TRIPANJI PERSATUAN NASIONAL

1. HAPUSKAN HUTANG LUAR NEGERI 2. NASIONALISASI INDUSTRI ASING 3. INDUSTRIALISASI NASIONAL
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

11 Februari 2011

Michel Chossudovsky: Washington Lakukan Operasi Intelijen Terselubung Di Mesir



Oleh : Kusno

Ekonom dan sekaligus penulis progressif Kanada, Michel Chossudovsky, memperkirakan adanya usaha operasi intelijen AS di Kairo, Mesir, menyusul kedatangan seorang utusan Obama, Frank G. Wisner II.

Wisner dikenal baik sebagai bagian dari keluarga CIA, anak dari salah seorang mata-mata paling terkenal di Amerika Serikat, Frank Gardiner Wisner (1909- 1965), yang juga menjadi sponsor penggulingan pemerintahan Mohammed Mossadegh di Iran.

Wisner tiba di Kairo pada tanggal 31 Januari 2011, saat gerakan protes sedang mencapai puncaknya dalam upaya menjatuhkan rejim Mubarak.

Menurut Chossudovsky, Wisner merupakan kawan dekat Presiden Mesir, Hosni Mubarak, terutama saat Wisner menjadi dubes AS di Mesir tahun 1986-1991.

Semasa menjadi dubes di Mesir, Wisner dianggap punya peranan penting dalam negosiasi perjanjian pada tahun 1991, yang bukan saja berhasil memastikan komitmen Mesir untuk terjung dalam perang teluk pertama melawan Irak, tetapi juga berhasil menggolkan paket kebijakan reformasi makro-ekonomi yang dipandu oleh IMF.

Pendiskusiannya dengan Mubarak dimulai ketika Presiden Mesir itu menyampaikan pidato pada tanggal 1 Februari 2011, dimana Mubarak menyatakan bahwa dirinya tidak akan mundur hingga pemilihan Presiden baru akan diselenggarakan bulan September mendatang.

Dalam pernyataan publiknya, Wisner mengakui bahwa dirinya diijinkan oleh Mubarak untuk tinggal di kantornya. Namun, gedung putih buru-buru mengeluarkan klarifikasi, bahwa Wisner bukan cerminan kebijakan luar negeri AS dan pernyataan Wisner dibuat berdasarkan kapasitasnya sebagai pribadi.

Lebih lanjut, menurut Chossudovsky, pertemuan tertutup antara Wisner dengan Mubarak adalah bagian dari agenda intelijen. Washington tidak punya perhatian untuk mendorongnya mengikuti resolusi gerakan protes. Prioritas kegiatannya adalah perubahan rejim. Mandat Wisner adalah menginstrusikan Mubarak agar tidak mundur, sehingga berkontribusi terhadap terjadinya kerusuhan sosial dan ketidakpastian, belum lagi destabilisasi moneter yang menyebabkan miliaran dollar mengalir keluar negeri.

Ayah Wisner mengepalai Office of Strategic Services (OSS) di eropa tenggara selama perang dunia kedua. Semasa perang, ia banyak ditugasi untuk operasi intelijen yang dianggap modus operandi CIA. Tanggung jawabnya, antara lain, adalah melakukan sabotase, propaganda, dan disinformasi media. Dia merupakan arsitek dari operasi Mockingbird, salah satu program CIA untuk melakukan infiltrasi ke dalam media AS dan asing.

Pada tahun 1952, Wisner menjadi kepala direktorat perencanaan CIA, dimana Richard Helm menjadi kepala operasinya. Dia juga yang menjadi otak dari kudeta yang disponsori oleh CIA terhadap pemerintahan Mohammed Mossadegh di Iran pada tahun 1953, yang membuka jalan bagi berkuasanya Reza Syah Pahlevi, presiden boneka imperialis AS di Timur Tengah

10 Februari 2011

PRD: Jangan Terpancing Provokasi Berbau SARA, Perkuat Persatuan Nasional



Oleh : Ulfa Ilyas

Ketika perhatian sebagian besar rakyat Indonesia sedang tertuju kepada persoalan bangsa yang sangat besar, sekelompok orang telah melakukan provokasi kekerasan berbau SARA di dua tempat: Cikeusik dan Temanggung.

“Meski berlainan pemicu dan kasusnya, tetapi kejadian di Cikeusik dan Temanggung memiliki tujuan yang sama, yaitu memecah belah persatuan nasional di tengah kepungan imperialisme-neoliberal,” tulis Komite Pimpinan Pusat-Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) dalam sikap politiknya yang diedarkan secara luas hari ini (9/8).

Menurut ketua umum PRD Agus Jabo Priyono, kejadian di Cikeusik dan Temanggung tidak dapat dipisahkan dengan persoalan pokok yang sedang dihadapi bangsa ini, yaitu Kemiskinan dan kesengsaraan rakyat akibat perampokan sumber daya alam oleh pihak asing.

“Kolonialisme secara fisik memang sudah menghilang di bumi Indonesia, dan juga Van Mook sudah tidak ada lagi di Indonesia, tetapi politik pecah-belah ala kolonial itu masihlah ada,” ujarnya.

Lebih lanjut, dalam pandangan PRD, politik pecah belah merupakan senjata paling efektif bagi kaum kolonialis untuk mencegah rakyat Indonesia menempa persatuan. “Karena politik pecah belah itu pula rakyat Indonesia dihalang-halangi untuk menemukan musuh pokoknya, yaitu kolonialisme.”

Dan, satu alat politik pecah belah yang sering dipergunakan kolonialis sejak dahulu adalah membakar perbedaan keyakinan. Padahal, persoalan keyakinan di Indonesia sudah selesai jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan ketika nusantara masih diperintah oleh kerajaan-kerajaan, kata “toleransi antar penganut keyakinan” sudah dikenal.

PRD kemudian mengutip pernyataan tokoh pendiri bangsa, Bung Karno, yang berkata: “Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama: ada yang Islam, ada yang Kristen, ada yang Buddha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama.”

“Jangankan orang yang berbeda keyakinan, mereka yang tidak beragama pun punya hak hidup di Indonesia,” tulis statemen PRD menyimpulkan pernyataan Bung Karno di atas.

Bukan kejadian spontan dan konflik warga

PRD mengambil dua kesimpulan penting terkait kejadian di Cikeusik dan Temanggung.

Pertama, kejadian ini bukanlah kemarahan spontan sebagaimana yang coba digambarkan oleh sumber resmi pemerintah maupun media massa, melainkan sesuatu yang sudah terkondisikan dan diatur jauh-jauh hari.

Kedua, tidak betul kalau kejadian itu disebut konflik warga dengan Ahmadiyah atau pihak tertentu, sebab dalam berapa kejadian, seperti di Cikeusik, pelaku penyerangan justru berasal dari luar Cikeusik dan mereka membawa simbol-simbol ormas tertentu. Kejadian di Temanggung juga begitu, anda bisa menyaksikan bendera dan simbol ormas terlihat saat kejadian.

Hal itu berarti bahwa ini bukanlah konflik warga versus jemaah ahmadiyah dan golongan minoritas lainnya, melainkan provokasi ormas tertentu terhadap kaum minoritas.

SBY harus bertanggung-jawab

Karena PRD menodongkan tudingan kepada imperialisme sebagai pihak yang berkepentingan atas politik pecah-belah ini, maka partai gerigi-bintang ini pun menganggap SBY harus mengambil tanggung-jawab lebih besar.

“Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai agen imperialisme di Indonesia, adalah pihak yang paling bertanggung-jawab untuk melestarikan politik pecah-belah dan pertikaian diantara rakyat, sambil membuka lebar-lebar pintu untuk penjajahan asing,” demikian ditulis PRD dalam pernyataan sikapnya.

PRD mengajak rakyat dan tokoh agama tetap bersatu

Untuk mencegah politik pecah-belah ini terus berlanjut dan meluas, PRD mengajak massa rakyat untuk tetap bersatu-padu dan berkonsentrasi untuk melawan musuh bersama, yaitu imperialisme.

Selain itu, dalam pernyataan sikapnya, PRD juga mengajak tokoh lintas agama untuk bersama-sama mencegah umat masing-masing masuk dalam arus provokasi murahan tersebut.

Beberapa bulan yang lalu, para tokoh agama telah menunjukkan langkah progressif, yakni dengan melakukan pertemuan bersama dan mengikrarkan perlawanan melawan rejim kebohongan.

“Kami menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, termasuk juga para tokoh-tokoh lintas agama, untuk memperkuat persatuan nasional guna melawan imperialisme. Jagalah persatuan itu seperti kita menjaga biji mata kita.”

Ribka Tjiptaning Pertanyakan Realisasi Program Jaminan Persalinan Gratis



Oleh : Ulfa Ilyas

Meski sudah dijanjikan akan berjalan pada tahun 2011 ini, program jaminan persalinan gratis (Jampersal) belum juga berjalan secara merata dan diketahui luas oleh massa rakyat. Program ini mengcakup persalinan normal dan cesar ataupun yang mengalami komplikasi saat melahirkan.

Karena itu, Ketua Komisi IX DPR-RI, dr. Ribka Tjiptaning mempertanyakan keseriusan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, untuk menjalankan program ini.

Pasalnya, menurut temuan politisi asal PDI Perjuangan ini, di lapangan ditemukan mayoritas ibu-ibu yang melakukan persalinan di RSUD kelas III belum terlayani secara gratis.

“Ternyata RSUD belum menjalankan Jampersal. Ini berbeda dengan statemen menkes bahwa Jampersal harus terealisir bulan februari ini,” katanya melalui pernyataan pers yang diedarkan kepada media massa.

Selain itu, tambah Tjiptaning, masih banyak bidan desa yang belum mengetahui program Jampersal ini, sehingga banyak ibu hamil tidak tertangani oleh bidan desa.

PDI Perjuangan, sebagai salah satu partai yang aktif memperjuangkan program ini di parlemen, telah melakukan sosialisasi melalui acara “Megawai Makan Bersama Dengan Seribu Ibu Hamil”.

Untuk memastikan program ini berjalan, Ribka Tjiptaning mendesak Kementerian Kesehatan untuk menegaskan kepada RSUD, rumah sakit milik pemerintah lainnya, maupun rumah sakit swasta yang punya program jampersal untuk segera menjalankan program ini.

Ditambahkan pula, bahwa kementerian kesehatan harus melakukan sosialisasi jampersal secara menyeluruh kepada bidan desa. “Pemerintah harus melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat.”

Dan, agar supaya program ini tidak sekedar di atas kertas dan diselewengkan, kementerian kesehatan dituntut untuk memberikan sanksi keras kepada rumah sakit yang tidak menjalankan program ini.

Untuk mencegah kematian ibu dan bayi

Program Jampersal bukanlah jatuh dari langit ataupun kebaikan menteri kesehatan, melainkan juga atas tekanan dari DPR.

Dengan dana sebesar Rp2,1 triliun, pemerintah dan DPR berharap seluruh rakyat bisa melakukan persalinan secara gratis di rumah sakit pemerintah. Namun, bukan cuma rumah sakit pemerintah, program jampersal ini juga berlaku untuk rumah sakit swasta yang menjalankan program jamkesmas.

Untuk ibu-ibu hamil di desa-desa, yang mana di sana jarang atau hampir tidak ada rumah sakit, maka proses persalinan oleh bidan desa pun digratiskan. “asalkan bidan desa tersebut sudah menandatangi kerjasama dengan depkes.”

Program ini bertujuan untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi yang sangat tinggi di Indonesia.

Keberlanjutan Perlawanan Rakyat Mesir



Oleh : Risal Kurnia

Aktivis pro-demokrasi Mesir menyerukan kepada para pendukungnya untuk memperluas perlawana terhadap rejim Mubarak. Pernyataan ini keluar hanya beberapa saat setelah wakil Presiden Mesir, Omar Sulaiman, mengatakan bahwa seruan penggulingan terhadap Mubarak bisa memicu kudeta.

Omar Sulaiman, yang dipercaya Mubarak untuk mengatasi krisis ini, telah memunculkan kemungkinan adanya serangan baru terhadap gerakan protes.

Sulaiman juga menyampaikan kepada editor suratkabar Mesir mengenai “kelelawar di tengah malam gelap”, yang muncul untuk meneror rakyat, kecuali jika gerakan rakyat bersedia untuk melakukan negosiasi.

Sementara partai-partai oposisi duduk untuk melakukan pembicaraan mengenai reformasi konstitusi, gerakan rakyat justru berpendirian bahwa mereka tidak akan melakukan pembicaraan sebelum Mubarak mundur.

Pejabat resmi pemerintah telah mengeluarkan janji tidak akan menyerang, melukai, dan menangkap demonstran dalam beberapa hari ini, setelah muncul tekanan dari pemerintah Amerika Serikat.

Namun, surat kabat setempat melaporkan bahwa dua orang tewas dan ratusan orang terluka setelah bentrokan antara demonstran melawan polisi di kota El Kharga pada selasa malam.

Abdul-Rahman Samir, juru-bicara lima kelompok utama gerakan pemuda yang mengorganisir aksi massa di lapangan Tahrir (pembebasan), mengatakan: “Mereka mengancam memberlakukan darurat militer, yang berarti seluruh orang di lapangan ini akan dihancurkan.”

Pemogokan pekerja terusan suez

Enam ribu pekerja melancarkan pemogokan terbatas dan melakaukan pendudukan di terusan Suez pada hari Selasa untuk menuntut perbaikan kondisi hidup.

Pejabat otoritas terusan Suez, Mohamed Motair, berpendirian bahwa pekerja tidak terlibat dalam operasi tetapi aktivitas terusan Suez tetap berjalan normal.

Antara 5 sampai 7% minyak yang sampai eropa itu melalui terusan ini setiap hari, dan hal ini sangat berpengaruh terhadap harga dan pasokan minyak dunia.

Angka resmi seperti yang dikutip oleh media Mesir melaporkan bahwa pendapatan tol dari terusan ini menurun 1,6%, setara dengan penurunan 423.4 juta USD di bulan desember dan 416.6 juta di bulan januari, meskipun angka ini masih lebih tinggi dibanding dengan tahun 2010.

Partisipasi kelas pekerja

Sementara itu, serikat buruh telah melancarkan pemogokan umum nasional, yang telah menambah momentum bagi kaum oposisi di kota Kairo dan kota-kota besar lainnya.

Aljazeera melaporkan bahwa sedikitnya 20.000 pekerja keluar pabrik dan bergabung dalam pemogokan pada hari rabu.

Meskipun begitu, sebagaimana dilaporkan oleh Aljazeera, tuntutaan para pekerja tidaklah politis, melainkan soal tuntutan kenaikan upah dan kesejahteraan.

“Mereka menginginkan kenaikan gaji yang lebih baik, menghapuskan kesenjangan upah, dan mereka menuntut kenaikan sebesar Rp15% sebagaimana yang dijanjikan oleh negara,” kata wartawan Aljazeera.

Meskipun begitu, dalam poster dan tuntutan massa buruh terdapat tuntutan agar Presiden Mesir, Hosni Mubarak, segera mengundurkan diri.

30 Januari 2011

Penyatuan Kekuatan Nasional




Ketika neoliberalisme atau penjajahan kembali (rekolonialisme) semakin banyak mengorbankan sektor-sektor sosial, maka gerakan perlawanan juga seharusnya sudah berlangsung secara luas dan melibatkan banyak sektor sosial. Keragaman sektor sosial yang menjadi korban ini seharusnya menjadi basis material untuk perjuangan anti imperialisme.

Dari tahun 1998 hingga sekarang ini, pelajaran penting yang prlu diambil adalah terus berkembangnya berbagai manifestasi radikalisme massa rakyat, baik perjuangan yang bersifat spontan dan ekonomis maupun perjuangan-perjuangan politik. Tidak sedikit diantara perjuangan-perjuangan itu yang meraih kemenangan kecil, seperti penggulingan penguasa lokal, berhasil menunda kebijakan reaksioner, dan lain sebagainya.

Di samping itu, jika kita tinjau dan periksa kembali keadaan, maka tidak bisa dipungkiri bahwa keresahan sosial sedang mewabah. Keresahan tidak saja mencapai sektor-sektor sosial yang dirugikan secara langsung oleh ekonomi neoliberal, seperti kaum buruh, petani, dan rakyat miskin lainnya, tetapi juga sektor-sektor yang terganggung oleh konsekuensi neoliberal seperti kelompok lingkungan, kaum agamawan, dan lain-lain.

Juga dinamika baru dalam perimbangan kekuatan internasional saat ini, yakni pertentangan yang semakin jelas antara kepentingan negeri-negeri imperialis dan munculnya negara-negara yang memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Mana ada negara di dunia sekarang ini yang tidak berbicara soal kepentingan nasionalnya, meskipun dengan berbagai ekspresi yang berbeda; jika negeri imperialis punya kepentingan nasional untuk memperluas pasar dan eksploitasi, maka negeri dunia ketiga mengekspresikan kepentingan nasionalnya dalam bentuk nasionalisme ekonomi atau kemandirian nasional. Juga fenomena pergolakan politik di negeri-negeri Arab, khususnya Tunisia, Aljazair, dan Mesir, yang judul besarnya adalah “anti-kediktatoran dan reformasi politik”.

Sementara itu, akibat dari berbagai kebijakan neoliberalisme di Indonesia, maka hampir semua rumusan mengenai problem pokok bangsa Indonesia saat ini sudah mengerucut pada imperialisme. Dan, sebagai konsekuensi dari ketundukan dan keterlibatan langsung rejim SBY-Budiono sebagai mesin neoliberal, maka bisa disimpulkan pula bahwa “rejim SBY-Budiono adalah pusat dari masalah, yaitu imperialisme”.

Dulu, Bung Karno punya rumusan sangat jitu dalam soal bagaimana melawan imperialisme dan neo-kolonialisme, yaitu: “sammenbundeling van alle revolutionaire krachten.” Sementara untuk sekarang ini, dengan memperhatikan rumusan politik mengenai siapa kawan, siapa musuh, dan kaum netral, maka rumusan yang paling tepat adalah: “mempersatukan semua kekuatan yang bisa dipersatukan, untuk melawan imperialisme, khususnya perwakilan imperialisme di Indonesia: SBY-Budiono”.

Apa yang hendak ditegaskan editorial ini, adalah “bahwa jika perjuangan anti-imperialisme mau berhasil di Indonesia, maka ia harus menggabungkan segala potensi kekuatan nasional yang ada. Tidak bisa perjuangan anti-imperialisme itu dilakukan sekaligus dengan memperbesar barisan atau jumlah musuh, atau menyerang musuh-musuh non-pokok, dan melemahkan potensi-potensi kekuatan nasional yang bisa didorong maju.”

Soal serangan imperialis terhadap persatuan nasional ini, saya mengutip satu pernyataan dari salah seorang penulis pidato Bung Karno, yaitu Nyoto, yang berkata: “kolonialisme melakukan usaha pecah-belah, mengadu domba suku-bangsa yang satu dengan yang lain, partai yang satu dengan yang lain, agama yang satu dengan yang lain, usaha-usaha separatisme, pendeknya, menyuap semua orang yang bisa disuap, memecah-belah segala sesuatu yang bisa dipecah-belah, dan dengan demikian mencoba merusak Republik, agar abadilah kekuasaan kolonial mereka.”

Kemudian, apa yang menjadi tugas kita selanjutnya adalah mengubah imbangan kekuatan yang ada saat ini, tentunya agar memihak posisi kita. Kita harus mendorong maju kekuatan politik atau individu yang berfikiran pro-kepentingan nasional, baik tokoh di parlemen ataupun di luar parlemen. Disamping itu, untuk mengubah imbangan kekuatan itu, maka kita perlu juga memikirkan soal bagaimana “membangunkan 230 juta rakyat indonesia dari tidurnya”, agar mereka menjadi tenaga-tenaga anti-imperialis. Tidak mesti seluruhnya memang, tetapi harus sebagian besarnya.

Metode-metode pembangunan kekuatan, seperti advokasi, konsultasi kerakyatan, media alternatif, memenangkan kekuasaan lokal, dan lain sebagainya, bisa menjadi metode perjuangan bersama untuk mengubah imbangan kekuatan tersebut.

Salam

Organisasi Pergerakan Serukan “Penggulingan SBY-Budiono”




Oleh : Andi Nursal

Sejumlah organisasi pergerakan di Jakarta, diantaranya Repdem, Petisi 28, Gapura, LMND, FPPI, Komunitas Kretek, dan FAM UMT, menggelar aksi keliling untuk mensosialisasikan rencana aksi besar-besaran pada tanggal 28 januari 2011 mendatang.

Aksi dimulai di jalan Jalan Salemba, dimana puluhan peserta aksi berbaris membagi-bagikan brosur dan seruan aksi. Sementara itu, di samping barisan massa aksi, sebuah mobil pembawa sound-system bergerak agak pelan.

Orator menyampaikan pidato mereka secara bergantian di atas mobil sound-system. Dengan antusias rakyat di pinggir jalan menyaksikan iringan-iringan massa aksi, bahkan ada diantara warga yang rela menghentikan aktivitas.

Dari lampu merah jalan Pramuka, kemudian ke Salemba, lalu bergerak menuju jalan Diponegoro. Jalur ini dikenal sebagai jalur revolusi pada saat kebangkitan gerakan rakyat pada tahun 1998.

Di jalan Diponegoro, massa mengakhiri aksi keliling dengan membakar ban dan sebuah poster besar bergambar SBY. Aktivis Komunitas Kretek, Roso Suroso, tampil membacakan puisi perlawanan yang diberi judul “citra pesona”.

Serukan penggulingan SBY-Budiono

Tuntutan utama Front Pemuda untuk Revolusi Indonesia adalah penggulingan rejim neoliberal, SBY-Budiono. Dalam pandangan mereka, rejim SBY-Budiono sudah mengalami gagal di segala bidang, tetapi berusaha menutupi kegagalan itu dengan berbagai kebohongan.

Salah satu orator, yaitu Faisal dari Repdem, menyoroti kegagalan SBY dalam memberantas korupsi dan menegakkan hukum. Alih-alih bisa memberantas korupsi, kata Faisal, SBY justru tidak sanggup mengungkap dengan terang kasus Gayus Tambunan.

Sementara orator lainnya, Hendra Lamen Saputra dari LMND, menjelaskan soal pengangguran yang semakin membengkak di bawah rejim SBY-Budiono, termasuk pengangguran terpelajar alias sarjana.

Mantan Gitaris Led Zeppelin, Jimmy Page, Berkunjung Ke Kuba



Oleh : Rudi Hartono (PL)

Musisi Inggris Jimmy Page, yang juga dikenal gitaris band musik terkenal Led Zeppelin, membuat kejutan dengan berkunjung ke Kuba untuk beberapa hari.

Kantor berita resmi Kuba, Prensa Latina, melaporkan bahwa musisi berusia 67 tahun ini meninggalkan Kuba pada hari Senin lalu, setelah mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Kuba dan membeli souvenir khusus bergambar “Che Guevara hasil potret Alberto Korda, juga membeli sejumlah CD musisi lokal.

Jimmy Page, yang turut menulis lirik lagu terkenal “Stairway to Heaven” bersama vokalis Robert Plan, menginap di hotel tua di Havana, Hotel Saratoga, yang juga pernah menjadi tempat menginap musisi rock n roll dunia lainnya.

Led Zeppelin telah menginspirasi sejumlah band lokal di Kuba dan menjadi pengikut setia band tersebut di negara kepulauan itu. Bahkan, ketika mengetahui kunjungan Jimmy Page ini, sejumlah musisi lokal berusaha bertemu dengannya.

Musisi dari band lokal, Tesis de Menta, sebuah band yang mengibarkan bendera rock di Kuba, dengan vokalis yang juga penyiar radio terkenal, Juan Camacho, berhasil mewujudkan “mimpinya” setelah bertemu dan berdiskusi dengan Jimmy Page pada hari Sabtu lalu.

Setelah sempat dikerumuni banyak orang di lobby Hotel, Jimmy Page, yang mengenakan celana pendek dan kaos hitam, berbicara selama dua puluh menit dengan musisi Kuba mengenai karirnya.

Ia tertarik dengan karya tater Maxim, markas besar band rock Kuba, yang banyak dipengaruhi oleh Led Zeppelin dalam kancah lokal.

Penyanyi Tesis de Menta, Beatrix Lopez, mengatakan kepada Prensa Latina bahwa “dengan semangat muda” dan juga dengan “kuat”, Jimmy Page bercerita mengenai perkawannya dengan gitaris Inggris, Jeff Beck, yang juga menjadi bagian dari band terkenal, The Yardbird, pada tahun 1960-an.

Ia dengan antusias memuji karya musisi Belgia yang berakar pada Arab, Natasha Atlas, yang dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Eropa.

Perdomo, pemimpin Band Tesis de Menta, menambahkan bahwa gitaris Led Zeppelin ini, yang lagunya “Stairway to Heaven” dipilih majalah musik “Rolling Stone” sebagai musik terbaik dalam sejarah, mengekspresikan ketertarikan pada band rock Kuba dan berbagai genre lokal yang berkembang.

Jimmy Page mendirikan Led Zeppelin pada tahun 1968 dengan Robert Plant, yang beberapa bulan lalu kebetulan mengunjungi Kuba, bassis John Paul Jones, dan pemain drum John Bonham. Led Zeppelin, band rock paling berpengaruh sepanjang sejarah, akhirnya bubar pada tahun 1980. Sejak itu, anggota band hanya bertemu dan berkumpul pada acara-acara khusus.

Reuni terakhir mereka terjadi pada tahun 2007 di sebuah stadion di London, dalam sebuah konser untuk menghormati orang yang membantu Led Zeppelin dan mendirikan Atlantic record, Ahmed Ertegun (1923-2006).

Setelah pertunjukan itu, bereda rumor secara luas bahwa mereka akan kembali dalam satu panggung, tetapi untuk sekarang, band Led Zeppelin tidak mungkin untuk disatukan. Para penggemar Led Zeppelin di seluruh dunia masih berharap band ini bisa bersatu kembali dan meramaikan kancah musik dunia.

Mahasiswa Menyindir SBY Dengan Mengumpulkan Koin



Oleh : Kamarudin Koto

Puluhan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggelar aksi pengumpulan koin untuk gaji Presiden SBY. Dengan mengenakan topeng bergambar Presiden SBY, para peserta aksi mengedarkan kardus kosong untuk mengumpulkan sumbangan koin dari rakyat.

Aksi ini dilakukan di persimpangan Hotel Sahid Surabaya. Sebuah spanduk berukuran besar, dengan bertuliskan “Gerakan Recehan Dari Rakyat untuk Gaji Presiden, dipampang di pinggir jalan. Sementara seorang aktivis menyampaikan orasi-orasi mengenai tujuan aksi ini.

Menurut Ketua LMND Jatim Arif Fachruddin Ahmad, aksi ini merupakan sindiran kepada Presiden SBY, yang meminta kenaikan gaji di tengah krisis ekonomi hebat sedang melanda mayoritas rakyat.

“Keluhan Presiden itu tidak beralasan. Sebab, meskipun sudah 7 tahun belum menerima kenaikan gaji, tetapi gaji Presiden SBY masih termasuk yang tertinggi di dunia,” ujar Arif.

Dengan melontarkan keluhan mengenai gaji, Arif Fachruddin menganggap Presiden SBY seperti tidak mau tahu dengan penderitaan yang dialami oleh rakyat. “Seorang negarawan seharusnya lebih peka dengan penderitaan rakyat, ketimbang dirinya,” ujar Arif Fachruddin.

Minggu lalu, di depan peserta rapat pimpinan (rapim) TNI dan Polri 2011, Presiden SBY melontarkan keluhan mengenai gajinya yang belum naik selama 7 tahun. “Sampaikan ke seluruh jajaran TNI dan Polri, ini tahun keenam dan ketujuh, gaji presiden belum naik. Iya, ini betul,” kata SBY saat curhat di depan prajurit TNI.

Terhadap pernyataan itu, berbagai kalangan pun melontarkan kritikan pedas terhadap Presiden yang bekas Jenderal itu. Sebagian besar menganggap curhat Presiden mengenai gaji tidaklah etis.

Di jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, muncul semacam gerakan moral untuk menyumbangkan koin kepada Presiden. Soal gaji bagi pejabat memang persoalan sensitif, apalagi di tengah krisis ekonomi yang melanda rakyat.

Koin akan diserahkan kepada Partai Demokrat

Aksi pengumpulan koin ini tidak dilakukan untuk sehari saja, tetapi rencananya akan dilanjutkan hingga beberapa hari ke depan. Untuk besok, LMND Surabaya berencana akan menggelar aksinya di taman Bungkul, daerah gusuran pembangunan tol tengah kota, dan kampung Stren Kali.

“Kami tidak melakukannya di kampus, sebab kampus sedang liburan,” ujar Arif Fachruddin.

Selain itu, tambah Arif Fahcruddin, uang koin yang berhasil dikumpulkan akan diserahkan kepada Presiden SBY melalui partainya, yaitu partai demokrat. “Kami akan mendatangi kantor Partai Demokrat dengan pakaian gembel, dan menyerahkan koin ini untuk diberikan kepada Presiden,” tegasnya.

Gerakan Pemuda Desak Rejim SBY-Budiono Mundur



Oleh : Ulfa Ilyas

Sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda, yang tergabung dalam Gerakan Pemuda untuk Revolusi Indonesia (GPRI), menyerukan agar rejim SBY-Budiono segera mengundurkan diri sebelum digulingkan paksa oleh gerakan rakyat.

Seruan itu disampaikan oleh GPRI saat menggelar aksi massa di depan Istana Negara, siang tadi (28/1). Aksi dimulai depan stasiun Gambir, lalu bergerak dengan “long-march” menuju Istana Negara.

Seorang demonstran mengenakan topeng bergambar “SBY dengan hidung pinikio” berdiri di barisan terdepan. Disamping itu, ada pula patung SBY mengenakan kopiah dengan di beri warnah merah pada bagian pipi kanan dan kiri.

“Ini adalah perlambang dari rejim kebohongan, yaitu pemerintahan yang suka membohongi rakyat dengan janji muluk-muluk dan manipulasi statistik, “ ujar demonstran bertopeng Pinokio.

Ketika massa GPRI sampai di jalan Merdeka Utara, sekitar 200 meter dari Istana Negara, massa berhenti dan menggelar orasi-orasi politik secara bergantian. Lamen Hendra Saputra, ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, memandu setiap pimpinan organisasi untuk menyampaikan orasi-orasi.

Saat berada tepat di depan Istana Negara, ratusan demonstran ini melemparkan koin secara serempak ke arah istana, sebagai sindiran atas “curhat Presiden yang meminta kenaikan gaji”.

“Saudara-saudara, mari kita lemparkan koin ini ke dalam istana negara. Supaya Presiden SBY, yang tidak tahu malu, mengerti akan penderitaan rakyat,” ujar korlap di atas mobil pembawa sound-system.

Tuntutan Tritura

GPRI, yang beranggotakan sedikitnya 35 organisasi pergerakan mahasiswa dan rakyat, mengajukan tuntutan yang disebut “Tritura”, atau Tiga Tuntutan Rakyat, yaitu turunkan harga, tangkap koruptor dan pengemplang pajak, dan turunkan rejim SBY-Budiono.

Ketiga tuntutan itu, menurut seorang orator dari mahasiswa, merupakan jawaban mendesak atas persoalan rakyat sekarang ini, tetapi jika tidak segera diwujudkan, maka bangsa Indonesia akan semakin terpuruk.

GPRI memandang bahwa rejim SBY-Budiono, parlemen, dan seluruh penegak hukum sudah melakukan penghianatan kepada rakyat. Akibatnya, pemerintahan dijalankan dengan penuh kebohongan, hukum diputar-balikkan, dan berkhianat kepada Pancasila dan UUD 1945.

Sebagaimana dikatakan oleh humas GPRI, Agus Priyanto, bahwa tidak ada lagi alasan untuk mempertahakan rejim SBY-Budiono, sebuah rejim yang terus-menerus melakukan pembohongan dan manipulasi kepada rakyat, sementara rakyat dibiarkan terus hidup miskin dan melarat.

SBY Bisa Berakhir Seperti Ben Ali Di Tunisia

Menjawab pertanyaan soal masa depan pemerintahan SBY, tokoh pemuda dan pimpinan Petisi 28, Haris Rusli Moti mengatakan, pemerintah SBY akan berhadapan dengan dua keadaan, yaitu meluasnya perlawanan rakyat dan kehilangan legitimasi politik.

“Jika Presiden SBY tidak mengambil langkah-langkah radikal untuk mengatasi persoalan seperti kasus century dan mafia pajak, maka dia akan bernasib seperti Presiden Ben Ali di Tunisia atau Husni Mobarak di Mesir,” kata Haris Rusli Moti.

Sementara jika SBY memilih untuk bertahan, maka dia akan kehilangan “kekuasaan secara real” untuk menjalankan pemerintahan karena kehilangan kepercayaan sangat luas dari masyarakat.

Untuk itu, Haris Rusli Moti memberikan dua pilihan kepada SBY, yaitu mundur secara terhormat atau digulingkan oleh gerakan rakyat seperti kasus Tunisia dan Mesir.

Sejumlah aktivis ditangkap

Meskipun waktu sudah pukul 18.00 WIB, massa GPRI tetap bersemangat dan memilih bertahan di depan Istana Negara. Tidak hanya itu, sebagian demonstran yang beragama Islam menjalankan shalat magrib di depan Istana Negara.

Tidak lama kemudian, pihak kepolisian memberikan ultimatum agar massa segera meninggalkan lokasi aksi. Akan tetapi, tuntutan itu diabaikan oleh demonstran dan seorang orator menegaskan bahwa mereka akan tetap bertahan hingga SBY keluar menemui massa.

Namun, bersamaan dengan dikeluarkannya ultimatum terakhir, hujan deras mengguyur daerah sekitar istana negara. Meski begitu, mahasiswa tetap memilih berdiri di lokasi sambil membentuk rantai manusia.

Akan tetapi, tatkala barusan pasukan PHH bergerak dari arah depan Istana Negara menuju arah kumpulan demonstran, para mahasiswa ini memilih untuk membubarkan diri.

Sayang sekali, barisan belakang massa GPRI sempat bentrok dengan pasukan PHH dan sejumlah aktivis tertangkap. Tidak diketahui secara pasti mengenai jumlah aktivis yang tertangkap. Akan tetapi, dari pihak LMND mengaku, empat orang anggotanya ditangkap oleh pihak kepolisian, yaitu Anton (Unisma Bekasi), Lukman (Unisma Bekasi), Bili (Unisma Bekasi), dan Stefanus (IISIP).

Tidak hanya itu, mobil komando dan sopirnya pun sempat ditahan oleh Polisi, sebelum akhirnya dibebaskan kembali. Lubis, seorang aktivis Rakyat Bergerak, juga sempat ditangkap dan dipukuli Polisi, tetapi kemudian dibebaskan.

Gerakan Koin Pesangon Untuk SBY Di Jogjakarta



Oleh : Muhammad Fatoni

Ratusan massa dari Beberapa organisasi gerakan di DIY menyiapkan pesangon buat pemerintahan SBY. Massa yang tergabung dalam komite Revolusi Rakyat ini menggelar aksinya longmarch dari Tugu Yogyakarta sampai kantor pos besar DIY.

Dalam orasinya Slamet Was Air selaku Koordinator umum Komite revolusi rakyat menilai, pemerintah SBY sudah keterlaluan. Selama tujuh tahun pemerintahan hanya seperti “polisi India”, yaitu serba terlambat dalam segala hal. Selama ini kebijakan-kebijakan tidak membela rakyat, tetapi lebih mementingkan pencitraan figur presiden.

Sebagaimana era kapitalis lanjut ini yang penuh kebohongan. Pemerintah akibat citra-citra mampu bertahan hingga dua periode dengan membohongi publik. Ada kriteria kebohongan atau pengingkaran menurut Komite Revolusi Rakyat. Pertama, ingkar hukum. Kasus mafia hukum buktinya. Bagaimana mungkin orang dipenjara justru nglencer, kasus HAM yang tak dituntaskan, dan sebagainya. Hukum telah diplintir. Kedua, ingkar janji atau dusta yang sengaja melalaikan janjinya. Hukumnya seperti berkhianat, karena melalaikan amanat konstitusi.

Koin pesangon untuk SBY

Selain menggelar aksi massa, Komite Revolusi Rakyat juga mengumpulkan koin untuk pesangon Presiden SBY jika sudah dipecat. Ada banyak sekali warga masyakat yang menyumbang koin untuk pesangon SBY.

Penggalangan koin untuk SBY ini sekaligus sebagai sindirian atas curhatnya beberapa pekan lalu, saat meminta kenaikan gaji di hadapan anggota TNI/Polri. Di mata gerakan mahasiswa ini, curhat SBY itu sangat kontradiktif dengan kenyataan yang dialami oleh rakyat, seperti kaum buruh yang tidak pernah naik upahnya, kaum tani yang sulit menjual hasil produksi, hingga sebagian besar rakyat sulit mendapatkan pekerjaan.

Ketua Partai Rakyat Demokratik DIY, Budiman HK, menjelaskan bahwa banyak sekali persoalan yang dihadapi rakyat, diantaranya persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lain sebagainya, yang butuh perhatian Presiden SBY.
“Masih banyak kasus gizi buruk, rakyat makan nasi aking, putus sekolah, hingga kasus bunuh diri, yang seharusnya diperhatikan oleh SBY,” tegasnya.

Komite Revolusi Rakyat mempunyai catatan mengenai 9 dosa besar SBY-Boediono, yaitu: Pertama, tidak tuntasnya kasus Lumpur Lapindo, Munir, Marsinah, Wartawan Udin, Tanjung Priuk, dan lain-lain sehingga tidak adanya supremasi hukum di Indonesia; Kedua, Berkiblatnya perekonomian Indonesia pada neo-liberalisme; Ketiga, Membiarkan biaya pendidikan dan kesehatan semakin mahal sehingga tidak terjangkau oleh rakyat; Keempat, Ketidak berpihakan terhadap kaum buruh; Kelima, Membiarkan perlakuan diskriminatif terhadap buruh perempuan; Keenam, Menaikkan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, dan telepon; Ketujuh, Tidak selesainya polemik undang undang keistimewaan Yogyakarta secara benar dan proporsional; Kedepalan, Tindakan kriminalisasi terhadap para anggota oragnisasi rakyat yang menentang kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat; dan kesembilan, gagalnya mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Komite revolusi rakyat, yang terdiri dari 21 organisasi gerakan di DIY diantara HMI MPO, SMI, GMKI, IMM, Pembebasan, LMND, PRP, NPMSB IKPM Kep Riau, PPMI dan PRD, melakukan pembakaran Foto SBY, juga melakukan pemblokiran jalan yang mengakibatkan malioboro macet.

Aksi diakhiri dengan pengiriman koint receh di kantor pos besar DY hasil dari penggalangan kepada dari rakyat jogja sejumlah 99.000 sebagai pesangon untuk SBY dari rakyat yogjakarta.

24 Januari 2011

Oliver Stone, Amerika Latin dan Indonesia


Oleh : Zulkhair Burhan

Opini Gita Wirjawan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, mengenai Nasionalisme Ekonomi (Kompas/7 Oktober 2010) menuai banyak tanggapan kontra karena pandangannya dianggap justru menafikan kedaulatan ekonomi. Tema mengenai kedaulatan belakangan memang seolah menjadi tidak penting seiring dengan semakin terintegrasinya kita (Indonesia) dengan logika pasar bebas dihampir semua sektor kehidupan. Kedaulatan kemudian hanya menjadi konsumsi akademis bagi para “penikmat” kajian-kajian kritis dan selalu berakhir tragis ketiga berhadapan dengan logika Negara yang justru dibanyak aspek menganggap kedaulatan menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan apalagi ketika berhadapan dengan “kuasa besar”. Namun tidak banyak dari kita yang tahu bahwa di belahan dunia lain yang justru “sedapur” dengan negara Paman Sam terdapat beberapa negara di kawasan Amerika Latin yang sedang giat berusaha menerjemahkan dan mempraktekkan kedaulatan dalam makna yang sebenarnya.

Oliver Stone & Revolusi Bolivarian

Apa yang sedang terjadi di kawasan Amerika Latin inilah yang coba dipotret seorang sutradara langganan Academy Award, Oliver Stone, melalui film bergenre dokumenter dengan durasi sekitar 120 menit yang berjudul South of The Border. Film ini, menurut Stone, bertujuan untuk mengkhabarkan bahwa dibagian selatan Amerika sedang terjadi perubahan yang jarang disorot dan sebaliknya para pemimpin di kawasan ini sering menjadi objek propaganda “hitam” media barat.

Meski film ini berisi wawancara dengan beberapa presiden di kawasan Amerika Latin, antara lain; Hugo Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia), Lula da Silva (Brasil), Christina Kirchner (Argentina) dan suaminya yang juga mantan presiden Nestor Kirchner, Fernando Lugo (Paraguay), Rafael Correa (Ecuador), dan Raul Castro (Cuba). Namun Stoner lebih fokus mendokumentasikan keberhasilan Venezuela dibawah Hugo Chavez dengan Proyek Bolivarian-nya. Lalu bagaimana sebenarnya proses pembangunan yang sedang terjadi di negeri Simon Bolivar itu?

Michael Lebowitz, menyatakan bahwa pembangunan yang sedang gencar di Venezuela pada dasarnya bertumpu pada tiga aspek, yaitu: (1) pembangunan manusia (human development), (2) pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, (3) kepemilikan sosial dan pengambilan kebijakan berbasis partisipasi dalam komunitas dan tempat kerja. Dan menurutnya lagi, konstitusi Venezuela sangat mengakomodir ketiga aspek diatas sebagai alternatif atas logika kerja neoliberalisme. Ketiga aspek ini tidak hanya menjadi lip service atau retorika politik belaka namun lebih dari pada itu dia terejawantah dalam kebijakan ekonomi politik pemerintahan Chavez.

Mengenai pembangunan manusia misalnya, dalam rangka meningkatkan produksi pangan yang dikemas dalam kebijakan “Kedaulatan Pangan” melalui kerjasama bilateral dengan China yang disepakati pada bulan April lalu, pemerintahan Chavez akan mengiri petani-petaninya bersekolah di universitas-universitas terkemuka di Tiongkok. Atau misalnya melalui kebijakan yang disebut Canaima, Kementerian Pendidikan Venezuela tahun ini akan memberikan 768 ribu laptop mini secara gratis untuk kelas 1 dan 2 tingkat Sekolah Dasar. Selanjutnya, dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, khususnya kebutuhan pangan melalui kebijakan “Kedaulatan Pangan” yang bertujuan untuk menghindari ketergantungan terhadap produk impor, maka pemerintahan Chavez mengambil langkah serius dengan mengucurkan dana sekitar kurang dari setengah milyar bolivar pada tahun 1998 hingga 20 milyar bolivar pada tahun 2009. Karena program ini pula sehingga Venezuela berhasil mengurangi angka malnutrisi dari 21 % menjadi 60% pada periode yang sama. Selain itu, Chavez juga menasionalisasi perusahaan Agroislena milik Spanyol yang menyediakan bahan-bahan pertanian. Terakhir, dan ini yang saya kira penting, terkait kepemilikan sosial dan partisipasi dalam pengambilan kebijakan. Ini bisa terlihat pada program yang disebut “Tiznados River Socialist Agrarian Project”, program ini berupa pendirian perusahaan produksi pangan milik negara dengan berbasis partisipasi pekerja dalam pengambilan keputusan, sebagai bentuk tanggungjawab terhadap komunitas lokal, dan menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan dibanding pencapaian profit. Selain itu, sejak 4 tahun terakhir rakyat Venezuela telah mengorganisir diri dalam dewan-dewan komunal. Tiap dewan beranggotakan sekitar 150 keluarga di daerah perkotaan. Sementara di daerah pedesaan dan masyarakat adat, tiap dewan terdiri 20 dan 10 keluarga.

Dewan-dewan inilah yang menjadi jembatan aspirasi terhadap pemerintah dan juga digunakan untuk meningkatkan kapasitas masing-masing anggota dewan dengan mendiskusikan banyak hal termasuk melakukan diskusi rutin menyangkut konstitusi Negara.

Sejalan dengan tiga pondasi serta prakteknya diatas, Chomsky dalam New World of Indigenious Resistance, melihat bahwa spirit yang melandasi setiap aktivitas kehidupan masyarakat di Amerika Latin pada umumnya dan Venezuela pada khususnya adalah spirit “comunalidad” dan “interculturalidad”. Yang dalam konteks Venezuela bisa diartikan bahwa dalam keberagaman tetap terjalin semangat komunalisme. Spirit ini pula yang secara substansial melandasi keteguhan prinsip Chavez untuk mempertahankan kedaulatan Negara, sekali lagi tanpa tawar menawar.

Kita: Indonesia

Kasus Venezuela yang saya paparkan diatas bukan berarti tanpa cela karena disana sini juga masih terdapat banyak kekurangan. Namun yang membuatnya berbeda karena sejak awal semua kebijakan dijalankan untuk kepentingan masyarakat dan melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses pembangunan. Di banyak aspek kita tentu sangat berbeda dengan Venezuela sehingga sangat rumit untuk mengadopsi ide-ide perubahan ala Chavez hingga menjadi manifest di bangsa ini. Namun yang mungkin membuat kita sama adalah bahwa dibanyak aspek kedaulatan kita sedang diuji ketangguhannya. Bangsa ini bukan hanya dipusingkan dengan persoalan perbatasan yang selalu mengundang kisruh tapi juga soal pilihan platform pembangunan yang seringkali justru harus “menggadaikan” sedikit demi sedikit kedaulatan yang kita miliki. Dan parah nya karena harus menjadikan rakyat yang seharusnya menjadi pemegang kedaulatan tertinggi menjadi korbannya.

Venezuela dan beberapa negara di Amerika Latin juga sedang menghadapi berbagai macam persoalan menyangkut kedaulatan dan di banyak kasus selalu berhadapan vis a vis dengan negara seteru utamanya, Amerika Serikat. Namun perlahan-lahan tapi pasti mereka terus membenahi diri dengan pilihan platform pembangunan yang betul-betul berbasis partisipasi aktif masyarakat sehingga kosa kata “kedaulatan” menjadi ritme aktivitas masyarakat mereka tiap hari dan tidak hanya menjadi konsumsi intelektual namun miskin makna dan pengejawantahan.

Akhirnya, mengutip seorang Taoist terkenal, Lao-Tzu yang mengatakan bahwa seorang pemimpin dikatakan baik ketika apa yang dilakukannya membuat rakyatnya selalu merasa sedang merawat diri sendiri. Betulkah kita sedang merawat diri kita sendiri?

GAYUS TAMBUNAN




23 Januari 2011

Manusia Gerobak dan Gaji Presiden SBY



Oleh : Ulfa Ilyas

Hari sudah menghampiri malam. Agak gelap memang, sebab hampir seharian penuh matahari ditutupi oleh awan tebal. Di pinggir jalan, dekat sebuah sekolahan di kawasan Tebet, Jakarta, sesosok tubuh lelaki tergeletak begitu saja. Tidak jauh dari situ, seorang ibu dan anak perempuan sedang asyik bermain.

Sutarmin, nama sosok lelaki tersebut, mengaku pertama-kali menginjakkan kaki di Jakarta pada tahun 2009. Dia memilih menjadi “manusia gerobak” di Jakarta lantaran uang dari menjual sawahnya sudah habis, sedangkan rumahnya di sita pengadilan atas gugatan saudaranya sendiri.

Awalnya, dia berniat mencari pekerjaan serabutan di Jakarta, tetapi tidak ketemu-ketemu juga. Akhirnya, karena tidak ada keluarga dekat yang bisa ditempati bernaung untuk sementara, Sutarmin pun memilih “gerobak” sebagai tempat tinggalnya.

“Saya ini mau bekerja apa saja, asalkan itu bisa menghasilkan duit dan halal. Lama saya mencari-cari, tapi tidak ketemu juga. Ya, sudah…saya memilih hidup seperti ini,” katanya dengan suara agak pelan.

Pemandangan manusia gerobak memang bukan hal baru di Jakarta. Setidaknya, dalam beberapa tahun terakhir ini, jumlah manusia gerobak sepertinya kian bertambah. Mereka bisa ditemukan di setiap jalan-jalan di Jakarta, pinggir-pinggir ruko, di bawah jembatan layang, dan lain-lain.

Meskipun jumlahnya kian bertambah, tetapi kami masih sulit mendapatkan data resmi dari pemerintah perihal angka pasti “manusia gerobak” ini. Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (Yanrehsos) DKI Jakarta memperkirakan jumlah mereka ini mencapai ribuan orang.

Hidup dari mengais sampah dan plastik bekas

“Bila tidak bekerja, anda tidak makan,” itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Sutarmin. Dengan bermodalkan gerobak yang ditariknya setiap hari, Sutarmin dan keluarganya menyusuri jalan-jalan Jakarta untuk mengais sampah dan mengumpulkan plastik bekas.

Jika lagi beruntung, sehari Sutarmin bisa menghasilkan uang Rp20 ribu. Tetapi, jika cuaca kurang baik atau jika ada razia, maka dia hanya bisa mengumpulkan paling banyak Rp10 ribu.

“Jumlah uang segitu hanya cukup untuk membeli nasi dua bungkus, dua biji tempe, dan sambel. Itupun, istrinya saya harus berbagai dengan anak saya,” jelasnya.

Meskipun begitu, Sutarmin masih memendam cita-cita yang sangat mulia, yaitu membuka warung makan bersama istrinya. “Kalau nanti punya duit, saya bercita-cita membuka warung. Nanti, hasilnya saya gunakan untuk membiayai sekolah anak saya,” ungkapnya.

Dengan pendekatan Pemda DKI yang sangat represif kepada mereka, ruang gerak Sutarmin dan kawan-kawannya pun semakin terbatas. “Kami lebih baik menghindar dan mencari tempat aman. Kalau terkena razia, masalahnya bisa banyak,” katanya.

Selain mendapat perlakuan kasar dan kehilangan gerobak, mereka yang terkena razia pun akan dikirim ke Panti Sosial Kedoya atau Cipayung. “Bukan mendapat pembinaan dan pelatihan di sana, tetapi katanya diperas juga,” ujar Sutarmin mengisahkan cerita teman-temannya yang pernah terkena razia.

Presiden curhat soal gaji

Ketika saya memberitahu Sutarmin, bahwa Presiden SBY baru saja “curhat” mengenai gajinya yang tidak naik selama 7 tahun, ia langsung memotong pembicaraan dan berkata: “memangnya gaji Presiden SBY berapa, mas?”

“Kalau menurut The Economist, ini adalah majalah ekonomi paling bergengsi di dunia, gaji SBY sebesar US$ 124.171 atau sekitar Rp 1,1 miliar per tahun. Gaji SBY nomor 16 tertinggi di dunia,” jawabku.

“Masya Allah,” kata Sutarmin tersontak kaget. “Jumlah gaji yang segunung itu masih dikira masih kurang. Curhat lagi.”

Bagi orang kecil seperti Sutarmin, pernyataan Presiden sangat melukai perasaan orang miskin, terutama mereka yang belum punya rumah dan pekerjaan.

Sutarmin, yang kini berusia 46 tahun, menganjurkan agar Presiden SBY rajin-rajin mengunjungi rakyat seperti dirinya. “SBY harus turun melihat kondisi kami, supaya tahu betapa sulitnya hidup kami. Tapi, kami masih mau bekerja untuk makan, tidak sekedar makan gaji buta seperti SBY,” katanya dengan nada tinggi.

Raja Mandailing Dalam Konteks Kekinian



Oleh : Hiski Darmayana

Ketika menandatangani prasasti Museum Batak di Balige (18/01/2011), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianugerahi gelar Patuan Sorimulia Raja oleh Lembaga Adat Batak Angkola. Gelar tertinggi dalam adat Batak Mandailing/Angkola tersebut diberikan kepada Presiden SBY setelah sebelumnya beredar rumor bahwa SBY akan diberi gelar Raja Batak. Rumor ini memicu penolakan keras sebagian warga Batak terhadap rencana tersebut.

Kenyataannya Presiden SBY tetap disematkan gelar tertinggi dalam adat salah satu sub-suku Batak, namun gelar tersebut bukanlah Raja Batak, melainkan Patuan Sorimulia Raja, yang berarti paduka yang dihormati dan diteladani. Tak hanya gelar kehormatan tertinggi, SBY juga diberi marga Siregar, yang merupakan salah satu marga dari Batak Mandailing.

Hal menarik bila menelaah lebih jauh mengenai konsep raja dalam kebudayaan Mandailing, dan melihat relevansinya pada masa kini. Sistem kepemimpinan dalam budaya masyarakat Mandailing memang mengenal konsep raja. Hal ini terkait dengan sistem sosial Batak Mandailing/Angkola yang terdiri dari tiga bentuk organisasi sosial yakni, Banua, Huta dan Janjian.

Mora Na Toras sebagai Institusi Politik

Banua merupakan satu kesatuan teritori yang didalamnya terdapat kesatuan masyarakat otonom dan berbasiskan pada hukum adat. Kesatuan masyarakat Banua ini dipimpin oleh seorang raja yang dijuluki Raja Pamusuk. Raja Pamusuk haruslah berasal dari keturunan klan patrilineal yang mendirikan Banua (Lubis,1988).

Bila beberapa Banua memutuskan untuk menjalin persekutuan dan bernaung dalam satu kesatuan adat, maka persekutuan itu dinamakan Janjian (Mandailing) atau Hayuara Mardomu Bulung. Suatu Janjian dibentuk dengan tujuan memperkuat kesatuan antar Banua yang masing-masing telah mempunyai wilayah dengan batas-batas yang tegas.

Sementara Huta adalah tempat pemukiman penduduk yang ruang lingkupnya lebih kecil dari Banua. Huta sendiri merupakan hasil perkembangan kesatuan teritori adat masyarakat yang bermula dari pemukiman Banjar, Pagaran, Lumban dan akhirnya menjadi Huta. Huta pun dapat berkembang menjadi sebuah Banua bila telah memenuhi beberapa syarat. Syarat-syarat tersebut adalah telah memiliki institusionalisasi politik yang bernama Mora Na Toras, berpenduduk minimal 40 kepala keluarga dari marga yang berbeda-beda, serta mendapat izin dari Raja Banua tempat penduduk Huta berasal.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Banua atau Kerajaan merupakan kesatuan masyarakat yang mempunyai peran strategis dalam sistem sosial masyarakat adat Mandailing/Angkola, karena dapat menentukan terbentuknya Huta maupun federasi antar Banua yang bernama Janjian. Dalam sistem kepemimpinan di Banua inilah ada seorang raja (Raja Pamusuk) yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi lembaga politik Banua, Mora Na Toras. Selain Raja Pamusuk, ada unsur-unsur lain dalam struktur Mora Na Toras, yakni Suhu, Hatobangun/Anggi Ni Raja, Natoras, Bayo-bayo, dan Hatobangon. Penting untuk dicatat bahwa Hatobangon merupakan wakil penduduk biasa yang tidak termasuk klan pendiri Banua. Dari hal tersebut terlihat bahwa prinsip keterwakilan rakyat biasa dalam politik telah ada pada sistem sosial-politik masyarakat adat Mandailing.

Raja dan Kemakmuran Rakyat

Sebuah Huta atau Banua dalam konsepsi adat masyarakat Mandailing/Angkola haruslah didukung oleh sumber daya alam yang dapat mencukupi kehidupan masyarakatnya. Namun, bila sumber daya alam yang ada terbilang cukup apakah dengan demikian kesejahteraan masyarakat pasti akan terwujud? Tentu tidak semudah itu. Maka, sistem pengelolaan natural resources menjadi hal yang menetukan kesejahteraan masyarakat Huta maupun Banua.

Dalam tradisi masyarakat Mandailing/Angkola, selain harus didukung oleh sumber alam yang memadai, khusus untuk Raja harus memiliki kolam ikan atau tobat bolak dan persawahan atau saba bolak. Kedua hal itu berfungsi sebagai tempat persediaan makanan yang tidak boleh kering bagi rakyat atau dalam bahasa Mandailingnya “talaga na so tola hiang”. Hasil dari areal persawahan berguna bila musim paceklik datang melanda Banua, sedangkan kolam ikan dapat diakses rakyat bila Banua didera kekeringan dan ikannya dapat dimanfaatkan sebagai penunjang bahan pangan. Hal menarik dari masyarakat adat Banua kembali terlihat, yakni adanya sistem logistik yang kuat bagi ketersediaan pangan kerajaan.

Prinsip ketahanan sekaligus kedaulatan pangan menjadi hal yang demikian penting bagi masyarakat adat Mandailing/Angkola, dan seorang Raja yang ideal dalam konsepsi adat Mandailing adalah Raja yang tidak akan membiarkan seorang pun rakyatnya kelaparan. Dengan arti lain, seorang Raja yang baik haruslah Raja yang cakap mengatur pengelolaan sumber alam demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Inilah yang menjadi esensi dari konsep raja dalam sistem sosial masyarakat adat Mandailing.

Dalam konteks kekinian, pemberian gelar Patuan Sorimulia Raja kepada Presiden SBY seakan menjauhi nilai-nilai adat Mandailing yang berkaitan dengan kriteria ideal seorang raja. Betapa tidak, kini media massa dipenuhi oleh berita mengenai kenaikan harga bahan-bahan pangan yang memicu keresahan masyarakat luas. Stabilisasi harga pun tidak mampu meredam gejolak harga pangan, karena hanya diatasi dengan impor komoditi, tidak dengan fungsionalisasi Bulog secara optimal.
Sementara pemerintahan yang dipimpin Presiden SBY berbangga dengan laju pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan dan pengangguran yang berkurang (menurut standar pemerintah tentunya) serta produk domestik bruto (PDB) yang tinggi, di pelosok pedesaan Jawa telah banyak keluarga yang makan tiwul sebagai pengganti beras. Bahkan ada yang sampai tewas keracunan tiwul akibat tak mampu membeli beras. Ada pula kisah tragis lainnya, yakni bunuh diri yang dilakukan keluarga buruh tani di Cirebon karena deraan kesuiltan ekonomi di awal tahun 2011 ini.

Bukan kelayakan dari penganugerahan gelar tersebut yang akan dipersoalkan disini, namun esensi dari makna seorang Raja yang seakan hilang dalam ritual pemberian gelar bagi Presiden SBY tersebut. Ingat, seorang Raja Mandailing bukanlah seorang Raja yang tega membiarkan seorang pun rakyatnya kelaparan, apalagi sampai memanipulasi penderitaan rakyatnya dengan angka-angka statistik demi politik pencitraan. Gelar Patuan Sorimulia Raja yang berarti seorang pemimpin yang dihormati dan diteladani juga agak janggal bila dilekatkan pada pemimpin yang menjaga citra kepemimpinannya dengan kebohongan dan pengingkaran realita, yang tentu tak akan mendatangkan manfaat bagi rakyat.

*) Penulis adalah alumni Antropologi FISIP Unpad dan Kader GMNI Sumedang.

Kaum Tani Tidak Gentar Menghadapi Pasukan Brimob




Oleh : Agun Sulfaira

Karena perjuangan para petani yang begitu berani dan militan, perusahaan perampas tanah tidak mudah untuk memulai operasinya di desa Tanjung Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Seperti terjadi pada tanggal 4 Januari lalu, dimana acara sosialisasi kehadiran PT. RAPP digagalkan oleh mobilisasi kaum tani.

Seolah belajar dari pengalaman kegagalan itu, pengusaha kini berusaha menggandeng kekuatan yang lebih besar, yaitu pasukan Brimob. Dan, pada tanggal 17 Januari lalu, seorang humas PT. RAPP yang kebetulan tinggal di dusun Sungai Hiu, Desa Tanjung Padang, memberitahukan kepada masyarakat bahwa pihak perusahaan akan mendatankan 40 orang pasukan Brimob.

Pihak PT. RAPP telah membangun tenda untuk pasukan Brimob dan pekerjanya pada tanggal 17 Januari dan 19 januari lalu. Itu merupakan pertanda yang sudah terang, bahwa PT. RAPP akan memaksakan operasinya di desa Tanjung Padang, dan akan menggunakan Brimob untuk memukul perlawanan petani.

Atas perkembangan situasi ini, pihak pimpinan Serikat Tani Riau (STR) sudah menyampaikan tuntutan resmi kepada pemerintah agar segera mencegah operasionalisasi PT. RAPP, sekaligus untuk mencegah kemungkinan terjadinya bentrokan di lapangan.

“Pihak petani berada dalam posisi akan mempertahankan tanah dan hak-hak sosial-ekonominya. Jika PT.RAPP akan menggunakan Brimob, maka pastilah kaum tani akan melakukan perlawanan,” jelas Teri Hendra, ketua KPP STR kepada Berdikari Online.

Selain itu, tambah Teri Hendra, pihak pemerintah segera mencabut SK menhut nomor : SK.327/MENHUT-II/2009 tertanggal 12 juni 2009, mengingat bahwa SK tersebut tidak memiliki proses AMDAL yang jelas sampai sekarang ini. Lagipula, penolakan terhadap SK ini bukan saja dilakukan oleh petani dan masyarakat luas, tetapi dilakukan juga oleh Bupati Kepulauan Meranti dan segenap anggota DPRD.

Sampai berita ini diturunkan, sekitar Pukul 23.00 WIB, ribuan kaum tani dari berbagai desa sedang memobilisasi diri menuju dusun Hiu, Desa Tanjung Padang, untuk melakukan perlawanan terhadap rencana sosialisasi operasional PT. RAPP.

Dengan semangat baja, demi mempertahankan tanah dan kehormatan, para petani ini telah berbaris menuju medan perjuangan. Kepada para pembaca yang hendak menyampaikan solidaritas dan dukungan, silahkan mengirimkan pesan melalui email redaksi: redaksiberdikari@yahoo.com

18 Januari 2011

100 Tokoh Ikrarkan Perlawanan Terhadap Rejim Kebohongan

Oleh : Ulfa Ilyas

Oposisi terbuka terhadap pemerintahan SBY dari hari kehari semakin meluas, bukan saja tokoh lintas agama yang sudah bersuara minggu lalu, tetapi kini melibatkan 100 tokoh dari berbagai organisasi politik.

Bertempat di Gedung Juang 45 Jakarta, tempat dimana dulu para pemuda radikal menggagas kemerdekaan Indonesia, 100 tokoh lintas organisasi politik kini berkumpul dan mendeklarasikan tahun 2011 sebagai “tahun kebenaran”.

Pertemuan 100 tokoh lintas organisasi politik ini disebut pertemuan meja bundar, tapi bukan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang merestorasi kolonialisme itu, melainkan pertemuan untuk menyatakan perlawanan terhadap neo-kolonialisme.

Sejumlah tokoh yang hadir, antara lain: Rizal Ramli, Yudi Latif, Yuddy Chrisnandi (Hanura), Permadi (Gerindra), Ahmad Yani (PPP), Mahfudz Siddiq (PKS), Indra J Piliang (Golkar), Fuad Bawazier (Hanura), Firman Djaya Daeli (PDIP), Effendi Choirie (PKB), mantan KSAD Tyasno Sudarto, Adi Massardi, dan Martin Hutabarat.

Teriakan “Ganti Rezim, Ganti Sistem” berkali-kali bergema dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini. Sejumlah poster bergambar SBY-Budiono, dengan tulisan “Ganti Rezim, Ganti Sistem” di bawahnya, juga terlihat diacung-acungkan oleh sejumlah peserta pertemuan ini.

Tahun 2011: Tahun Kebenaran!

Rizal Ramli, yang menjadi inisiator utama dari pertemuan ini, membuka diskusi dengan membacakan pidato bertema “Tahun 2011: Tahun Kebenaran!”

Dalam pidatonya Rizal Ramli menyoroti enam tahun pemerintahan SBY yang penuh dengan pencitraan dan bungkus palsu, tetapi sangat miskin dengan prestasi yang menonjol.

“Pendapatan rakyat tetap dan sangat kecil, tetapi harga makanan, pendidikan, kesehatan, dan energi semakin mahal karena disesuaikan dengan pasar internasional,” katanya.

Lebih lanjut, mantan tokoh gerakan mahasiswa 1977-78 ini menambahkan, pemerintah hanya sibuk menonjolkan keberhasilan “kepala kerbau” yang memang sangat dinamis karena harga komoditas yang tinggi dan aliran uang panas, tetapi “kepala kerbau” itu hanya dinikmati 10% dari rakyat Indonesia yang paling atas.

Untuk itu, Rizal Ramli mengajak semua pihak untuk berani menyatakan kebenaran, membongkar berbagai kepalsuan, dan kebohongan.

“Kami percaya mayoritas bangsa kita adalah orang baik-baik. Akan tetapi, mayoritas yang baik-baik itu hanya diam dan berbisik-bisik, sehingga para bandit yang sesungguhnya minoritas makin berani merusak sendi kehidupan bernegara,” katanya.

Harus gerakan massa

Salah satu tokoh dari 100 tokoh yang hadir, yaitu Effendi Choirie alias Gus Choi, menyatakan bahwa jalan pemakzulan terhadap SBY hampir mustahil untuk dilakukan.

Sebaliknya, Gus Choi justru percaya bahwa gerakan massa yang terpimpin akan jauh lebih efektif, tetapi syaratnya harus dipimpin tokoh sentral seperti Amein Rais dan Gus Dur pada tahun 1998.

Ia pun menyambut baik kemunculan tokoh lintas agama, yang minggu lalu menyampaikan kritik terhadap pemerintahan SBY.

“Kelompok agama ini cukup diterima, mewakili legitimasi berbagai macam elemen. Mahasiswa tinggal ikut,” jelasnya.

Ilmuwan Kuba Rayakan Hari Ilmu Pengetahuan

Oleh : Prensa Latina

Hari Sains dirayakan oleh rakyat Kuba dengan berbagai kegiatan ilmiah yang berkontribusi secara sosial dan pembangunan teknologi bangsanya, dan sekaligus menandai Tahun Kimia Internasional.

Digagas pada tahun 1960, hari ilmu pengetahuan Kuba merupakan penghargaan atas pernyataan pemimpin revolusioner Kuba, Fidel Castro, yang mengatakan pada saat itu: “masa depan negeri kami haruslah masa depan ilmu pengetahuan manusia, fikiran manusia.”

Sejak saat itu, ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat di Kuba, dimana sebuah proses penelitian dikembangkan untuk melindungi lingkungan, meningkatkan kesehatan manusia, dan mengembangkan teknologi.

Pencapaian terbaru pada tahun lalu adalah bidang medis, termasuk penemuan produk baru berupa vaksin untuk pengobatan kanker paru-paru dan vaksi anti-Meningokokus A dan B.

Terobosan lainnya, menurut ahli dari Kementerian Sains, teknologi, dan lingkungan, adalah penemuan obat anti-hemorrhoid ( pembengkakan dan peradangan pada pembuluh darah balik/vena), yang menggambungkan antara Streptokinase ( protein ekstraseluler bakteri yang diproduksi oleh beberapa galur Streptococcus haemolyticus grup C) dan interferon alpha.

Festival hari sains Kuba merupakan bagian dari Tahun Kimia Internasional, yang digagas oleh PBB untuk mendorong terobosan di bidang sains.

Ini sekaligus merupakan penghormatan terhadap ilmuwan perempuan Polandia, Marie Curie (1867-1934), yang menemukan radioaktif dan menjadi perempuan pertama yang meraih dua penghargaan nobel di bidag sains; yang pertama pada tahun 1920-an untuk penemuannya, dan kedua terjadi delapan tahun kemudian, untuk penemuan radium dan polonium.

Sekolah Gratis Untuk Rakyat Miskin Diresmikan


Oleh : Lovina

Pita putih diikat membentangi pintu sebuah rumah berdinding kayu bercat biru. Ini Sekretariat DPKc-SRMI Lima puluh. Beberapa papan nama ucapan selamat terpampang di sekitar sekretariat. Tulisannya: “Selamat atas peresmian posko kesehatan dan pendidikan gratis”. Acara ini diselenggarakan oleh Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan Akademi Rakyat (Akar).

Ada tenda berdiri di samping rumah. Puluhan anak peserta orang tua mereka berkumpul di sana. Para pejabat—Ketua RT 03, Ketua RW 07, Lurah, Camat, Danramil, dan para tokoh masyarakat duduk di sofa barisan terdepan. Pukul 14.20, acara dibuka. Ini acara peresmian sekolah gratis untuk anak-anak di Kecamatan Lima Puluh.

Ketua SRMI Kecamatan Lima Puluh, Ketua DPW SRMI Riau, perwakilan Akar, pemuka RW 07, satu per satu memberi sambutan. Mereka semua senang dengan hadirnya sekolah gratis ini. “Kita akan mengedepankan pendidikan berbasis kerakyatan. Sesuai kondisi masyarakat saat ini,” ujar Ratno Budi saat memberi sambutan. Ia perwakilan Akar. “Contoh yang akan kita ajarkan; ayah pergi mencari barang bekas dan ibu pergi mencuci pakaian di rumah tetangga,” lanjutnya. Bukan ayah pergi ke kantor dan ibu pergi ke pasar—seperti diajarkan sekolah formal umumnya.

Terakhir sambutan dari Azly, Camat Lima Puluh. Ia sekaligus meresmikan sekolah gratis ini dengan menggunting pita. Semua hadirin bertepuk tangan. Lalu ia bersama para pejabat lain meninjau lokasi posko.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan orientasi atau perkenalan anak-anak didik dengan para tenaga pengajar. Husin, salah seorang staf pengajar, memanggil nama anak didik satu per satu. Ada 59 nama yang dibacakan. Anak yang sudah terpanggil namanya masuk ke dalam rumah. Dari 59 nama, ada 38 anak yang hadir.

Anak-anak duduk di lantai. Para pengajar berdiri memperkenalkan diri. Ada 10 staf pengajar. Mereka mahasiswa Universitas Islam Riau dan Universitas Riau. Mulai minggu depan, anak-anak akan belajar rutin, setiap Sabtu dan Minggu. Sabtu belajar kejuruan; seni musik, seni lukis, seni tari, dan teater. Sedangkan Minggu belajar Bahasa Inggris. Sebagian besar murid berminat pelajaran Bahasa Inggris.

Ipad, salah satu orang tua murid, turut mendaftarkan anaknya di sekolah gratis. “Anak saya dua, kelas 5 SD,” terangnya. Ia ingin anaknya pintar Bahasa Inggris. “Bagus, gratis pula. Tambah-tambah ilmu anak saya,” katanya.

Ita, orang tua murid lainnya menyatakan hal yang sama. “Walaupun sejak SD sudah belajar bahasa Inggris, tapi perlu diperdalam lagi. Kalau mahasiswa kan biasanya pintar,” katanya. Ia menyekolahkan anaknya, Yolanda Fitriani, di sekolah gratis ini. Anaknya kini kelas 1 SMP. Rata-rata mereka dapat informasi sekolah gratis dari ketua RW.

Perjuangan Rakyat Miskin Haruslah Perjuangan Politik


Oleh : Sonny Laurentius

CUACA dingin memeluk kota Cianjur. Hujan rintik-rintik juga tidak kunjung reda semenjak pagi. Tidak terlalu dingin memang, tetapi cukup membuat menggigil mereka-mereka yang menjadi tamu di daerah ini. Maklum, kali ini Cianjur menjadi tuan rumah pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Muswil) Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Jawa Barat.

Sedikitnya 35 orang telah berkumpul, yang merupakan perwakilan dari 6 cabang SRMI di Jawa Barat. Mereka akan melakukan evaluasi terhadap perkembangan organisasi, mendiskusikan situasi ekonomi-politik, dan merumuskan strategi-taktik untuk memajukan organisasinya.

Herman Sulaeman, ketua SRMI Cianjur dan sekaligus tuan rumah Muswil ini, membuka acara ini dengan pidato singkat. Tidak lama kemudian, acara mulai berjalan dengan dipandu oleh aktivis SRMI asal Tasik, Dedi Fauzi.

Pada kesempatan pertama, perwakilan dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Barat, Bung Leo, diberi kesempatan untuk memperkenalkan PRD kepada rakyat miskin dan sekaligus memandu diskusi mengenai situasi nasional.

Begitu diberi kesempatan berbicara, Leo langsung menukik pada pokok permasalahan bangsa Indonesia sekarang ini. “Persoalan pokok rakyat Indonesia,” katanya,” adalah sistim neoliberalisme yang dipraktekkan oleh pemerintahan SBY-Budiono.”

Sebagai konsekuensi dari mengadopsi neoliberal, menurut Leonard, bangsa Indonesia harus membuka pasarnya selebar mungkin, tidak ada bea masuk, dan tidak ada proteksi terhadap komoditi tertentu di dalam negeri. Sebagai akibatnya, sebagaimana diterangkan Leonard, sebagian besar ekonomi nasional mengalami kehancuran, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kendati pemerintah mencoba menyogok rakyat dengan program seperti KUR dan PNPM, tetapi Leo menyakini bahwa program ini tidak akan efektif untuk mengatasi persoalan kemiskinan yang meningkat secara drastis. “SBY hanya memberi kita ikan, bukan pancingnya,” kata Leo menggunakan peribahasa kuno Tiongkok.

Pada sesi selanjutnya, masing-masing perwakilan kota melaporkan kondisi geopolitik lokal, perkembangan organisasi, dan hambatan-hambatan dalam perjuangan. “Ada kemajuan dalam hal advokasi, ada penambahan anggota, dan SRMI mulai dikenal rakyat miskin secara luas,” kata perwakilan dari Cianjur.

Sementara itu, perwakilan dari kota lain mengangkat soal pentingnya perjuangan politik di kalangan rakyat miskin, supaya nantinya kepemimpinan politik tidak lagi diserahkan kepada parpol-parpol yang tidak memihak perjuangan rakyat. “Kita harus menjadi bagian dari kekuasaan, dan dengan itu kita bisa menentukan kebijakan yang memihak rakyat,” kata perwakilan dari kota lain.

Ada pula persoalan seperti adanya sebagian anggota yang belum paham organisasi, mekanisme kerja organisasi, masih kurangnya disiplin, dan persoalan Kartu Tanda Anggota (KTA). “Persoalan ini harus kita benahi secepatnya. Pendidikan anggota harus dijalankan secara reguler,” ujar Dedi Fauzi.

Akhirnya, setelah melalui diskusi dan perdebatan selama beberapa hari, Muswil berhasil memutuskan struktur baru kepengurusan DPW SRMI Jabar yang baru, yaitu Leonard (Ketua), Dedi Fauzi (Sekretaris), Nadia Harun (Bendahara), dan Sonny Laurentius (DPO).

Muswil juga memutuskan agenda mendesak yang akan dikerjakan organisasi, diantaranya, pendidikan dasar dan lanjut, merespon Hari Buruh Se-dunia, dan memaksimalkan ruang-ruang politik untuk berpropaganda.

07 Januari 2011

Catatan Akhir Tahun 2010






Oleh Redaksi Berdikari Online


Catatan Akhir Tahun 2010


Situasi Politik Internasional


Tahun 2010 diwarnai oleh berbagai macam krisis yang dipicu oleh intervensi imperialisme AS dan sekutunya. Ancaman perang nuklir di semenanjung Korea dan Iran meningkat sepanjang tahun ini. Krisis di Korea bahkan semakin menghawatirkan dengan meletusnya beberapa kali kontak senjata, berlanjutnya provokasi AS seperti dalam latihan perangnya dengan Korea Selatan. Di sekitar Asia Barat – atau yang lebih dikenal dengan Timur Tengah – kekerasan politik terus berlanjut di Irak maupun Pakistan dan Afghanistan. Kepentingan AS di wilayah yang strategis dan kaya minyak ini mendorongnya untuk menjaga keberadaan basis militernya di wilayah sekitarnya, seperti di negeri-negeri Asia Tengah, sehingga dukungannya terhadap rejim korup yang mengakomodasi kepentingan AS, seperti rejim Bakiyev di Kyrgyztan, sering menyebabkan pergolakan politik yang disertai konflik etnis dan berakibat menghambat kemajuan gerakan demokratik.

Lebih dekat dengan tanah air, konflik hebat terjadi di Thailand sepanjang April dan Mei. Ini berujung dengan pertumpahan darah di pusat kota Bangkok antara militer dan massa aksi “kaus merah”. Kaum kaus merah menuntut kebebasan demokratik yang dikekang oleh pemerintahan militeristik yang didukung kaum monarki. Sementara di Burma, setelah digelarnya pemilu pada bulan November – pemilu yang dinilai penuh kecurangan dan memenangkan kembali partai pendukung kaum junta berkuasa – pemerintah Burma membebaskan tokoh oposisi terkenal Aung San Suu Kyi. Perkembangan di Asia khususnya menunjukan pertarungan dominasi antara imperialisme AS dan Tiongkok yang kini berkembang pesat sebagai adidaya baru.

Persaingan antara AS dan Tiongkok saat ini masih berada pada tataran ekonomi dan belum menunjukan konflik terbuka dan bersenjata, meskipun hal ini bukan berarti mustahil terjadi di masa depan. AS dan negeri-negeri sekutunya di Eropa Barat yang tergabung dalam NATO (Organisasi Kesepakatan Atlantik Utara) masih dirundung oleh krisis ekonomi terutama sejak keruntuhan finansial 2008. Krisis ini menyebabkan penyusutan pasar di AS dan Eropa Barat yang sebelumnya menjadi tujuan utama ekspor barang-barang yang diproduksi di Tiongkok. Dalam mengatasi krisis ini, negeri-negeri Barat termaju – seperti biasa – mendorong kebijakan-kebijakan yang menekan defisit anggaran, terutama melalui jalur pengetatan atau penstrukturan.

Secara global arah kebijakan neoliberal ini disepakati melalui pertemuan Kelompok-8 (G-8) di antara 8 negeri-negeri industri termaju. Hasil dari pertemuan ini kemudian didesakkan kepada negeri-negeri berkembang penting lainnya – termasuk Indonesia – yang tergabung dalam Kelompok 20 (G-20). Pola konsolidasi kebijakan imperialis neoliberal ini terlihat dalam pertemuan G-8 dan G-20 di Toronto, Kanada, pada bulan Juni ini. Pertemuan G-8 Pada bulan November kelompok G-20 kembali melakukan pertemuan di Seoul, Korea Selatan. Seperti biasa, pertemuan-pertemuan tingkat tinggi ini disambut dengan perlawanan aksi-aksi massa.

Tidaklah berlebihan untuk menggambarkan tahun 2010 sebagai tahun aksi protes melawan kebijakan neoliberal. Negeri kelahiran Ilmu Filsafat, Yunani, menjadi ajang pertempuran jalanan paling sengit antara aksi rakyat terorganisir dengan kaum neoliberal yang hendak menerapkan kebijakan pengurangan defisit dengan memotong subsidi. Patut dicatat bahwa pergolakan di negeri ini turut didalangi oleh kaum bankir dan investor asing yang secara mendadak menutup aliran dana kredit ke negeri itu dan memaksakan restrukturisasi ekonomi yang lebih ‘ramah investasi’. Pada bulan Mei pertarungan jalanan memuncak di Yunani dan setidaknya tiga orang tewas akibat terperangkap dalam bank yang sedang terbakar. Mantan menteri keuangan Yunani, Kostas Hatzidakis, turut menjadi korban protes rakyat setelah berdarah-darah dipukuli pendemo dan diteriaki maling. Setelah melakukan pemotongan defisit yang menjatuhkan banyak korban tersebut, pemerintah Yunani pun masih belum mendapat kepastian bahwa investasi akan kembali datang untuk menyelamatkan ekonomi mereka. Di Spanyol, perlawanan serupa terjadi pada bulan September dan diwarnai oleh pemogokan umum selama 24 jam.

Di Perancis, demonstrasi demi demonstrasi pada bulan Oktober melibatkan jutaan orang dan melumpuhkan negeri itu. Aksi protes ini dipicu oleh kebijakan pemerintahan Sarkozy yang hendak menaikan usia pensiun sebesar dua tahun, sehingga mewajibkan warga untuk bekerja untuk waktu yang lebih lama. Suasana perlawanan ini bahkan merambah hingga ke Inggris Raya yang pada bulan November menjadi panggung dari aksi-aksi protes besar mahasiswa yang diwarnai oleh sejumlah kekerasan terutama oleh aparat.

Di sisi lain, negeri-negeri di Eropa maupun di Amerika Utara menunjukan polarisasi di antara kekuatan kanan yang anti-imigran. Partai-partai kanan jauh mencatat kemajuan dalam perolehan suara di negeri-negeri Eropa seperti Belanda, Swedia, Perancis, Inggris, dan AS dengan Tea Party-nya. Ini adalah kecenderungan politik yang tipikal terjadi saat krisis berkepanjangan, ketika terjadi polarisasi tajam yang memberikan peluang pembesaran bukan saja bagi kekuatan kiri, namun juga kanan.

Bila dampak krisis ekonomi di negeri-negeri Barat diwarnai oleh konsolidasi kaum neoliberal dan pertarungan kelas dalam memperebutkan jatah subsidi sosial, maka sepertinya kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Tiongkok dalam merespon penurunan daya serap ekspornya di negeri Barat adalah dengan memperluas kerjasama ekonominya dengan negeri-negeri berkembang lainnya, terutama di Asia Tenggara, di mana Indonesia adalah negeri yang terpenting di wilayah ini. Secara formal, sejak 1 Januari 2010, berlakulah kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China Free Trade Agrement (ACFTA atau CAFTA). ACFTA adalah kerjasama ekonomi regional yang melibatkan jumlah penduduk terbesar di dunia dan yang inisiatifnya telah dimulai setidaknya sejak penandatanganan perjanjian di Phnom Penh, Kamboja, pada 2002.

Dalam upayanya mempertahankan kinerja ekonominya, pemerintahan Tiongkok melakukan intervensi mata uang untuk menjaga nilai tukar Yuan, setelah pada bulan Juni mengumumkan akan memberlakukan fleksibilitas yang lebih besar bagi Yuan. Langkah ini dikecam oleh negeri-negeri Barat, terutama AS, yang menuduh pemerintahan Tiongkok secara sepihak mengontrol mata uangnya demi menjaga nilai saing produk-produknya dengan mengorbankan ekonomi negeri pesaingnya. Pergerakan beberapa negeri dalam melepaskan ketergantungan dari ekonomi AS, khususnya dolar AS, semakin terlihat sejak krisis finansial 2008 lalu. Dalam bulan November ini Rusia dan Tiongkok sepakat untuk melakukan perdagangan tanpa menggunakan dolar AS. Gagasan-gagasan untuk menggantikan peran dolar AS dalam perdagangan internasional memang telah berkembang di antara negeri-negeri BRIC (Brasil, Rusia, India dan China), dan bahkan telah diterapkan dalam kelompok regional yang lebih keciil seperti ALBA (Aliansi Bolivarian bagi Rakyat Amerika Kita) yang terdiri dari negeri-negeri Amerika Latin dengan dimotori Venezuela dan Kuba. ALBA dalam proses memberlakukan mata uang regional baru bernama Sucre.

Selama tahun 2010, negeri-negeri di Amerika Latin yang banyak berhaluan kiri dan kiri-tengah masih dapat bertahan dalam situasi krisis dan ancaman imperialisme. Pemilu parlementer di Venezuela pada akhir September masih memenangkan koalisi pendukung Chavez namun tidak berhasil meraih jumlah mayoritas besar yang dibutuhkan untuk dapat menjalankan program-program revolusioner. kaum oposisi juga turut merayakan perolehan suara mereka yang melonjak pesat dibandingkan pemilu sebelumnya. Tak dapat disangkal bahwa pemilu Venezuela ini mengharuskan kubu Chavez melakukan pembenahan demi memenangkan lebih banyak dukungan rakyatnya. Walau perlu dicatat bahwa pada pemilu sebelumnya tahun 2005 kaum oposisi melakukan boikot sehingga memberikan kemenangan telak bagi kubu Chavez. Tak lama setelah pemilu ini, Presiden Correa berhasil selamat dari percobaan kudeta yang terjadi pada tanggal 30 September. Sementara di Brasil, pemerintahan Partai Buruh berhasil melanjutkan kekuasaannya dalam pemilu bulan Oktober dengan kemenangan Dilma Roussef sebagai Presiden perempuan Brazil yang pertama menggantikan kepemimpinan Lula da Silva. Di Kuba, pemerintahan Raul Castro menjawab tantangan yang ada dengan mendorong pembentukan usaha-usaha mandiri dan koperasi demi mengurangi inefisiensi di sektor publik.

Berbagai bencana yang disebabkan oleh alam maupun manusia mewarnai sepanjang tahun 2010, dimulai dari gempa bumi di Haiti yang menelan korban ratusan ribu jiwa pada bulan Januari, maupun gempa dan Tsunami yang melanda Cile pada bulan Februari dan menelan ratusan jiwa. Pada bulan April bencana besar akibat ulah manusia terjadi dengan kebocoran minyak di Teluk Meksiko, yang dijadikan sebagai bencana nasional di AS. Banjir besar terjadi di Pakistan pada bulan Juli dan menelan korban ribuan jiwa. Indonesia turut menjadi korban dari bencana alam dengan terjadinya Tsunami yang menghantam kepulauan Mentawai serta letusan gunung Merapi. Di luar itu, perubahan iklim menghantui dunia dan kini memberikan musim dingin yang sangat parah di Eropa. Langkah-langkah untuk merespon perubahan iklim masih belum memberikan solusi yang nyata dan menjauhi logika korporasi. Pertemuan di kota Cancun, Meksiko, beberapa minggu lalu juga masih belum beranjak logika ini dan masih dihambat oleh kebuntuan dan kekeras-kepalaan negeri-negeri industri maju yang menolak bertanggung-jawab atas pencemaran yang mereka lakukan.

Perlawanan terhadap negeri-negeri imperialis dapat dibilang menjadi tema dari perjalanan tahun 2010. Perlawanan ini dilakukan oleh para aktivis dan rakyat, yang berhasil menekan rejim-rejim penjajah, seperti perlawanan yang dilancarkan aktivis di kapal Freedom yang berusaha menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza. Perlawanan ini berhasil menjatuhkan posisi diplomatik Israel secara internasional. Begitu pun dengan perlawanan yang ditunjukan oleh situs Wikileaks berikut para hacker2 yang mendukungnya, yang berjuang dengan membuka kejahatan-kejahatan imperialisme AS dan mengangkat transparansi, dan bahkan turut menyerang dalam dunia maya, situs-situs korporasi besar seperti Mastercard, Amazon, dsb yang terbukti dapat dikendalikan oleh pemerintahan AS. Mengacu pada perjalanan tahun 2010, tahun 2011 menyimpan potensi peningkatan perlawanan terhadap imperium AS yang dilakukan oleh siapa pun, baik dari balik komputer, jalanan, hingga ruang-ruang parlemen dan sidang – dari mana pun.


Ekonomi

Pada saat memasuki tahun 2010, ekonomi dunia sedang mengalami dua kejadian penting, yaitu: pertama, krisis ekonomi kapitalisme global yang sangat mendalam dan struktural, dan kedua, pergeseran kekuatan ekonomi dunia dari utara (AS dan eropa) ke Asia timur (Tiongkok) dan amerika latin.

Amartya Sen, seorang ekonom India, dalam tulisannya di Newyork review menyebut tahun itu sebagai “tahun krisis”, dan tahun berikutnya akan disertai dengan penurunan tajam ekonomi dunia melebihi depresi besar tahun 1930-an.

Perkiraan Amartya Sen ada benarnya, sebab di tahun 2010 krisis ekonomi dunia bukannya menjinak, malah semakin mengganas dan melahap ekonomi negara-negara kuat di eropa, seperti Yunani, Spanyol, Portugal, Inggris, dan lain sebagainya.

Sementara ekonomi Indonesia, yang sebagian besar tumpuannya bergantung kepada ekonomi kapitalis global, turut merasakan pukulan telak dari keberlanjutan krisis ini. Jika pada tahun 2009 tenggelamnya ekonomi Indonesia baru mencapai leher, maka pada tahun ini tenggelamnya ekonomi Indonesia sudah mencapai dagu.

The Economist, majalah mainstream paling bergengsi, pernah menulis, “ekonomi Indonesia memang tumbuh, tapi sayang sekali, kemiskinan juga tumbuh.” Meskipun pertumbuhan ekonomi diprediksi akan menembus 6,3%, tetapi hal tersebut tidak menciptakan “Trickle down effect”.

Penghancuran Industri Nasional

Tahun 2010 dapat dikatakan sebagai tahun kematian industri nasional. Beberapa jenis industri yang selama ini menjadi benteng terakhir, seperti baja, kretek, produk pertanian, dan lain sebagainya, telah dihancurkan dengan jalan dijual atau dibangkrutkan.

Pada tahun 2006, Indonesia diperkirakan mempunyai 29 ribu perusahaan manufaktur skala menengah, tetapi sekarang jumlahnya tidak melebihi 27 ribu. Industri skala mikro dan kecil pun anjlok 2,1 persen dan 5 persen dihantam oleh kebijakan neoliberalisme.

Jika di masa sebelumnya, proses de-industrialisasi baru menghantam perusahaan-perusahaan menengah dan kecil, maka sekarang ini (tahun 2010) korbannya sudah mencakup perusahaan-perusahaan tulang punggung

Sementara itu, sebagian sektor industri telah menurunkan kapasitas produksinya hingga 25% dari potensi produktifnya, antara lain, industri baja, sepatu dan tekstil. Salah satu penyebab penurunan kapasitas produksi itu adalah turunnya permintaan, terutama di pasar dunia, yang sekarang ini memang sedang dilanda krisis over-produksi.

Ada keterkaitan langsung antara krisis kelebihan produksi di negara maju dengan praktik penghancuran industri di negeri dunia ketiga. Sebab, dengan menghancurkan industri negeri dunia ketiga, maka industri negara maju kehilangan pesaing potensialnya dan dapat menguasai pasar negara dunia ketiga tersebut.

Fonemena inilah yang menjelaskan mengapa pemerintahan SBY-Budiono sangat agressif untuk menjalankan program privatisasi terhadap sejumlah BUMN paling strategis, yaitu PT. Krakatau Steel (penguasa baja nasional), PTPN III, IV, VII (penguasa sektor perkebunan/agrobisnis), dan dua raksasa perbankan nasional, Bank Mandiri dan Bank BNI.

Pada tahun 2010 ini, rejim SBY-Budiono berusaha memastikan privatisasi terhadap delapan BUMN, yaitu PTPN III, PTPN IV, PTPN VII, PT C Phrimissima, PT Kertas Padalarang, PT sarana Karya, Bank Mandiri, dan Bank BNI.

Industri kretek, salah satu industri yang tumbuh dengan corak nusantara dan mempergunakan modal/sumber daya di dalam negeri, juga sedang berada di mulut kehancuran. Sejumlah lembaga asing, seperti Bloomberg Initiative, telah menggelontorkan dana kepada sejumlah lembaga pemerintah dan ormas untuk mengkampanyekan “anti-rokok” dan pembatasan tembakau.

Perusahaan asing juga sangat berjaya dalam mengusai sumber energi nasional, terutama migas dan batubara, yang menyebabkan industri nasional kesulitan mendapatkan pasokan energi. Hal ini semakin diperparah dengan kebijakan energi pemerintahan SBY-Budiono, yang justru mengutamakan ekspor gas dan batubara ke luar negeri sebelum kebutuhan domestik terpenuhi.

Ada pula program Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD), yang oleh penganjurnya dimaksudkan untuk mencegah kerusakan hutan lebih lanjut di seluruh dunia, justru menjadi kesempatan baru bagi imperialis untuk menguasai hutan kita dan menghidupi bisnis karbonnya.

Penghancuran ekonomi Rakyat

Sampai tahun 2010 jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diperkirakan mencapai 51 juta unit atau 99% dari total unit usaha yang ada. Namun, sejak ekonomi nasional berayun ke arah liberalisasi, UMKM telah menjadi korban paling pertama yang bertumbangan.

UMKM ini sangat bergantung pada dua hal, yaitu jaminan kredit dan pasar. Jauh sebelumnya, UMKM sudah menderita akibat kenaikan harga BBM dan TDL. Pada tahun 2010, bersamaan dengan diberlakukannya China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA), sektor UMKM Indonesia seperti digiring ke liang pembantaian.

Misalnya Industri batik, yang sekarang ini juga banyak dibuat oleh China, telah mengancam masa depan industri batik di dalam negeri.

Namun, cerita sedih mengenai penghancuran ekonomi rakyat belum berhenti di sini, tetapi terus berlanjut dengan keputusan pemerintah membiarkan peritel modern memasuki kampung-kampung dan pelosok-pelosok.

Sebagai perbandingan mengenai hal ini, dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, ekonomi nasional atau rakyat (UMKM) yang berjumlah 51 juta atau 99% dari total pelaku ekonomi hanya menikmati 39,8% dari PDB, sementara korporasi besar asing menikmati hingga 60,2%. Dalam hal pasar, ekonomi nasional atau ekonomi rakyat hanya menempati 20% pangsa pasar nasional, sementara korporasi besar asing dan domestik menguasai 80%.

Pasar rakyat, yang selama ini menjadi tempat bagi ekonomi mikro dan menengah memasarkan produknya, semakin terancam oleh ekspansi peritel raksasa modern, seperti Carrefour, Giant, Hypermart, 7-eleven, Circle K, Lotte Mart, dan lain-lain. Peritel modern didukung oleh modal yang lebih besar, fasilitas, tekonologi, dan ruang yang strategis, sementara pasar rakyat identik dengan kumuh, semrawut, dan bau kurang sedap.

Jika pasar rakyat hancur, maka hal itu akan membawa konsekuensi luas, yaitu, pertama, menghancurkan produsen kecil, khususnya produk petani dan usaha kecil (mikro dan menengah), dan kedua, menyulitkan konsumen klas menengah ke bawah.

Penguasaan asing terhadap perbankan

Sejak UU Nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan di berlakukan, sebagian besar perbankan nasional sudah jatuh ke tangan asing, yaitu antara 65%-70%. UU perbankan ini, yang memperbolehkan kepemilikan asing terhadap bank lokal hingga 99%, adalah salah satu UU perbankan paling liberal di dunia.

Sebut saja, misalnya, Bank haga, Rabobank dan Hagakita (seluruh sahamnya dikuasai Rabobank Belanda, BTPN (71% sahamnya dikuasai Texas Paicific AS), Bank Permata (44,5% dikuasai Standard Chartered Inggris), SCB (seluruh sahamnya dikuasai Standard Chartered Inggris), Bank Panin (35% sahamnya dikuasai ANZ Bank Australia), BII (55,85% sahamnya dikuasai Maybank Malaysia), CIMB Niaga (60,38% sahamnya dikuasia CIMB group Malaysia), dan lain-lain.

Penguasaan asing terhadap perbankan nasional akan berdampak serius terhadap perekonomian nasional, yakni mempengaruhi aliran modal dan penyaluran kredit terhadap industri nasional.

Pada tahun 2010 ini, sebagaimana dibangga-banggakan pemerintah dan ekonom neoliberal, bahwa perbankan indonesia telah kebanjiran arus dana asing yang masuk (capital inflow), yang keberadaannya sangat bebas untuk masuk dan keluar kapan saja. Hal ini membuat cadangan devisa melonjak menjadi USD 92,75 miliar per akhir November 2010 yang bisa mencapai USD100 miliar pada akhir 2010.

Namun, tidak dapat dibantah bahwa pihak asing sudah mengusai lebih dari 60% kepemilikan di pasar modal, dan hal itu sangat berbahaya bagi kesehatan ekonomi Indonesia di masa depan.

Alih-alih bahwa dana itu bisa memperkuat sektor real kita, arus dana asing itu malah berpotensi menjerumuskan perekonomian kita. Karena BI menganut sistem capital free flow, maka investor asing dapat dengan bebas mengambil keuntungan di Indonesia kapan saja.

Penumpukan utang luar negeri

Hanya lima tahun memerintah, berdasarkan catatan Buku Statistik Utang Indonesia yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI), SBY berhasil menambah utang luar negeri Indonesia Rp300 triliun. Hingga bulan April 2010, total utang luar negeri Indonesia sudah menghampiri Rp2000 trilyun, atau setara dengan dua kali APBN kita.

Terakhir, bulan desember ini, SBY kembali menambah utang melalui ADB sebesar 200 juta US Dollar, dan katanya, ini akan dipergunakan untuk mendanai reformasi ekonomi di Indonesia.

Meski terjadi peningkatan utang yang sangat signifikan, tetapi pemerintah berusaha mengelak dengan menyatakan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) telah menurun, yaitu dari 89 persen menjadi 32 persen.

Ada dua hal yang perlu dibantah terkait pernyataan pemerintah di atas: Pertama, Utang luar negeri tidak bisa dibandingkan dengan PDB. Sebab, PDB tidak mencerminkan produksi Indonesia, tetapi juga ada porsi asing yang besar di dalamnya. Peningkatan PDB bukan karena naiknya produktifitas nasional, melainkan karena aktivitas perusahaan atau bisnis pihak asing. Kedua, meskipun rasio utang terhadap PDB menurun, namun stock utang justru terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Ada peningkatan stock utang sekitar 30% dalam lima tahun ini.

Persoalan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)

Bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri, tahun 2010 juga merupakan ‘tahun penderitaan”. Meskipun tahun-tahun sebelumnya TKI Indonesia memang sudah sangat menderita, tetapi pada tahun ini kasus kekerasan terhadap TKI telah mengundang kemarahan rakyat terhadap pemerintah.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya kita mendengar kasus Nirmala Bonat dan Siti Hajar, maka tahun ini kita mendengar nasib yang lebih tragis dari dua TKW Indonesia, yaitu Sumiati dan Kikim Komalasari.

Berdasarkan catatan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu RI), pihaknya mempunyai catatan mengenai 4.532 laporan kasus terkait tenaga kerja Indonesia (TKI) selama 2010, yang sebagian besar adalah pelanggaran kontrak, beban kerja, jam kerja, pembayaran gaji, serta pelecehan seksual.

sementara Kepala Litbang Kemenkum HAM, Prof Dr Ramly Hutabarat SH, menyampaikan kepada peserta diskusi “Hubungan Bilateral Indonesia – Malaysia”, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP UNS, bahwa sepanjang tahun 2010 saja, terjadi 3.835 kasus penganiayaan dan 2.500 kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan TKW.

Persoalan buruh migran, sebagaimana diterangkan dengan jelas sekali oleh Lenin, adalah juga persoalan imperialisme. Negara-negara imperialis telah memobilisasi pekerja-pekerja dari dunia ketiga untuk dipekerjakan pada sektor pekerjaan ber-upah rendah di negeri kapitalis maju, sekaligus untuk mengistimewakan pekerja tertentu di negeri imperialis.

Sementara itu, akibat dari praktek neoliberalisme dalam sepuluh tahun terakhir, sebagian besar rakyat kita, di desa dan di kota, telah kehilangan pekerjaan. Akhirnya, sebagian besar diantara mereka telah direkrut dan dikirim sebagai pekerja migran. Pendek kata, neoliberalisme punya andil besar dalam mengeksploitasi pekerja migran.

Kesimpulan: Sifat kolonialisme semakin mendominasi dalam perekonomian Indonesia

Kenyataan ekonomi pada tahun 2010 ini semakin mempertegas, bahwa sebagian besar ekonomi Indonesia telah dikuasai oleh kaum kapitalis besar asing, terutama kapitalis besar dari Amerika, Eropa, dan Jepang. Penguasaan itu meliputi bagian terbesar dari perusahaan industri, perdagangan, dan keuangan: bank-bank, pabrik-pabrik, tambang2, pengangkutan, perkebunan, dsb.

Dengan dikuasainya perbankan dan pasar modal (lebih dari 60%), maka pihak asing sudah mengontrol sebagian besar kapital di dalam negeri. Dan, dengan begitu pula, maka sebagian besar keuntungan dari aktivitas ekonomi di dalam negeri telah diangkut ke negeri-negeri imperialis.

Kecuali perusahaan-perusahaan kecil, seperti industri rokok, batik, tekstil, dan kerajinan tangan, hampir semua perusahaan yang besar pengaruhnya terhadap perekonomian nasional telah dipegang oleh pihak asing; a) perusahaan berteknik modern (elektronik, otomotif, dll), pabrik-pabrik besar (tekstil, garmen, makanan dan minuman, bijih besi, baja, logam, dll), perusahaan-perusahaan pertambangan (migas, batubara, emas, timah, dll). b) perusahaan alat-alat perhubungan dan telekomunikasi, seperti penerbangan, perusahaan telekomunikasi, stasiun penyiaran, dll. c) perusahaan bank dan asuransi.

Corak kolonial juga terlihat dalam penerimaan kas negara, yang sebagian besarnya didapatkan dari pajak, baik langsung maupun tidak langsung. Bahkan, hampir seluruh aktivitas ekonomis rakyat telah dikenakan pajak.

Orang-orang melarat dan para penganggur, meskipun berusaha disembunyikan dengan memanipulasi angka statistik, tetapi terlihat jelas berkeliaran di kota-kota besar untuk mencari makan dan pekerjaan. Mereka tidur di trotoar, di kolong-kolong jembatan, emperan toko, dan gerobak-gerobak. Di Jakarta, ada yang disebut dengan “manusia gerobak”, yaitu orang miskin yang sudah tak punya rumah dan keluarganya tinggal di gerobak yang dibawanya kemana-mana.

Tidak salah kemudian jika ada yang menyebut bahwa tahun 2010 sebagai tahun “menuju kebangkrutan”. Meskipun akhirnya banyak perusahaan nasional yang tumbang, tetapi situasi itu telah melahirkan sentimen nasionalisme dan anti-penjajahan yang semakin kuat.


Politik

Catatan Akhir Tahun 2010 (Ekonomi) telah mengulas masalah-masalah ekonomi, yang erat kaitannya dengan kebijakan neoliberal pemerintahan SBY-Boediono. Pada catatan tersebut disimpulkan, bahwa “sifat kolonialis semakin mendominasi perekonomian Indonesia”, yang menjadikan tahun 2010 ini sebagai “tahun menuju kebangkrutan”. Kebijakan-kebijakan neoliberal datang dari kepentingan modal asing melalui operatornya di kelompok “Setgab Koalisi”.

Setgab versus Oposisi?

Dinamika 2010 dimulai dengan kelanjutan isu skandal penyaluran dana Bank Century—yang diduga digunakan untuk biaya kampanye capres-cawapres terpilih, SBY-Boediono. Menghadapi tekanan ini, singkat cerita, SBY memberi dua bentuk konsesi kepada Partai Golkar, khususnya kepada Aburizal Bakrie, yang saat itu termasuk paling sengit ‘mengobok-obok’ kasus Century lewat pansus di DPR, dan juga yang paling kuat secara finansial untuk mengorganisir tambahan kekuatan dari faksi-faksi oposisi di parlamen maupun luar parlamen.

Dua bentuk konsesi tersebut adalah, pertama, menyingkirkan (mantan) Menteri Keuangan Sri Mulyani dari jajaran kabinet, yang sengit pula dilawan oleh para pendukungnya dari sedikit kalangan elit intelektual; dan kedua, konsesi berupa posisi ketua koalisi Setgab (Sekretariat Gabungan), yang merepresentasikan partai-partai dalam kabinet SBY-Boediono. Terdapat enam partai politik yang tergabung dalam koalisi setgab, yaitu Partai Demokrat (PD), Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Posisi Aburizal Bakrie ini telah menguatkan peran Partai Golkar di hadapan Partai Demokrat, dan dalam dominasinya atas partai-partai lain dalam koalisi. Partai Golkar dan Demokrat menjadi dua sejoli pemegang kekuasaan terbesar dalam pemerintahan pusat. Dominannya dua partai ini menimbulkan friksi internal dalam koalisi, khususnya dari PKS dan PPP yang menuntut ‘peran’ lebih.

Sementara partai-partai di luar koalisi Setgab (PDIP, Hanura, dan Gerindra) hanya mampu memainkan peran terbatas berupa kritik-kritik ringan terhadap berbagai persoalan. Harapan kepada partai-partai ini untuk menjadi oposisi yang benar-benar solid dan programatik terhadap “pemerintahan koalisi” ternyata belum mampu dijalankan. Terdapat usaha oleh Surya Paloh untuk menggandeng kekuatan-kekuatan oposisi di luar parlamen ke dalam ormasnya Nasional Demokrat (Nasdem), namun langkah ini langsung ‘dikunci’ lewat partai-partai yang anggotanya merangkap sebagai anggota Nasdem. Koalisi Setgab telah menguasai mayoritas suara (kursi) di parlamen, serta ‘mengunci’ posisi-posisi penting yang dapat digunakan untuk mengganggu kemapanan pemerintahan. Beberapa figur penting dalam ‘partai oposisi’ bahkan secara implisit telah menyatakan diri ‘menyerah’ dan menjamin amannya pemerintahan SBY-Boediono sampai 2014. Salah satu tokoh kunci yang berperan demikian adalah Ketua MPR RI, Taufik Kiemas, yang disebut-sebut sebagai “ketua sesungguhnya” yang memainkan berbagai posisi politik PDIP.

Konsensus yang dicapai oleh politisi di level lembaga-lembaga tinggi negara ini merupakan kemenangan lanjutan presiden SBY di satu sisi, dan, di sisi lain, hasil dari upaya faksi-faksi politik di lingkaran kekuasaan untuk memperoleh konsesi ekonomi-politik, yang dapat dipakai sebagai ‘tabungan’ menuju pemilu 2014. Keputusan-keputusan dari pemerintahan SBY yang menyusahkan rakyat relatif tidak mendapatkan perlawanan di dalam parlamen; seperti yang terjadi pada kasus privatisasi sejumlah BUMN termasuk Krakatau Steel, dan rencana kenaikan harga BBM mulai awal 2011.

Sementara perimbangan kekuatan politik antara “koalisi” dan “oposisi”, yang dapat dicapai melalui hubungan antara kekuatan di dalam dengan di luar parlamen, ada terjalin tapi masih terbatas dan belum mencapai kesepakatan platform yang tegas. Baru bulan lalu, upaya SBY untuk menggoyang singgasana Sultan HB X di Yogyakarta sempat meluapkan kemarahan sejumlah masyarakat Yogya. Namun ‘perdamaian’ kembali dicapai keduanya, dengan Taufik Kiemas sebagai mediator.

Intervensi Asing Dalam Pembuatan 76 Undang-Undang

Di bulan Agustus 2010, anggota DPR RI dari fraksi PDIP, Eva Kusuma Sundari mengungkap keterlibatan lembaga-lembaga asing dalam pembuatan 76 Undang-Undang yang sebagian besar telah diberlakukan. Tiga lembaga internasional yang berbasis di Amerika Serikat, yaitu IMF (International Monetary Funds), Bank Dunia, dan United States Agency for International Development (USAID), telah menjadi konsultan pemerintah selama kurang lebih 12 tahun untuk pekerjaan ini.

Posisi lembaga-lembaga tersebut sebagai ‘konsultan’, diperoleh melalui ‘bantuan’ utang untuk berbagai program pemerintah di bidang-bidang strategis, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, minyak dan gas, serta pengelolaan kekayaan alam lainnya. Hasil dari ‘konsultasi’ tersebut telah mengarahkan pemerintah untuk mengajukan sejumlah Undang-Undang baru, atau mengubah Undang-Undang (UU) yang ada, seperti UU Pendidikan Nasional (Nomor 20 Tahun 2003), Undang-Undang Kesehatan (Nomor 23 Tahun 1992), UU Kelistrikan (Nomor 20 Tahun 2002), dan Undang-Undang Sumber Daya Air (No 7 Tahun 2004), UU BUMN (Nomor 19 Tahun 2003), UU Penanaman Modal Asing (Nomor 25 Tahun 2007, UU Migas (Nomor 22 Tahun 2001), UU Pemilu (Nomor 10 Tahun 2008). Sebagai catatan, keseluruhan UU tersebut kental dengan muatan liberalisasi, atau menaklukkan kepentingan nasional di bawah kehendak modal asing.

Jauh sebelum diungkapkan oleh Eva, dalam tiap-tiap pembahasan UU tersebut telah ada kelompok atau individu yang memperingatkan masalah intervensi tersebut. Misalnya, dalam penyusunan UU Migas, pakar minyak Kurtubi telah memastikan adanya campur tangan kepentingan asing, yang kemudian dikonfirmasi oleh (mantan) anggota DPR RI Drajat Wibowo. USAID mengeluarkan anggaran sebesar 21,2 juta US dolar atau sekitar 200 miliar rupiah untuk asistensi pembahasan UU tersebut. Namun pengungkapan-pengungkapan ini masih terpisah-pisah antara satu UU dengan UU yang lain, sehingga tidak tampak satu rangkaian kepentingan modal asing dalam keseluruhan kepentingannya.

Tebang Pilih Pemberantasan Korupsi

Di samping isu terorisme yang ‘meredup’, isu korupsi merupakan trade-mark (merek dagang) andalan bagi pemerintahan SBY-Boediono. Namun barang dagangan ini hanya tampak baik pada kemasan, karena isinya sama sekali buruk. Komitmen pemberantasan korupsi yang dicanangkan sebenarnya sudah sulit dipercaya khalayak sejak terjadi kriminalisasi terhadap pejabat KPK, pertama terhadap mantan ketua KPK, Antasari Azhar, dan kemudian percobaan yang sama terhadap Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah. Upaya kriminalisasi ini, menurut pengamatan banyak kalangan, merupakan tindakan ‘pencegahan’ agar kasus-kasus yang melibatkan kepala negara tidak diusut lebih lanjut.

Sepanjang tahun 2010, retorika pemberantasan korupsi oleh SBY semakin terbukti hanya manis di bibir. Pada acara Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi, tanggal 1 Desember 2010, SBY antara lain mengatakan bahwa pemberantasan korupsi dapat efektif apabila penegak hukum bersih. Berlawanan dengan pernyataannya, alat-alat penegakan hukum seperti kepolisian, kejaksaan, maupun KPK, justru dibuat menjadi semakin ‘kotor’ atau bermasalah. “Alat hukum” terkini buatan SBY adalah Satgas Antimafia Hukum yang diketuai oleh Kuntoro Mangkusubroto, tangan kanan SBY juga .

Kasus korupsi yang melibatkan pegawai kantor pajak, Gayus Tambunan, membuktikan keberadaan alat-alat penegakan hukum yang dapat dimanfaatkan penguasa sesuka hatinya. Pengakuan-pengakuan yang diberikan oleh Gayus, tampak sengaja diarahkan untuk menyerang Aburizal Bakrie (Ical), sebagai salah satu manipulator pajak yang ‘dibantunya’. Drama lolosnya Gayus dari tahanan untuk menyaksikan pertandingan tenis di Bali, yang ‘kebetulan’ dihadiri juga oleh Ical, seakan mengkonfirmasi adanya konspirasi besar untuk memainkan isu tersebut tanpa penyelesaian yang pasti.

Sisa Watak Hukum Kolonial

Pada bulan November tahun lalu, ada kisah Nenek Minah (55), yang dihukum penjara 1,5 bulan karena secara tidak sengaja ‘mencuri’ tiga buah cokelat. Saat itu kita alami ramainya kecaman dan kritikan terhadap kejadian ini. Hakim yang membacakan vonis hukuman mengalami situasi emosional dan menyatakan bahwa, “kasus ini kecil tapi telah melukai banyak orang.” Ketidakadilan yang sangat mencolok mata semacam ini ternyata tidak berkurang dengan kegeraman banyak orang.

Di tahun 2010 ini kejadian serupa kembali berulang. Seorang nenek di Pekalongan dihukum tiga bulan penjara karena mencuri lima batang permen coklat. Kemudian, baru bulan Oktober lalu, seorang petani di Pasuruan divonis hampir 1,5 bulan karena ‘mencuri’ dua batang singkong milik tetangganya buat makan sekeluarga. Kasus-kasus memilukan yang terungkap di media massa ini hanyalah sedikit contoh dari gejala umum posisi penegakan hukum. Rakyat, yang sedang dimiskinkan, sangat gampang diseret hukum, sementara orang yang berkuasa atau berduit sangat sulit tersentuh hukum. Hukum menjadi tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas.

Menuju “Perampingan Sistem” dan Stabilisasi Pemerintahan Neoliberal

Tahun 2010 ditutup dengan pengesahan atas perubahan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik. Perubahan ini terutama diarahkan untuk memperberat syarat pendirian partai politik (parpol). Ini merupakan saringan pertama peraturan perundang-undangan, untuk mewujudkan “pemerintahan yang kuat dan stabil”. Saringan peraturan berikutnya adalah yang mengatur tentang pemilihan umum (pemilu), yakni syarat bagi parpol untuk menjadi kompetitor dalam pemilu, dan batas perolehan suara untuk dapat mengirim perwakilan ke parlamen (electoral threshold).

Di samping telah melakukan pelanggaran konstitusional, yang untuk ini dapat diadukan ke Mahkamah Konstitusi, pembatasan partai politik merupakan bagian dari upaya membangun “pemerintahan yang kuat dan stabil” tadi. Fase reformasi politik tampaknya mulai mendekati tahap puncak berupa tercapainya konsensus kepentingan antara sebagian faksi-faksi politik yang sempat ‘terpecah-belah’ oleh liberalisasi 1998. Bila dipandang dari sudut ini, maka kemunculan koalisi setgab yang sedikit terbahas di atas, tampak seperti sebuah ‘uji-coba’ menuju perampingan sistem, menuju pengorganisasian politik yang lebih tersentralisasi, tidak berserak di banyak parpol seperti keadaan sekarang


Sosial Dan Budaya

Dalam usahanya memperkuat penjajahan di bidang politik dan ekonomi, sebagaimana sudah dijelaskan dalam catatan akhir tahun sebelumnya, pihak imperialis telah berusaha keras untuk menghancurkan jiwa dan karakter bangsa Indonesia.

Dengan mengobrak-abrik kehidupan sosial dan budaya, kaum imperialis percaya bahwa bangsa Indonesia tidak punya lagi kebanggan nasional, tidak punya lagi jiwa dan karakter sebagai sebuah bangsa, dan dengan demikian, sangat mudah untuk dipecah-belah dan dihancurkan.

Perjalanan bangsa selama setahun ini, tahun 2010, membenarkan hal itu, bahwa penetrasi imperialis paling nyata juga terjadi di lapangan sosial-budaya, yang ditandai dengan semakin tergerusnya martabat dan kehormatan bangsa kita.

Memproduksi Manusia Bermental Inlander

“Pada waktu itu kaum Bumiputra diinjak, diperas dan diambil kekuatan dan uangnya. Akan tetapi, bumiputera (lebih-lebih bangsa Jawa) yang biasa membedakan orang tinggi dan rendah, memandang bangsa Belanda sebagai bangsa yang tinggi….Mulai itu, mulai belanda disangka patut dihormati,” demikian ditulis Mas Marco Kartodikromo, seorang pejuang anti-kolonial Indonesia.

Pernyataan Mas Marco ini sangat tepat menyindir manusia-manusia baru di Indonesia, terutama mereka kaum intelektual dan kalangan elit, yang suka sekali memuji-muji keunggulan barat di luar batas.

Ini juga terlihat jelas di sebagian besar elit politik kita dan kelas menengah hasil didikan barat, khususnya kaum intelektual, yang cakrawala berfikirnya sangat disesaki ketundukan terhadap apa yang disebut “keunggulan barat”.

Mereka pula yang menjadi arsitek kebijakan neoliberal di Indonesia, menjadi pembela setianya, dan sekaligus kelompok sosial yang menikmati “keuntungan” dari proyek neoliberalisme di Indonesia.

Kapitalisme dan imperialisme memang berkepentingan untuk menciptakan perasaan inferior, rendah diri, perasaan tidak mampu kepada rakyat jajahan, agar mereka tidak pernah bertindak merdeka dan bebas dari kunkungan penjajah. Anehnya, perasaan inferior ini justru sangat mudah merasuknya di kalangan sebagian intelektual, yang selama ini dianggap sebagai kelompok tercerahkan.

Mereka pula yang paling berkontribusi dalam merusak bahasa nasional kita, yaitu bahasa Indonesia, dengan meluaskan penggunaan bahasa inggris dalam alam pergaulan mereka.

Mereka pula yang paling antusias, dan atas dukungan media massa yang dikontrolnya, mengelu-ngelukan kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, presiden negeri imperialis terbesar di dunia. Pantas saja mereka begitu gegap gempita menyambut obama, karena memang “way of life” mereka adalah Amerika.

Para inlander ini pula yang banyak bekerja untuk melayani kepentingn asing, seperti di lembaga-lembaga imperialis asing (USAID, Bank Dunia, dll), LSM/NGO pro-imperialis, dan perusahaan-perusahaan asing. Bahkan, tidak sedikit diantara kaum intelektual yang menjadi juru-bicara kepentingan imperialisme di Indonesia.

Menguatnya Pertikaian SARA

Tidak cukup dengan merusak mental dan jiwa bangsa Indonesia, kaum imperialis juga berusaha menghancurkan persatuan nasional, yaitu dengan memicu pertikaian suku, agama, dan ras di berbagai tempat.

Beberapa kejadian tahun ini cukup menyakiti perasaan nasional sebagai bangsa yang berlandaskan pada “bhineka tunggal ika”. Sebut saja, diantaranya, kasus penutupan gereja di berbagai kota, penyerangan terhadap jemaat HKBP, penyerangan terhadap jemaah ahmadiyah, dan penurunan patung budha di tanjung Balai.

Kelompok radikal kanan, misalnya Front Pembela Islam (FPI), menjadi salah satu tangan yang dipergunakan kaum imperialis untuk mengusik semangat “bhineka tunggal ika”. Meskipun organisasi seperti FPI dan radikal kanan lainnya sering mempergunakan sentimen anti-asing, namun tindakan politik mereka justru merusak persatuan nasional bangsa kita.

Selain itu, kerusuhan berbau SARA juga meletus di berbagai tempat, khususnya yang terjadi di Tarakan, Kalimantan Timur. Konflik-konflik horizontal juga mewarnai perjalanan bangsa kita dalam setahun ini. Konflik-konflik horizontal ini semakin dimungkinkan karena dipanas-panasi oleh ormas-ormas reaksioner.

Pendidikan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM)

Meskipun persoalan putus sekolah sudah menjadi sorotan setiap tahun, namun pemerintah tetap saja tidak bisa mengatasi persoalan ini di tahun 2010 ini. Menurut catatan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2010, terdapat 13 juta anak Indonesia yang terancam putus sekolah.

Anehnya, kendati pemerintah mengklaim telah menggratiskan biaya pendidikan untuk anak SD sampai SMP, tetapi kenyataannya para siswa justru dibebani begitu banyak biaya tambahan. Inilah mengapa banyak orang yang menyebut program pendidikan gratis SBY sebagai “gratis bohong-bohongan”.

Disamping itu, sampai tahun 2010 ini, masih ada siswa SD/SMP di Indonesia yang belajar dengan melantai, atau juga belajar di bawah kondisi ruangan yang buruk dan terancam roboh. Selain anggaran pendidikan yang sangat minim, situasi ini diperparah oleh praktik korupsi di dinas pendidikan.

Di tingkat pendidikan tinggi, para mahasiswa sedang berjuang keras melawan kenaikan biaya pendidikan akibat kebijakan neoliberalisme. Isu paling disoroti mahasiswa masih persoalan UU Badan Hukum Pendidikan (BHP), yang isinya memang sangat berbau neoliberal.

Sudah begitu, mahasiswa juga diperhadapkan dengan pasar tenaga kerja yang fleksibel, yang ditandai dengan pemberlakuan sistim kerja kontrak dan outsourcing. Untuk diketahui, jumlah keluaran Universitas yang menganggur setiap tahunnya mencapai 60%, sedangkan yang terserap lapangan kerja hanya 37%.

Ada kecenderungan yang semakin nyata, bahwa neoliberalisme hendak mengembalikan sistim pendidikan Indonesia seperti jaman kolonialisme dulu, dimana pendidikan hanya diberikan kepada golongan tertentu dan keluarannya pun sekedar menjadi pelayan sistem yang sedang berkuasa.

Budaya Individualisme

Sementara itu, gempuran budaya asing juga menciptakan apa yang disebut oleh pelukis revolusioner, Amrus Natalsya, sebagai masyarakat “happy”. Masyarakat happy ini, sebagaimana diterangkan Amrus, dicirikan oleh kecenderungan orang berfikir untuk dirinya sendiri dan kurang memikirkan kepentingan kolektif (umum).

Jika dulu orang Indonesia dikenal dengan semangat “gotong royong” dan solidaritasnya, maka sekarang anda jangan berharap bisa menumpang di rumah orang lain ketika terhalang oleh hujan lebat. Jika dulu orang luar disambut oleh masyarakat dengan tangan terbuka dan bersahabat, maka sekarang mereka disambut dengan rasa curiga dan bermusuhan: tudingan teroris, pengacau keamanan, dan sebagainya.

Ada banyak kejadian mengharukan di tahun 2010 ini, seperti ibu yang rela membunuh anaknya, bunuh diri secara mengenaskan, dan lain sebagainya, menjelaskan bahwa solidaritas dan kerjasama di kalangan rakyat sudah menipis. Beban seorang tetangga tidak lagi dirasa sebagai beban kita pula.

Budaya individualisme, terutama sekali, dipasokkan dan disebarluaskan oleh kalangan atas dan klas menengah. Mereka suka berkumpul dan berasosiasi berdasarkan hobby dan kesenangan mereka, sangat jarang asosiasi atau acara kumpul-kumpul sebagai sesama tetangga atau warga masyarakat.

Konsumerisme, misalnya, sangat berperan dalam menghancurkan budaya solidaritas, dan memaksakan setiap individu untuk memaksakan pencarian sumber-sumber keuangan untuk menopang belanjanya. Orang dipaksa dengan biaya hidup dan konsumsi yang tinggi, entah dengan utang ataupun menjual diri, sehingga berdampak pada kerusakan moral dan nilai kolektivitas.

Jika dicermati dalam laporan perbankan, kredit konsumsi malah tumbuh lebih pesat dibandingkan kredit modal kerja (KMK), dimana kredit konsumsi tumbuh 22,7% sedangkan kredit modal kerja hanya 20,1%. Ini dapat diartikan pula, bahwa orang indonesia lebih suka makan dan belanja ketimbang berproduksi.

Gempuran kebudayaan imperialis, terutama melalui iklan hingga film-filmnya, telah membius ratusan juta kaum muda kita, sehingga di kepala mereka hanya soal bagaimana berbelanja dan mengkonsumsi barang-barang terbaru.

Mereka bukan saja menciptakan ketergantungan rakyat terhadap barang impor dari negeri imperialis, lalu menghancurkan perekonomian nasional, tetapi juga membuat kebudayaan rakyat kita menjadi tidak produktif.

Perkembangan Olahraga

Praktek neoliberalisme, yang menghendaki segalanya membawa keuntungan (profit), turut berkontribusi negatif terhadap prestasi olahraga nasional, disamping karena praktik korupsi dan nepotisme di kubu pengurus cabang olahraga.

Di ajang perhelatan akbar Asian Games XVI di Guangzhou, Tiongkok, kontingen Indonesia hanya membawa pulang empat medali emas, sembilan perak, dan 13 perunggu. Ironisnya lagi, tiga dari empat emas Indonesia berasal dari cabang perahu naga yang sempat nyaris tidak diberangkatkan. Hasil ini sangat jauh dibawah prestasi negara tetangga, Malaysia dan Thailand.

Cabang Bulu tangkis, yang dulu pernah mengantarkan nama Indonesia di panggung internasional, juga sudah merosot. Di ajang piala Thomas 2010 di Malaysia, bulan Mei lalu, Indonesia gagal meraih juara setelah dikandaskan oleh Tiongkok dengan skor telak:0-3.

Meski begitu, Indonesia boleh tersenyum dengan prestasi pemuda-pemudi Indonesia di cabang olahraga angkat besi, yang berhasil menyumbangkan medali emas dalam kejuaraan dunia dan medali perak di Asian Games XVI.

Dan, setitik harapan kini sedang ditunggu-tunggu bangsa Indonesia dari ajang sepak bola di piala AFF Zuzuki 2010, dimana sekarang ini Indonesia sedang berlaga di final melawan Malaysia. Keperkasaan Indonesia di laga awal bukan saja menaikkan optimisme kebangkitan sepak bola, tetapi juga membangkitkan kembali “nasionalisme Indonesia” yang sedang terpuruk.

Sayang sekali, dalam laga pertama final piala AFF di Stadion Bukit Jalil, Malaysia, kesebalasan Indonesia ditekuk 0-3. Sebagian orang menganggap bahwa kekalahan ini akan mengakhiri efhouria nasionalisme, sementara yang lain memaki-maki politik pencitraan dan gaya bombastis media dalam menceritakan Timnas.

Namun, satu hal yang tidak dapat ditutupi, bahwa rakyat Indonesia sangat merindukan sebuah prestasi, bukan saja untuk mengangkat nama baik persepak-bolaan Indonesia tetapi juga untuk menyakinkan bahwa bangsa Indonesia masih bisa bangkit.

Perkembangan Seni-Budaya

Berita mengenai kriminalisasi KPK telah menyulut kemarahan rakyat di mana-mana, termasuk para pekerja seni. Mengawali tahun 2010, kaum seniman berpartisipasi dalam berbagai panggung seni mengecam korupsi dan menuntut skandal bank century segera dituntaskan.

Slank, salah satu group musik yang paling tegas menentang korupsi, mendapat cekal dari pihak berwajib dan baru dibolehkan konser pasca tanggal 2 Januari 2010. Sementara di bulan Februari, pemusik balada Indonesia, Iwan Fals, menggelar konser bertajuk “keseimbangan”, yang tidak lain dan tidak bukan juga merupakan judul album yang diluncurkannya.

Pada bulan Mei 2010, dunia perfilm-an Indonesia menghasilkan karya yang cukup inspiratif, yaitu film ‘Indonesia Tanah Air Beta, yang dikaryakan oleh Ari Sihasale. Film ini menceritakan kehidupan sosial-politik masyarakat pro-NKRI pasca referendum di perbatasan Indonesia-Timor Leste tahun 1999.

Kemudian, sutradara muda Hanung Bramangtyo memproduksi film berjudul “Sang Pencerah”, yang menceritakan perjuangan KH. Ahmad Dahlan dalam melakukan reformasi di dalam islam.

Dan, pada bulan Agustus, film kedua dari trilogi Merdeka, yaitu “Darah Garuda” diluncurkan menjelang peringatan HUT Kemerdekaan, sekaligus menjadi film perjuangan satu-satunya dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun begitu, jumlah film-film yang berbicara patriotisme, nasionalisme, ataupun kemanusiaan masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan film-film yang merusak mental dan karakter bangsa kita; film porno, film horor, film percintaan, dan lain sebagainya.

Film, lagu-lagu, majalah, tarian-tarian masih didominasi oleh kebudayaan imperialis, yang bersifat cabul, membodohi, dan merusak moral rakyat. Lihatlah bagaimana kasus video porno Ariel dan Luna Maya mendominasi pembicaraan sepanjang tahun ini.

Kemudian, akibat kehancuran karakter dan mental bangsa kita, karya-karya yang tidak mempunyai mutu sama sekali, seperti Sinta-Jojo dengan “Keong Racun-nya”, bisa meluncur cepat menjadi selebriti.

Begitu pula dengan film yang sangat melecehkan nasionalisme dan patriotisme pahlawan, yaitu “Laskar Pemimpi”, menjelaskan betapa rendah nasionalisme dan tidak bermutunya gagasan pekerja film. Mereka menggunakan segala macam cara untuk mencari popularitas, termasuk dengan melecehkan perjuangan bangsa.

Pada bulan Agustus, para pekerja seni yang tergabung dalam Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) menggelar festival kemerdekaan, yang berlangsung selama sebulan penuh. Acara diiisi dengan diskusi, pameran lukisan, pementasan seni, pemutaran film, dan pengumpulan karya tulis mengenai perjuangan kemerdekaan.

Sampai akhir tahun 2010 ini, lapangan seni dan budaya kita masih terdominasi oleh kebudayaan asing, yang pada umumnya menawarkan apatisme, nihilisme, eksistensialisme, dan individualisme.

Sementara kebudayaan nasional, yang kata Pramoedya Ananta Toer, berakar pada kebudayaan daerah dan media baru yang diberikan dunia modern, semakin tersingkirkan dari panggung kebudayaan. Tidak seluruhnya memang, karena masih ada pekerja budaya yang tetap berjuang keras menyelamatkan kebudayaan rakyat ini.

Karya-karya literatur juga mengalami perkembangan signifikan, terutama penerbitan literatur progressif revolusioner. Orang dengan mudah dapat menerbitkan buku sekarang ini, bahkan temanya pun cenderung dilonggarkan.

Apalagi, sebagai hasil perjuangan keras para penulis dan intelektual progressif, maka Undang-undang Nomor 4/PNPS/1963 yang memberikan kewenangan Kejaksaan Agung untuk melarang peredaran buku, telah dicabut Mahkamah Konstitusi (MK).

Kesimpulan: Penghancuran sosial-budaya untuk menaklukkan bangsa

Untuk melapangkan jalan penjajahan, neoliberalisme telah menargetkan penghancuran terhadap kehidupan sosial dan budaya.

Di lapangan kehidupan sosial, neoliberalisme telah mengubah masyarakat menjadi atom-atom yang terpisah satu sama lain, yang merasakan demoralisasi dan secara sosial tidak berdaya.

Di tengah kemiskinan dan kesenjangan sosial yang sangat lebar, masyarakat yang sudah tidak berdaya ini dikonflikkan satu sama lain, bahkan terkadang dengan membakar sentimen etnis, pribumi dan pendatang, agama, dan lain-lain.

Kesemuanya ini menjelaskan kepada kita, bahwa neoliberalisme bukan sekedar ideologi tentang penjarahan sumber daya alam dan pemiskinan, tetapi juga sebuah ideologi yang mengubah manusia menjadi “pasif, nihilis, dan tidak berdaya”. Masyarakat yang terfragmentasi ini, pada gilirannya, akan sulit mengejar kepentingan-kepentingan sosialnya, apalagi berbicara soal kepentingan nasionalnya.

Untuk menjajah jiwa dan kepribadian, Neoliberalisme memiliki sebuah pedang dengan kedua sisinya yang sangat tajam; individualisme dan konsumtivisme. Individualisme disebarkan melalui pola dan gaya hidup, dan metode fragmentasi sosial; proses penghancuran bentuk-bentuk kolektifisme dan komunalitas. Konsumtifisme juga demikian, dia menyerang sel-sel otak kira bagaikan virus mematikan.

Dengan demikian, terjadilah seperti apa yang dikatakan ahli linguistik Amerika, Noam Chomsky, bahwa neoliberalisme menciptakan manusia seperti kawanan gembala yang dapat dibawa kemanapun.

Dengan demikian, kami dapat menyimpulkan bahwa penghancuran sosial-budaya merupakan bagian dari proyek “penghancuran bangsa”, dan demikian, para kolonialis merasa yakin untuk berkuasa lebih lama lagi. ****


Pertahanan dan Keamanan

Jika anda beranggapan bahwa penjajahan asing masih sangat abstrak terjelaskan di lapangan ekonomi, politik, dan sosial budaya, maka kami mengajak anda untuk menyaksikan bagaimana penjajahan asing itu benar-benar hadir dalam bentuk pencaplokan teritorial.

Korea Utara, negara kecil yang luasnya tidak melebihi Pulau Jawa, berani menembak kapal perang asing yang berusaha memasuki perairan teritorialnya. Sebaliknya, Indonesia justru tidak banyak berbuat ketika kawasan udaranya dipakai latihan perang oleh negeri kecil, yaitu Singapura, yang luasnya tidak jauh beda dengan kepulauan Seribu.

Sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, bangsa Indonesia seharusnya punya kedaulatan penuh terhadap semua wilayah teritorialnya, dari sabang sampai merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Dan, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dibentuk untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan teritorial tersebut.

Pencaplokan tanah dan wilayah

Tanpa diketahui secara luas, praktik kebijakan neoliberal telah menghasilkan pencaplokan sebagian besar teritorial Indonesia oleh pihak asing. Dalam menggambarkan hubungan kebijakan neoliberal dan pencaplokan tanah oleh asing ini, Salamudin Daeng, seorang peneliti di Institute For Global Justice (IGJ), menunjukkan bahwa lebih dari 175 juta hektar lahan dikuasai oleh penanaman modal besar, dan sebagian besar adalah modal asing.

Meskipun dengan menggunakan atas nama “investasi”, tetapi penguasaan itu disertai dengan eksploitasi sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, dan hasilnya pun kemudian diangkut ke negeri asal perusahaan asing tersebut. Bahkan, tidak jarang terjadi, penguasaan modal asing ini disertai penggusuran paksa terhadap pemilik sah tanah tersebut, yaitu rakyat Indonesia.

Lebih ironis lagi, tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ditangkap oleh pihak kepolisian malaysia. Pihak Malaysia beranggapan bahwa petugas KKP Indonesia memasuki wilayah teritorialnya, sementara Indonesia juga menganggap bahwa wilayah tersebut masih berada di dalam wilayah NKRI.

Kita pun tentu masih mengingat bagaimana dua pulau kita, yaitu Sipadan dan Ligitan, juga jatuh ke tangan Malaysia. Setidaknya, jika Indonesia tidak berhati-hati atau bertindak tegas dalam menjaga teritorialnya, maka ada 18 titik yang berpotensi memicu konflik perbatasan antara Indonesia dan Malaysia, yaitu: di Pulau Sentut, Tokong Malang Baru, Damar, Mangkai, Tokong Nanas, Tokong Belayar,Tokong Boro, Semiun, Subi Kecil,Kepala,Sebatik, Gosong Makasar, Maratua, Sambit, Berhala,Batu Mandi,Iyu Kecil, dan Karimun.

Kemudian, untuk kepentingan menjaga pulau terluar dari klaim asing, maka ada 12 pulau yang patut mendapat perhatian khusus, yaitu Pulau Rondo, Sekatung, Nipa, Berhala, Marore, Miangas, Marampit, Batek, Dana, Fani, Fanildo, dan Pulau Bras.

Pulau Miangas, yang merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Talaud, di Sulawesi Utara, sekaligus gerbang utara nusantara, sedang diklaim oleh Philipina sebagai wilayahnya.

Penjualan dan Penyewaan Pulau-Pulau

Isu penjualan tiga pulau di kepulauan Mentawai, yaitu Macaroni, Pulau Siloinak, dan Pulau Kandui, sempat memicu kemarahan rakyat Indonesia. Kasus ini diketahui dari situs privateislandsonline.com, situs yang memang melayani penjualan pulau-pulau di berbagai belahan dunia.

Isu penjualan pulau juga sempat terjadi di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dimana Pulau Sitabok hendak dilego dengan harga Rp 3 miliar. Kejadian seperti ini tidak terlepas dari mental pemerintah yang sangat inlander.

Pada bulan November lalu, pihak Direktur Pemberdayaan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan telah melego pulau-pulau kecil di Indonesia untuk disewakan kepada pihak asing. Dengan menggunakan alasan pariwisata, pemerintah telah jelas-jelas menggadaikan kedaulatan nasional kita kepada asing.

Dua pulau paling indah di Indonesia, yaitu Pulau Karimata di Kalimantan dan Raja Ampat di Papua, sudah disewakan kepada pengusaha asing untuk kepentingan bisnis pariwisata. Pulau Karimata dikelola oleh investor dari Perancis, sementara Pulau Raja Ampat oleh pengusaha Swiss.

Di Sulut, ada sejumlah pulau yang sebagian daratannya dikelola orang asing, seperti Pulau Gangga di Minahasa Utara yang dikelola investor asal Italia. Pemerintah berlindung di balik kebijakan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil serta Peraturan Menteri No 20/2005 tentang Pemanfaatan Pulau Kecil.

Pembangunan dan kesejahteraan rakyat di daerah perbatasan

Indonesia memiliki wilayah perbatasan yang terentang di 12 provinsi dan 38 kabupaten, termasuk 92 pulau kecil terdepan, namun nasib sebagian besar rakyat di daerah-daerah tersebut masih sangat memprihatinkan.

Sebelumnya, Menteri Negara Pembangunan Desa Tertinggal sebelumnya, Lukman Edy, pernah membuat pengakuan, bahwa dari 199 kabupaten tertinggal di Indonesia, 26 kabupaten terletak di perbatasan.

Seperti dikabupaten Sambas, Kalimantan barat, ada daerah dimana anak-anak sekolah harus menempuh jarak 20-30 kilometer untuk bersekolah. Padahal, jikalau mereka mau, mereka bisa menyebrang ke Malaysia yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer.

Hingga Juli 2010 ini, sekitar 15 dusun di sepanjang perbatasan Sanggau, Kalimantan Barat (Indonesia) dan Sarawak (Malaysia) diketahui tidak lancar berbahasa Indonesia dan buta huruf karena minimnya pembangunan bidang pendidikan di daerah tersebut.

Situasi tak kalah miris ditemukan di Kabupaten Maluku Barat Daya, daerah kepulauan Nusantara yang berbatasan dengan Timor Leste. Sebanyak 57 persen dari total 73.000 penduduk daerah itu tergolong miskin. Jalur perhubungan ke tempat ini juga sangat buruk, mengakibatkan harga kebutuhan pokok di kawasan tersebut dua kali lipat di atas harga normal.

Ketertinggalan pemerintah dalam membangun daerah perbatasan dibanding negara tetangga memang pantas memicu lunturnya nasionalisme. Lihat saja, misalnya, pendapatan masyarakat di perbatasan Entikong hanya mencapai US$400, sementara pendapatan perkapita masyarakat Serawak telah mencapai US$4.000.

Menjaga Kedaulatan Laut, Udara, dan Darat

Pada tahun 1950-1960-an, ketika Indonesia baru saja merdeka dan sedang dikepung dari imperialism dari segala sudut, negeri muda ini memiliki angkatan perang yang sangat tangguh, bahkan disegani di dunia.

Tetapi sekarang, setelah angkatan perang Indonesia bersekutu dengan imperialisme AS, mereka tidak bisa menghentikan kapal nelayan asing yang mengambil ikan-ikan di perairan nusantara.

Bahkan, selain peristiwa masuknya 5 jet tempur amerika di pulau Bawean beberapa tahun silam, pelanggaran terhadap wilayah teritorial indonesia masih terjadi, terutama di laut dan udara.

Bahkan, Lalu lintas udara Indonesia di Kepulauan Riau masih dalam kontrol Singapura karena perjanjian internasional pada masa lalu, yaitu Flight Information Regions (FIR), dimana sebagian wilayah udara NKRI masuk kedalam FIR Singapura. Bahkan, wilayah di sekitar Tanjung Pinang dan Natuna berada di bawah Air Traffic Control Singapura (ATC Singapura), sehingga kita tidak bisa terbang bebas di atas udara nunsantara sendiri.

Kemudian, penyelenggaran festival bahari, seperti Sail Bunaken 2009 dan Sail Banda 2010, juga memberi kesempatan kepada pihak asing untuk melanggar kedaulatan teritorial kita. Tidak hanya itu, dengan iming-iming promosi pariwisata dan pengobatan gratis, acara ini justru menjadi ajang “melego” kekayaan maritim Indonesia kepada negeri-negeri imperialis.

Kesimpulan: Sejengkal tanah diduduki asing, kita kembali terjajah!

Kemerdekaan untuk merdeka, meminjam perkataan Bung Karno, adalah kemerdekaan untuk menentukan politik nasional kita sendiri, untuk merumuskan konsep-konsep nasional kita sendiri, dan tidak dihalangi atau dirintangi oleh campur tangan oleh pihak luar.

Jika sejengkal tanah atau wilayah kita dikuasai asing, maka sebetulnya kita sudah tidak bisa disebut berdaulat lagi. Lebih jauh, penguasaan asing terhadap tanah dan teritorial kita sejalan dengan agenda neoliberalisme, terutama melalui penciptaan sejumlah UU untuk mempermudah kepemilikan asing itu terhadap sumber daya alam (SDA).

Jika diibaratkan dengan rumah, maka Indonesia ini sudah seperti rumah yang tidak memiliki pintu, bahkan siapapun bisa memasuki rumah ini tanpa meminta izin. Pihak asing dapat melakukan apapun, termasuk menjarah seluruh isi rumah tersebut.

Di sini, ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dalam sistim pertahanan nasional kita;

Pertama, cara mendefenisikan musuh dan ancaman terhadap NKRI masih ditekankan ke dalam negeri, yaitu gerakan-gerakan yang dianggap mengancam stabilitas politik, termasuk gerakan rakyat. Padahal, ancaman paling nyata terhadap kedaulatan NKRI justru berasal dari luar, yaitu imperialisme global.

Kedua, Pembangunan sistem pertahanan sejak orde baru sangat menekankan pada pertahanan darat, sementara kondisi geografi Indonesia adalah kepulauan. Semestinya, mengikuti gagasan Bung Karno, pembangunan pertahanan Indonesia seharusnya diletakkan pada maritim, yaitu kekuatan angkatan laut.

Perfect Day

BTricks


ShoutMix chat widget

Pengunjung

PENGUNJUNG

free counters