukai perasaan orang miskin, terutama mereka yang belum punya rumah dan pekerjaan.

Sutarmin, yang kini berusia 46 tahun, menganjurkan agar Presiden SBY rajin-rajin mengunjungi rakyat seperti dirinya. “SBY harus turun melihat kondisi kami, supaya tahu betapa sulitnya hidup kami. Tapi, kami masih mau bekerja untuk makan, tidak sekedar makan gaji buta seperti SBY,” katanya dengan nada tinggi.

Raja Mandailing Dalam Konteks Kekinian



Oleh : Hiski Darmayana

Ketika menandatangani prasasti Museum Batak di Balige (18/01/2011), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianugerahi gelar Patuan Sorimulia Raja oleh Lembaga Adat Batak Angkola. Gelar tertinggi dalam adat Batak Mandailing/Angkola tersebut diberikan kepada Presiden SBY setelah sebelumnya beredar rumor bahwa SBY akan diberi gelar Raja Batak. Rumor ini memicu penolakan keras sebagian warga Batak terhadap rencana tersebut.

Kenyataannya Presiden SBY tetap disematkan gelar tertinggi dalam adat salah satu sub-suku Batak, namun gelar tersebut bukanlah Raja Batak, melainkan Patuan Sorimulia Raja, yang berarti paduka yang dihormati dan diteladani. Tak hanya gelar kehormatan tertinggi, SBY juga diberi marga Siregar, yang merupakan salah satu marga dari Batak Mandailing.

Hal menarik bila menelaah lebih jauh mengenai konsep raja dalam kebudayaan Mandailing, dan melihat relevansinya pada masa kini. Sistem kepemimpinan dalam budaya masyarakat Mandailing memang mengenal konsep raja. Hal ini terkait dengan sistem sosial Batak Mandailing/Angkola yang terdiri dari tiga bentuk organisasi sosial yakni, Banua, Huta dan Janjian.

Mora Na Toras sebagai Institusi Politik

Banua merupakan satu kesatuan teritori yang didalamnya terdapat kesatuan masyarakat otonom dan berbasiskan pada hukum adat. Kesatuan masyarakat Banua ini dipimpin oleh seorang raja yang dijuluki Raja Pamusuk. Raja Pamusuk haruslah berasal dari keturunan klan patrilineal yang mendirikan Banua (Lubis,1988).

Bila beberapa Banua memutuskan untuk menjalin persekutuan dan bernaung dalam satu kesatuan adat, maka persekutuan itu dinamakan Janjian (Mandailing) atau Hayuara Mardomu Bulung. Suatu Janjian dibentuk dengan tujuan memperkuat kesatuan antar Banua yang masing-masing telah mempunyai wilayah dengan batas-batas yang tegas.

Sementara Huta adalah tempat pemukiman penduduk yang ruang lingkupnya lebih kecil dari Banua. Huta sendiri merupakan hasil perkembangan kesatuan teritori adat masyarakat yang bermula dari pemukiman Banjar, Pagaran, Lumban dan akhirnya menjadi Huta. Huta pun dapat berkembang menjadi sebuah Banua bila telah memenuhi beberapa syarat. Syarat-syarat tersebut adalah telah memiliki institusionalisasi politik yang bernama Mora Na Toras, berpenduduk minimal 40 kepala keluarga dari marga yang berbeda-beda, serta mendapat izin dari Raja Banua tempat penduduk Huta berasal.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Banua atau Kerajaan merupakan kesatuan masyarakat yang mempunyai peran strategis dalam sistem sosial masyarakat adat Mandailing/Angkola, karena dapat menentukan terbentuknya Huta maupun federasi antar Banua yang bernama Janjian. Dalam sistem kepemimpinan di Banua inilah ada seorang raja (Raja Pamusuk) yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi lembaga politik Banua, Mora Na Toras. Selain Raja Pamusuk, ada unsur-unsur lain dalam struktur Mora Na Toras, yakni Suhu, Hatobangun/Anggi Ni Raja, Natoras, Bayo-bayo, dan Hatobangon. Penting untuk dicatat bahwa Hatobangon merupakan wakil penduduk biasa yang tidak termasuk klan pendiri Banua. Dari hal tersebut terlihat bahwa prinsip keterwakilan rakyat biasa dalam politik telah ada pada sistem sosial-politik masyarakat adat Mandailing.

Raja dan Kemakmuran Rakyat

Sebuah Huta atau Banua dalam konsepsi adat masyarakat Mandailing/Angkola haruslah didukung oleh sumber daya alam yang dapat mencukupi kehidupan masyarakatnya. Namun, bila sumber daya alam yang ada terbilang cukup apakah dengan demikian kesejahteraan masyarakat pasti akan terwujud? Tentu tidak semudah itu. Maka, sistem pengelolaan natural resources menjadi hal yang menetukan kesejahteraan masyarakat Huta maupun Banua.

Dalam tradisi masyarakat Mandailing/Angkola, selain harus didukung oleh sumber alam yang memadai, khusus untuk Raja harus memiliki kolam ikan atau tobat bolak dan persawahan atau saba bolak. Kedua hal itu berfungsi sebagai tempat persediaan makanan yang tidak boleh kering bagi rakyat atau dalam bahasa Mandailingnya “talaga na so tola hiang”. Hasil dari areal persawahan berguna bila musim paceklik datang melanda Banua, sedangkan kolam ikan dapat diakses rakyat bila Banua didera kekeringan dan ikannya dapat dimanfaatkan sebagai penunjang bahan pangan. Hal menarik dari masyarakat adat Banua kembali terlihat, yakni adanya sistem logistik yang kuat bagi ketersediaan pangan kerajaan.

Prinsip ketahanan sekaligus kedaulatan pangan menjadi hal yang demikian penting bagi masyarakat adat Mandailing/Angkola, dan seorang Raja yang ideal dalam konsepsi adat Mandailing adalah Raja yang tidak akan membiarkan seorang pun rakyatnya kelaparan. Dengan arti lain, seorang Raja yang baik haruslah Raja yang cakap mengatur pengelolaan sumber alam demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Inilah yang menjadi esensi dari konsep raja dalam sistem sosial masyarakat adat Mandailing.

Dalam konteks kekinian, pemberian gelar Patuan Sorimulia Raja kepada Presiden SBY seakan menjauhi nilai-nilai adat Mandailing yang berkaitan dengan kriteria ideal seorang raja. Betapa tidak, kini media massa dipenuhi oleh berita mengenai kenaikan harga bahan-bahan pangan yang memicu keresahan masyarakat luas. Stabilisasi harga pun tidak mampu meredam gejolak harga pangan, karena hanya diatasi dengan impor komoditi, tidak dengan fungsionalisasi Bulog secara optimal.
Sementara pemerintahan yang dipimpin Presiden SBY berbangga dengan laju pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan dan pengangguran yang berkurang (menurut standar pemerintah tentunya) serta produk domestik bruto (PDB) yang tinggi, di pelosok pedesaan Jawa telah banyak keluarga yang makan tiwul sebagai pengganti beras. Bahkan ada yang sampai tewas keracunan tiwul akibat tak mampu membeli beras. Ada pula kisah tragis lainnya, yakni bunuh diri yang dilakukan keluarga buruh tani di Cirebon karena deraan kesuiltan ekonomi di awal tahun 2011 ini.

Bukan kelayakan dari penganugerahan gelar tersebut yang akan dipersoalkan disini, namun esensi dari makna seorang Raja yang seakan hilang dalam ritual pemberian gelar bagi Presiden SBY tersebut. Ingat, seorang Raja Mandailing bukanlah seorang Raja yang tega membiarkan seorang pun rakyatnya kelaparan, apalagi sampai memanipulasi penderitaan rakyatnya dengan angka-angka statistik demi politik pencitraan. Gelar Patuan Sorimulia Raja yang berarti seorang pemimpin yang dihormati dan diteladani juga agak janggal bila dilekatkan pada pemimpin yang menjaga citra kepemimpinannya dengan kebohongan dan pengingkaran realita, yang tentu tak akan mendatangkan manfaat bagi rakyat.

*) Penulis adalah alumni Antropologi FISIP Unpad dan Kader GMNI Sumedang.

Kaum Tani Tidak Gentar Menghadapi Pasukan Brimob




Oleh : Agun Sulfaira

Karena perjuangan para petani yang begitu berani dan militan, perusahaan perampas tanah tidak mudah untuk memulai operasinya di desa Tanjung Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Seperti terjadi pada tanggal 4 Januari lalu, dimana acara sosialisasi kehadiran PT. RAPP digagalkan oleh mobilisasi kaum tani.

Seolah belajar dari pengalaman kegagalan itu, pengusaha kini berusaha menggandeng kekuatan yang lebih besar, yaitu pasukan Brimob. Dan, pada tanggal 17 Januari lalu, seorang humas PT. RAPP yang kebetulan tinggal di dusun Sungai Hiu, Desa Tanjung Padang, memberitahukan kepada masyarakat bahwa pihak perusahaan akan mendatankan 40 orang pasukan Brimob.

Pihak PT. RAPP telah membangun tenda untuk pasukan Brimob dan pekerjanya pada tanggal 17 Januari dan 19 januari lalu. Itu merupakan pertanda yang sudah terang, bahwa PT. RAPP akan memaksakan operasinya di desa Tanjung Padang, dan akan menggunakan Brimob untuk memukul perlawanan petani.

Atas perkembangan situasi ini, pihak pimpinan Serikat Tani Riau (STR) sudah menyampaikan tuntutan resmi kepada pemerintah agar segera mencegah operasionalisasi PT. RAPP, sekaligus untuk mencegah kemungkinan terjadinya bentrokan di lapangan.

“Pihak petani berada dalam posisi akan mempertahankan tanah dan hak-hak sosial-ekonominya. Jika PT.RAPP akan menggunakan Brimob, maka pastilah kaum tani akan melakukan perlawanan,” jelas Teri Hendra, ketua KPP STR kepada Berdikari Online.

Selain itu, tambah Teri Hendra, pihak pemerintah segera mencabut SK menhut nomor : SK.327/MENHUT-II/2009 tertanggal 12 juni 2009, mengingat bahwa SK tersebut tidak memiliki proses AMDAL yang jelas sampai sekarang ini. Lagipula, penolakan terhadap SK ini bukan saja dilakukan oleh petani dan masyarakat luas, tetapi dilakukan juga oleh Bupati Kepulauan Meranti dan segenap anggota DPRD.

Sampai berita ini diturunkan, sekitar Pukul 23.00 WIB, ribuan kaum tani dari berbagai desa sedang memobilisasi diri menuju dusun Hiu, Desa Tanjung Padang, untuk melakukan perlawanan terhadap rencana sosialisasi operasional PT. RAPP.

Dengan semangat baja, demi mempertahankan tanah dan kehormatan, para petani ini telah berbaris menuju medan perjuangan. Kepada para pembaca yang hendak menyampaikan solidaritas dan dukungan, silahkan mengirimkan pesan melalui email redaksi: redaksiberdikari@yahoo.com

Marhaenisme Sebagai Marxisme Yang Diterapkan (Bagian Terakhir)



Oleh : Ir. Soekarno

Dan ini saudara-saudara, terus terang saja, ini yang ditakuti, ditakuti oleh musuh kita. Sudahlah jelas kepada saudara-saudara, bahwa perubahan sikap musuh kita itu karena konfrontasi politik kita? Dulu kita laksana dikentuti saudara-saudara, -maaf perkataan saya ini-oleh musuh kita. Tatkala kita tidak menyusun macht dan tidak akan menggunakan macht, tidak menjalankan machtvorming, tidak menjalankan machtsaanwending. Tatkala kita menyandarkan diri kita kepala hanya diplomasi, tatkala kita menyandarkan diri kita kepada anggar-lidah saja. Tatkala kita menyandarkan diri kita kepada PBB, kita selalu dikentuti oleh kaum imprealis. Bukan saja imprealis Belanda, tetapi imprealis, imprealis, imprealis seluruh dunia saudara-saudara. Boleh dikatakan mengkentuti kepada kita-maaf kalau saya memakai perkataan ini. Tetapi tidak ada lain gambaran yang lebih jelas daripada perkataan ini. Tetapi sikap ini saudara-saudara, sikap mereka ini berubah sudah, sesudah kita mengadakan konfrontasi politik, bahkan saudara-saudara konfrontasi politik ini harus memuncak lagi kepada benar-benar machtsaanwending.

Didalam pidato saya kepada saudara-saudara yang hadir pada peresmian pembukaan Subcritical Anatomic Reactor di Yogyakarta, saya sudah berkata : kata dulu, kemudian pukir, sekarang harus bertindak. “Woord, gedachte, daad”. Kata, pikir, tindak. Sekarang kita disini saudara-saudara, tindak, tindak, sekali lagi tindak, dan ini yang ditakuti oleh musuh kita.

Gubernur Belanda di Irian Barat, namanya Plattel saudara-saudara, Plattel, pernah dia berpidato….itu kan Cuma “bluff” saja. Hhh, Indonesia menjalankan itu tenaga politik, akan memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaannya, dengan betul-betul kekerasan. Satu minggu kemudian saudara-saudara, Plattel berkata lagi, bahwa dia akan mengungsikan orang-orang Belanda dari Irian Barat. Lho….bahwa Indonesia cuma gertak sambel yang besar.

Saya pernah juga diplakati satu Negara tetangga, dekat sini, diplakat tidak tahu siapa yang mlakat barangkali ya Belanda mlakat. Bunyinya plakat itu, “Soekarno bohong besar”. Saya tanya kepadamu apa saya bohong besar saudara-saudara !! (Tidak, jawab hadirin-red). Tidak, ini boleh dicatat dan dikatakan kepada pemerintah-pemerintahnya, bahwa Soekarno disini benar-benar menjadi penyambung lidah daripada rakyat Indonesia. Bukan dia cuma “bluff”.

Kita benar-benar saudara, tidak main-main didalam hal ini, dan saya keluarkan, sudah saya sambungkan dengan pidato saya membuka Subcritical Atomic Reactor pun sudah saya keluarkan, sudah saya sambungkan dengan pidato yang ilmiah. Karena Subcritical Atomic Reactor adalah satu hal ilmiah yang mengenai atom dan lain-lain sebagainya, dan oleh karena duduk disitu professor-profesor, mahasiswa-mahasiswa, saya gambarkan bahwa ada satu hukum didalam ilmu fisika itu dinamakan hukum Maxwell. Hukum Maxwell, orangnya yang mendapatkan hukum itu bernama Maxwell adalah begini, coba hebat apa tidak. Dan saya punya maha guru pada waktu itu memang dia dengan tepat berkata, dalam bahasa asing, “de geweldige wet van Maxwell”, wet hokum Maxwell yang hebat, maha hebat ini katanya. Bagaimana itu hukum Maxwell? Begini : kalau ton; saya tekan, karena tekanannya satu ton ini serambi muka daripada Istana Merdeka satu kilometer dari sini, bergerak satu kilometer. Saya tekankan disini dengan 1 ton, 1000 kilogram, disana bergerak satu kilometer. Maka sebaliknya, jikalau saya diserambi muka Istana Merdeka menekan disana dengan berat satu ton, microphone ini juga bergerak satu kilometer. Satu ton disini, sana 1 meter bergerak. Satu ton disana, satu millimeter disini bergerak. Ini adalah hukum Maxwell yang hebat, yang maha hebat. “Dit is de geweldige wet van Maxwell”.

Didalam pidato saya tarik terus garis, garis diatas politik moral. Moralitteit politiek. Saya adakan hukum Maxwell didalam moralitteit politiek. Artinya, jikalau pihak Belanda menjalankan kekerasan kepada Belanda di Irian Barat.
Hukum timbal balik. Yang sudah diterangkan oleh Bapak Menteri Luar Negeri Soebandrio—ada pak Soebandrio disini. Ada….duduknya wa dekat bu Subandrio.

Saudara Subandrio di PBB dengan jelas berkata, Irian Barat itu wilayah kita. Wilayah kita, oleh karena itu—saya sambung sebentar, saya selalu berkata—janganlah berkata memasukkan Irian Barat kedalam wilayah Republik. Itu perkataan adalah salah. Oleh karena Irian Barat sudah wilayah Republik, tidak perlu dimasukkan dalam wilayah Republik lagi. Saudara-saudara, masih ada saja yang berkata, ya masukkan Irian Barat kedalam wilayah Republik. Tapi Belanda menduduki wilayah itu dengan kekerasan senjata. Belanda disana mempergunakan ia punya meriam, mempergunakan ia punya militairemacht, mempergunakan ia punya pedang dan mesiu, menduduki wilayah kita.

Nah, lantas pak Bandrio berkata kepada PBB, jikalau PBB, membenarkan pihak Belanda menduduki wilayah kita dengan kekerasan senjata, dia berkata, illegale occupatie. Ya itukah occupatie daripada wilayah kita, malahan juga illegale occupatie, yaitu tidak menurut hukum, dengan kekerasan senjata.

Nah, maka oleh karena itu, jikalau Gubernur Plattel berkata, hh…bluff, ya, dengan tandas saya berkata, jangan anggap ini “bluff” saudara-saudara. Tetapi disini tempatnya saya tandaskan sekali lagi sebagai dikatakan oleh pak Bandrio juga, jikalau Belanda ia meneruskan punya niat untuk mendirikan Negara Papua, kita akan mempergunakan kekerasan untuk membatalkan perkataan itu. Karena itu, saya memberi komando, hayo gagalkan pendidirian Negara Papua, hayo kibarkan bendera Sang Merah Putih di Irian Barat dan didalam pidato saya pada hari ibu atau pada saya sudah lupa—saya tandaskan sekali lagi, sekali, sekali lagi, sekali lagi, juga kepada diplomat-diplomat asing, jangan mencoba mengajak kita, “persuade” untuk berunding dengan Belanda “ins Blaue hincin”. Berunding dengan Belanda tanpa dasar. Saya dengan tegas berkata, kita hanya bersedia berunding atas dasar penyerahan kekuasaan daripada tangan Belanda kepada Indonesia.

Yah, katan pada pemerintah-pemerintah saudara-saudara. Tegas bung Karno, Presiden Soekarno berkata kepada kami, jangan mencoba untuk persuade Indonesia. Persuade itu apa ? Membujuk Indonesia, mengajak Indonesia untuk mau berunding dengan Belanda “ins Blaue hincin” atas dasar apa, tidak terang. Hooo, ini saya tahu anjurkan sekarang ini dan pihak Belanda pun sudah menerangkan mau berunding dengan Indonesia tanpa dasar. Dan kita berkata dengan tegas, kita tidak mau berunding atas dasar penyerahan kekuasaan.

Kan sudah terang saya ucapkan dalam pidato RE-SO-PIM, dalam pidato Beograd dimuka konfrensi Non Aligned Nations, dimuka mahasiswa-mahasiswa di Tokyo, dengan tegas saya katakana, bahwa kita sudah mengulurkan tangan; mengulurkan tangan bagaimana? Dulu saudara-saudara, saya ulangi lagi biar terang gambling juga untuk Duta Besar-Duta Besar, dulu selalu kita berkata, eh mau bicara tentang kedaulatan. Saya sudah berkata, saya sekarang tidak akan bicara tentang kedaulatan. Saya mau bicara menuntut penyerahan administration, penyerahan kekuasaan, penyerahan pemerintahan di Irian Barat kepada kita. Ini uluran tangan saya. Malahan uluran tangan saya ini tidak saya tujukan kepada sekadar PM de Quay, tidak sekadar saya tujukan kepada Menteri Luar Negeri Luns, tidak saya tujukan kepada siapa pun juga, saya tujukan kepada seluruh rakyat Belanda di Nederland. Saya mengulurkan tangan, hayo serahkanlah pemerintahan atas Irian Barat kepada Indonesia, but we shall be good friends.

Tegas bagi kaum diplomat disini, jangan coba persuade kita untuk berunding dengan Belanda “ins Blaue hincin”. Dan jangan mencoba kita untuk suka menerima ide “self-determination”. Ide penentuan nasib sendiri sebagai yang digembor-gemborkan oleh Luns dan sebagai diulang-ulang sampai sekarang oleh pihak Belanda. Bahwa ia mau berunding dengan Indonesia tetapi atas dasar “self-determination”. Kan sudah saya terangkan dengan jelas, “self-determination” itu ada dua, “external self-determination”, “internal self-determination”. “self-determination” yang dipaksakan dari luar itu “external self-determination”. “internal self-determination” yang keluar dari kita sendirildan kita menolak “external self-determination” ini, oleh karena itu kita mengetahui bahwa “external self-determination” adalah tak lain dan tak bukan ialah neo-kolonialisme, neo-imprealisme, tipu muslihat mentah-mentahan.

Dengan tegas saya katakana, kita sudah mengalami, sudah mengalami “external self-determination”. Tatkala Van Mook misalnya, misalnya mengadakan he dengan rakyat Madura, “self-determination” rakyat Madura, bicara dengan haa terjadilah Negara Madura. Zoogemaamd bicara dengan Dr. Mansur, katanya, inilah rakyat Sumatra Timur, bicara, bicara, bicara “self-determination” Sumatra Timur, terjadilah Negara Sumatra Timur. Bicara, bicara, bicara “self-determination” dengan beberapa orang pemimpin dari Pasundan, dikatakan inilah “self-determination” rakyat Pasundan, terjadilah Negara Pasundan. Bicara dengan beberapa glintir orang Jawa Timur dikatakanlah inilah “self-determination” rakyat Jawa Timur, jadilah Negara Jawa Timur. Demikian pula bicara-bicara dengan orang-orang dari Indonesia Timur. Malahan, nah ini malahan dia berkata, tatkala di Denpasar dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada maksud dari pihak Belanda untuk exclude, mengeluarkan, mengecualikan Irian Barat daripada penyatuan dengan seluruh bangsa Indonesia. Jelas yang dikatakan Van Mook di Denpasar. Malahan sebagai tahapan pertama Irian Barat itu dijadikan residentie Nieuw Guines, Resindentie Nieuw Guines dan perkataan residentie ini berarti bahwa kelak akan geincorporeerd dengan seluruh bangsa Indonesia.

Tetapi pada waktu itu Van Mook berkata, inilah “self-determination” daripada rakyat Indonesia Timur, terjadilah Negara Indonesia Timur.

Kita mengenal, kami mengenal, he tuan-tuan besar dari Negara-negara asing, kami mengenal “self-determination” itu, kami tolak dengan tegas “self-determination”, apalagi sebagai yang diusulkan oleh Luns. Dan didalam hal ini kami juga berkata, “please, please, please don’t tray to persuade us to accept self-determination for the people of Irian Barat”. Jangan mencoba mengajak kita, membujuk kita agar supaya kita mau menerima “self-determination” Irian Barat, bahwa kita harus menerima, bicara, bicara dengan Belanda atas dasar juga “self-determination”, tidak ! Dengan tegas kita berkata, dan saya sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia, sebagai Presiden Republik Indonesia, sebagai Panglima Tertinggi daripada seluruh Angkatan Perang Republik Indonesia, sebagai Mandataris MPRS, sebagai Panglima Besar memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik, sebagai Pemimpin Besar Revolusi, saya berkata dengan tegas dan tandas kami menolak untuk bicara “self-determination” dengan siapa pun.

Hanya dengan jalan demikianlah saudara-saudara kita akhirnya bisa memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik.

Kita memasuki satu tahapan daripada revolusi yang beslissend. Saya ulangi lagi kalau Partindo Berkata, berdiri dibelakang atau dimuka bung Karno. Jikalau Partindo berkata menjalankan Marhanisme ala Soekarno, ketahuilah he Partindo, bahwa saya alhamdulillah menurut anggapan saya selalu setia kepada Marhaenisme.

Saya bertanya kepadamu sekarang, apakah engkau pun selalu setia kepada Marhaenisme? Saya ulangi lagi, apakah engkau benar-benar radikal revolusioner, apakah engkau gandrung kepada Negara kesatuan Republik Indonesia yang berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke? Ya, gandrung. Ini bukan perkataan baru dari saya, perkataan gandrung saya ucapkan tahun 1927. Saya ulangi tahun 1928, saya ulangi tahun 1929, saya ulangi tahun 1930 dan seterusnya saya ulangi didalam zaman Republik. Saya gandrung Negara Republik Indonesia kesatuan yang berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Saya gandrung kepada satu masyarakat yang adil dan makmur, satu masyarakat yang didalamnya tiada orang yang menderita, satu masyarakat yang benar-benar sebagai diamanatkan oleh rakyat Indonesia kepada kami. Satu masyarakat yang memberikan kepuasan, kebahagiaan kepada rakyat Republik Indonesia. Saya gandrung, gandrung dalam arti, katakanlah dalam bahasa asing, boleh saya katakana saya ini menderita obsessie saudara-saudara. Obsessie idée Negara Republik Indonesia berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Obessie Negara sosialis. Obessie yang tiada lagi anak kecil menangis minta air susu daripada ibunya. Obessie tiada lagi orang Indonesia yang tidak mempunyai sinar lampu listrik didalam rumahnya. Obessie tiada lagi rakyat Indonesia, orang Indonesia yang tidak mempunyai radio didalam rumahnya. Obessie yang tiada lagi satu orang Indonesia yang berkata, pak aku lapar. Obessie bahwa segenap rakyat Indonesia didalam kehidupannya adalah terjamin, didalamnya kehidupannya benar-benar sesuai dengan ucapan leluhur kita “tata tentram kerta raharja”. Obessie artinya saya hidup dengan pikiran itu, saya hidup dengan angan-angan itu, saya menjadi besar dengan angan-angan itu, saya mohon kepada Tuhan, saya mati dengan angan-angan itu, saya melek dengan angan-angan itu, saya duduk dengan angan-angan itu, saya tidur dengan angan-angan itu, saya berjalan dengan angan-angan itu, saya bergerak didalam gerakan nasional dengan angan-angan itu, saya menjalankan darma bakti saya dengan angan-angan itu.

Aku bertanya kepadamu, apakah kamu sekalian sudah demikian pula? Jikalau kamu, kamu membuat bung Karno itu sebagai satu contoh, hanya jikalau engkau juga sudah ter- obessie dengan Marhaenisme yang sejati. Hanya jikalau engkau sudah ter- obessie dengan mengorbankan segala jiwa ragamu untuk mendirikan sekarang satu Negara Republik Indonesia yang benar, yang berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Hanya jikalau juga sudah ter- obessie untuk mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur tanpa penindasan dan penghisapan, satu masyarakat yang adil dan makmur tanpa exploitation de I’homme par I’homme hanya jikalau juga, juga, juga, juga ter- obessie, silahkanlah engkau boleh menamakan dirimu Marhaenis yang…….

Maka oleh karena itu, saudara-saudara dalam saya memberi pengestu kepada kongres Partindo ini, saya punya satu permintaan hanya satu itulah, satu itulah, engkau ingin setia kepada sumbermu dan engkau berkata bahwa sumbermu adalah Marhaenisme. Jikalau engkau ingin setia kepada sumbermu, berjalanlah sesuai dengan jalannya air sungai ini.

Jangan nyeleweng, jangan nyeleweng, tetapi berjalanlah dengan sungai ini sampai engkau menyamai laut. Saya pernah berkata karena sungai mengalir ke laut, maka ia setia kepada sumbernya. Buat orang yang tidak mengerti akan bertanya, lho, justru meninggalkan sumber menuju ke laut? Kok bung Karno mengatakan bahwa sungai yang menuju ke laut ini adalah setia kepada sumbernya.

Saudara-saudara, tetap saya berkata, jikalau engkau benar-benar Marhaenis sejati, jikalau engkau benar-benar ingin dinamakan Marhaenis sejati, ikutilah dengan sungai ini, janganlah sesuai dengan aliran sungai ini. Ikutlah dengan sungai ini masuk kedalam laut. Hanya jikalau demikian engkau setia kepada sumber, laut saudara-saudara, yang bebas, laut yang merdeka, laut yang samudera bergelora yang gelombang-gelombangnya membanting di pantai, laut yang tiada batas, laut induk, ibu daripada sekalian hal.

Sekalian hal materieel didunia ini saudara-saudara. Laut, sinar matahari menyinari laut itu. Sang surya menyinari laut ini dengan hawa panasnya. Timbullah uap dari laut ini, uap naik ke angkasa, uap ini mengumpul, mengumpul, mengumpul menjadi awan putih, menjadi yang gelap, asal dari laut saudara-saudara. Awan ini tertiup oleh angin sejuk, turun dia ke bumi sebagai hujan. Dan hujan ini airnya masuk kedalam gunung-gunung. Tetapi saudara-saudara air yang masuk ke gunung ini timbul lagi disana sini sebagai mata-mata air, sebagai sumber-sumber. Dan tiap-tiap tetes daripada air yang keluar daripada sumber ini, hanya mempunyai satu pikiran saudara-saudara, ingin ke laut, ingin kelaut, ingin kelaut, ingin kelaut kembali kepada asalnya yaitu laut, samudera yang hebat. Keluar dari sumber itu satu aliran yang kecil. Dari sumber san yang tiap-tiap tetes tiap-tiap atom dari airnya juga satu pikiran dan satu kehendak, satu keinginan, menuju ke laut, bersambung dengan air kecil sungai kecil yang keluar dari sumber itu, yang keluar dari sumber itu, akhirnya menjadi bersama satu sungai yang lebih besar ubu bergabung lagi dengan sunga yang lebih besar, berliter, tiap-tiap tetes, tiap-tiap atom daripada air didalam bengawan ini gandrung kepada laut saudara-saudara. Gandrung kepada laut, dan kita sebagai manusia tidak bisa membendung aliran sungai ini.

Saya seorang insiyur, kataku, perintah kepadaku untuk membuat dam didalam sungai besar itu. Kasih kepadaku alat membuat dam, saya bisa membuat dam dari beton. Saya bisa membuat dam dari besi. Saya bisa membuat dam dari baja. Membuat dam saya bisa saudara-saudara. Mungkin saya bisa sedikit mengalihkan sungai dengan dam itu, tetapi jikalau engkau perintahkan kepadaku, bendunglah sungai ini, janganlah sampai sungai ini mengalir ke laut. Maka saya berkata, jangan pun engkau hanya memberi aku uang untuk membeli besi, uang untuk membeli baja, uang untuk membeli semen, jangan pun engkau memberi kepadaku sekadar harga daripada dam yang besar, meskipun engkau kumpulkan segenap rakyat di bumi yang jumlahnya ribuan, jutaan, jutaan ribu, dan engkau berikan kepadaku agar supaya aku membuat dam yang terbuat daripada baja yang sekuat-kuatnya, tetapi kataku, tiap detik, apalagi tiap jam saudara-saudara, dibelakang dam ini akan terkumpullah ke laut, tiap-tiap tetes menghendaki ke laut, tiap-tiap atom menghendaki ke laut. Pendek kata, saudara-saudara segenap air dibelakang dam ini akan mendesak, mendesak, mendesak dengan semboyan ke laut, ke laut, ke laut, akhirnya pecah sama sekali dan in dan akhirnya sungai ini tidak boleh tidak masuk kedalam laut.

Tahukah saudara-saudara, dus, bahwa sungai ini setia kepada sumbernya, bahwa dengan mengalir ke laut, sungai ini akan setia kepada sumbernya. Sebab tatkala ia masih sebagai sumber sudah disitu tiap-tiap atom daripada air sumber itu berkata, kelaut, kelaut, kelaut. Yang dus, jikalau sungai ini menuju ke laut ia adalalah setia kepada sumbernya. Engkau juga he….anggota-anggota Partindo. Jikalau engkau berkata, bahwa engkau setia kepada sumbermu dan sumbermu adalah Marhaenisme sejati, pergilah kelaut, kelaut merdeka, kelaut bebas, kelaut Kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke, ke Irian Barat, kelaut Negara sosialis, kelaut masyarakat adil dan makmur. Jikalau kau menuju kesitu, barulah engkau setia kepada sumbermu, barulah engkau boleh dikatakan engkau adalah Marhaenis sejati.

Inilah amanatku kepada kongres Partindo. Maka sekarang saya tutup amanat saya yang singkat ini, oleh karena saya sudah cukup memberi amanat kepada saudara-saudara sekalian.

Terima kasih.

*) Pidato Bung Karno di depan peserta Kongres Partindo, di Gedung Olahraga, Jakarta, tanggal 26 Desember 1961.

18 Januari 2011

100 Tokoh Ikrarkan Perlawanan Terhadap Rejim Kebohongan

Oleh : Ulfa Ilyas

Oposisi terbuka terhadap pemerintahan SBY dari hari kehari semakin meluas, bukan saja tokoh lintas agama yang sudah bersuara minggu lalu, tetapi kini melibatkan 100 tokoh dari berbagai organisasi politik.

Bertempat di Gedung Juang 45 Jakarta, tempat dimana dulu para pemuda radikal menggagas kemerdekaan Indonesia, 100 tokoh lintas organisasi politik kini berkumpul dan mendeklarasikan tahun 2011 sebagai “tahun kebenaran”.

Pertemuan 100 tokoh lintas organisasi politik ini disebut pertemuan meja bundar, tapi bukan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang merestorasi kolonialisme itu, melainkan pertemuan untuk menyatakan perlawanan terhadap neo-kolonialisme.

Sejumlah tokoh yang hadir, antara lain: Rizal Ramli, Yudi Latif, Yuddy Chrisnandi (Hanura), Permadi (Gerindra), Ahmad Yani (PPP), Mahfudz Siddiq (PKS), Indra J Piliang (Golkar), Fuad Bawazier (Hanura), Firman Djaya Daeli (PDIP), Effendi Choirie (PKB), mantan KSAD Tyasno Sudarto, Adi Massardi, dan Martin Hutabarat.

Teriakan “Ganti Rezim, Ganti Sistem” berkali-kali bergema dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini. Sejumlah poster bergambar SBY-Budiono, dengan tulisan “Ganti Rezim, Ganti Sistem” di bawahnya, juga terlihat diacung-acungkan oleh sejumlah peserta pertemuan ini.

Tahun 2011: Tahun Kebenaran!

Rizal Ramli, yang menjadi inisiator utama dari pertemuan ini, membuka diskusi dengan membacakan pidato bertema “Tahun 2011: Tahun Kebenaran!”

Dalam pidatonya Rizal Ramli menyoroti enam tahun pemerintahan SBY yang penuh dengan pencitraan dan bungkus palsu, tetapi sangat miskin dengan prestasi yang menonjol.

“Pendapatan rakyat tetap dan sangat kecil, tetapi harga makanan, pendidikan, kesehatan, dan energi semakin mahal karena disesuaikan dengan pasar internasional,” katanya.

Lebih lanjut, mantan tokoh gerakan mahasiswa 1977-78 ini menambahkan, pemerintah hanya sibuk menonjolkan keberhasilan “kepala kerbau” yang memang sangat dinamis karena harga komoditas yang tinggi dan aliran uang panas, tetapi “kepala kerbau” itu hanya dinikmati 10% dari rakyat Indonesia yang paling atas.

Untuk itu, Rizal Ramli mengajak semua pihak untuk berani menyatakan kebenaran, membongkar berbagai kepalsuan, dan kebohongan.

“Kami percaya mayoritas bangsa kita adalah orang baik-baik. Akan tetapi, mayoritas yang baik-baik itu hanya diam dan berbisik-bisik, sehingga para bandit yang sesungguhnya minoritas makin berani merusak sendi kehidupan bernegara,” katanya.

Harus gerakan massa

Salah satu tokoh dari 100 tokoh yang hadir, yaitu Effendi Choirie alias Gus Choi, menyatakan bahwa jalan pemakzulan terhadap SBY hampir mustahil untuk dilakukan.

Sebaliknya, Gus Choi justru percaya bahwa gerakan massa yang terpimpin akan jauh lebih efektif, tetapi syaratnya harus dipimpin tokoh sentral seperti Amein Rais dan Gus Dur pada tahun 1998.

Ia pun menyambut baik kemunculan tokoh lintas agama, yang minggu lalu menyampaikan kritik terhadap pemerintahan SBY.

“Kelompok agama ini cukup diterima, mewakili legitimasi berbagai macam elemen. Mahasiswa tinggal ikut,” jelasnya.

Ilmuwan Kuba Rayakan Hari Ilmu Pengetahuan

Oleh : Prensa Latina

Hari Sains dirayakan oleh rakyat Kuba dengan berbagai kegiatan ilmiah yang berkontribusi secara sosial dan pembangunan teknologi bangsanya, dan sekaligus menandai Tahun Kimia Internasional.

Digagas pada tahun 1960, hari ilmu pengetahuan Kuba merupakan penghargaan atas pernyataan pemimpin revolusioner Kuba, Fidel Castro, yang mengatakan pada saat itu: “masa depan negeri kami haruslah masa depan ilmu pengetahuan manusia, fikiran manusia.”

Sejak saat itu, ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat di Kuba, dimana sebuah proses penelitian dikembangkan untuk melindungi lingkungan, meningkatkan kesehatan manusia, dan mengembangkan teknologi.

Pencapaian terbaru pada tahun lalu adalah bidang medis, termasuk penemuan produk baru berupa vaksin untuk pengobatan kanker paru-paru dan vaksi anti-Meningokokus A dan B.

Terobosan lainnya, menurut ahli dari Kementerian Sains, teknologi, dan lingkungan, adalah penemuan obat anti-hemorrhoid ( pembengkakan dan peradangan pada pembuluh darah balik/vena), yang menggambungkan antara Streptokinase ( protein ekstraseluler bakteri yang diproduksi oleh beberapa galur Streptococcus haemolyticus grup C) dan interferon alpha.

Festival hari sains Kuba merupakan bagian dari Tahun Kimia Internasional, yang digagas oleh PBB untuk mendorong terobosan di bidang sains.

Ini sekaligus merupakan penghormatan terhadap ilmuwan perempuan Polandia, Marie Curie (1867-1934), yang menemukan radioaktif dan menjadi perempuan pertama yang meraih dua penghargaan nobel di bidag sains; yang pertama pada tahun 1920-an untuk penemuannya, dan kedua terjadi delapan tahun kemudian, untuk penemuan radium dan polonium.

Sekolah Gratis Untuk Rakyat Miskin Diresmikan


Oleh : Lovina

Pita putih diikat membentangi pintu sebuah rumah berdinding kayu bercat biru. Ini Sekretariat DPKc-SRMI Lima puluh. Beberapa papan nama ucapan selamat terpampang di sekitar sekretariat. Tulisannya: “Selamat atas peresmian posko kesehatan dan pendidikan gratis”. Acara ini diselenggarakan oleh Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan Akademi Rakyat (Akar).

Ada tenda berdiri di samping rumah. Puluhan anak peserta orang tua mereka berkumpul di sana. Para pejabat—Ketua RT 03, Ketua RW 07, Lurah, Camat, Danramil, dan para tokoh masyarakat duduk di sofa barisan terdepan. Pukul 14.20, acara dibuka. Ini acara peresmian sekolah gratis untuk anak-anak di Kecamatan Lima Puluh.

Ketua SRMI Kecamatan Lima Puluh, Ketua DPW SRMI Riau, perwakilan Akar, pemuka RW 07, satu per satu memberi sambutan. Mereka semua senang dengan hadirnya sekolah gratis ini. “Kita akan mengedepankan pendidikan berbasis kerakyatan. Sesuai kondisi masyarakat saat ini,” ujar Ratno Budi saat memberi sambutan. Ia perwakilan Akar. “Contoh yang akan kita ajarkan; ayah pergi mencari barang bekas dan ibu pergi mencuci pakaian di rumah tetangga,” lanjutnya. Bukan ayah pergi ke kantor dan ibu pergi ke pasar—seperti diajarkan sekolah formal umumnya.

Terakhir sambutan dari Azly, Camat Lima Puluh. Ia sekaligus meresmikan sekolah gratis ini dengan menggunting pita. Semua hadirin bertepuk tangan. Lalu ia bersama para pejabat lain meninjau lokasi posko.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan orientasi atau perkenalan anak-anak didik dengan para tenaga pengajar. Husin, salah seorang staf pengajar, memanggil nama anak didik satu per satu. Ada 59 nama yang dibacakan. Anak yang sudah terpanggil namanya masuk ke dalam rumah. Dari 59 nama, ada 38 anak yang hadir.

Anak-anak duduk di lantai. Para pengajar berdiri memperkenalkan diri. Ada 10 staf pengajar. Mereka mahasiswa Universitas Islam Riau dan Universitas Riau. Mulai minggu depan, anak-anak akan belajar rutin, setiap Sabtu dan Minggu. Sabtu belajar kejuruan; seni musik, seni lukis, seni tari, dan teater. Sedangkan Minggu belajar Bahasa Inggris. Sebagian besar murid berminat pelajaran Bahasa Inggris.

Ipad, salah satu orang tua murid, turut mendaftarkan anaknya di sekolah gratis. “Anak saya dua, kelas 5 SD,” terangnya. Ia ingin anaknya pintar Bahasa Inggris. “Bagus, gratis pula. Tambah-tambah ilmu anak saya,” katanya.

Ita, orang tua murid lainnya menyatakan hal yang sama. “Walaupun sejak SD sudah belajar bahasa Inggris, tapi perlu diperdalam lagi. Kalau mahasiswa kan biasanya pintar,” katanya. Ia menyekolahkan anaknya, Yolanda Fitriani, di sekolah gratis ini. Anaknya kini kelas 1 SMP. Rata-rata mereka dapat informasi sekolah gratis dari ketua RW.

Perjuangan Rakyat Miskin Haruslah Perjuangan Politik


Oleh : Sonny Laurentius

CUACA dingin memeluk kota Cianjur. Hujan rintik-rintik juga tidak kunjung reda semenjak pagi. Tidak terlalu dingin memang, tetapi cukup membuat menggigil mereka-mereka yang menjadi tamu di daerah ini. Maklum, kali ini Cianjur menjadi tuan rumah pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Muswil) Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Jawa Barat.

Sedikitnya 35 orang telah berkumpul, yang merupakan perwakilan dari 6 cabang SRMI di Jawa Barat. Mereka akan melakukan evaluasi terhadap perkembangan organisasi, mendiskusikan situasi ekonomi-politik, dan merumuskan strategi-taktik untuk memajukan organisasinya.

Herman Sulaeman, ketua SRMI Cianjur dan sekaligus tuan rumah Muswil ini, membuka acara ini dengan pidato singkat. Tidak lama kemudian, acara mulai berjalan dengan dipandu oleh aktivis SRMI asal Tasik, Dedi Fauzi.

Pada kesempatan pertama, perwakilan dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Barat, Bung Leo, diberi kesempatan untuk memperkenalkan PRD kepada rakyat miskin dan sekaligus memandu diskusi mengenai situasi nasional.

Begitu diberi kesempatan berbicara, Leo langsung menukik pada pokok permasalahan bangsa Indonesia sekarang ini. “Persoalan pokok rakyat Indonesia,” katanya,” adalah sistim neoliberalisme yang dipraktekkan oleh pemerintahan SBY-Budiono.”

Sebagai konsekuensi dari mengadopsi neoliberal, menurut Leonard, bangsa Indonesia harus membuka pasarnya selebar mungkin, tidak ada bea masuk, dan tidak ada proteksi terhadap komoditi tertentu di dalam negeri. Sebagai akibatnya, sebagaimana diterangkan Leonard, sebagian besar ekonomi nasional mengalami kehancuran, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kendati pemerintah mencoba menyogok rakyat dengan program seperti KUR dan PNPM, tetapi Leo menyakini bahwa program ini tidak akan efektif untuk mengatasi persoalan kemiskinan yang meningkat secara drastis. “SBY hanya memberi kita ikan, bukan pancingnya,” kata Leo menggunakan peribahasa kuno Tiongkok.

Pada sesi selanjutnya, masing-masing perwakilan kota melaporkan kondisi geopolitik lokal, perkembangan organisasi, dan hambatan-hambatan dalam perjuangan. “Ada kemajuan dalam hal advokasi, ada penambahan anggota, dan SRMI mulai dikenal rakyat miskin secara luas,” kata perwakilan dari Cianjur.

Sementara itu, perwakilan dari kota lain mengangkat soal pentingnya perjuangan politik di kalangan rakyat miskin, supaya nantinya kepemimpinan politik tidak lagi diserahkan kepada parpol-parpol yang tidak memihak perjuangan rakyat. “Kita harus menjadi bagian dari kekuasaan, dan dengan itu kita bisa menentukan kebijakan yang memihak rakyat,” kata perwakilan dari kota lain.

Ada pula persoalan seperti adanya sebagian anggota yang belum paham organisasi, mekanisme kerja organisasi, masih kurangnya disiplin, dan persoalan Kartu Tanda Anggota (KTA). “Persoalan ini harus kita benahi secepatnya. Pendidikan anggota harus dijalankan secara reguler,” ujar Dedi Fauzi.

Akhirnya, setelah melalui diskusi dan perdebatan selama beberapa hari, Muswil berhasil memutuskan struktur baru kepengurusan DPW SRMI Jabar yang baru, yaitu Leonard (Ketua), Dedi Fauzi (Sekretaris), Nadia Harun (Bendahara), dan Sonny Laurentius (DPO).

Muswil juga memutuskan agenda mendesak yang akan dikerjakan organisasi, diantaranya, pendidikan dasar dan lanjut, merespon Hari Buruh Se-dunia, dan memaksimalkan ruang-ruang politik untuk berpropaganda.

Referendum Di Tengah Masa Jabatan

Oleh : Rudi Hartono

Salah satu kemajuan sangat penting dalam sistim pemilihan di Indonesia, sebagaimana sering diulang-olah oleh ilmuwan politik, adalah diperkenankannya pemilihan langsung di hampir semua tingkatan pemilihan (Presiden, Gubernur, Walikota/bupati).



Oleh presiden SBY dan kelompoknya, juga oleh banyak ilmuwan politik, model pemilihan langsung ini dianggap sangat demokratis dan legitimate. Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menyebut pemilihan langsung sebagai inti dari pembangunan demokrasi yang sehat.

Meskipun SBY dipilih secara langsung oleh rakyat dan berhasil mengumpulkan suara 60%, tetapi itu bukan berarti bahwa “dukungan itu bersifat tetap atau absolut”. Dukungan rakyat akan bersifat dinamis, bisa bergeser diantara dua imbangan kekuatan; pro-pemerintah atau oposisi.

Saya bisa memastikan bahwa dukungan rakyat pada saat SBY terpilih sebagai presiden akan sangat berbeda saat dia muncul di layar kaca TV untuk mengumumkan kenaikan harga BBM. Dalam sistim politik negeri ini, kita belum menemukan cara mengecek bagaiamana pergeseran dukungan itu terjadi, kecuali survey-survey terbatas yang dilakukan oleh kelompok tertentu.

Sistim Delegasi

Jika demokrasi dimaknai sebagai pendelegasian kekuasaan dari rakyat kepada wakil-wakil yang dipilih secara langsung, maka seharusnya rakyat punya kekuasaan penuh untuk memastikan bagaimana kekuasaan berjalan. Pada kenyataannya, mengacu kepada demokrasi yang dimpor dari Amerika, rakyat hanya diberi kesempatan sekali dalam lima tahun dan itupun hanya diberi waktu lima menit.

Setelah segelintir pejabat terpilih menjalankan kekuasaan, mereka bukan lagi sebagai pemegang mandat dari rakyat, tetapi secara ekslusif dan elitis memutuskan sendiri kebijakan-kebijakan. Sehingga, menurut saya, demokrasi ala Amerika ini bukanlah pendelegasian kekuasaan, melainkan “perampokan” kekuasaan dari rakyat.

Sistim delegasi atau sistim juru-bicara bukan temuan demokrasi liberal, tetapi sudah terbentuk sejak “Komune Paris”, yaitu sebuah sistim yang memungkinkan seluruh rakyat menjalankan kedaulatan mereka di seluruh level pemerintahan negara.

Sistim delegasi ini bukan hanya bentuk perwakilan politik, bukan pula sekedar elektoral, tetapi sebuah sistim yang seharusnya memungkinkan mayoritas, bukan segelintir elit berkuasa, yang menjalankan kekuasaan dan segala urusan publik.

Akan tetapi, demokrasi liberal menjadikan sistem delegasi menjadi kendaraan bagi segelintir elit untuk menjalankan kekuasaan, tanpa kontol langsung dari pemberi mandat, yaitu rakyat. Dalam pemilihan, seseorang kandidat menjanjikan apa saja agar dirinya terpilih sebagai perwakilan (anggota DPR/DPD), tetapi setelah si kandidat benar-benar terpilih dan menduduki jabatannya, maka ia tidak bisa lagi dikontrol atau di pegang oleh rakyat.

Beberapa masalah dalam sistim delegasi borjuis

Dalam sistim delegasi demokrasi borjuis, seorang politisi yang terpilih bertindak secara otonom atas nama rakyat, dan tidak mekanisme yang jelas tentang cara mengontrol politisi semacam ini.

Ada beberapa kelemahan yang patut dicatat di sini:

Pertama, delegasi yang terpilih kebanyakan tidak berasal dari tempat kerja atau masyarakat pemberi suara. kebanyakan kandidat adalah mereka yang ditunjuk oleh partai tertentu dan berkampanye atas nama rakyat setempat.

Kedua, delegasi yang terpilih tidak seluruhnya mewakili basis sosial tertentu atau kelompok sosial tertentu, terutama organisasi massa dan perkumpulan2 massa. Ada banyak kandidat yang terpilih tanpa mengetahui basis sosialnya, siapa pemilihnya, dan sebagainya.

Ketiga, hak untuk mencabut mandat pejabat terpilih tidak dimiliki oleh rakyat, melainkan oleh partai politik dari pejabat bersangkutan. Akibatnya, meskipun kinerja seorang delegasi sangat buruk dan tidak mewakili aspirasi pemilih, ia tetap saja dapat bekerja dengan tenang sepanjang partai belum mengeluarkan surat recall.

Keempat, kepentingan sosial para pemilih terdistorsi dan kehilangan keasliannya, lalu kemudian digantikan oleh kepentingan pihak-pihak tertentu dari partai politik dan segelintir pebisnis.

Kelima, adanya perlakuan “istimewa’ terhadap delegasi/perwakilan dalam bentuk pemberian gaji yang tinggi dan kedudukan istimewa menyebabkan jabatan ini diincar oleh banyak sekali orang. Ada banyak orang yang rela membayar ‘kursi” asalkan mereka mendapatkan nomor jadi, sehingga ketika berkuasa orientasinya pun berubah menjadi bagaimana ia harus mengembalikan duit.

Keenam, para delegasi/perwakilan dalam demokrasi liberal hanya menerima “blanko kosong” dari para pemilih, tidak disertai dengan kontrak perjanjian mengenai apa-apa yang harus dikerjakan saat menjadi parlemen. Para anggota parlemen terpilih juga tidak pernah bertanya kepada basis pemilih, tentang agenda apa yang harus dibawa dalam rapat-rapat dan harus dimenangkan.

Persoalan “elektoral” lima tahun

Menarik apa yang dikatakan oleh pemikir politik Perancis, Alexis de Tocqueville, bahwa demokrasi yang dipraktekkan di Amerika Serikat hanya sebatas apa yang disebut “proses demokrasi”. Akan tetapi, demokrasi amerika ini dianggap sebagai sesuatu yang universal, dan akan cocok untuk dipraktekkan di belahan dunia lainnya.

Salah satu bentuk dari demokrasi ala amerika ini adalah pelaksanaan pemilu yang reguler, yaitu biasanya 4-5 tahun sekali. Di Indonesia, demokrasi semacam ini menjadi persoalan besar, karena kesulitan untuk mengantisipasi aspirasi pemilih yang ditinggalkan oleh kandidat terpilih.

Jadi, dalam lima tahun masa jabatan pemegang mandat (ekskutif/legislatif), rakyat tidak punya ruang untuk memberikan penilaian dan memutuskan apakah melanjutkan mandat atau mencabut mandat.

Karena mekanisme semacam ini absen dalam sistim politik kita, maka seorang koruptor bisa berkuasa penuh selama lima tahun (satu periode), bahkan ada yang berkuasa hingga beberapa periode berikutnya. Seorang gubernur dan walikota penggusur bisa melaksanakan jabatannya selama lima tahun, meskipun aspirasi luas masyarakat sudah tidak puas terhadap kepemimpinannya.

Disamping itu, mekanisme elektoral ala demokrasi AS memecah belah masyarakat menjadi individu-induvidu, bukan sebagai rakyat atau sektor-sektor sosial dari rakyat banyak. Akibatnya, para individu-individu ini sulit mengartikulasikan kepentingan kolektif sektor sosialnya, tetapi mereka terpecah belah atas nama “hak pilih bebas”.

Dengan demikian, demokrasi liberal sebetulnya sangat anti dengan berbagai bentuk pengorganisasian rakyat, dan lebih memilih bentuk individu-individu bebas yang kurang politis (apolitis).

Referendum tengah jabatan

Kita perlu memikirkan sebuah mekanisme yang memungkinkan rakyat mengevaluasi kinerja politisi (eksekutif/legislatif) di tengah jabatan. Seorang politisi korup dan menindas rakyat, jikalau tidak ada mobilisasi dari gerakan rakyat yang kuat, dapat berkuasa selama lima tahun.

Oleh karena itu, saya berfikir tentang perlunya referendum di tengah masa jabatan, baik bagi eskekutif (presiden dan kepala daerah) maupun anggota parlemen (DPR/DPRD), untuk mempertanyakan kepada rakyat mengenai kinerja para pemegang mandat tersebut.

Dalam hal ini, ketika rakyat menilai bahwa kinerja mereka (eksekutif/legislatif) kurang sesuai dengan aspirasi pemilih, maka para penerima mandat tersebut bisa diturunkan dan digantikan dengan orang baru.

Di beberapa negara, khususnya Amerika Serikat, dikenal apa yang disebut “pemilu di tengah masa jabatan”, untuk mengukur tingkat kepuasaan pemilih terhadap pemerintahan.

Ada beberapa manfaat politik referendum di tengah masa jabatan bagi rakyat:

Pertama, referendum merupakan mekanisme demokratis bagi rakyat untuk bertanya di tengah masa jabatan, sekaligus punya kesempatan untuk mengoreksi jalannya pemerintahan (presiden/kepala daerah) atau mengevaluasi kerja-kerja wakilnya (DPR/DPD).

Kedua, rakyat mempunyai hak melalui referendum untuk menjatuhkan pejabat politik yang menghianati aspirasi rakyat, seperti koruptor, penggusur atau perampas tanah rakyat, dan lain sebagainya.

Ketiga, rakyat punya kesempatan untuk mengorganisir diri dan terlibat aktif dalam politik. Untuk mengorganisir referendum, misalnya, rakyat pula dikumpulkan tanda-tangan dan dinyatakan kesetujuannya.

Tidak sedikit diantara para politisi dan ilmuwan politik liberal yang menaruh kekhawatiran terhadap isu referendum semacam ini. Mereka mulai berkampanye bahwa pelaksanaan referendum akan menyedot anggaran baru, dan itu kurang tepat dalam situasi ekonomi negara yang sedang sulit.

Jika mau dihitung-hitung secara jujur, maka biaya referendum akan jauh lebih murah dan efisien ketimbang kerugian negara akibat praktek korupsi di seluruh level pemerintahan dan birokrasi, belum termasuk biaya politik yang ditanggung rakyat akibat kebijakan-kebijakan parlemen/eksekutif yang merugikan rakyat.

Perfect Day

BTricks


ShoutMix chat widget

Pengunjung

PENGUNJUNG

free counters