TRIPANJI PERSATUAN NASIONAL

1. HAPUSKAN HUTANG LUAR NEGERI 2. NASIONALISASI INDUSTRI ASING 3. INDUSTRIALISASI NASIONAL

30 Januari 2011

Mantan Gitaris Led Zeppelin, Jimmy Page, Berkunjung Ke Kuba



Oleh : Rudi Hartono (PL)

Musisi Inggris Jimmy Page, yang juga dikenal gitaris band musik terkenal Led Zeppelin, membuat kejutan dengan berkunjung ke Kuba untuk beberapa hari.

Kantor berita resmi Kuba, Prensa Latina, melaporkan bahwa musisi berusia 67 tahun ini meninggalkan Kuba pada hari Senin lalu, setelah mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Kuba dan membeli souvenir khusus bergambar “Che Guevara hasil potret Alberto Korda, juga membeli sejumlah CD musisi lokal.

Jimmy Page, yang turut menulis lirik lagu terkenal “Stairway to Heaven” bersama vokalis Robert Plan, menginap di hotel tua di Havana, Hotel Saratoga, yang juga pernah menjadi tempat menginap musisi rock n roll dunia lainnya.

Led Zeppelin telah menginspirasi sejumlah band lokal di Kuba dan menjadi pengikut setia band tersebut di negara kepulauan itu. Bahkan, ketika mengetahui kunjungan Jimmy Page ini, sejumlah musisi lokal berusaha bertemu dengannya.

Musisi dari band lokal, Tesis de Menta, sebuah band yang mengibarkan bendera rock di Kuba, dengan vokalis yang juga penyiar radio terkenal, Juan Camacho, berhasil mewujudkan “mimpinya” setelah bertemu dan berdiskusi dengan Jimmy Page pada hari Sabtu lalu.

Setelah sempat dikerumuni banyak orang di lobby Hotel, Jimmy Page, yang mengenakan celana pendek dan kaos hitam, berbicara selama dua puluh menit dengan musisi Kuba mengenai karirnya.

Ia tertarik dengan karya tater Maxim, markas besar band rock Kuba, yang banyak dipengaruhi oleh Led Zeppelin dalam kancah lokal.

Penyanyi Tesis de Menta, Beatrix Lopez, mengatakan kepada Prensa Latina bahwa “dengan semangat muda” dan juga dengan “kuat”, Jimmy Page bercerita mengenai perkawannya dengan gitaris Inggris, Jeff Beck, yang juga menjadi bagian dari band terkenal, The Yardbird, pada tahun 1960-an.

Ia dengan antusias memuji karya musisi Belgia yang berakar pada Arab, Natasha Atlas, yang dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Eropa.

Perdomo, pemimpin Band Tesis de Menta, menambahkan bahwa gitaris Led Zeppelin ini, yang lagunya “Stairway to Heaven” dipilih majalah musik “Rolling Stone” sebagai musik terbaik dalam sejarah, mengekspresikan ketertarikan pada band rock Kuba dan berbagai genre lokal yang berkembang.

Jimmy Page mendirikan Led Zeppelin pada tahun 1968 dengan Robert Plant, yang beberapa bulan lalu kebetulan mengunjungi Kuba, bassis John Paul Jones, dan pemain drum John Bonham. Led Zeppelin, band rock paling berpengaruh sepanjang sejarah, akhirnya bubar pada tahun 1980. Sejak itu, anggota band hanya bertemu dan berkumpul pada acara-acara khusus.

Reuni terakhir mereka terjadi pada tahun 2007 di sebuah stadion di London, dalam sebuah konser untuk menghormati orang yang membantu Led Zeppelin dan mendirikan Atlantic record, Ahmed Ertegun (1923-2006).

Setelah pertunjukan itu, bereda rumor secara luas bahwa mereka akan kembali dalam satu panggung, tetapi untuk sekarang, band Led Zeppelin tidak mungkin untuk disatukan. Para penggemar Led Zeppelin di seluruh dunia masih berharap band ini bisa bersatu kembali dan meramaikan kancah musik dunia.

Mahasiswa Menyindir SBY Dengan Mengumpulkan Koin



Oleh : Kamarudin Koto

Puluhan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggelar aksi pengumpulan koin untuk gaji Presiden SBY. Dengan mengenakan topeng bergambar Presiden SBY, para peserta aksi mengedarkan kardus kosong untuk mengumpulkan sumbangan koin dari rakyat.

Aksi ini dilakukan di persimpangan Hotel Sahid Surabaya. Sebuah spanduk berukuran besar, dengan bertuliskan “Gerakan Recehan Dari Rakyat untuk Gaji Presiden, dipampang di pinggir jalan. Sementara seorang aktivis menyampaikan orasi-orasi mengenai tujuan aksi ini.

Menurut Ketua LMND Jatim Arif Fachruddin Ahmad, aksi ini merupakan sindiran kepada Presiden SBY, yang meminta kenaikan gaji di tengah krisis ekonomi hebat sedang melanda mayoritas rakyat.

“Keluhan Presiden itu tidak beralasan. Sebab, meskipun sudah 7 tahun belum menerima kenaikan gaji, tetapi gaji Presiden SBY masih termasuk yang tertinggi di dunia,” ujar Arif.

Dengan melontarkan keluhan mengenai gaji, Arif Fachruddin menganggap Presiden SBY seperti tidak mau tahu dengan penderitaan yang dialami oleh rakyat. “Seorang negarawan seharusnya lebih peka dengan penderitaan rakyat, ketimbang dirinya,” ujar Arif Fachruddin.

Minggu lalu, di depan peserta rapat pimpinan (rapim) TNI dan Polri 2011, Presiden SBY melontarkan keluhan mengenai gajinya yang belum naik selama 7 tahun. “Sampaikan ke seluruh jajaran TNI dan Polri, ini tahun keenam dan ketujuh, gaji presiden belum naik. Iya, ini betul,” kata SBY saat curhat di depan prajurit TNI.

Terhadap pernyataan itu, berbagai kalangan pun melontarkan kritikan pedas terhadap Presiden yang bekas Jenderal itu. Sebagian besar menganggap curhat Presiden mengenai gaji tidaklah etis.

Di jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, muncul semacam gerakan moral untuk menyumbangkan koin kepada Presiden. Soal gaji bagi pejabat memang persoalan sensitif, apalagi di tengah krisis ekonomi yang melanda rakyat.

Koin akan diserahkan kepada Partai Demokrat

Aksi pengumpulan koin ini tidak dilakukan untuk sehari saja, tetapi rencananya akan dilanjutkan hingga beberapa hari ke depan. Untuk besok, LMND Surabaya berencana akan menggelar aksinya di taman Bungkul, daerah gusuran pembangunan tol tengah kota, dan kampung Stren Kali.

“Kami tidak melakukannya di kampus, sebab kampus sedang liburan,” ujar Arif Fachruddin.

Selain itu, tambah Arif Fahcruddin, uang koin yang berhasil dikumpulkan akan diserahkan kepada Presiden SBY melalui partainya, yaitu partai demokrat. “Kami akan mendatangi kantor Partai Demokrat dengan pakaian gembel, dan menyerahkan koin ini untuk diberikan kepada Presiden,” tegasnya.

Gerakan Pemuda Desak Rejim SBY-Budiono Mundur



Oleh : Ulfa Ilyas

Sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda, yang tergabung dalam Gerakan Pemuda untuk Revolusi Indonesia (GPRI), menyerukan agar rejim SBY-Budiono segera mengundurkan diri sebelum digulingkan paksa oleh gerakan rakyat.

Seruan itu disampaikan oleh GPRI saat menggelar aksi massa di depan Istana Negara, siang tadi (28/1). Aksi dimulai depan stasiun Gambir, lalu bergerak dengan “long-march” menuju Istana Negara.

Seorang demonstran mengenakan topeng bergambar “SBY dengan hidung pinikio” berdiri di barisan terdepan. Disamping itu, ada pula patung SBY mengenakan kopiah dengan di beri warnah merah pada bagian pipi kanan dan kiri.

“Ini adalah perlambang dari rejim kebohongan, yaitu pemerintahan yang suka membohongi rakyat dengan janji muluk-muluk dan manipulasi statistik, “ ujar demonstran bertopeng Pinokio.

Ketika massa GPRI sampai di jalan Merdeka Utara, sekitar 200 meter dari Istana Negara, massa berhenti dan menggelar orasi-orasi politik secara bergantian. Lamen Hendra Saputra, ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, memandu setiap pimpinan organisasi untuk menyampaikan orasi-orasi.

Saat berada tepat di depan Istana Negara, ratusan demonstran ini melemparkan koin secara serempak ke arah istana, sebagai sindiran atas “curhat Presiden yang meminta kenaikan gaji”.

“Saudara-saudara, mari kita lemparkan koin ini ke dalam istana negara. Supaya Presiden SBY, yang tidak tahu malu, mengerti akan penderitaan rakyat,” ujar korlap di atas mobil pembawa sound-system.

Tuntutan Tritura

GPRI, yang beranggotakan sedikitnya 35 organisasi pergerakan mahasiswa dan rakyat, mengajukan tuntutan yang disebut “Tritura”, atau Tiga Tuntutan Rakyat, yaitu turunkan harga, tangkap koruptor dan pengemplang pajak, dan turunkan rejim SBY-Budiono.

Ketiga tuntutan itu, menurut seorang orator dari mahasiswa, merupakan jawaban mendesak atas persoalan rakyat sekarang ini, tetapi jika tidak segera diwujudkan, maka bangsa Indonesia akan semakin terpuruk.

GPRI memandang bahwa rejim SBY-Budiono, parlemen, dan seluruh penegak hukum sudah melakukan penghianatan kepada rakyat. Akibatnya, pemerintahan dijalankan dengan penuh kebohongan, hukum diputar-balikkan, dan berkhianat kepada Pancasila dan UUD 1945.

Sebagaimana dikatakan oleh humas GPRI, Agus Priyanto, bahwa tidak ada lagi alasan untuk mempertahakan rejim SBY-Budiono, sebuah rejim yang terus-menerus melakukan pembohongan dan manipulasi kepada rakyat, sementara rakyat dibiarkan terus hidup miskin dan melarat.

SBY Bisa Berakhir Seperti Ben Ali Di Tunisia

Menjawab pertanyaan soal masa depan pemerintahan SBY, tokoh pemuda dan pimpinan Petisi 28, Haris Rusli Moti mengatakan, pemerintah SBY akan berhadapan dengan dua keadaan, yaitu meluasnya perlawanan rakyat dan kehilangan legitimasi politik.

“Jika Presiden SBY tidak mengambil langkah-langkah radikal untuk mengatasi persoalan seperti kasus century dan mafia pajak, maka dia akan bernasib seperti Presiden Ben Ali di Tunisia atau Husni Mobarak di Mesir,” kata Haris Rusli Moti.

Sementara jika SBY memilih untuk bertahan, maka dia akan kehilangan “kekuasaan secara real” untuk menjalankan pemerintahan karena kehilangan kepercayaan sangat luas dari masyarakat.

Untuk itu, Haris Rusli Moti memberikan dua pilihan kepada SBY, yaitu mundur secara terhormat atau digulingkan oleh gerakan rakyat seperti kasus Tunisia dan Mesir.

Sejumlah aktivis ditangkap

Meskipun waktu sudah pukul 18.00 WIB, massa GPRI tetap bersemangat dan memilih bertahan di depan Istana Negara. Tidak hanya itu, sebagian demonstran yang beragama Islam menjalankan shalat magrib di depan Istana Negara.

Tidak lama kemudian, pihak kepolisian memberikan ultimatum agar massa segera meninggalkan lokasi aksi. Akan tetapi, tuntutan itu diabaikan oleh demonstran dan seorang orator menegaskan bahwa mereka akan tetap bertahan hingga SBY keluar menemui massa.

Namun, bersamaan dengan dikeluarkannya ultimatum terakhir, hujan deras mengguyur daerah sekitar istana negara. Meski begitu, mahasiswa tetap memilih berdiri di lokasi sambil membentuk rantai manusia.

Akan tetapi, tatkala barusan pasukan PHH bergerak dari arah depan Istana Negara menuju arah kumpulan demonstran, para mahasiswa ini memilih untuk membubarkan diri.

Sayang sekali, barisan belakang massa GPRI sempat bentrok dengan pasukan PHH dan sejumlah aktivis tertangkap. Tidak diketahui secara pasti mengenai jumlah aktivis yang tertangkap. Akan tetapi, dari pihak LMND mengaku, empat orang anggotanya ditangkap oleh pihak kepolisian, yaitu Anton (Unisma Bekasi), Lukman (Unisma Bekasi), Bili (Unisma Bekasi), dan Stefanus (IISIP).

Tidak hanya itu, mobil komando dan sopirnya pun sempat ditahan oleh Polisi, sebelum akhirnya dibebaskan kembali. Lubis, seorang aktivis Rakyat Bergerak, juga sempat ditangkap dan dipukuli Polisi, tetapi kemudian dibebaskan.

Gerakan Koin Pesangon Untuk SBY Di Jogjakarta



Oleh : Muhammad Fatoni

Ratusan massa dari Beberapa organisasi gerakan di DIY menyiapkan pesangon buat pemerintahan SBY. Massa yang tergabung dalam komite Revolusi Rakyat ini menggelar aksinya longmarch dari Tugu Yogyakarta sampai kantor pos besar DIY.

Dalam orasinya Slamet Was Air selaku Koordinator umum Komite revolusi rakyat menilai, pemerintah SBY sudah keterlaluan. Selama tujuh tahun pemerintahan hanya seperti “polisi India”, yaitu serba terlambat dalam segala hal. Selama ini kebijakan-kebijakan tidak membela rakyat, tetapi lebih mementingkan pencitraan figur presiden.

Sebagaimana era kapitalis lanjut ini yang penuh kebohongan. Pemerintah akibat citra-citra mampu bertahan hingga dua periode dengan membohongi publik. Ada kriteria kebohongan atau pengingkaran menurut Komite Revolusi Rakyat. Pertama, ingkar hukum. Kasus mafia hukum buktinya. Bagaimana mungkin orang dipenjara justru nglencer, kasus HAM yang tak dituntaskan, dan sebagainya. Hukum telah diplintir. Kedua, ingkar janji atau dusta yang sengaja melalaikan janjinya. Hukumnya seperti berkhianat, karena melalaikan amanat konstitusi.

Koin pesangon untuk SBY

Selain menggelar aksi massa, Komite Revolusi Rakyat juga mengumpulkan koin untuk pesangon Presiden SBY jika sudah dipecat. Ada banyak sekali warga masyakat yang menyumbang koin untuk pesangon SBY.

Penggalangan koin untuk SBY ini sekaligus sebagai sindirian atas curhatnya beberapa pekan lalu, saat meminta kenaikan gaji di hadapan anggota TNI/Polri. Di mata gerakan mahasiswa ini, curhat SBY itu sangat kontradiktif dengan kenyataan yang dialami oleh rakyat, seperti kaum buruh yang tidak pernah naik upahnya, kaum tani yang sulit menjual hasil produksi, hingga sebagian besar rakyat sulit mendapatkan pekerjaan.

Ketua Partai Rakyat Demokratik DIY, Budiman HK, menjelaskan bahwa banyak sekali persoalan yang dihadapi rakyat, diantaranya persoalan kemiskinan, pengangguran, dan lain sebagainya, yang butuh perhatian Presiden SBY.
“Masih banyak kasus gizi buruk, rakyat makan nasi aking, putus sekolah, hingga kasus bunuh diri, yang seharusnya diperhatikan oleh SBY,” tegasnya.

Komite Revolusi Rakyat mempunyai catatan mengenai 9 dosa besar SBY-Boediono, yaitu: Pertama, tidak tuntasnya kasus Lumpur Lapindo, Munir, Marsinah, Wartawan Udin, Tanjung Priuk, dan lain-lain sehingga tidak adanya supremasi hukum di Indonesia; Kedua, Berkiblatnya perekonomian Indonesia pada neo-liberalisme; Ketiga, Membiarkan biaya pendidikan dan kesehatan semakin mahal sehingga tidak terjangkau oleh rakyat; Keempat, Ketidak berpihakan terhadap kaum buruh; Kelima, Membiarkan perlakuan diskriminatif terhadap buruh perempuan; Keenam, Menaikkan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, dan telepon; Ketujuh, Tidak selesainya polemik undang undang keistimewaan Yogyakarta secara benar dan proporsional; Kedepalan, Tindakan kriminalisasi terhadap para anggota oragnisasi rakyat yang menentang kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat; dan kesembilan, gagalnya mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Komite revolusi rakyat, yang terdiri dari 21 organisasi gerakan di DIY diantara HMI MPO, SMI, GMKI, IMM, Pembebasan, LMND, PRP, NPMSB IKPM Kep Riau, PPMI dan PRD, melakukan pembakaran Foto SBY, juga melakukan pemblokiran jalan yang mengakibatkan malioboro macet.

Aksi diakhiri dengan pengiriman koint receh di kantor pos besar DY hasil dari penggalangan kepada dari rakyat jogja sejumlah 99.000 sebagai pesangon untuk SBY dari rakyat yogjakarta.

24 Januari 2011

Oliver Stone, Amerika Latin dan Indonesia


Oleh : Zulkhair Burhan

Opini Gita Wirjawan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, mengenai Nasionalisme Ekonomi (Kompas/7 Oktober 2010) menuai banyak tanggapan kontra karena pandangannya dianggap justru menafikan kedaulatan ekonomi. Tema mengenai kedaulatan belakangan memang seolah menjadi tidak penting seiring dengan semakin terintegrasinya kita (Indonesia) dengan logika pasar bebas dihampir semua sektor kehidupan. Kedaulatan kemudian hanya menjadi konsumsi akademis bagi para “penikmat” kajian-kajian kritis dan selalu berakhir tragis ketiga berhadapan dengan logika Negara yang justru dibanyak aspek menganggap kedaulatan menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan apalagi ketika berhadapan dengan “kuasa besar”. Namun tidak banyak dari kita yang tahu bahwa di belahan dunia lain yang justru “sedapur” dengan negara Paman Sam terdapat beberapa negara di kawasan Amerika Latin yang sedang giat berusaha menerjemahkan dan mempraktekkan kedaulatan dalam makna yang sebenarnya.

Oliver Stone & Revolusi Bolivarian

Apa yang sedang terjadi di kawasan Amerika Latin inilah yang coba dipotret seorang sutradara langganan Academy Award, Oliver Stone, melalui film bergenre dokumenter dengan durasi sekitar 120 menit yang berjudul South of The Border. Film ini, menurut Stone, bertujuan untuk mengkhabarkan bahwa dibagian selatan Amerika sedang terjadi perubahan yang jarang disorot dan sebaliknya para pemimpin di kawasan ini sering menjadi objek propaganda “hitam” media barat.

Meski film ini berisi wawancara dengan beberapa presiden di kawasan Amerika Latin, antara lain; Hugo Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia), Lula da Silva (Brasil), Christina Kirchner (Argentina) dan suaminya yang juga mantan presiden Nestor Kirchner, Fernando Lugo (Paraguay), Rafael Correa (Ecuador), dan Raul Castro (Cuba). Namun Stoner lebih fokus mendokumentasikan keberhasilan Venezuela dibawah Hugo Chavez dengan Proyek Bolivarian-nya. Lalu bagaimana sebenarnya proses pembangunan yang sedang terjadi di negeri Simon Bolivar itu?

Michael Lebowitz, menyatakan bahwa pembangunan yang sedang gencar di Venezuela pada dasarnya bertumpu pada tiga aspek, yaitu: (1) pembangunan manusia (human development), (2) pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, (3) kepemilikan sosial dan pengambilan kebijakan berbasis partisipasi dalam komunitas dan tempat kerja. Dan menurutnya lagi, konstitusi Venezuela sangat mengakomodir ketiga aspek diatas sebagai alternatif atas logika kerja neoliberalisme. Ketiga aspek ini tidak hanya menjadi lip service atau retorika politik belaka namun lebih dari pada itu dia terejawantah dalam kebijakan ekonomi politik pemerintahan Chavez.

Mengenai pembangunan manusia misalnya, dalam rangka meningkatkan produksi pangan yang dikemas dalam kebijakan “Kedaulatan Pangan” melalui kerjasama bilateral dengan China yang disepakati pada bulan April lalu, pemerintahan Chavez akan mengiri petani-petaninya bersekolah di universitas-universitas terkemuka di Tiongkok. Atau misalnya melalui kebijakan yang disebut Canaima, Kementerian Pendidikan Venezuela tahun ini akan memberikan 768 ribu laptop mini secara gratis untuk kelas 1 dan 2 tingkat Sekolah Dasar. Selanjutnya, dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, khususnya kebutuhan pangan melalui kebijakan “Kedaulatan Pangan” yang bertujuan untuk menghindari ketergantungan terhadap produk impor, maka pemerintahan Chavez mengambil langkah serius dengan mengucurkan dana sekitar kurang dari setengah milyar bolivar pada tahun 1998 hingga 20 milyar bolivar pada tahun 2009. Karena program ini pula sehingga Venezuela berhasil mengurangi angka malnutrisi dari 21 % menjadi 60% pada periode yang sama. Selain itu, Chavez juga menasionalisasi perusahaan Agroislena milik Spanyol yang menyediakan bahan-bahan pertanian. Terakhir, dan ini yang saya kira penting, terkait kepemilikan sosial dan partisipasi dalam pengambilan kebijakan. Ini bisa terlihat pada program yang disebut “Tiznados River Socialist Agrarian Project”, program ini berupa pendirian perusahaan produksi pangan milik negara dengan berbasis partisipasi pekerja dalam pengambilan keputusan, sebagai bentuk tanggungjawab terhadap komunitas lokal, dan menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan dibanding pencapaian profit. Selain itu, sejak 4 tahun terakhir rakyat Venezuela telah mengorganisir diri dalam dewan-dewan komunal. Tiap dewan beranggotakan sekitar 150 keluarga di daerah perkotaan. Sementara di daerah pedesaan dan masyarakat adat, tiap dewan terdiri 20 dan 10 keluarga.

Dewan-dewan inilah yang menjadi jembatan aspirasi terhadap pemerintah dan juga digunakan untuk meningkatkan kapasitas masing-masing anggota dewan dengan mendiskusikan banyak hal termasuk melakukan diskusi rutin menyangkut konstitusi Negara.

Sejalan dengan tiga pondasi serta prakteknya diatas, Chomsky dalam New World of Indigenious Resistance, melihat bahwa spirit yang melandasi setiap aktivitas kehidupan masyarakat di Amerika Latin pada umumnya dan Venezuela pada khususnya adalah spirit “comunalidad” dan “interculturalidad”. Yang dalam konteks Venezuela bisa diartikan bahwa dalam keberagaman tetap terjalin semangat komunalisme. Spirit ini pula yang secara substansial melandasi keteguhan prinsip Chavez untuk mempertahankan kedaulatan Negara, sekali lagi tanpa tawar menawar.

Kita: Indonesia

Kasus Venezuela yang saya paparkan diatas bukan berarti tanpa cela karena disana sini juga masih terdapat banyak kekurangan. Namun yang membuatnya berbeda karena sejak awal semua kebijakan dijalankan untuk kepentingan masyarakat dan melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses pembangunan. Di banyak aspek kita tentu sangat berbeda dengan Venezuela sehingga sangat rumit untuk mengadopsi ide-ide perubahan ala Chavez hingga menjadi manifest di bangsa ini. Namun yang mungkin membuat kita sama adalah bahwa dibanyak aspek kedaulatan kita sedang diuji ketangguhannya. Bangsa ini bukan hanya dipusingkan dengan persoalan perbatasan yang selalu mengundang kisruh tapi juga soal pilihan platform pembangunan yang seringkali justru harus “menggadaikan” sedikit demi sedikit kedaulatan yang kita miliki. Dan parah nya karena harus menjadikan rakyat yang seharusnya menjadi pemegang kedaulatan tertinggi menjadi korbannya.

Venezuela dan beberapa negara di Amerika Latin juga sedang menghadapi berbagai macam persoalan menyangkut kedaulatan dan di banyak kasus selalu berhadapan vis a vis dengan negara seteru utamanya, Amerika Serikat. Namun perlahan-lahan tapi pasti mereka terus membenahi diri dengan pilihan platform pembangunan yang betul-betul berbasis partisipasi aktif masyarakat sehingga kosa kata “kedaulatan” menjadi ritme aktivitas masyarakat mereka tiap hari dan tidak hanya menjadi konsumsi intelektual namun miskin makna dan pengejawantahan.

Akhirnya, mengutip seorang Taoist terkenal, Lao-Tzu yang mengatakan bahwa seorang pemimpin dikatakan baik ketika apa yang dilakukannya membuat rakyatnya selalu merasa sedang merawat diri sendiri. Betulkah kita sedang merawat diri kita sendiri?

Perfect Day

BTricks


ShoutMix chat widget

Pengunjung

PENGUNJUNG

free counters