TRIPANJI PERSATUAN NASIONAL

1. HAPUSKAN HUTANG LUAR NEGERI 2. NASIONALISASI INDUSTRI ASING 3. INDUSTRIALISASI NASIONAL

11 Februari 2011

Michel Chossudovsky: Washington Lakukan Operasi Intelijen Terselubung Di Mesir



Oleh : Kusno

Ekonom dan sekaligus penulis progressif Kanada, Michel Chossudovsky, memperkirakan adanya usaha operasi intelijen AS di Kairo, Mesir, menyusul kedatangan seorang utusan Obama, Frank G. Wisner II.

Wisner dikenal baik sebagai bagian dari keluarga CIA, anak dari salah seorang mata-mata paling terkenal di Amerika Serikat, Frank Gardiner Wisner (1909- 1965), yang juga menjadi sponsor penggulingan pemerintahan Mohammed Mossadegh di Iran.

Wisner tiba di Kairo pada tanggal 31 Januari 2011, saat gerakan protes sedang mencapai puncaknya dalam upaya menjatuhkan rejim Mubarak.

Menurut Chossudovsky, Wisner merupakan kawan dekat Presiden Mesir, Hosni Mubarak, terutama saat Wisner menjadi dubes AS di Mesir tahun 1986-1991.

Semasa menjadi dubes di Mesir, Wisner dianggap punya peranan penting dalam negosiasi perjanjian pada tahun 1991, yang bukan saja berhasil memastikan komitmen Mesir untuk terjung dalam perang teluk pertama melawan Irak, tetapi juga berhasil menggolkan paket kebijakan reformasi makro-ekonomi yang dipandu oleh IMF.

Pendiskusiannya dengan Mubarak dimulai ketika Presiden Mesir itu menyampaikan pidato pada tanggal 1 Februari 2011, dimana Mubarak menyatakan bahwa dirinya tidak akan mundur hingga pemilihan Presiden baru akan diselenggarakan bulan September mendatang.

Dalam pernyataan publiknya, Wisner mengakui bahwa dirinya diijinkan oleh Mubarak untuk tinggal di kantornya. Namun, gedung putih buru-buru mengeluarkan klarifikasi, bahwa Wisner bukan cerminan kebijakan luar negeri AS dan pernyataan Wisner dibuat berdasarkan kapasitasnya sebagai pribadi.

Lebih lanjut, menurut Chossudovsky, pertemuan tertutup antara Wisner dengan Mubarak adalah bagian dari agenda intelijen. Washington tidak punya perhatian untuk mendorongnya mengikuti resolusi gerakan protes. Prioritas kegiatannya adalah perubahan rejim. Mandat Wisner adalah menginstrusikan Mubarak agar tidak mundur, sehingga berkontribusi terhadap terjadinya kerusuhan sosial dan ketidakpastian, belum lagi destabilisasi moneter yang menyebabkan miliaran dollar mengalir keluar negeri.

Ayah Wisner mengepalai Office of Strategic Services (OSS) di eropa tenggara selama perang dunia kedua. Semasa perang, ia banyak ditugasi untuk operasi intelijen yang dianggap modus operandi CIA. Tanggung jawabnya, antara lain, adalah melakukan sabotase, propaganda, dan disinformasi media. Dia merupakan arsitek dari operasi Mockingbird, salah satu program CIA untuk melakukan infiltrasi ke dalam media AS dan asing.

Pada tahun 1952, Wisner menjadi kepala direktorat perencanaan CIA, dimana Richard Helm menjadi kepala operasinya. Dia juga yang menjadi otak dari kudeta yang disponsori oleh CIA terhadap pemerintahan Mohammed Mossadegh di Iran pada tahun 1953, yang membuka jalan bagi berkuasanya Reza Syah Pahlevi, presiden boneka imperialis AS di Timur Tengah

Apa Sebab Negara Republik Indonesia Berdasarkan Pancasila (Bagian Kedua)



Oleh : Ir. Soekarno

Terbanglah kapal udaraku datang di daerah Aceh. Rakyat Aceh menyambut kedatangan Presiden, rakayat beragama Islam. Terbang lagi kapal udaraku, turun di Siborong-borong darah Batak. Rakyat Batak menyambut dengan gegap-gempita kedatangan Republik Indonesia, agamanya Kristen.

Terbang lagi, Saudara-saudara, dekat Sibolga, agama Kristen. Terbang lagi ke Selatan ke Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan, agama Islam. Demikianlah pulau di Jawa, kebanyakan beragama Islam, disana Kristen, disini Kristen. Terang lagi kapal udaraku ke Banjarmasin, kebanyakan Islam. Tetapi di Banjarmasin itu aku bertemu utusan-utusan dari suku Dayak, Saudara-saudara. Malahan di Samarinda aku berjumpa dengan utusan-utusan, bahwa rakyat Dayak yang sembilan hari sembilan malam turun dari gunung-gunung untuk menjumpai Presiden Republik Indonesia. Mereka tidak beragama Islam, tetapi beragama agamanya sendiri.

Aku ber-ibu orang Bali. Idayu Nyoman Rai nama Ibuku. Malahan jikalau aku beristirahat di Tampaksiring, desa kecil di Bali, rakyat Bali menyebut aku, kecuali Bung Karno, Bapak Karno, menyebut aku, Ida Bagus Made Karno. Aku melihat masyarakat Bali yang dua juta manusia itu beragama Hindu-Bali. Di Singaraja ada masyarakat Islam sedikit. Di Denpasar ada masyarakat Islam sedikit. Terbanglagi kapal udaraku ke Sumbawa, Islam. Terbang kapal udaraku ke Flores, pulau dimana aku dulu di internir rakayat Flores kenal akan Bung Karno, Bung Karno kenal akan rakyat Flores, sebagian besar rakyat Flores itu beragama Roma Khatolik (Kristen). Terbang lagi kapal udaraku ke Timor, sebagian besar rakyatnya Kristen Protestan. Terbang lagi kapal udaraku ke Ambon, Kristen. Sekitar Ambon itu adalah masyarakat Kristren. Terbang lagi ke Utara ke Ternate, Islam di Ternate. Dari Ternate terbang ke Manado. Minahasa sekelilingnya Kristen, ke Selatan Makasar, Islam. Di Tengah Sukawesi, Toraja sebagian besar Kristen, sebagaian belum beragama.

Benar apa tidak perkataanku, Saudara-saudara, bahwa Bangsa Indonesia adalah beraneka agama? Demikian pula aku berkata, bahwa bangsa Ondonesia ini beraneka adat-istiadat, beraneka suku pula. Beraneka suku, beraneka agama, beraneka adat-istiadat. Ini yang menjadi pikiran Bapak berpuluh-puluh tahun.

Sebelum kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 angustus 1945, aku ingin bersama-sama dengan pejuang lain membentuk satu wadah. Wadah yang bernama Negara. Wadah untuk masyarakat, bagi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat!

Aku ingin membentuk satu wadah yang tidak retak, yang utuh, yang mau menerima semua masyarakat Indonesia yang beraneka itu dan yang masyarakat Indonesia mau duduk pula di dalamnya, yang diterima oleh Saudara-saudara beragama Islam, yang beragama Kristen Katholik, yang beragama Kristen Protestan, yang beragama Hindu-Bali, dan oleh Saudara-saudara yang beragama lain, yang bias diterima oleh Saudara-saudara yang adat-istiadatnya begitu, dan yang bias diterima oleh sekalian Saudara.

Aku tidak mencipta Pancasila, Saudara-saudara. Sebab sesuatu dasar Negara ciptaan tidaka akan bertahan lama. Ini adalah suatu ajaran yang dari mula-mulanyakupegang teguh. Jikalau engkau hendak mengadakan dasar untuk sesuatu Negara, dasar untuk sesuatu wadah, jangan bikin sendiri, jangan anggit sendiri, jangan karang sendiri.

Selamilah sedalam-dalamnya lautan daripada sejarah! Gali sedalam-dalamnya bumi dari pada Sejarah!

Aku melihat masyarakat Indonesia, sejarah rakyat Indonesia. Dan aku menggali lima mutiara yang terbenam di dalamnya, yang tadinya lima mutiara itu cemerlang tetapi karena oleh penjajahan asing yang 350 tahun lamanya, terbenam kembali di dalam bumi bangsa Indonesia ini.

Aku oleh sekolah tingggi Universitas Gajah Mada di anugerahi titel Doctor Honoris (title Doctor Kehormatan) dalam ilmu jetatatnegaraan. Tatkala promotor Prof. Mr. Notonagoro mengucapkan pidatinya pada ucapan pemberian title Doctor Honoris Causa, pada waktu itu beliau berkata: “Saudara Soekarno kami menghadiakan kepada saudara title kehormatan Docotor Honoris Causa dalam ilmu ketatatanegaraan, oleh karena saudara pencipta Pancasila.”

Di dalam jawaban itu aku berkata: “Dengan terharu aku menerima title Doctor Honoris Causa yang dihadiakan kepadaku oleh Universitas Gajah mada, tetapi aku tolak dengan tegas ucapan Professor Notonagoro, bahwa aku adalah pencipta Pancasila.”

Aku bukan pencipta Pancasila. Pancasila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Aku hanaya menggali Pancasila daripada buminya bangsa Indonesia. Pancasila terbenam didalam bumi bangsa Indonesia 350 tahun lamanya. Aku gali kembali dan aku persembahkan Pancasila ini diatas persada bangsa Indonesia kembali.

Tidaklah benar, Saudara-saudara, bahwa kita sebelum ada Bung Karno, sebelum ada Republik Indonesia, sebenarnya telah mengenal akan Pancasila? Tidaklah benar kita dari dahulu mula telah mengenal Tuhan, hidup didalam alam ketuhanan Yang Maha Esa? Kita dahulu pernah menguraikan ini panjang lebar. Bukan anggitan baru, bukan karangan baru. Tetapi sejak dahulu mula bangsa Indonesia adalah satu bangsa pencipta kepada Ketuhanan. Yah.., kemudian Ketuhanan itu disempurnakan oleh agama-agama. Di sempurnakan oleh Agama Islam, disempurnakan oleh Agama Kristen. Tetapi dari dahulu mula kita adalah satu bangsa yang berketuhanan.

Demikian pula, tidaklah benar bahwa kita ini dari dahulu mula telah cinta kepada Tanah Air dan Bangsa? Hidup didalam alam kebangsaan? Dan bukan saja kebangsaan kecil, tetapi kebangsaan Indonesia. Hai.., Engkau pemuda-pemuda, pernah engkau mendengar nama kerajaan Mataram? Kerjaaan Mataram yang memebuat candi-candi Prambanan, candi Brobuduru? Kerajaan mataram kedua di waktu itu dibawah pimpinan Sultan Agung Hanjokrokusumo? Tahukah suadara-saudara akan arti perkataan Mataram? Jikalau tidak tahu maka aku akan berkata kepadamu “Mataram berarti Ibu”. Masih ada persamaan perkataan Mataram itu, misalnya perkataan Metter di dalam bahasa Jerman, Ibu, Mother dalam bahasa Inggris, Ibu. Moeder dalam bahasa Belanda, Ibu. Mater dalam bahasa Latin, Ibu. Mataram berarti Ibu.
Demikian kita cinta kepada Bangsa dan Tanah Air dari zaman dahulu mula, sehingga negeri kita, negara kita, kita putuskan Mataram.

Rasa kebangsaa, bukan rasa baru bagi kita. Mungkinkah mempunyai kerajaan seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dahulu, jikalau kita tidak mepunyai rasa kebangsaan yang berkobar-kobar di dalam dada kita?

Yaaah.., kata pemimpin besar yang bernama Gajah Mada.Sang Maha Patih Ihino Gajah mada. Benar, kita mempunya pemimpin besar itu. Benar, pemimpin besar itu telah bersumpah satu kali, tidak akan makan kelapa jikalau belum segenap kepulauan indonesia tergabung di dalam satu negara yang besar. Benar, kita mempunyai pemimpin yang besar itu. Tetapi apakah pemimpin ini yang sebenarnya pencipta dari pada kesatuan kerajaan Majapahit? Tidak!

Pemimpin besar sekedar adalah sambungan lidah daripada rasanya rakyat jelata. Tidak ada satu orang pemimpin besar, walaupun besarnya bagaimanpun juga, bisa membentuk negara yang sebesar majapahit – ialah satu negara yang besar, yang wilayahnya dari Sabang samapai ke Marauke, bahakan samapai ke daerah Philipina sekarang.

Katakanlah Bung Karno pemimpin besar atau pemimpin kecil, pemimpin gurem atau yang bagaimana, tetapi jikalau ada yang berkata: “Bung Karno yang mengadakan Republik Indonesia.“ Tidak Benar!!! Jangan pun satu Soekarno, sepeuluh Soekarno, seratus Soekarno, seribu Soekarno tidak akan bisa membentuk negara Republik Indonesia, jikalau segenap rakayat jelata Republik Indonesia tidak berjuang mati-matian!”

Kemerdekaaan adalah hasil dari segenap perjuangan rakyat. Maka itu pula menjadi pikiran Bapak, negara Republik Indonesia ini bukan milik satu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang samapai ke marauke! Perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini dijalankan oleh semua bangsa Indonesia.

Aku melihat didalam daerah-daerah yang kukunjungi, dimana pun aku datang, aku melihat Taman-taman Pahlawan. Bukan saja di bagian-bagian yang beragama Islam, tetapi juga di bagian-bagian yang beragama Kristen. Aku melihat Taman-taman Pahlawan dimana-mana. Di sini di Surabaya, pada tanggal 10 november tahun 1945 siapa yang berjuang d sini???

Segenap pemuda-pemudi, kyai, kaum buruh, kaum tani, segenap rakyat Surabaya berjuang dengan tiada perbedaan agama, adat-istiadat, golongan atau suku.

Rasa kebangsaan kita sudah sejak dari zaman dahulu, demikian pula rasa prikemanusiaan. Kita bangsa Indonesia adalah satusatunya bangsa di dalam sejarah dunia, satu-satunya bangsa yang tidak pernah menjajah bangsa lain adalah bangsa Indonesia. Aku tantang orang-orang ahli sejarah yang bisa membuktikan, bahwa bangsa Indonesia pernah menajjah kepada bangsa lain.

Apa sebab? Oleh karena bansa Indonesia diatas dasar perikemanusiaan sejak dari zaman dahulu. Dari zaman Hindu kita sudah mengenal perikemanusiaan. Disempurnakan lagi rasa perikemanusiaan itudengan agama-agama yang kemudian.

Di dalam zaman Hindu kita telah mengenal ucapan: “Tat Twam Asi”. Apa artinya Tat Twam Asi? Tat Twam Asi berarti “Aku adalah dia”, dia adalah aku”. Dia pakai, aku ikut pakai. Dia senang, aku ikut senang. Aku senang, dia ikut senang. Aku sakit, dia ikut sakit. Tat Twam Asi–perikemanusiaan.

Kemudian datanglah disini agama Islam, mengajarkan pada perikemanusiaan pula. Malah lebih sempurnah. Diajarkan kepada kita akan ajaran-ajaran fardhukifayah, kewajiban-kewajiban yang dipikulkan kepada seluruh masyarakat. Misalnya, jikalau ada orang mati di kampungmu dan kalau orang mati itu tiada terkubur, siapa yang dianggap berdosa, siapa yang dikatakan berdosa, siapa yang akan mendapatkan siksaan daripada dosa itu? Bukan sekedar kerabata famili daripada sang mati itu, Tidak! Segenap masyarakat disitu ikut bertanggung jawab.

Demikian pula dengan agama Kristen. Tidakkkah agama Kristen kita itu diajarkan: cinta kepada tuhan lebih dari pada segala sesuatu; dan cinta kepada manusia lebih daripada cinta kita sendiri: Hebs U naasten lief gelijk U zelve, God boven alles”. Jadi rasa kemanusiaan bukan barang baru bagi kita.

Demikian pula rasa kedaulatan rakyat. Apa sebab pergerakan Nasional Indonesia laksana api mencetus dan meledakan segenap rasa kebangsaan Indonesia? Oleh karena pergerakan nasional Indonesia itu berdiri diatas dasar kedaulatan rakayat. Engkau ikut berjuang! Dai dahulu malu kita gandrung kepada kedaulatan rakayat. Apa sebab engkau ikut berjuang? Oleh karena engkau merasa memperjuangkan dasar kedaulatan rakyat.

Bangsa Indonesia dari dahulu mula telah mengenal kedaulatan rakayat, hidup di dalam alam kedaulatan rakayat. Demokrasi bukan barang baru bagi kita. Demikian pula cita-cita keadilan sosial, bukan cita-cita baru bagi kita. Jangan kira, bahwa cita-cita keadilan sosial itu buatan Bung Karno, Bung hatta, atau komunis atau kaum serikat rakyat, kaum sosialis, Tidak!

*) Pidato di Surabaya, 24 September 1955.

Apa Sebab Negara Republik Indonesia Berdasarkan Pancasila (Bagian Pertama)



Oleh : Ir. Soekarno

SAUDARA-SAUDARAKU sekalian

Saya adalah orang islam, dan saya keluarga Negara Republik Indonesia. Sebagai orang islam, saya menyampaikan salami slam kepada saudara-saudara sekalian, “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sebagai warga Republik Indonesia, saya menyampaikan kepada saudara-saudara sekalian, baik yang beragama islam, baik beragama Hindu-Bali, baik yang beragama lain, kepada saudara-saudara sekalian saya menyampaikan salam nasional “Merdeka”!

Tahukah saudara-saudara, arti perkataan “salam” sebagai bagian daripada perkataan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu? Salam artinya damai, sejahtera. Jikalau kita menyebutkan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, berarti damai dan sejahterahlah sampai kepadamu. Dan moga-moga rahmat dan berkat Allah jatuh kepadamu. Salam ber-arti damai, sejahtera. Maka oleh karena itu, saya minta ke-pada kita sekalian untuk merenungkan benar-benar akan arti perkataan “assalamu alaikum”.

Salam—damai—sejahtera!
Marilah kita bangsa Indonesia terutama sekalian yang beragama islam hidup damai dan sejahtera satu sama lain. Jangan kita bertengkar terlalu-lalu sampai membahayakan persatuan bangsa. Bahkan jangan kita sebagai gerombolan-gerombolan yang menyebutkan assalamu alaikum, akan tetapi membakar rumah-rumah rakyat.

Salam—damai—sejahtera! Rukun—bersatu! Terutama sekali dalam didalam revolusi nasional kita belum selesai ini.

Dan sebagai warganegara yang merdeka, saya tadi memekikkan pekik “Merdeka” bersama-sama dengan kamu. Kamu yang beragama islam, kamu yang beragama Kristen, kamu yang beragama Syiwa Buddha, Hindu-Bali atau agama lain. Pekik merdeka adalah pekik yang membuat rakyat Indonesia itu, walaupun jumlahnya 80 juta, menjadi bersatu tekad, memenuhi sumpahnya “sekali merdeka tetap merdeka”!

Pekik merdeka, saudara-saudara, adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imprealisme—dengan tiada ikatan penjajahan sedikit pun. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional belum selesai, jangan lupa kepada pekik merdeka! Tiap-tiap kali kita berjumpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “merdeka”!

Tatkala aku mengadakan perjalanan ke tanah suci beberapa pekan yang lalu, aku telah diminta oleh khalayak Indonesia dikota Singapura untuk mengadakan amanat kepada mereka. Ketahuilah, bahwa di Singapura itu berpuluh-puluh ribu orang Indonesia berdiam. Mereka bergembira, bahwa Presiden Republiknya lewat Singapura. Mereka menyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia itu dengan gegap-gempita, dan diminta kepada Presiden Republik Indonesia untuk memberikan amanah kepadanya. Didalam amanah itu beberapa kali dipekikkan pekik “merdeka”.

Apa lacur? Sesudah bapak meneruskan perjalanan ke Bangkok ke Rangoon, ke New Delhi, Karachi, ke Bagdad, ke Mesir, ke Negara Saudi Arabia, sesudah bapak meninggalkan kota Singapura, geger….pers imprealisme Singapura, saudara-saudara. Mereka berkata: “Presiden Soekarno kurang ajar”. Presiden Soekarno menjalankan ill-behavior, katanya. ill-behavior itu artinya tidak tau kesopanan. Apa sebabnya pers imprealisme mengatakan bapak menjalankan ill-behavior, kurang ajar? Kata mereka, toh tahu Singapura ini bukan negeri merdeka? Toh tahu, bahwa disini masih didalam kekuasaan asing, kok memekikkan pekik “merdeka”?

Tatkala bapak kembali dari tanah suci, singgah lagi di Singapura, bapak dikeroyok oleh responden-responden dan wartawan-wartawan. Mereka menanyakan kepada bapak: “Tahukah PYM Presiden, bahwa tatkala PYM Presiden meninggalkan kota Singapura ddalam perjalanan ke Mesir dan tanah suci, PYM dituduh kurang ajar, kurang sopan, ill-behavior, oleh karena PYM memekikkan pekik merdeka dan mengajarkan kepada bangsa Indonesia disini memekikkan pekik merdeka? Apa jawab Paduka Yang Mulia atas tuduhan itu?”

Bapak menjawab: “jikalau orang Indonesia berjumpa dengan orang Indonesia, warganegara Republik Indonesia berjumpa dengan warganegara Republik Indonesia, pendek kata jikalau orang Indonesia bertemu dengan orang Indonesia selalu memekikkan pekik “merdeka”! Jangankan di sorga, didalam neraka pun”!

Nah…saudara-saudara dan anak-anakku sekalian, jangan lupa akan pekik merdeka itu. Gegap-gempitakan tiap-tiap kali pekik merdeka itu. Apalagi sebagai bapak katakan tadi dalam fase revolusi nasional kita yang belum selesai. Dus kuulangi lagi, sebagai manusia yang beragama islam, aku menyampaikan kepadamu salam “assalamu alaikum!” sebagai warganegara Republik Indonesia, aku menyampaikan kepadamu “merdeka!”

Saudara-saudara, aku pulang dari Bali—beristirahat beberapa hari disana—diminta oleh Kongres Rakyat Jawa Timur untuk pada inti malam memberikan sedikit ceramah, wejangan, amanah, terutama sekali mengenai hal “apa sebabnya negara Republik Indonesi berdasarkan kepada Pancasila? Dan memberikan penerangan tentang hal Panca Dharma.

Tadi, tatkala aku baru masuk gedung Gubernuran ini, hati kurang puas. Apa sebab? Terlalu jauh jarak rakyat dengan bung Karno. Maka oleh karena itulah saudara-saudaraku dan anak-anakku sekalian, maka bapak minta kepadamu pimpinan agar supaya saudara-saudara diberi izin lebih dekat. Sebab, saudara-saudara tahu isi hati bapak ini, isi hati Presiden, isi hati bung Karno, kalau jauh daripada rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari pertapaannya.

Permintaan Kongres Rakyat untuk memberikan amanat kepada saudara-saudara, insya Allah saya kabulkan. Dan dengarkan benar, aku berpidato disini bukan sekedar sebagai Soekarno. Bukan sekedar sebagai bung Karno. Bukan sekedar sebagai pak Karno. Aku berpidato disini sebagai Presiden Republik Indonesia! Sebagai Presiden Republik Indonesia aku diminta memberi penjelasan tentang Pancasila. Apa sebabnya negara Republik Indonesia didasarkan atasa Pancasila?

Apa sebab? Tak lain dan tak bukan ialah oleh karena aku ini Presiden Republik Indonesia disumpah atas Undang-Undang dasar kita. Saya tadi berkata, bahwa saya memenuhi permintaan Kongres Rakyat Jawa Timur dengan penuh kesenangan hati, ialah oleh karena saya ini sebagai Presiden Republik disumpah atas dasar Undang-Undang dasar kita. Disumpah harus setia kepada Undang-Undang dasar kita. Didalam Undang-Undang dasar kita, dicantumkan satu mukadimah, kata pendahuluan. Dan didalam kata pendahuluan itu dengan tegas disebutkan Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan Indonesia yang bulat, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”. Malahan bukan satu kali ini Pancasila itu disebutkan didalam Undang-Undang dasar kita. Sejak kita didalam tahun 1945 telah berkemas-kemas untuk menjadi suatu bangsa yang merdeka, sejak itu kita telah mengalami empat kali naskah.

Sebelum kita mengadakan proklamasi 17 agustus, sudah ada naskah. Kemudian pada tanggal 17 agustus, satu naskah lagi. Kemudian tatkala RIS dibentuk, satu naskah lagi. Kemudian sesudah itu, tatkala kita kembali kepada zaman Republik Indonesia Kesatuan, satu naskah lagi. Empat kali naskah, saudara-saudara. Dan didalam keempat naskah itu dengan tegas disebutkan Pancasila.

Pertama, tatkala kita didalam zaman Jepang, kita telah berkemas-kemas didalam tahun 1945 itu untuk menjadi bangsa yang merdeka. Pada waktu itu telah disusunlah satu naskah yang dinamakan “Charter Jakarta”. Didalam Charter Jakarta ini telah disebutkan dengan tegas lima azas yang hendak kita pakai sebagai pegangan untuk negara yang akan datang. “Ketuhanan yang maha esa, Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”.

Demikian pula tatkala kita telah memproklamirkan kemerdekaan kita pada tanggal 17 agustus 1945, dengan tegas pula keesokan harinya, saudara-saudara, kukatakan dengan Undang-Undang Dasar yang kita pakai ini. Yaitu undang-undang dasar yang kita rencanakan pada waktu zaman Jepang dibawah ancaman bayonet Jepang; kita rencanakan satu undang-undang dasar daripada negara Republik Indonesia yang kita proklamasikan pada tanggal 17 agustus 1945. Dan didalam Undang-Undang Dasar itu dengan tegas dikatakan Pancasila: “Ketuhanan yang maha esa, Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”.

Tatkala berhubung dengan jalannya politik, negara Republik Indonesia Serikat dibentuk (RIS), pada waktu itu dibentuklah Undang-Undang Dasar RIS. Dan didalam mukadimah Undang-Undang Dasar RIS ini disebutkan lagi dengan tegas Pancasila.

Kita tidak senang dengan federal-federalan. Segenap rakyat akan memprotes akan adanya susunan ini. Delapan bulan susunan federal ini. Delapan bulan susunan RIS berdiri, hancur lebur RIS, berdirilah negara Republik Indonesia Kesatuan. Dan Undang-Undang Dasar yang dipakai RIS ini diubah menjadi Undang-Undang Dasar Sementara daripada negara Republik Indonesia Kesatuan. Tetapi tidak diubah isi mukadimah yang mengandung Pancasila.

Jadi, dengan tegas, saudara-saudara, jelas! Empat kali didalam sepuluh tahun ini kita melewati empat naskah. Tiap-tiap naskah menyebutkan Pancasila. Dan tatkala aku dengan karunia Alla SWT dinobatkan menjadi Presiden, aku disumpah. Dan isi sumpah itu antara lain setia kepada Undang-Undang Dasar. Maka oleh karena itulah, saudara-saudara, rasa sebagai kewajiban jikalau diminta oleh sesuatu golongan akan keterangan tentang Pancasila, memenuhi permintaan itu.

Dan pada ini malam dengan mengucap suka syukur kehadira Allah SWT, aku berdiri dihadapan saudara-saudara. Berhadap-hadapan muka dengan kaum buruh, dengan pegawai, rakyat jelata, Pihak Angkatan Laut Republik Indonesia dan pihak tentara, dengan pihak Mobrig, pihak polisi, pihak perintis, dengan pemuda, dengan pemudi, berdiri dihadapan saudara-saudara dan anak-anak sekalian, yang telah datang membanjiri lapangan yang besar ini laksana air hujan. Aku mengucap banyak terima kasih kepadamu. Dan insya Allah, saudara-saudara, aku akan terangkan kepadamu tentang apa sebab negara Republik Indonesia didasarkan Pancasila.

Saudara-saudara. Ada yang berkata Pancasila ini hanya sementara! Yah….jikalau diambil didalam arti itu, memang Pancasila adalah sementara. Tetapi bukan saja Pancasila adalah sementara, bahkan ketentuan didalam Undang-Undang Dasar kita, bahwa Sang Merah Putih bendera kita, itupun sementara! Segala Undang-Undang Dasar kita sekarang ini adalah sementara.

Tidakkah tadi telah kukatakan, bahwa Undang-Undang Dasar yang kita pakai sekarang ini, malahan disebut Undang-Undang Dasar Sementara daripada negara Republik Indonesia? Apa sebab sementara? Yah…..oleh karena akhirnya nanti yang akan menentukan segala sesuatunya ialah konstituante.

Maka itu saudara-saudara, kita akan mengadakan pemilihan umum dua kali. Pertama, pada tanggal 29 september nanti, insya Allah, untuk memilih DPR. Kemudian pada tanggal 5 desember untuk memilih konstituante adalah Badan pembentuk Undang-Undang Dasar. Undang-Undang Dasar yang tetap. Konstituante adalah pembentuk konstitusi. Konstitusi berarti Undang-Undang Dasar. Undang-Undang Dasar tetap bagi negara Republik Indonesia, yang sampai sekarang ini segala-segalanya masih sementara.

Tetapi, saudara-saudara, jikalau ditanya kepadaku “Apa yang berisi kalbu bapak ini akan permohonan kepada Allah SWT? Terus terang aku berkata, jikalau saudara-saudara membelah dada bung Karno ini, permohonanku kepada Allah SWT ialah, saudara-saudara bisa membaca didalam dada bung Karno memohon kepada Allah SWT supaya negera Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila.

Yah…benar, bahwa segal sesuatunya adalah sementara. Tetapi aku berkata, bahwa Sang Merah Putih adalah sementara, adalah bendera Republik Indonesia pun sementara. Dan jikalau nanti konstituante bersidang, insa Allah, Saudara-saudaraku, siang dan malam bapak memohon kepada Allah SWT agar supaya konstituante tetap menetapkan bendera Sang Merah sebagai bendera negara Indonesia.

Aku minta kepadamu sekalian, janganlah memperdebatkan Sang Merah Putih ii . jangan ada satu pihak yang mengusulkan warna lain sebagai bendera Republik Indonesia.

Tahukah saudara-saudara, bahwa warna Merah Putih ini bukan buatan Republik Indonesia? Bukan buatan kita dari zaman pergerakan nasional. Apalagi bukan buatan bung Karno, bukan buatan bung Hatta! Enam ribu tahun sudah kita mengenal akan warna Merah Putih ini. Bukan beribu tahun, bukan dua ribu tahun, bukan tiga ribu tahun, bukan empat ribu tahun, bukan enam ribu tahun! Enaaaam….ribu tahun kita telah mengenal warna Merah Putih!

Tatkala disini belum ada agama Kristen, belum ada agama Islam, belum ada agama Hindu, bangsa Indonesia telah mengagungkan warna Merah Putih. Pada waktu itu kita belum mengenal Tuhan dalam cara mengenal sebagai sekarang ini. Pada waktu itu yang kita sembah adalah matahari dan bulan. Pada waktu itu kita hanya mengira, bahwa yang memberi hidup itu matahari. Siang matahari, malam bulan. Matahari merah, bulan putih. Pada waktu itu kita telah mengagungkan warna Merah Putih.

Kemudian bertambah kecerdasan kita. Kita lebih dalam menyelami akan hidup di alam ini. Kita memperhatikan segala sesuatu didalam alam ini dan kita melihat. Oh, alam ini ada yang hidup bergerak, ada yang tidak bergerak. Ada manusia dan binatang, makhluk-makhluk yang bergerak. Ada tumbuh-tumbuhan yang tidak bisa bergerak. “manusia dan binatang itu darahnya merah. Tumbuh-tumbuhan darahnya putih”. Getih-getah. Cuma i diganti a. Dulu kita mengagungkan matahari dan bulan yang didalam alam Hindu dinamakan Surya Chandra. Kemudian kita mengagunkan getah-getih. Merah-Putih, saudara-saudara, itu adalah fase kedua.

Fase ketiga, manusia mengerti akan kejadian manusia. Mengerti, bahwa kejadian manusia ini adalah daripada perhubungan laki dan perempuan, perempuan dan laki. Orang mengerti perempuan adalah merah, laki adalah putih.

Dan itulah sebabnya maka tidak turun-temurun mengagungkan merah putih. Apa yang dinamakan “gula-kelapa”, mengagungkan bubur bang putih. Itulah sebabnya maka kita kemudian tatkala kita, mempunyai negara-negara setelah mempunyai kerajaan-kerajaan, memakai merah putih itu sebagai bendera negara. Tatkala kita mempunyai kerajaan Singosari, merah putih telah berkibar terus dirampas oleh imprealisme asing. Tetapi didalam dada kita tetap hidup kecintaan kepada merah putih.

Dan tatkala kita, mengadakan pergerakan nasional sejak tahun 1908, dengan lahirnya Budi Utomo dan diikuti oleh Serikat Islam, oleh NIP (National Indische Party), oleh ISDP oleh PKI, oleh Serikat Rakyat, oleh PPPK, oleh PBI, oleh Parindra, dan lain-lain, maka rakyat Indonesia tetap mencintai merah putih sebagai warna benderanya.

Dan tatkala kita pada tanggal 17 agustus 1945 memproklamirkan kemerdekaan itu, dengan resmi kita menyatakan sang merah putih adalah bendera kemerdekaan kita.

Itu semua jika dikatakan sementara, ya sementara ! sebab konstituante belum bersidang. konstituate mau mengubah warna ini?? lho, kok menurut haknya, boleh saja. Sebab konstituante itu adalah kekuasaan kita yang tertinggi. penyusun, pembentuk konstitusi. Jadi konstituante misalnya hendak menentukan warna bendera Negara Republik Indonesia bukan merah putih, yah mau dikatakan apa?

Tetapi bapak berkata, bapak memohon kepada allah swt agar supaya warna merah putih tetap menjadi warna bendera bendera republik Indonesia.

Kembali lagi kepada Indonesia. Jika dikatakan sementara, yaaa….sementara!

Lagi-lagi bapak berkata ini berkata, allah swt, allah swt. Dan bapak pun bersyukur kehadirat allah swt, bahwa cita-cita bapak yang sudah bertahun-tahun untuk haji dikabulkan oleh allah swt. Lagi-lagi, allah swt.

Saudara-saudara, jikalau aku meninggalkan dunia nanti, ini hanya tuhan mengetahui, dan tidak bisa dielakkan semua orang, jikalau ditanya oleh malaikat: hai….Soekarno, tatkala engkau hidup di dunia, engkau telah mengerjakan beberapa pekerjaan. Pekerjaan yang paling engkau cintai? Pekerjaan apa yang paling engkau kagumi? Pekerjaan apa yang paling engkau ucapkan syukur kepada allah swt? moga-moga saudara-saudara aku bisa menjawab–ya…bisa menjawab demikian tau tidaknya itu tergantung dari pada allah swt: “tatkala aku hidup didunia ini, aku telah ikut membentuk negara republik Indonesia. Aku telah ikut membentuk satu wadah bagi masyarakat Indonesia”.

Sebagai sering kukatakan saudara-saudara, negara adalah wadah. Jikalau aku diberi karunia oleh allah swt mengerjakan pekerjaan satu ini saja, allahu akbar, aku akan berterima kasih setinggi langit. Yaitu untuk pekerjaan ini saja, ikut membentuk wadah. Wadahnya, wadahnya saja yang bernama negeri ini. Didalam wadah ini ada masyarakat. Wadah yang dinamakan negara ini adalah wadah untuk masyarakat.

Membentuk wadah adalah lebih mudah daripada membentuk masyarakat. Membentuk wadah adalah sebenarnya bisa dijalankan dalam satu hari—wadah yang bernama negeri itu.

Tidaklah, saudara-saudara, dari sejarah dunia kadang-kadang mendengar, bahwa oleh suatu konperensi kecil sekonyong-konyong diputuskan dibentuk negara ini, dibentuk negara itu. Misalnya, dahulu sesudah peperangan dunia yang pertama, tidakkah negara Cekoslowakia sekedar dengan coretan pena dari suatu konperensi kecil. Membentuk negara…., gampang! Dulu disini pernah dibentuk negara Indonesia Timur, negara Pasundan, hanya dengan dekrit Van Mook, saudara-saudara! Tetapi mencoba membentuk masyarakat, susah!.

Membentuk masyarakat, kita harus bekerja siang dan malam, bertahun-tahun, berpuluh-tahun, kadang-kadang berwindu-windu, berabad-abad. Masyarakat apapun tidak gampang dibentuknya. Itu meminta pekerjaan kita terus menerus. Baik masyarakat islam, maupun masyarakat kristen maupun sosialis. Bukan bisa dibentuk dengan satu dekrit saudara-saudara, dengan satu tulisan, dengan satu unjau nafas manusia. Membentuk masyarakat makan waktu!

Yah…, aku bermohon kepada tuhan, diperbolehkanlah hendaknya ikut membentuk masyarakat pula. Masyarakat di dalam wadah itu.

Tetapi aku telah bersyukur seribu syukur kepada tuhan, jikalau nanti aku bisa menjawab kepada malaikat itu, bahwa hidupku di dunia ini antara lain-lain ialah telah ikut membentuk wadah ini saja. Membentuk wadah yang bernama negara dan wadah ini buat suatu masyarakat yang besar. Walaupun rapat ini lebih daripada satu juta manusia saudara-saudara, wadah ini bukan kok cuma buat satu juta manusia itu saja. Tidak! wadah yang bernama negara, negara yang bernama republik Indonesia itu adalah wadah untuk masyarakat Indonesia yang 80 juta, dari sabang sampai marauke! Dan masyarakat Indonesia ini adalah beraneka ragam, beraneka adat-istiadat, beraneka suku. Bertahun-tahun aku ikut memikirkan ini. Nanti jikalau allah swt memberikan kemerdekaan kepada kita, dulu berpikiran demikianlah bapak, jikalau negara republik Indonesia telah berdiri, segenap rakyat Indonesia yang 80 juta. Negara harus didasarkan apa?

Tatkala aku masih berumur 25 tahun, aku telah memikirkan hal ini. Tatkala aku aktif didalam pergerakan, aku lebih-lebih lagi memikirkan hal ini. Tatkala dalam zaman Jepang, tetapi oleh karena tekad kita sendiri, usaha kita sendiri, pembantingan tulang sendiri, korbanan kita sendiri, tatkala fajar telah menyinsing, lebih-lebih kupikirkan lagi hal ini. Wadah ini hendaknya jangan retak. Wadah ini hendaknya utuh sekuat-sekuatnya. Wadah untuk segenap rakyat Indonesia, dari sabang sampai marauke yang beraneka agama, beraneka suku beraneka adat-istiadat.

Sekarang aku menjadi presiden republik Indonesia adalah karunia tuhan. Aku tidak menyesal, bahwa aku telah memfomulirkan pancasila. Apa sebabnya? barangkali lebih daripada siapa pun di Indonesia ini, aku mengetahui akan keanekaan bangsa Indonesia ini, aku mengetahui publik Indonesia aku berkesempatan sering-sering untuk melewat ke daerah-daerah. Sering-sering aku naik kapal udara. Malahan jikalau didalam kapal udara aku sering-sering, katakanlah, main gila dengan pilot. Pilot terbanglah tinggi, lalu akan tanya kepadanya:
“Saudara pilot, berapa tinggi ?”
“12.000 kaki paduka yang mulia”
“kurang tinggi, naikkan lagi”
“13.000 kaki”
“Hahaa…kurang tinggi bung!”
“14.000 kaki”
“kurang tinggi!”
“15.000 kaki”
“kurang tinggi”
“16.000 kaki”
“kurang tinggi”
“17.000 kaki”
“kurang tinggi”

“sudah tidak bisa lagi, paduka yang mulia. Kapal udara kita sudah mencapai plafon’.

Plafon itu ialah tempat yang setinggi-tingginya bagi kapal udara itu.

Aku terbang dari barat ke timur, dari timur ke barat. Dari utara ke selatan, dari selatan ke utara. Aku melihat tanah air kita. Allahu akbar, cantiknya bukan main! dan bukan saja cantik, sehingga benarlah apa yang diucapkan oleh Multatuli didalam kitab “Max Havelar”, bahwa Indonesia ini adalah demikian cantiknya, sehingga ia sebutkan “Indulinde de zich daar slingert om den evenaar als een gordel van smaragd”. Indonesia yang laksana ikat pinggang terbuat daripada zamrud berlilit-lilit sekeliling khatulistiwa! Indahnya demikian.

Ya…, memang saudara-saudara, jikalau engkau terbang 17.000 kaki diangkasa dan melihat kebawah, kelihatan betul-betul Indonesia ini adalaha sebagai ikat pinggang yang terbuat dari zamrud, melilit mengelilingi khatulistiwa, berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu pulau saudara melihat. Dan tiap-tiap pulau itu berwarna-warna. Ada yang hijau kehijauan, ada yang kuning kekuningan. Indah permai tanah air kita ini, saudara-saudara. Lebih daripada 3.000 pulau, bahkan kalau dihitung dengan yang kecil-kecil, 10.000 pulau.

*)Pidato di Surabaya, 24 September 1955

Marhaenisme Sebagai Marxisme Yang Diterapkan (Bagian Terakhir)



Oleh : Ir. Soekarno

Dan ini saudara-saudara, terus terang saja, ini yang ditakuti, ditakuti oleh musuh kita. Sudahlah jelas kepada saudara-saudara, bahwa perubahan sikap musuh kita itu karena konfrontasi politik kita? Dulu kita laksana dikentuti saudara-saudara, -maaf perkataan saya ini-oleh musuh kita. Tatkala kita tidak menyusun macht dan tidak akan menggunakan macht, tidak menjalankan machtvorming, tidak menjalankan machtsaanwending. Tatkala kita menyandarkan diri kita kepala hanya diplomasi, tatkala kita menyandarkan diri kita kepada anggar-lidah saja. Tatkala kita menyandarkan diri kita kepada PBB, kita selalu dikentuti oleh kaum imprealis. Bukan saja imprealis Belanda, tetapi imprealis, imprealis, imprealis seluruh dunia saudara-saudara. Boleh dikatakan mengkentuti kepada kita-maaf kalau saya memakai perkataan ini. Tetapi tidak ada lain gambaran yang lebih jelas daripada perkataan ini. Tetapi sikap ini saudara-saudara, sikap mereka ini berubah sudah, sesudah kita mengadakan konfrontasi politik, bahkan saudara-saudara konfrontasi politik ini harus memuncak lagi kepada benar-benar machtsaanwending.

Didalam pidato saya kepada saudara-saudara yang hadir pada peresmian pembukaan Subcritical Anatomic Reactor di Yogyakarta, saya sudah berkata : kata dulu, kemudian pukir, sekarang harus bertindak. “Woord, gedachte, daad”. Kata, pikir, tindak. Sekarang kita disini saudara-saudara, tindak, tindak, sekali lagi tindak, dan ini yang ditakuti oleh musuh kita.

Gubernur Belanda di Irian Barat, namanya Plattel saudara-saudara, Plattel, pernah dia berpidato….itu kan Cuma “bluff” saja. Hhh, Indonesia menjalankan itu tenaga politik, akan memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaannya, dengan betul-betul kekerasan. Satu minggu kemudian saudara-saudara, Plattel berkata lagi, bahwa dia akan mengungsikan orang-orang Belanda dari Irian Barat. Lho….bahwa Indonesia cuma gertak sambel yang besar.

Saya pernah juga diplakati satu Negara tetangga, dekat sini, diplakat tidak tahu siapa yang mlakat barangkali ya Belanda mlakat. Bunyinya plakat itu, “Soekarno bohong besar”. Saya tanya kepadamu apa saya bohong besar saudara-saudara !! (Tidak, jawab hadirin-red). Tidak, ini boleh dicatat dan dikatakan kepada pemerintah-pemerintahnya, bahwa Soekarno disini benar-benar menjadi penyambung lidah daripada rakyat Indonesia. Bukan dia cuma “bluff”.

Kita benar-benar saudara, tidak main-main didalam hal ini, dan saya keluarkan, sudah saya sambungkan dengan pidato saya membuka Subcritical Atomic Reactor pun sudah saya keluarkan, sudah saya sambungkan dengan pidato yang ilmiah. Karena Subcritical Atomic Reactor adalah satu hal ilmiah yang mengenai atom dan lain-lain sebagainya, dan oleh karena duduk disitu professor-profesor, mahasiswa-mahasiswa, saya gambarkan bahwa ada satu hukum didalam ilmu fisika itu dinamakan hukum Maxwell. Hukum Maxwell, orangnya yang mendapatkan hukum itu bernama Maxwell adalah begini, coba hebat apa tidak. Dan saya punya maha guru pada waktu itu memang dia dengan tepat berkata, dalam bahasa asing, “de geweldige wet van Maxwell”, wet hokum Maxwell yang hebat, maha hebat ini katanya. Bagaimana itu hukum Maxwell? Begini : kalau ton; saya tekan, karena tekanannya satu ton ini serambi muka daripada Istana Merdeka satu kilometer dari sini, bergerak satu kilometer. Saya tekankan disini dengan 1 ton, 1000 kilogram, disana bergerak satu kilometer. Maka sebaliknya, jikalau saya diserambi muka Istana Merdeka menekan disana dengan berat satu ton, microphone ini juga bergerak satu kilometer. Satu ton disini, sana 1 meter bergerak. Satu ton disana, satu millimeter disini bergerak. Ini adalah hukum Maxwell yang hebat, yang maha hebat. “Dit is de geweldige wet van Maxwell”.

Didalam pidato saya tarik terus garis, garis diatas politik moral. Moralitteit politiek. Saya adakan hukum Maxwell didalam moralitteit politiek. Artinya, jikalau pihak Belanda menjalankan kekerasan kepada Belanda di Irian Barat.
Hukum timbal balik. Yang sudah diterangkan oleh Bapak Menteri Luar Negeri Soebandrio—ada pak Soebandrio disini. Ada….duduknya wa dekat bu Subandrio.

Saudara Subandrio di PBB dengan jelas berkata, Irian Barat itu wilayah kita. Wilayah kita, oleh karena itu—saya sambung sebentar, saya selalu berkata—janganlah berkata memasukkan Irian Barat kedalam wilayah Republik. Itu perkataan adalah salah. Oleh karena Irian Barat sudah wilayah Republik, tidak perlu dimasukkan dalam wilayah Republik lagi. Saudara-saudara, masih ada saja yang berkata, ya masukkan Irian Barat kedalam wilayah Republik. Tapi Belanda menduduki wilayah itu dengan kekerasan senjata. Belanda disana mempergunakan ia punya meriam, mempergunakan ia punya militairemacht, mempergunakan ia punya pedang dan mesiu, menduduki wilayah kita.

Nah, lantas pak Bandrio berkata kepada PBB, jikalau PBB, membenarkan pihak Belanda menduduki wilayah kita dengan kekerasan senjata, dia berkata, illegale occupatie. Ya itukah occupatie daripada wilayah kita, malahan juga illegale occupatie, yaitu tidak menurut hukum, dengan kekerasan senjata.

Nah, maka oleh karena itu, jikalau Gubernur Plattel berkata, hh…bluff, ya, dengan tandas saya berkata, jangan anggap ini “bluff” saudara-saudara. Tetapi disini tempatnya saya tandaskan sekali lagi sebagai dikatakan oleh pak Bandrio juga, jikalau Belanda ia meneruskan punya niat untuk mendirikan Negara Papua, kita akan mempergunakan kekerasan untuk membatalkan perkataan itu. Karena itu, saya memberi komando, hayo gagalkan pendidirian Negara Papua, hayo kibarkan bendera Sang Merah Putih di Irian Barat dan didalam pidato saya pada hari ibu atau pada saya sudah lupa—saya tandaskan sekali lagi, sekali, sekali lagi, sekali lagi, juga kepada diplomat-diplomat asing, jangan mencoba mengajak kita, “persuade” untuk berunding dengan Belanda “ins Blaue hincin”. Berunding dengan Belanda tanpa dasar. Saya dengan tegas berkata, kita hanya bersedia berunding atas dasar penyerahan kekuasaan daripada tangan Belanda kepada Indonesia.

Yah, katan pada pemerintah-pemerintah saudara-saudara. Tegas bung Karno, Presiden Soekarno berkata kepada kami, jangan mencoba untuk persuade Indonesia. Persuade itu apa ? Membujuk Indonesia, mengajak Indonesia untuk mau berunding dengan Belanda “ins Blaue hincin” atas dasar apa, tidak terang. Hooo, ini saya tahu anjurkan sekarang ini dan pihak Belanda pun sudah menerangkan mau berunding dengan Indonesia tanpa dasar. Dan kita berkata dengan tegas, kita tidak mau berunding atas dasar penyerahan kekuasaan.

Kan sudah terang saya ucapkan dalam pidato RE-SO-PIM, dalam pidato Beograd dimuka konfrensi Non Aligned Nations, dimuka mahasiswa-mahasiswa di Tokyo, dengan tegas saya katakana, bahwa kita sudah mengulurkan tangan; mengulurkan tangan bagaimana? Dulu saudara-saudara, saya ulangi lagi biar terang gambling juga untuk Duta Besar-Duta Besar, dulu selalu kita berkata, eh mau bicara tentang kedaulatan. Saya sudah berkata, saya sekarang tidak akan bicara tentang kedaulatan. Saya mau bicara menuntut penyerahan administration, penyerahan kekuasaan, penyerahan pemerintahan di Irian Barat kepada kita. Ini uluran tangan saya. Malahan uluran tangan saya ini tidak saya tujukan kepada sekadar PM de Quay, tidak sekadar saya tujukan kepada Menteri Luar Negeri Luns, tidak saya tujukan kepada siapa pun juga, saya tujukan kepada seluruh rakyat Belanda di Nederland. Saya mengulurkan tangan, hayo serahkanlah pemerintahan atas Irian Barat kepada Indonesia, but we shall be good friends.

Tegas bagi kaum diplomat disini, jangan coba persuade kita untuk berunding dengan Belanda “ins Blaue hincin”. Dan jangan mencoba kita untuk suka menerima ide “self-determination”. Ide penentuan nasib sendiri sebagai yang digembor-gemborkan oleh Luns dan sebagai diulang-ulang sampai sekarang oleh pihak Belanda. Bahwa ia mau berunding dengan Indonesia tetapi atas dasar “self-determination”. Kan sudah saya terangkan dengan jelas, “self-determination” itu ada dua, “external self-determination”, “internal self-determination”. “self-determination” yang dipaksakan dari luar itu “external self-determination”. “internal self-determination” yang keluar dari kita sendirildan kita menolak “external self-determination” ini, oleh karena itu kita mengetahui bahwa “external self-determination” adalah tak lain dan tak bukan ialah neo-kolonialisme, neo-imprealisme, tipu muslihat mentah-mentahan.

Dengan tegas saya katakana, kita sudah mengalami, sudah mengalami “external self-determination”. Tatkala Van Mook misalnya, misalnya mengadakan he dengan rakyat Madura, “self-determination” rakyat Madura, bicara dengan haa terjadilah Negara Madura. Zoogemaamd bicara dengan Dr. Mansur, katanya, inilah rakyat Sumatra Timur, bicara, bicara, bicara “self-determination” Sumatra Timur, terjadilah Negara Sumatra Timur. Bicara, bicara, bicara “self-determination” dengan beberapa orang pemimpin dari Pasundan, dikatakan inilah “self-determination” rakyat Pasundan, terjadilah Negara Pasundan. Bicara dengan beberapa glintir orang Jawa Timur dikatakanlah inilah “self-determination” rakyat Jawa Timur, jadilah Negara Jawa Timur. Demikian pula bicara-bicara dengan orang-orang dari Indonesia Timur. Malahan, nah ini malahan dia berkata, tatkala di Denpasar dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada maksud dari pihak Belanda untuk exclude, mengeluarkan, mengecualikan Irian Barat daripada penyatuan dengan seluruh bangsa Indonesia. Jelas yang dikatakan Van Mook di Denpasar. Malahan sebagai tahapan pertama Irian Barat itu dijadikan residentie Nieuw Guines, Resindentie Nieuw Guines dan perkataan residentie ini berarti bahwa kelak akan geincorporeerd dengan seluruh bangsa Indonesia.

Tetapi pada waktu itu Van Mook berkata, inilah “self-determination” daripada rakyat Indonesia Timur, terjadilah Negara Indonesia Timur.

Kita mengenal, kami mengenal, he tuan-tuan besar dari Negara-negara asing, kami mengenal “self-determination” itu, kami tolak dengan tegas “self-determination”, apalagi sebagai yang diusulkan oleh Luns. Dan didalam hal ini kami juga berkata, “please, please, please don’t tray to persuade us to accept self-determination for the people of Irian Barat”. Jangan mencoba mengajak kita, membujuk kita agar supaya kita mau menerima “self-determination” Irian Barat, bahwa kita harus menerima, bicara, bicara dengan Belanda atas dasar juga “self-determination”, tidak ! Dengan tegas kita berkata, dan saya sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia, sebagai Presiden Republik Indonesia, sebagai Panglima Tertinggi daripada seluruh Angkatan Perang Republik Indonesia, sebagai Mandataris MPRS, sebagai Panglima Besar memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik, sebagai Pemimpin Besar Revolusi, saya berkata dengan tegas dan tandas kami menolak untuk bicara “self-determination” dengan siapa pun.

Hanya dengan jalan demikianlah saudara-saudara kita akhirnya bisa memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik.

Kita memasuki satu tahapan daripada revolusi yang beslissend. Saya ulangi lagi kalau Partindo Berkata, berdiri dibelakang atau dimuka bung Karno. Jikalau Partindo berkata menjalankan Marhanisme ala Soekarno, ketahuilah he Partindo, bahwa saya alhamdulillah menurut anggapan saya selalu setia kepada Marhaenisme.

Saya bertanya kepadamu sekarang, apakah engkau pun selalu setia kepada Marhaenisme? Saya ulangi lagi, apakah engkau benar-benar radikal revolusioner, apakah engkau gandrung kepada Negara kesatuan Republik Indonesia yang berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke? Ya, gandrung. Ini bukan perkataan baru dari saya, perkataan gandrung saya ucapkan tahun 1927. Saya ulangi tahun 1928, saya ulangi tahun 1929, saya ulangi tahun 1930 dan seterusnya saya ulangi didalam zaman Republik. Saya gandrung Negara Republik Indonesia kesatuan yang berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Saya gandrung kepada satu masyarakat yang adil dan makmur, satu masyarakat yang didalamnya tiada orang yang menderita, satu masyarakat yang benar-benar sebagai diamanatkan oleh rakyat Indonesia kepada kami. Satu masyarakat yang memberikan kepuasan, kebahagiaan kepada rakyat Republik Indonesia. Saya gandrung, gandrung dalam arti, katakanlah dalam bahasa asing, boleh saya katakana saya ini menderita obsessie saudara-saudara. Obsessie idée Negara Republik Indonesia berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Obessie Negara sosialis. Obessie yang tiada lagi anak kecil menangis minta air susu daripada ibunya. Obessie tiada lagi orang Indonesia yang tidak mempunyai sinar lampu listrik didalam rumahnya. Obessie tiada lagi rakyat Indonesia, orang Indonesia yang tidak mempunyai radio didalam rumahnya. Obessie yang tiada lagi satu orang Indonesia yang berkata, pak aku lapar. Obessie bahwa segenap rakyat Indonesia didalam kehidupannya adalah terjamin, didalamnya kehidupannya benar-benar sesuai dengan ucapan leluhur kita “tata tentram kerta raharja”. Obessie artinya saya hidup dengan pikiran itu, saya hidup dengan angan-angan itu, saya menjadi besar dengan angan-angan itu, saya mohon kepada Tuhan, saya mati dengan angan-angan itu, saya melek dengan angan-angan itu, saya duduk dengan angan-angan itu, saya tidur dengan angan-angan itu, saya berjalan dengan angan-angan itu, saya bergerak didalam gerakan nasional dengan angan-angan itu, saya menjalankan darma bakti saya dengan angan-angan itu.

Aku bertanya kepadamu, apakah kamu sekalian sudah demikian pula? Jikalau kamu, kamu membuat bung Karno itu sebagai satu contoh, hanya jikalau engkau juga sudah ter- obessie dengan Marhaenisme yang sejati. Hanya jikalau engkau sudah ter- obessie dengan mengorbankan segala jiwa ragamu untuk mendirikan sekarang satu Negara Republik Indonesia yang benar, yang berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Hanya jikalau juga sudah ter- obessie untuk mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur tanpa penindasan dan penghisapan, satu masyarakat yang adil dan makmur tanpa exploitation de I’homme par I’homme hanya jikalau juga, juga, juga, juga ter- obessie, silahkanlah engkau boleh menamakan dirimu Marhaenis yang…….

Maka oleh karena itu, saudara-saudara dalam saya memberi pengestu kepada kongres Partindo ini, saya punya satu permintaan hanya satu itulah, satu itulah, engkau ingin setia kepada sumbermu dan engkau berkata bahwa sumbermu adalah Marhaenisme. Jikalau engkau ingin setia kepada sumbermu, berjalanlah sesuai dengan jalannya air sungai ini.

Jangan nyeleweng, jangan nyeleweng, tetapi berjalanlah dengan sungai ini sampai engkau menyamai laut. Saya pernah berkata karena sungai mengalir ke laut, maka ia setia kepada sumbernya. Buat orang yang tidak mengerti akan bertanya, lho, justru meninggalkan sumber menuju ke laut? Kok bung Karno mengatakan bahwa sungai yang menuju ke laut ini adalah setia kepada sumbernya.

Saudara-saudara, tetap saya berkata, jikalau engkau benar-benar Marhaenis sejati, jikalau engkau benar-benar ingin dinamakan Marhaenis sejati, ikutilah dengan sungai ini, janganlah sesuai dengan aliran sungai ini. Ikutlah dengan sungai ini masuk kedalam laut. Hanya jikalau demikian engkau setia kepada sumber, laut saudara-saudara, yang bebas, laut yang merdeka, laut yang samudera bergelora yang gelombang-gelombangnya membanting di pantai, laut yang tiada batas, laut induk, ibu daripada sekalian hal.

Sekalian hal materieel didunia ini saudara-saudara. Laut, sinar matahari menyinari laut itu. Sang surya menyinari laut ini dengan hawa panasnya. Timbullah uap dari laut ini, uap naik ke angkasa, uap ini mengumpul, mengumpul, mengumpul menjadi awan putih, menjadi yang gelap, asal dari laut saudara-saudara. Awan ini tertiup oleh angin sejuk, turun dia ke bumi sebagai hujan. Dan hujan ini airnya masuk kedalam gunung-gunung. Tetapi saudara-saudara air yang masuk ke gunung ini timbul lagi disana sini sebagai mata-mata air, sebagai sumber-sumber. Dan tiap-tiap tetes daripada air yang keluar daripada sumber ini, hanya mempunyai satu pikiran saudara-saudara, ingin ke laut, ingin kelaut, ingin kelaut, ingin kelaut kembali kepada asalnya yaitu laut, samudera yang hebat. Keluar dari sumber itu satu aliran yang kecil. Dari sumber san yang tiap-tiap tetes tiap-tiap atom dari airnya juga satu pikiran dan satu kehendak, satu keinginan, menuju ke laut, bersambung dengan air kecil sungai kecil yang keluar dari sumber itu, yang keluar dari sumber itu, akhirnya menjadi bersama satu sungai yang lebih besar ubu bergabung lagi dengan sunga yang lebih besar, berliter, tiap-tiap tetes, tiap-tiap atom daripada air didalam bengawan ini gandrung kepada laut saudara-saudara. Gandrung kepada laut, dan kita sebagai manusia tidak bisa membendung aliran sungai ini.

Saya seorang insiyur, kataku, perintah kepadaku untuk membuat dam didalam sungai besar itu. Kasih kepadaku alat membuat dam, saya bisa membuat dam dari beton. Saya bisa membuat dam dari besi. Saya bisa membuat dam dari baja. Membuat dam saya bisa saudara-saudara. Mungkin saya bisa sedikit mengalihkan sungai dengan dam itu, tetapi jikalau engkau perintahkan kepadaku, bendunglah sungai ini, janganlah sampai sungai ini mengalir ke laut. Maka saya berkata, jangan pun engkau hanya memberi aku uang untuk membeli besi, uang untuk membeli baja, uang untuk membeli semen, jangan pun engkau memberi kepadaku sekadar harga daripada dam yang besar, meskipun engkau kumpulkan segenap rakyat di bumi yang jumlahnya ribuan, jutaan, jutaan ribu, dan engkau berikan kepadaku agar supaya aku membuat dam yang terbuat daripada baja yang sekuat-kuatnya, tetapi kataku, tiap detik, apalagi tiap jam saudara-saudara, dibelakang dam ini akan terkumpullah ke laut, tiap-tiap tetes menghendaki ke laut, tiap-tiap atom menghendaki ke laut. Pendek kata, saudara-saudara segenap air dibelakang dam ini akan mendesak, mendesak, mendesak dengan semboyan ke laut, ke laut, ke laut, akhirnya pecah sama sekali dan in dan akhirnya sungai ini tidak boleh tidak masuk kedalam laut.

Tahukah saudara-saudara, dus, bahwa sungai ini setia kepada sumbernya, bahwa dengan mengalir ke laut, sungai ini akan setia kepada sumbernya. Sebab tatkala ia masih sebagai sumber sudah disitu tiap-tiap atom daripada air sumber itu berkata, kelaut, kelaut, kelaut. Yang dus, jikalau sungai ini menuju ke laut ia adalalah setia kepada sumbernya. Engkau juga he….anggota-anggota Partindo. Jikalau engkau berkata, bahwa engkau setia kepada sumbermu dan sumbermu adalah Marhaenisme sejati, pergilah kelaut, kelaut merdeka, kelaut bebas, kelaut Kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke, ke Irian Barat, kelaut Negara sosialis, kelaut masyarakat adil dan makmur. Jikalau kau menuju kesitu, barulah engkau setia kepada sumbermu, barulah engkau boleh dikatakan engkau adalah Marhaenis sejati.

Inilah amanatku kepada kongres Partindo. Maka sekarang saya tutup amanat saya yang singkat ini, oleh karena saya sudah cukup memberi amanat kepada saudara-saudara sekalian.

Terima kasih.

10 Februari 2011

PRD: Jangan Terpancing Provokasi Berbau SARA, Perkuat Persatuan Nasional



Oleh : Ulfa Ilyas

Ketika perhatian sebagian besar rakyat Indonesia sedang tertuju kepada persoalan bangsa yang sangat besar, sekelompok orang telah melakukan provokasi kekerasan berbau SARA di dua tempat: Cikeusik dan Temanggung.

“Meski berlainan pemicu dan kasusnya, tetapi kejadian di Cikeusik dan Temanggung memiliki tujuan yang sama, yaitu memecah belah persatuan nasional di tengah kepungan imperialisme-neoliberal,” tulis Komite Pimpinan Pusat-Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) dalam sikap politiknya yang diedarkan secara luas hari ini (9/8).

Menurut ketua umum PRD Agus Jabo Priyono, kejadian di Cikeusik dan Temanggung tidak dapat dipisahkan dengan persoalan pokok yang sedang dihadapi bangsa ini, yaitu Kemiskinan dan kesengsaraan rakyat akibat perampokan sumber daya alam oleh pihak asing.

“Kolonialisme secara fisik memang sudah menghilang di bumi Indonesia, dan juga Van Mook sudah tidak ada lagi di Indonesia, tetapi politik pecah-belah ala kolonial itu masihlah ada,” ujarnya.

Lebih lanjut, dalam pandangan PRD, politik pecah belah merupakan senjata paling efektif bagi kaum kolonialis untuk mencegah rakyat Indonesia menempa persatuan. “Karena politik pecah belah itu pula rakyat Indonesia dihalang-halangi untuk menemukan musuh pokoknya, yaitu kolonialisme.”

Dan, satu alat politik pecah belah yang sering dipergunakan kolonialis sejak dahulu adalah membakar perbedaan keyakinan. Padahal, persoalan keyakinan di Indonesia sudah selesai jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan ketika nusantara masih diperintah oleh kerajaan-kerajaan, kata “toleransi antar penganut keyakinan” sudah dikenal.

PRD kemudian mengutip pernyataan tokoh pendiri bangsa, Bung Karno, yang berkata: “Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama: ada yang Islam, ada yang Kristen, ada yang Buddha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama.”

“Jangankan orang yang berbeda keyakinan, mereka yang tidak beragama pun punya hak hidup di Indonesia,” tulis statemen PRD menyimpulkan pernyataan Bung Karno di atas.

Bukan kejadian spontan dan konflik warga

PRD mengambil dua kesimpulan penting terkait kejadian di Cikeusik dan Temanggung.

Pertama, kejadian ini bukanlah kemarahan spontan sebagaimana yang coba digambarkan oleh sumber resmi pemerintah maupun media massa, melainkan sesuatu yang sudah terkondisikan dan diatur jauh-jauh hari.

Kedua, tidak betul kalau kejadian itu disebut konflik warga dengan Ahmadiyah atau pihak tertentu, sebab dalam berapa kejadian, seperti di Cikeusik, pelaku penyerangan justru berasal dari luar Cikeusik dan mereka membawa simbol-simbol ormas tertentu. Kejadian di Temanggung juga begitu, anda bisa menyaksikan bendera dan simbol ormas terlihat saat kejadian.

Hal itu berarti bahwa ini bukanlah konflik warga versus jemaah ahmadiyah dan golongan minoritas lainnya, melainkan provokasi ormas tertentu terhadap kaum minoritas.

SBY harus bertanggung-jawab

Karena PRD menodongkan tudingan kepada imperialisme sebagai pihak yang berkepentingan atas politik pecah-belah ini, maka partai gerigi-bintang ini pun menganggap SBY harus mengambil tanggung-jawab lebih besar.

“Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai agen imperialisme di Indonesia, adalah pihak yang paling bertanggung-jawab untuk melestarikan politik pecah-belah dan pertikaian diantara rakyat, sambil membuka lebar-lebar pintu untuk penjajahan asing,” demikian ditulis PRD dalam pernyataan sikapnya.

PRD mengajak rakyat dan tokoh agama tetap bersatu

Untuk mencegah politik pecah-belah ini terus berlanjut dan meluas, PRD mengajak massa rakyat untuk tetap bersatu-padu dan berkonsentrasi untuk melawan musuh bersama, yaitu imperialisme.

Selain itu, dalam pernyataan sikapnya, PRD juga mengajak tokoh lintas agama untuk bersama-sama mencegah umat masing-masing masuk dalam arus provokasi murahan tersebut.

Beberapa bulan yang lalu, para tokoh agama telah menunjukkan langkah progressif, yakni dengan melakukan pertemuan bersama dan mengikrarkan perlawanan melawan rejim kebohongan.

“Kami menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, termasuk juga para tokoh-tokoh lintas agama, untuk memperkuat persatuan nasional guna melawan imperialisme. Jagalah persatuan itu seperti kita menjaga biji mata kita.”

Image “Buruk” Komunisme Dalam Film “The Way Beck”



Oleh : Tejo Priyono

Tahun 1940, pemerintah Uni Soviet dibawah Stalin menahan sekelompok orang yang berasal dari Amerika dan Polandia karena kegiatan mata-mata. Mereka dijebloskan ke penjara musim dingin Siberia yang di film ini digambarkan kejam tak manusiawi, digiring ke kamp kerja paksa dalam badai salju mengerikan. Hingga olok-olok sesama tahanan yang mengatakan bahwa kesanggupan hidup mereka paling lama 6 bulan dari 10 hingga 20 tahun masa hukuman. Karena situasi yang buruk itu, maka para tahanan pun berkomplot untuk “melarikan diri”.

Dalam masa pelarian, para tahanan ini harus bertahan hidup dengan melawan ganasnya alam, salju tebal Himalaya yang sanggup meremukkan tulang, hingga gersangnya gurun pasir Ghobi yang membuat kulit muka terkelupas. Jalan kaki 6 ribu kilometer, menjauh dari tanah komunis, dengan harapan bahwa mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarga nan hangat di negeri “bebas” Amerika.

The Way Back karya sutradara Peter Weir dengan para aktor pemeran Colin Farrell, Ed Harris, Jim Sturgess, Saoirse Ronan, dibuat berdasar buku memori “The Long Walk” Slavomir Rawicz, pamer pemandangan alam nan menawan; gurun pasir – pegunungan salju, bukit musim gugur serta konflik selama pelarian para tokoh di film tersebut begitu dramatik.

Barat/hollywood kerapkali berpropaganda mengenai “komunisme yang buruk”, dan ini menjadi sangat efektif sekali lewat media film karena mereka menguasai jalur distribusi. Banyak pesan propaganda mereka sukses melalui film yang disebarkan ke seluruh belahan dunia.

Hanya saja memang, film bantahan terhadap film semacam ini sangat sedikit, sehingga propaganda semacam ini tetap terpelihara dengan baik.

Kalaupun ada, jumlahnya sangat minim dan juga sebarannya, dan itupun hanya sebatas pada panggung hajatan festival film independen yang sempit cakupan – jumlah pemirsa dan apresiatornya. Semisal karya-karya John Pilger ‘The War On Democracy’ tentang antologi kekejaman para diktator di negara-negara Amerika latin semasa perang dingin, atau “The New Rulers Of The World” tentang kejinya efek globalisasi karena membuat kemiskinan akut di banyak negeri dunia ketiga utamanya Indonesia. Juga ada Michael Moore yang begitu kontroversial dengan “Fahrenheit 9/11″-nya, atau mengobok-obok sistem pemerintahan AS lewat “Capitalism: A Love Story”.

Bagaimana dengan produksi film nasional? Tentu saja belum bisa berharap banyak, karena film-film kita (masih) sibuk ngurusi kuntilanak – pocong dan jelangkung, plus menghadirkan – melahirkan bom seks baru, biar orang banyak mau datang ke bioskop.

Ribka Tjiptaning Pertanyakan Realisasi Program Jaminan Persalinan Gratis



Oleh : Ulfa Ilyas

Meski sudah dijanjikan akan berjalan pada tahun 2011 ini, program jaminan persalinan gratis (Jampersal) belum juga berjalan secara merata dan diketahui luas oleh massa rakyat. Program ini mengcakup persalinan normal dan cesar ataupun yang mengalami komplikasi saat melahirkan.

Karena itu, Ketua Komisi IX DPR-RI, dr. Ribka Tjiptaning mempertanyakan keseriusan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, untuk menjalankan program ini.

Pasalnya, menurut temuan politisi asal PDI Perjuangan ini, di lapangan ditemukan mayoritas ibu-ibu yang melakukan persalinan di RSUD kelas III belum terlayani secara gratis.

“Ternyata RSUD belum menjalankan Jampersal. Ini berbeda dengan statemen menkes bahwa Jampersal harus terealisir bulan februari ini,” katanya melalui pernyataan pers yang diedarkan kepada media massa.

Selain itu, tambah Tjiptaning, masih banyak bidan desa yang belum mengetahui program Jampersal ini, sehingga banyak ibu hamil tidak tertangani oleh bidan desa.

PDI Perjuangan, sebagai salah satu partai yang aktif memperjuangkan program ini di parlemen, telah melakukan sosialisasi melalui acara “Megawai Makan Bersama Dengan Seribu Ibu Hamil”.

Untuk memastikan program ini berjalan, Ribka Tjiptaning mendesak Kementerian Kesehatan untuk menegaskan kepada RSUD, rumah sakit milik pemerintah lainnya, maupun rumah sakit swasta yang punya program jampersal untuk segera menjalankan program ini.

Ditambahkan pula, bahwa kementerian kesehatan harus melakukan sosialisasi jampersal secara menyeluruh kepada bidan desa. “Pemerintah harus melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat.”

Dan, agar supaya program ini tidak sekedar di atas kertas dan diselewengkan, kementerian kesehatan dituntut untuk memberikan sanksi keras kepada rumah sakit yang tidak menjalankan program ini.

Untuk mencegah kematian ibu dan bayi

Program Jampersal bukanlah jatuh dari langit ataupun kebaikan menteri kesehatan, melainkan juga atas tekanan dari DPR.

Dengan dana sebesar Rp2,1 triliun, pemerintah dan DPR berharap seluruh rakyat bisa melakukan persalinan secara gratis di rumah sakit pemerintah. Namun, bukan cuma rumah sakit pemerintah, program jampersal ini juga berlaku untuk rumah sakit swasta yang menjalankan program jamkesmas.

Untuk ibu-ibu hamil di desa-desa, yang mana di sana jarang atau hampir tidak ada rumah sakit, maka proses persalinan oleh bidan desa pun digratiskan. “asalkan bidan desa tersebut sudah menandatangi kerjasama dengan depkes.”

Program ini bertujuan untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi yang sangat tinggi di Indonesia.

Keberlanjutan Perlawanan Rakyat Mesir



Oleh : Risal Kurnia

Aktivis pro-demokrasi Mesir menyerukan kepada para pendukungnya untuk memperluas perlawana terhadap rejim Mubarak. Pernyataan ini keluar hanya beberapa saat setelah wakil Presiden Mesir, Omar Sulaiman, mengatakan bahwa seruan penggulingan terhadap Mubarak bisa memicu kudeta.

Omar Sulaiman, yang dipercaya Mubarak untuk mengatasi krisis ini, telah memunculkan kemungkinan adanya serangan baru terhadap gerakan protes.

Sulaiman juga menyampaikan kepada editor suratkabar Mesir mengenai “kelelawar di tengah malam gelap”, yang muncul untuk meneror rakyat, kecuali jika gerakan rakyat bersedia untuk melakukan negosiasi.

Sementara partai-partai oposisi duduk untuk melakukan pembicaraan mengenai reformasi konstitusi, gerakan rakyat justru berpendirian bahwa mereka tidak akan melakukan pembicaraan sebelum Mubarak mundur.

Pejabat resmi pemerintah telah mengeluarkan janji tidak akan menyerang, melukai, dan menangkap demonstran dalam beberapa hari ini, setelah muncul tekanan dari pemerintah Amerika Serikat.

Namun, surat kabat setempat melaporkan bahwa dua orang tewas dan ratusan orang terluka setelah bentrokan antara demonstran melawan polisi di kota El Kharga pada selasa malam.

Abdul-Rahman Samir, juru-bicara lima kelompok utama gerakan pemuda yang mengorganisir aksi massa di lapangan Tahrir (pembebasan), mengatakan: “Mereka mengancam memberlakukan darurat militer, yang berarti seluruh orang di lapangan ini akan dihancurkan.”

Pemogokan pekerja terusan suez

Enam ribu pekerja melancarkan pemogokan terbatas dan melakaukan pendudukan di terusan Suez pada hari Selasa untuk menuntut perbaikan kondisi hidup.

Pejabat otoritas terusan Suez, Mohamed Motair, berpendirian bahwa pekerja tidak terlibat dalam operasi tetapi aktivitas terusan Suez tetap berjalan normal.

Antara 5 sampai 7% minyak yang sampai eropa itu melalui terusan ini setiap hari, dan hal ini sangat berpengaruh terhadap harga dan pasokan minyak dunia.

Angka resmi seperti yang dikutip oleh media Mesir melaporkan bahwa pendapatan tol dari terusan ini menurun 1,6%, setara dengan penurunan 423.4 juta USD di bulan desember dan 416.6 juta di bulan januari, meskipun angka ini masih lebih tinggi dibanding dengan tahun 2010.

Partisipasi kelas pekerja

Sementara itu, serikat buruh telah melancarkan pemogokan umum nasional, yang telah menambah momentum bagi kaum oposisi di kota Kairo dan kota-kota besar lainnya.

Aljazeera melaporkan bahwa sedikitnya 20.000 pekerja keluar pabrik dan bergabung dalam pemogokan pada hari rabu.

Meskipun begitu, sebagaimana dilaporkan oleh Aljazeera, tuntutaan para pekerja tidaklah politis, melainkan soal tuntutan kenaikan upah dan kesejahteraan.

“Mereka menginginkan kenaikan gaji yang lebih baik, menghapuskan kesenjangan upah, dan mereka menuntut kenaikan sebesar Rp15% sebagaimana yang dijanjikan oleh negara,” kata wartawan Aljazeera.

Meskipun begitu, dalam poster dan tuntutan massa buruh terdapat tuntutan agar Presiden Mesir, Hosni Mubarak, segera mengundurkan diri.

02 Februari 2011

Kumpulan Foto Soekarno









FOTO Soekarno




FOTO Soekarno


FOTO Soekarno

PELENGKAPAN PIDATO NAWAKSARA SOEKARNO 10 JANUARI 1967








Dan saya, saudara-saudara, telah memberikan, menyumbangkan atau menawarkan diri saya sendiri, dengan segala apa yang ada pada saya ini, kepada service of freedom, dan saya sadar sampai sekarang the service of freedom is a deathless service, yang tidak mengenal akhir, yang tidak mengenal maut. Itu adalah tulisan isi hati. Badan manusia bisa hancur, badan manusia bisa dimasukkan di dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan di dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh daripada tempat kelahiran, tetapi ia punya service of freedom tidak bisa ditembak mati, tidak bisa di kerangkeng, tidak bisa dibuang di tempat pengasingan, tidak bisa ditembak mati.

Dan saya beritahu kepada Saudara-saudara, menurut perasaanku sendiri, saya, Saudara-saudara, telah lebih daripada tigapuluh lima tahun, hampir empat puluh tahun edicate myself to this service of freedom. Yang saya menghendaki agar supaya seluruh, seluruh, seluruh rakyat Indonesia masing-masing juga dedicate jiwa raganya kepada service of freedom ini, oleh karena memegang service of freedom ini is deathless service. Tetapi akhirsnya segala sesuatu adalah ditangannya Tuhan. Apakah Tuhan memberi saya dedicate my self, my all to this service of freedom, itu adalah tuhan punya urusan.

Karena itu maka saya terus, terus, terus selalu memohon kepada Allah S.W.T., agar saya diberi kesempatan untuk ikut menjalankan aku punya service of freedom ini. Tuhan yang menentukan. De mens wikt, God belist; manusia bisa berkehendak macam-macam, Tuhan yang menentukan. Demikianpun saya selalu bersandarkan kepada keputusan Tuhan itu. Cuma saya juga dihadapan Tuhan berkata: Ya Allah, ya Rabbi, berilah saya kesempatan, kekuatan, taufik, hidayat untuk dedicate my self to this great cause of freedom and tho this great service


Pada tanggal 22 juni 1966, presiden Indonesia Soekarno berpidato dalam sidang umum ke-IV MPRS. Pidatonya berjudul NAWAKSARA.

Berikut petikannya: "Sembilan di dalam bahasa Sansekerta adalah "Nawa". Eka, Dwi, Tri, Catur, Panca, enam-yam, tujuh- sapta, delapan-hasta, sembilan-nawa, sepuluh-dasa. Jadi saya mau beri nama dengan perkataan "Nawa". "Nawa" apa? Ya, karena saya tulis, saya mau beri nama "NAWA AKSARA", dus "NAWA iAKSARA" atau kalau mau disingkatkan "NAWAKSARA". Tadinya ada orang yang mengusulkan diberi nama "Sembilan Ucapan Presiden". "NAWA SABDA". Nanti kalau saya kasih nama Nawa Sabda, ada saja yang salah-salah berkata: "Uh, uh, Presiden bersabda". Sabda itu seberti raja bersabda. Tidak, saya tidak mau memakai perkataan "sabda" itu, saya mau memakai perkataan "Aksara"; bukan dalam arti tulisan, jadi ada aksara latin, ada aksara Belanda dan sebagainya. NAWA AKSARA atau NAWAKSARA, itu judul yang saya berikan kepada pidato ini. Saya minta wartawan-wartawan mengumumkan hal ini, bahwa pidato Presiden dinamakan oleh Presiden "NAWAKSARA"

Pidato ini disampaikan oleh Presiden Soekarno sebagai pertanggungjawabannya atas sikapnya dalam menghadapi Gerakan 30 September. Soekarno sendiri menolak menyebut gerakan itu dengan nama tersebut. Menurutnya Gerakan itu terjadi pada tanggal 1 Oktober dini hari, dan karena itu ia menyebutnya sebagai Gestok (Gerakan 1 Oktober)

Pidato Nawaksara merupakan dokumen sejarah yang menarik. Pidato yang diucapkan Soekarno di depan sidang umum MPRS ke-IV ini menandai titik balik era Demokrasi Terpimpin. Era Demokrasi Terpimpin dimulai ketika terbitnya dekrit Presiden 5 Juli 1959. Demokrasi ala Soekarno yang memunculkan kesimpulan kepala pemerintahan memiliki kekuasaan tak berhingga. Dan komando politik Indonesia berada di telunjuk Soekarno. Era ini, mencuatkan kekuatan baru dalam kancah politik yakni Partai Komunis Indonesia (PKI). Kekuatan politik seperti Partai Sosiali Indonesia (PSSI) dan masyumis sudah diberangus terlebih dahulu. Di sisi lain, TNI-AD hadir sebagai pengimbang PKI. Dengan demikian, era Demokrasi Terpimpin menyebabkan kekuasaan terpusat pada tiga sumber utama: Soekarno, PKI, dan TNI-AD

Pidato ini ialah pertanggung jawaban Soekarno selaku Presiden Republik Indonesia. Pidato ini disampaikan untuk menjawab permintaan MPRS yang meminta penjelasan tentang peristiwa 30 September, dan kemerosotan ekonomi. Menjawab permintaan majelis rakyat, Soekarno mengurai tiga keterangan pokok yang berkaitan dengan G-30-S: (a) keblingeran pimpinan PKI, (b) subversi neo-kolonialisme dan imperialisme (nekolim), dan (c) adanya oknum-oknum yang "tidak benar". Soekarno menuding kekuatan kontra-revolusi dari dalam negeri dan kekuatan neolim bersatu padu berpuaya menggulingkannya dengan Gerakan 30 September. Nawaksara ini pula mejadi langkah awal peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Pimpinan MPRS (diketuai AH Nasution, dan wakil ketua Osa Maliki, HM Subchan ZE, M.Siregar, dan Mashudi) lewat keputusan nomor 5/MPRS/1966 tertanggal 5 juli 1966 meminta Panglima Besar Revolusi untuk melengkapi pidato tersebut.

Soekarno membalasnya dengan Pelengkap Nawaksara yang disampaikan tertulis pada 10 Januari 1967. Isinya antara lain: (a) G.30.S ada satu complete overcompeling: (b) Soekarno sudah mengutuk Gestok (Gerakan Satu Oktober). Yaitu ketika berpidato pada perayaan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1966, dan dalam pidato 5 Oktober 1966. Pada kesempatan 17 Agustus 1966, Soekarno berkata "sudah terang Gestok kita kutuk. Dan saya, saya mengutuknya pula; Dan sudah berulang-ulang kali pula saya katakan dengan jelas dan tandas, bahwa yang bersalah harus dihukum. Untuk itu kubangunkan MAHMILLUB"; (c) pada malam peringatan Isro dan Mi;radj di Istana Negara, Pengemban Supersemar mengatakan, "saya sebagai salah seorang yang turut aktif menunmpas Gerakan 30 September yang didalangi PKI, berkesimpulan, bahwa Bapak Presiden juga telah mengutuk Gerakan 30 September/PKI, walaupun Bapak Presiden menggunakan istilah "Gestok".

Pertentangan antara kubu Soekarno dan kubu MPRS yang dikomandoi AH Nasution semakin terang ketika Pimpinan MPRS, 16 Februari 1967, mengeluarkan Keputusan No. 13/B/1967 tentang Tanggapan Terhadap Pelengkapan Pidato Nawaksara, yang isinya: MENOLAK PELENGKAPAN PIDATO NAWAKSARA. Alasan penolakan Nawaksara dan Pelengkap Nawaksara oelh MPR karena tidak memenuhi harapan anggota-anggota MPRS dan bangsa pada umumnya. Dalam dua pertanggung jawaban tersebut tidak dijelaskan terperinci kebijaksanaan Presiden mengenai pemberontakan kontra-revolusi G30S/PKI, kemunduran ekonomi, dan kemerosotan akhlak. Tanggapan ini benar-benar mengecewakan Soekarno. Padahal, pemangku Panglima Tertinggi Angkatan Bersentaja ini berpikir sudah memberikan jawaban yang jujur, memenuhi harapan dari apa yang ditanyakan, serta sesuai persayaran yuridis.

Empat hari kemudian, demi kesatuan bangsa dan mencegah konflik horisontal antar pendukung, Presiden Soekarno memberikan pegnumuman, yang isinya antara lain: KAMI, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA, Setelah menyadari bawha konflik politik yang terjadi dewasa ini perlu segera diakhiri demi keselamatan Rakyat, Bangsa dan Negara, maka dengan ini mengumumkan: Kami, Presiden Republik Indonesia/Mandataris MPRS/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, terhitung mulai hari ini menyerahkan kekuasaan pemerintah kepada Pengemban Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966, dengan tidak mengurangi maksud dan jiwa Undang-undang Dasar 1945. Kedua: Pengemban Ketetapan MPRS NO. IX/MPRS/1966 melaporkan pelaksanaan penyerahan tersebut kepada Presiden, setiap waktu dirasa perlu. Ketiga Menyerukan kepada seluruh Rakyat Indonesia, para Pemimpin Masyarakat, segenap Aparatur Pemerintahan dan seluruh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia untuk terus meningkatkan persatuan, menjga dan menegakkan revolusi dan membantu sepenuhnya pelaksanaan tugas Pengemban Ketetapan MPRS NO. IX/MPRS/1966 seperti tersebut diatas. Keempat: Menyampaikan dengan penuh rasa tanggung-jawab pengumuman ini kepada Rakyat dan MPRS. Semoga Tuhan Yang Maha Esa melindungi Rakyat Indonesia dalam melaksanakan cita-citanya mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila." Pengumuman ini ditandatangani Soekarno selaku Presiden Republik Indonesia/Mandataris MPR/Panglima Tertinggi ABRI.

Tak mau menunggu lama, MPRS dalam sidang istimewa pada awal Maret 1967 mengeluarkan salah satu ketetapan penting, yakni TAP MPR No. XXXIII/MPRS/1967, yang berkesimpulan mencabut kekuasaan Soekarno, dan sekaligus mengangkat Pengemban Surat Perintah Sebelas Maret, Jendral Soeharto sebagati Pejabat Presiden hingga Pemilihan umum dilaksanakan. Semenjak itu, pengaruh Soekarno dan pendukungnya diperlemah secara bertahap.

Seperti halnya pledoi Indonesia Menggugat yang dibacakan Soekarno di depan Landraan Bandoen, pidato Nawaksara beserta Pelengkap Nawaksara ditolak majelsi yang memiliki kepentingan politik. Dua pidato Soekarno yang berjarak 36 Tahuni ini sam-sama menyimpan gelegak amarah. Dulu tahun 1930, ditujukan pada pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Kini, 1966 ditujukan kepada sekolompok "pemain politik" yang menuduhnya terlibat Gerakan 30 September.

Walau tergusur dari tampuk kekuasaan, pengaruh Soekarno masih terus terpelihara dalam benak orang-orang yang tersisih kaum marhaen. Kaum marhaen yang selalu diperjuangkan kemerdekaannya sebagai manusia oleh Sang Putra Fajar, Bung Karno. Sebaliknya, bagi para marhaen, Bung Karno ialah spirit untuk terus berjuang melawan kemiskinan dan kebodohan.


SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB


Kenapa saya saja yang diminta pertanggungan-jawab atas terjadinya G-30-S
atau yang saya namakan Gestok itu?
Tidakkah misalnya Menko Hankam (waktu itu) juga bertanggung jawab?
Sehubungan dengan ini saya menanya:

Siapa yang bertanggung jawab atas usaha membunuh Presiden-Pangti
dengan penggranatan hebat di Cikini?
Siapa yang bertanggung jawab atas usaha membunuh saya dalam "peristiwa Idhul Adha?"
Siapa yang bertanggung jawab atas pembrondongan dari pesawat udara kepada saya oleh Maukar?
Siapa yang bertanggung jawab atas penggranatan kepada saya di Makassar?
Siapa yang bertanggung jawab atas pemortiran kepada saya di Makassar?
Siapa yang bertanggung jawab atas pencegatan bersenjata kepada saya di dekat gedung Stanvac?
Siapa yang bertanggung jawab atas pencegatan bersenjata kepada saya di sebelah Cisalak?
Dan lain-lain

Syukur Alhamdulillah, saya dalam semua peristiwa itu dilindungi oleh Tuhan! Kalau tidak,
Tentu saya sudah mati terbunuh! Dan mungkin akan Saudara namakan "tragedi nasional" pula.
Tetapi sekali lagi saya menanya:
Kalau saya disuruh bertanggung jawab atas terjadinya G-30-S,
maka saya menanya: siapa yang harus dimintai pertanggungjawab atas usaha pembunuhan
kepada Presiden/Pangti, dalam tujuh peristiwa yang saya sebutkan di atas itu?
Kala bicara tentang "Kebenaran dan Keadilan"
maka saya pun minta, "Kebenaran dan Keadilan"!

Ir. Soekarno, Pelengkapan Pidato Nawaksara, Jakarta, 10 Januari 1967

30 Januari 2011

Penyatuan Kekuatan Nasional




Ketika neoliberalisme atau penjajahan kembali (rekolonialisme) semakin banyak mengorbankan sektor-sektor sosial, maka gerakan perlawanan juga seharusnya sudah berlangsung secara luas dan melibatkan banyak sektor sosial. Keragaman sektor sosial yang menjadi korban ini seharusnya menjadi basis material untuk perjuangan anti imperialisme.

Dari tahun 1998 hingga sekarang ini, pelajaran penting yang prlu diambil adalah terus berkembangnya berbagai manifestasi radikalisme massa rakyat, baik perjuangan yang bersifat spontan dan ekonomis maupun perjuangan-perjuangan politik. Tidak sedikit diantara perjuangan-perjuangan itu yang meraih kemenangan kecil, seperti penggulingan penguasa lokal, berhasil menunda kebijakan reaksioner, dan lain sebagainya.

Di samping itu, jika kita tinjau dan periksa kembali keadaan, maka tidak bisa dipungkiri bahwa keresahan sosial sedang mewabah. Keresahan tidak saja mencapai sektor-sektor sosial yang dirugikan secara langsung oleh ekonomi neoliberal, seperti kaum buruh, petani, dan rakyat miskin lainnya, tetapi juga sektor-sektor yang terganggung oleh konsekuensi neoliberal seperti kelompok lingkungan, kaum agamawan, dan lain-lain.

Juga dinamika baru dalam perimbangan kekuatan internasional saat ini, yakni pertentangan yang semakin jelas antara kepentingan negeri-negeri imperialis dan munculnya negara-negara yang memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Mana ada negara di dunia sekarang ini yang tidak berbicara soal kepentingan nasionalnya, meskipun dengan berbagai ekspresi yang berbeda; jika negeri imperialis punya kepentingan nasional untuk memperluas pasar dan eksploitasi, maka negeri dunia ketiga mengekspresikan kepentingan nasionalnya dalam bentuk nasionalisme ekonomi atau kemandirian nasional. Juga fenomena pergolakan politik di negeri-negeri Arab, khususnya Tunisia, Aljazair, dan Mesir, yang judul besarnya adalah “anti-kediktatoran dan reformasi politik”.

Sementara itu, akibat dari berbagai kebijakan neoliberalisme di Indonesia, maka hampir semua rumusan mengenai problem pokok bangsa Indonesia saat ini sudah mengerucut pada imperialisme. Dan, sebagai konsekuensi dari ketundukan dan keterlibatan langsung rejim SBY-Budiono sebagai mesin neoliberal, maka bisa disimpulkan pula bahwa “rejim SBY-Budiono adalah pusat dari masalah, yaitu imperialisme”.

Dulu, Bung Karno punya rumusan sangat jitu dalam soal bagaimana melawan imperialisme dan neo-kolonialisme, yaitu: “sammenbundeling van alle revolutionaire krachten.” Sementara untuk sekarang ini, dengan memperhatikan rumusan politik mengenai siapa kawan, siapa musuh, dan kaum netral, maka rumusan yang paling tepat adalah: “mempersatukan semua kekuatan yang bisa dipersatukan, untuk melawan imperialisme, khususnya perwakilan imperialisme di Indonesia: SBY-Budiono”.

Apa yang hendak ditegaskan editorial ini, adalah “bahwa jika perjuangan anti-imperialisme mau berhasil di Indonesia, maka ia harus menggabungkan segala potensi kekuatan nasional yang ada. Tidak bisa perjuangan anti-imperialisme itu dilakukan sekaligus dengan memperbesar barisan atau jumlah musuh, atau menyerang musuh-musuh non-pokok, dan melemahkan potensi-potensi kekuatan nasional yang bisa didorong maju.”

Soal serangan imperialis terhadap persatuan nasional ini, saya mengutip satu pernyataan dari salah seorang penulis pidato Bung Karno, yaitu Nyoto, yang berkata: “kolonialisme melakukan usaha pecah-belah, mengadu domba suku-bangsa yang satu dengan yang lain, partai yang satu dengan yang lain, agama yang satu dengan yang lain, usaha-usaha separatisme, pendeknya, menyuap semua orang yang bisa disuap, memecah-belah segala sesuatu yang bisa dipecah-belah, dan dengan demikian mencoba merusak Republik, agar abadilah kekuasaan kolonial mereka.”

Kemudian, apa yang menjadi tugas kita selanjutnya adalah mengubah imbangan kekuatan yang ada saat ini, tentunya agar memihak posisi kita. Kita harus mendorong maju kekuatan politik atau individu yang berfikiran pro-kepentingan nasional, baik tokoh di parlemen ataupun di luar parlemen. Disamping itu, untuk mengubah imbangan kekuatan itu, maka kita perlu juga memikirkan soal bagaimana “membangunkan 230 juta rakyat indonesia dari tidurnya”, agar mereka menjadi tenaga-tenaga anti-imperialis. Tidak mesti seluruhnya memang, tetapi harus sebagian besarnya.

Metode-metode pembangunan kekuatan, seperti advokasi, konsultasi kerakyatan, media alternatif, memenangkan kekuasaan lokal, dan lain sebagainya, bisa menjadi metode perjuangan bersama untuk mengubah imbangan kekuatan tersebut.

Salam

Organisasi Pergerakan Serukan “Penggulingan SBY-Budiono”




Oleh : Andi Nursal

Sejumlah organisasi pergerakan di Jakarta, diantaranya Repdem, Petisi 28, Gapura, LMND, FPPI, Komunitas Kretek, dan FAM UMT, menggelar aksi keliling untuk mensosialisasikan rencana aksi besar-besaran pada tanggal 28 januari 2011 mendatang.

Aksi dimulai di jalan Jalan Salemba, dimana puluhan peserta aksi berbaris membagi-bagikan brosur dan seruan aksi. Sementara itu, di samping barisan massa aksi, sebuah mobil pembawa sound-system bergerak agak pelan.

Orator menyampaikan pidato mereka secara bergantian di atas mobil sound-system. Dengan antusias rakyat di pinggir jalan menyaksikan iringan-iringan massa aksi, bahkan ada diantara warga yang rela menghentikan aktivitas.

Dari lampu merah jalan Pramuka, kemudian ke Salemba, lalu bergerak menuju jalan Diponegoro. Jalur ini dikenal sebagai jalur revolusi pada saat kebangkitan gerakan rakyat pada tahun 1998.

Di jalan Diponegoro, massa mengakhiri aksi keliling dengan membakar ban dan sebuah poster besar bergambar SBY. Aktivis Komunitas Kretek, Roso Suroso, tampil membacakan puisi perlawanan yang diberi judul “citra pesona”.

Serukan penggulingan SBY-Budiono

Tuntutan utama Front Pemuda untuk Revolusi Indonesia adalah penggulingan rejim neoliberal, SBY-Budiono. Dalam pandangan mereka, rejim SBY-Budiono sudah mengalami gagal di segala bidang, tetapi berusaha menutupi kegagalan itu dengan berbagai kebohongan.

Salah satu orator, yaitu Faisal dari Repdem, menyoroti kegagalan SBY dalam memberantas korupsi dan menegakkan hukum. Alih-alih bisa memberantas korupsi, kata Faisal, SBY justru tidak sanggup mengungkap dengan terang kasus Gayus Tambunan.

Sementara orator lainnya, Hendra Lamen Saputra dari LMND, menjelaskan soal pengangguran yang semakin membengkak di bawah rejim SBY-Budiono, termasuk pengangguran terpelajar alias sarjana.

Perfect Day

BTricks


ShoutMix chat widget

Pengunjung

PENGUNJUNG

free counters