TRIPANJI PERSATUAN NASIONAL

1. HAPUSKAN HUTANG LUAR NEGERI 2. NASIONALISASI INDUSTRI ASING 3. INDUSTRIALISASI NASIONAL

30 Januari 2011

Penyatuan Kekuatan Nasional




Ketika neoliberalisme atau penjajahan kembali (rekolonialisme) semakin banyak mengorbankan sektor-sektor sosial, maka gerakan perlawanan juga seharusnya sudah berlangsung secara luas dan melibatkan banyak sektor sosial. Keragaman sektor sosial yang menjadi korban ini seharusnya menjadi basis material untuk perjuangan anti imperialisme.

Dari tahun 1998 hingga sekarang ini, pelajaran penting yang prlu diambil adalah terus berkembangnya berbagai manifestasi radikalisme massa rakyat, baik perjuangan yang bersifat spontan dan ekonomis maupun perjuangan-perjuangan politik. Tidak sedikit diantara perjuangan-perjuangan itu yang meraih kemenangan kecil, seperti penggulingan penguasa lokal, berhasil menunda kebijakan reaksioner, dan lain sebagainya.

Di samping itu, jika kita tinjau dan periksa kembali keadaan, maka tidak bisa dipungkiri bahwa keresahan sosial sedang mewabah. Keresahan tidak saja mencapai sektor-sektor sosial yang dirugikan secara langsung oleh ekonomi neoliberal, seperti kaum buruh, petani, dan rakyat miskin lainnya, tetapi juga sektor-sektor yang terganggung oleh konsekuensi neoliberal seperti kelompok lingkungan, kaum agamawan, dan lain-lain.

Juga dinamika baru dalam perimbangan kekuatan internasional saat ini, yakni pertentangan yang semakin jelas antara kepentingan negeri-negeri imperialis dan munculnya negara-negara yang memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Mana ada negara di dunia sekarang ini yang tidak berbicara soal kepentingan nasionalnya, meskipun dengan berbagai ekspresi yang berbeda; jika negeri imperialis punya kepentingan nasional untuk memperluas pasar dan eksploitasi, maka negeri dunia ketiga mengekspresikan kepentingan nasionalnya dalam bentuk nasionalisme ekonomi atau kemandirian nasional. Juga fenomena pergolakan politik di negeri-negeri Arab, khususnya Tunisia, Aljazair, dan Mesir, yang judul besarnya adalah “anti-kediktatoran dan reformasi politik”.

Sementara itu, akibat dari berbagai kebijakan neoliberalisme di Indonesia, maka hampir semua rumusan mengenai problem pokok bangsa Indonesia saat ini sudah mengerucut pada imperialisme. Dan, sebagai konsekuensi dari ketundukan dan keterlibatan langsung rejim SBY-Budiono sebagai mesin neoliberal, maka bisa disimpulkan pula bahwa “rejim SBY-Budiono adalah pusat dari masalah, yaitu imperialisme”.

Dulu, Bung Karno punya rumusan sangat jitu dalam soal bagaimana melawan imperialisme dan neo-kolonialisme, yaitu: “sammenbundeling van alle revolutionaire krachten.” Sementara untuk sekarang ini, dengan memperhatikan rumusan politik mengenai siapa kawan, siapa musuh, dan kaum netral, maka rumusan yang paling tepat adalah: “mempersatukan semua kekuatan yang bisa dipersatukan, untuk melawan imperialisme, khususnya perwakilan imperialisme di Indonesia: SBY-Budiono”.

Apa yang hendak ditegaskan editorial ini, adalah “bahwa jika perjuangan anti-imperialisme mau berhasil di Indonesia, maka ia harus menggabungkan segala potensi kekuatan nasional yang ada. Tidak bisa perjuangan anti-imperialisme itu dilakukan sekaligus dengan memperbesar barisan atau jumlah musuh, atau menyerang musuh-musuh non-pokok, dan melemahkan potensi-potensi kekuatan nasional yang bisa didorong maju.”

Soal serangan imperialis terhadap persatuan nasional ini, saya mengutip satu pernyataan dari salah seorang penulis pidato Bung Karno, yaitu Nyoto, yang berkata: “kolonialisme melakukan usaha pecah-belah, mengadu domba suku-bangsa yang satu dengan yang lain, partai yang satu dengan yang lain, agama yang satu dengan yang lain, usaha-usaha separatisme, pendeknya, menyuap semua orang yang bisa disuap, memecah-belah segala sesuatu yang bisa dipecah-belah, dan dengan demikian mencoba merusak Republik, agar abadilah kekuasaan kolonial mereka.”

Kemudian, apa yang menjadi tugas kita selanjutnya adalah mengubah imbangan kekuatan yang ada saat ini, tentunya agar memihak posisi kita. Kita harus mendorong maju kekuatan politik atau individu yang berfikiran pro-kepentingan nasional, baik tokoh di parlemen ataupun di luar parlemen. Disamping itu, untuk mengubah imbangan kekuatan itu, maka kita perlu juga memikirkan soal bagaimana “membangunkan 230 juta rakyat indonesia dari tidurnya”, agar mereka menjadi tenaga-tenaga anti-imperialis. Tidak mesti seluruhnya memang, tetapi harus sebagian besarnya.

Metode-metode pembangunan kekuatan, seperti advokasi, konsultasi kerakyatan, media alternatif, memenangkan kekuasaan lokal, dan lain sebagainya, bisa menjadi metode perjuangan bersama untuk mengubah imbangan kekuatan tersebut.

Salam

Organisasi Pergerakan Serukan “Penggulingan SBY-Budiono”




Oleh : Andi Nursal

Sejumlah organisasi pergerakan di Jakarta, diantaranya Repdem, Petisi 28, Gapura, LMND, FPPI, Komunitas Kretek, dan FAM UMT, menggelar aksi keliling untuk mensosialisasikan rencana aksi besar-besaran pada tanggal 28 januari 2011 mendatang.

Aksi dimulai di jalan Jalan Salemba, dimana puluhan peserta aksi berbaris membagi-bagikan brosur dan seruan aksi. Sementara itu, di samping barisan massa aksi, sebuah mobil pembawa sound-system bergerak agak pelan.

Orator menyampaikan pidato mereka secara bergantian di atas mobil sound-system. Dengan antusias rakyat di pinggir jalan menyaksikan iringan-iringan massa aksi, bahkan ada diantara warga yang rela menghentikan aktivitas.

Dari lampu merah jalan Pramuka, kemudian ke Salemba, lalu bergerak menuju jalan Diponegoro. Jalur ini dikenal sebagai jalur revolusi pada saat kebangkitan gerakan rakyat pada tahun 1998.

Di jalan Diponegoro, massa mengakhiri aksi keliling dengan membakar ban dan sebuah poster besar bergambar SBY. Aktivis Komunitas Kretek, Roso Suroso, tampil membacakan puisi perlawanan yang diberi judul “citra pesona”.

Serukan penggulingan SBY-Budiono

Tuntutan utama Front Pemuda untuk Revolusi Indonesia adalah penggulingan rejim neoliberal, SBY-Budiono. Dalam pandangan mereka, rejim SBY-Budiono sudah mengalami gagal di segala bidang, tetapi berusaha menutupi kegagalan itu dengan berbagai kebohongan.

Salah satu orator, yaitu Faisal dari Repdem, menyoroti kegagalan SBY dalam memberantas korupsi dan menegakkan hukum. Alih-alih bisa memberantas korupsi, kata Faisal, SBY justru tidak sanggup mengungkap dengan terang kasus Gayus Tambunan.

Sementara orator lainnya, Hendra Lamen Saputra dari LMND, menjelaskan soal pengangguran yang semakin membengkak di bawah rejim SBY-Budiono, termasuk pengangguran terpelajar alias sarjana.

Mantan Gitaris Led Zeppelin, Jimmy Page, Berkunjung Ke Kuba



Oleh : Rudi Hartono (PL)

Musisi Inggris Jimmy Page, yang juga dikenal gitaris band musik terkenal Led Zeppelin, membuat kejutan dengan berkunjung ke Kuba untuk beberapa hari.

Kantor berita resmi Kuba, Prensa Latina, melaporkan bahwa musisi berusia 67 tahun ini meninggalkan Kuba pada hari Senin lalu, setelah mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Kuba dan membeli souvenir khusus bergambar “Che Guevara hasil potret Alberto Korda, juga membeli sejumlah CD musisi lokal.

Jimmy Page, yang turut menulis lirik lagu terkenal “Stairway to Heaven” bersama vokalis Robert Plan, menginap di hotel tua di Havana, Hotel Saratoga, yang juga pernah menjadi tempat menginap musisi rock n roll dunia lainnya.

Led Zeppelin telah menginspirasi sejumlah band lokal di Kuba dan menjadi pengikut setia band tersebut di negara kepulauan itu. Bahkan, ketika mengetahui kunjungan Jimmy Page ini, sejumlah musisi lokal berusaha bertemu dengannya.

Musisi dari band lokal, Tesis de Menta, sebuah band yang mengibarkan bendera rock di Kuba, dengan vokalis yang juga penyiar radio terkenal, Juan Camacho, berhasil mewujudkan “mimpinya” setelah bertemu dan berdiskusi dengan Jimmy Page pada hari Sabtu lalu.

Setelah sempat dikerumuni banyak orang di lobby Hotel, Jimmy Page, yang mengenakan celana pendek dan kaos hitam, berbicara selama dua puluh menit dengan musisi Kuba mengenai karirnya.

Ia tertarik dengan karya tater Maxim, markas besar band rock Kuba, yang banyak dipengaruhi oleh Led Zeppelin dalam kancah lokal.

Penyanyi Tesis de Menta, Beatrix Lopez, mengatakan kepada Prensa Latina bahwa “dengan semangat muda” dan juga dengan “kuat”, Jimmy Page bercerita mengenai perkawannya dengan gitaris Inggris, Jeff Beck, yang juga menjadi bagian dari band terkenal, The Yardbird, pada tahun 1960-an.

Ia dengan antusias memuji karya musisi Belgia yang berakar pada Arab, Natasha Atlas, yang dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Eropa.

Perdomo, pemimpin Band Tesis de Menta, menambahkan bahwa gitaris Led Zeppelin ini, yang lagunya “Stairway to Heaven” dipilih majalah musik “Rolling Stone” sebagai musik terbaik dalam sejarah, mengekspresikan ketertarikan pada band rock Kuba dan berbagai genre lokal yang berkembang.

Jimmy Page mendirikan Led Zeppelin pada tahun 1968 dengan Robert Plant, yang beberapa bulan lalu kebetulan mengunjungi Kuba, bassis John Paul Jones, dan pemain drum John Bonham. Led Zeppelin, band rock paling berpengaruh sepanjang sejarah, akhirnya bubar pada tahun 1980. Sejak itu, anggota band hanya bertemu dan berkumpul pada acara-acara khusus.

Reuni terakhir mereka terjadi pada tahun 2007 di sebuah stadion di London, dalam sebuah konser untuk menghormati orang yang membantu Led Zeppelin dan mendirikan Atlantic record, Ahmed Ertegun (1923-2006).

Setelah pertunjukan itu, bereda rumor secara luas bahwa mereka akan kembali dalam satu panggung, tetapi untuk sekarang, band Led Zeppelin tidak mungkin untuk disatukan. Para penggemar Led Zeppelin di seluruh dunia masih berharap band ini bisa bersatu kembali dan meramaikan kancah musik dunia.

Mahasiswa Menyindir SBY Dengan Mengumpulkan Koin



Oleh : Kamarudin Koto

Puluhan aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggelar aksi pengumpulan koin untuk gaji Presiden SBY. Dengan mengenakan topeng bergambar Presiden SBY, para peserta aksi mengedarkan kardus kosong untuk mengumpulkan sumbangan koin dari rakyat.

Aksi ini dilakukan di persimpangan Hotel Sahid Surabaya. Sebuah spanduk berukuran besar, dengan bertuliskan “Gerakan Recehan Dari Rakyat untuk Gaji Presiden, dipampang di pinggir jalan. Sementara seorang aktivis menyampaikan orasi-orasi mengenai tujuan aksi ini.

Menurut Ketua LMND Jatim Arif Fachruddin Ahmad, aksi ini merupakan sindiran kepada Presiden SBY, yang meminta kenaikan gaji di tengah krisis ekonomi hebat sedang melanda mayoritas rakyat.

“Keluhan Presiden itu tidak beralasan. Sebab, meskipun sudah 7 tahun belum menerima kenaikan gaji, tetapi gaji Presiden SBY masih termasuk yang tertinggi di dunia,” ujar Arif.

Dengan melontarkan keluhan mengenai gaji, Arif Fachruddin menganggap Presiden SBY seperti tidak mau tahu dengan penderitaan yang dialami oleh rakyat. “Seorang negarawan seharusnya lebih peka dengan penderitaan rakyat, ketimbang dirinya,” ujar Arif Fachruddin.

Minggu lalu, di depan peserta rapat pimpinan (rapim) TNI dan Polri 2011, Presiden SBY melontarkan keluhan mengenai gajinya yang belum naik selama 7 tahun. “Sampaikan ke seluruh jajaran TNI dan Polri, ini tahun keenam dan ketujuh, gaji presiden belum naik. Iya, ini betul,” kata SBY saat curhat di depan prajurit TNI.

Terhadap pernyataan itu, berbagai kalangan pun melontarkan kritikan pedas terhadap Presiden yang bekas Jenderal itu. Sebagian besar menganggap curhat Presiden mengenai gaji tidaklah etis.

Di jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter, muncul semacam gerakan moral untuk menyumbangkan koin kepada Presiden. Soal gaji bagi pejabat memang persoalan sensitif, apalagi di tengah krisis ekonomi yang melanda rakyat.

Koin akan diserahkan kepada Partai Demokrat

Aksi pengumpulan koin ini tidak dilakukan untuk sehari saja, tetapi rencananya akan dilanjutkan hingga beberapa hari ke depan. Untuk besok, LMND Surabaya berencana akan menggelar aksinya di taman Bungkul, daerah gusuran pembangunan tol tengah kota, dan kampung Stren Kali.

“Kami tidak melakukannya di kampus, sebab kampus sedang liburan,” ujar Arif Fachruddin.

Selain itu, tambah Arif Fahcruddin, uang koin yang berhasil dikumpulkan akan diserahkan kepada Presiden SBY melalui partainya, yaitu partai demokrat. “Kami akan mendatangi kantor Partai Demokrat dengan pakaian gembel, dan menyerahkan koin ini untuk diberikan kepada Presiden,” tegasnya.

Gerakan Pemuda Desak Rejim SBY-Budiono Mundur



Oleh : Ulfa Ilyas

Sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda, yang tergabung dalam Gerakan Pemuda untuk Revolusi Indonesia (GPRI), menyerukan agar rejim SBY-Budiono segera mengundurkan diri sebelum digulingkan paksa oleh gerakan rakyat.

Seruan itu disampaikan oleh GPRI saat menggelar aksi massa di depan Istana Negara, siang tadi (28/1). Aksi dimulai depan stasiun Gambir, lalu bergerak dengan “long-march” menuju Istana Negara.

Seorang demonstran mengenakan topeng bergambar “SBY dengan hidung pinikio” berdiri di barisan terdepan. Disamping itu, ada pula patung SBY mengenakan kopiah dengan di beri warnah merah pada bagian pipi kanan dan kiri.

“Ini adalah perlambang dari rejim kebohongan, yaitu pemerintahan yang suka membohongi rakyat dengan janji muluk-muluk dan manipulasi statistik, “ ujar demonstran bertopeng Pinokio.

Ketika massa GPRI sampai di jalan Merdeka Utara, sekitar 200 meter dari Istana Negara, massa berhenti dan menggelar orasi-orasi politik secara bergantian. Lamen Hendra Saputra, ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, memandu setiap pimpinan organisasi untuk menyampaikan orasi-orasi.

Saat berada tepat di depan Istana Negara, ratusan demonstran ini melemparkan koin secara serempak ke arah istana, sebagai sindiran atas “curhat Presiden yang meminta kenaikan gaji”.

“Saudara-saudara, mari kita lemparkan koin ini ke dalam istana negara. Supaya Presiden SBY, yang tidak tahu malu, mengerti akan penderitaan rakyat,” ujar korlap di atas mobil pembawa sound-system.

Tuntutan Tritura

GPRI, yang beranggotakan sedikitnya 35 organisasi pergerakan mahasiswa dan rakyat, mengajukan tuntutan yang disebut “Tritura”, atau Tiga Tuntutan Rakyat, yaitu turunkan harga, tangkap koruptor dan pengemplang pajak, dan turunkan rejim SBY-Budiono.

Ketiga tuntutan itu, menurut seorang orator dari mahasiswa, merupakan jawaban mendesak atas persoalan rakyat sekarang ini, tetapi jika tidak segera diwujudkan, maka bangsa Indonesia akan semakin terpuruk.

GPRI memandang bahwa rejim SBY-Budiono, parlemen, dan seluruh penegak hukum sudah melakukan penghianatan kepada rakyat. Akibatnya, pemerintahan dijalankan dengan penuh kebohongan, hukum diputar-balikkan, dan berkhianat kepada Pancasila dan UUD 1945.

Sebagaimana dikatakan oleh humas GPRI, Agus Priyanto, bahwa tidak ada lagi alasan untuk mempertahakan rejim SBY-Budiono, sebuah rejim yang terus-menerus melakukan pembohongan dan manipulasi kepada rakyat, sementara rakyat dibiarkan terus hidup miskin dan melarat.

SBY Bisa Berakhir Seperti Ben Ali Di Tunisia

Menjawab pertanyaan soal masa depan pemerintahan SBY, tokoh pemuda dan pimpinan Petisi 28, Haris Rusli Moti mengatakan, pemerintah SBY akan berhadapan dengan dua keadaan, yaitu meluasnya perlawanan rakyat dan kehilangan legitimasi politik.

“Jika Presiden SBY tidak mengambil langkah-langkah radikal untuk mengatasi persoalan seperti kasus century dan mafia pajak, maka dia akan bernasib seperti Presiden Ben Ali di Tunisia atau Husni Mobarak di Mesir,” kata Haris Rusli Moti.

Sementara jika SBY memilih untuk bertahan, maka dia akan kehilangan “kekuasaan secara real” untuk menjalankan pemerintahan karena kehilangan kepercayaan sangat luas dari masyarakat.

Untuk itu, Haris Rusli Moti memberikan dua pilihan kepada SBY, yaitu mundur secara terhormat atau digulingkan oleh gerakan rakyat seperti kasus Tunisia dan Mesir.

Sejumlah aktivis ditangkap

Meskipun waktu sudah pukul 18.00 WIB, massa GPRI tetap bersemangat dan memilih bertahan di depan Istana Negara. Tidak hanya itu, sebagian demonstran yang beragama Islam menjalankan shalat magrib di depan Istana Negara.

Tidak lama kemudian, pihak kepolisian memberikan ultimatum agar massa segera meninggalkan lokasi aksi. Akan tetapi, tuntutan itu diabaikan oleh demonstran dan seorang orator menegaskan bahwa mereka akan tetap bertahan hingga SBY keluar menemui massa.

Namun, bersamaan dengan dikeluarkannya ultimatum terakhir, hujan deras mengguyur daerah sekitar istana negara. Meski begitu, mahasiswa tetap memilih berdiri di lokasi sambil membentuk rantai manusia.

Akan tetapi, tatkala barusan pasukan PHH bergerak dari arah depan Istana Negara menuju arah kumpulan demonstran, para mahasiswa ini memilih untuk membubarkan diri.

Sayang sekali, barisan belakang massa GPRI sempat bentrok dengan pasukan PHH dan sejumlah aktivis tertangkap. Tidak diketahui secara pasti mengenai jumlah aktivis yang tertangkap. Akan tetapi, dari pihak LMND mengaku, empat orang anggotanya ditangkap oleh pihak kepolisian, yaitu Anton (Unisma Bekasi), Lukman (Unisma Bekasi), Bili (Unisma Bekasi), dan Stefanus (IISIP).

Tidak hanya itu, mobil komando dan sopirnya pun sempat ditahan oleh Polisi, sebelum akhirnya dibebaskan kembali. Lubis, seorang aktivis Rakyat Bergerak, juga sempat ditangkap dan dipukuli Polisi, tetapi kemudian dibebaskan.

Perfect Day

BTricks


ShoutMix chat widget

Pengunjung

PENGUNJUNG

free counters