TRIPANJI PERSATUAN NASIONAL

1. HAPUSKAN HUTANG LUAR NEGERI 2. NASIONALISASI INDUSTRI ASING 3. INDUSTRIALISASI NASIONAL
Tampilkan postingan dengan label TULISAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN. Tampilkan semua postingan

11 Februari 2011

Apa Sebab Negara Republik Indonesia Berdasarkan Pancasila (Bagian Kedua)



Oleh : Ir. Soekarno

Terbanglah kapal udaraku datang di daerah Aceh. Rakyat Aceh menyambut kedatangan Presiden, rakayat beragama Islam. Terbang lagi kapal udaraku, turun di Siborong-borong darah Batak. Rakyat Batak menyambut dengan gegap-gempita kedatangan Republik Indonesia, agamanya Kristen.

Terbang lagi, Saudara-saudara, dekat Sibolga, agama Kristen. Terbang lagi ke Selatan ke Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan, agama Islam. Demikianlah pulau di Jawa, kebanyakan beragama Islam, disana Kristen, disini Kristen. Terang lagi kapal udaraku ke Banjarmasin, kebanyakan Islam. Tetapi di Banjarmasin itu aku bertemu utusan-utusan dari suku Dayak, Saudara-saudara. Malahan di Samarinda aku berjumpa dengan utusan-utusan, bahwa rakyat Dayak yang sembilan hari sembilan malam turun dari gunung-gunung untuk menjumpai Presiden Republik Indonesia. Mereka tidak beragama Islam, tetapi beragama agamanya sendiri.

Aku ber-ibu orang Bali. Idayu Nyoman Rai nama Ibuku. Malahan jikalau aku beristirahat di Tampaksiring, desa kecil di Bali, rakyat Bali menyebut aku, kecuali Bung Karno, Bapak Karno, menyebut aku, Ida Bagus Made Karno. Aku melihat masyarakat Bali yang dua juta manusia itu beragama Hindu-Bali. Di Singaraja ada masyarakat Islam sedikit. Di Denpasar ada masyarakat Islam sedikit. Terbanglagi kapal udaraku ke Sumbawa, Islam. Terbang kapal udaraku ke Flores, pulau dimana aku dulu di internir rakayat Flores kenal akan Bung Karno, Bung Karno kenal akan rakyat Flores, sebagian besar rakyat Flores itu beragama Roma Khatolik (Kristen). Terbang lagi kapal udaraku ke Timor, sebagian besar rakyatnya Kristen Protestan. Terbang lagi kapal udaraku ke Ambon, Kristen. Sekitar Ambon itu adalah masyarakat Kristren. Terbang lagi ke Utara ke Ternate, Islam di Ternate. Dari Ternate terbang ke Manado. Minahasa sekelilingnya Kristen, ke Selatan Makasar, Islam. Di Tengah Sukawesi, Toraja sebagian besar Kristen, sebagaian belum beragama.

Benar apa tidak perkataanku, Saudara-saudara, bahwa Bangsa Indonesia adalah beraneka agama? Demikian pula aku berkata, bahwa bangsa Ondonesia ini beraneka adat-istiadat, beraneka suku pula. Beraneka suku, beraneka agama, beraneka adat-istiadat. Ini yang menjadi pikiran Bapak berpuluh-puluh tahun.

Sebelum kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 angustus 1945, aku ingin bersama-sama dengan pejuang lain membentuk satu wadah. Wadah yang bernama Negara. Wadah untuk masyarakat, bagi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat!

Aku ingin membentuk satu wadah yang tidak retak, yang utuh, yang mau menerima semua masyarakat Indonesia yang beraneka itu dan yang masyarakat Indonesia mau duduk pula di dalamnya, yang diterima oleh Saudara-saudara beragama Islam, yang beragama Kristen Katholik, yang beragama Kristen Protestan, yang beragama Hindu-Bali, dan oleh Saudara-saudara yang beragama lain, yang bias diterima oleh Saudara-saudara yang adat-istiadatnya begitu, dan yang bias diterima oleh sekalian Saudara.

Aku tidak mencipta Pancasila, Saudara-saudara. Sebab sesuatu dasar Negara ciptaan tidaka akan bertahan lama. Ini adalah suatu ajaran yang dari mula-mulanyakupegang teguh. Jikalau engkau hendak mengadakan dasar untuk sesuatu Negara, dasar untuk sesuatu wadah, jangan bikin sendiri, jangan anggit sendiri, jangan karang sendiri.

Selamilah sedalam-dalamnya lautan daripada sejarah! Gali sedalam-dalamnya bumi dari pada Sejarah!

Aku melihat masyarakat Indonesia, sejarah rakyat Indonesia. Dan aku menggali lima mutiara yang terbenam di dalamnya, yang tadinya lima mutiara itu cemerlang tetapi karena oleh penjajahan asing yang 350 tahun lamanya, terbenam kembali di dalam bumi bangsa Indonesia ini.

Aku oleh sekolah tingggi Universitas Gajah Mada di anugerahi titel Doctor Honoris (title Doctor Kehormatan) dalam ilmu jetatatnegaraan. Tatkala promotor Prof. Mr. Notonagoro mengucapkan pidatinya pada ucapan pemberian title Doctor Honoris Causa, pada waktu itu beliau berkata: “Saudara Soekarno kami menghadiakan kepada saudara title kehormatan Docotor Honoris Causa dalam ilmu ketatatanegaraan, oleh karena saudara pencipta Pancasila.”

Di dalam jawaban itu aku berkata: “Dengan terharu aku menerima title Doctor Honoris Causa yang dihadiakan kepadaku oleh Universitas Gajah mada, tetapi aku tolak dengan tegas ucapan Professor Notonagoro, bahwa aku adalah pencipta Pancasila.”

Aku bukan pencipta Pancasila. Pancasila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Aku hanaya menggali Pancasila daripada buminya bangsa Indonesia. Pancasila terbenam didalam bumi bangsa Indonesia 350 tahun lamanya. Aku gali kembali dan aku persembahkan Pancasila ini diatas persada bangsa Indonesia kembali.

Tidaklah benar, Saudara-saudara, bahwa kita sebelum ada Bung Karno, sebelum ada Republik Indonesia, sebenarnya telah mengenal akan Pancasila? Tidaklah benar kita dari dahulu mula telah mengenal Tuhan, hidup didalam alam ketuhanan Yang Maha Esa? Kita dahulu pernah menguraikan ini panjang lebar. Bukan anggitan baru, bukan karangan baru. Tetapi sejak dahulu mula bangsa Indonesia adalah satu bangsa pencipta kepada Ketuhanan. Yah.., kemudian Ketuhanan itu disempurnakan oleh agama-agama. Di sempurnakan oleh Agama Islam, disempurnakan oleh Agama Kristen. Tetapi dari dahulu mula kita adalah satu bangsa yang berketuhanan.

Demikian pula, tidaklah benar bahwa kita ini dari dahulu mula telah cinta kepada Tanah Air dan Bangsa? Hidup didalam alam kebangsaan? Dan bukan saja kebangsaan kecil, tetapi kebangsaan Indonesia. Hai.., Engkau pemuda-pemuda, pernah engkau mendengar nama kerajaan Mataram? Kerjaaan Mataram yang memebuat candi-candi Prambanan, candi Brobuduru? Kerajaan mataram kedua di waktu itu dibawah pimpinan Sultan Agung Hanjokrokusumo? Tahukah suadara-saudara akan arti perkataan Mataram? Jikalau tidak tahu maka aku akan berkata kepadamu “Mataram berarti Ibu”. Masih ada persamaan perkataan Mataram itu, misalnya perkataan Metter di dalam bahasa Jerman, Ibu, Mother dalam bahasa Inggris, Ibu. Moeder dalam bahasa Belanda, Ibu. Mater dalam bahasa Latin, Ibu. Mataram berarti Ibu.
Demikian kita cinta kepada Bangsa dan Tanah Air dari zaman dahulu mula, sehingga negeri kita, negara kita, kita putuskan Mataram.

Rasa kebangsaa, bukan rasa baru bagi kita. Mungkinkah mempunyai kerajaan seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dahulu, jikalau kita tidak mepunyai rasa kebangsaan yang berkobar-kobar di dalam dada kita?

Yaaah.., kata pemimpin besar yang bernama Gajah Mada.Sang Maha Patih Ihino Gajah mada. Benar, kita mempunya pemimpin besar itu. Benar, pemimpin besar itu telah bersumpah satu kali, tidak akan makan kelapa jikalau belum segenap kepulauan indonesia tergabung di dalam satu negara yang besar. Benar, kita mempunyai pemimpin yang besar itu. Tetapi apakah pemimpin ini yang sebenarnya pencipta dari pada kesatuan kerajaan Majapahit? Tidak!

Pemimpin besar sekedar adalah sambungan lidah daripada rasanya rakyat jelata. Tidak ada satu orang pemimpin besar, walaupun besarnya bagaimanpun juga, bisa membentuk negara yang sebesar majapahit – ialah satu negara yang besar, yang wilayahnya dari Sabang samapai ke Marauke, bahakan samapai ke daerah Philipina sekarang.

Katakanlah Bung Karno pemimpin besar atau pemimpin kecil, pemimpin gurem atau yang bagaimana, tetapi jikalau ada yang berkata: “Bung Karno yang mengadakan Republik Indonesia.“ Tidak Benar!!! Jangan pun satu Soekarno, sepeuluh Soekarno, seratus Soekarno, seribu Soekarno tidak akan bisa membentuk negara Republik Indonesia, jikalau segenap rakayat jelata Republik Indonesia tidak berjuang mati-matian!”

Kemerdekaaan adalah hasil dari segenap perjuangan rakyat. Maka itu pula menjadi pikiran Bapak, negara Republik Indonesia ini bukan milik satu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang samapai ke marauke! Perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini dijalankan oleh semua bangsa Indonesia.

Aku melihat didalam daerah-daerah yang kukunjungi, dimana pun aku datang, aku melihat Taman-taman Pahlawan. Bukan saja di bagian-bagian yang beragama Islam, tetapi juga di bagian-bagian yang beragama Kristen. Aku melihat Taman-taman Pahlawan dimana-mana. Di sini di Surabaya, pada tanggal 10 november tahun 1945 siapa yang berjuang d sini???

Segenap pemuda-pemudi, kyai, kaum buruh, kaum tani, segenap rakyat Surabaya berjuang dengan tiada perbedaan agama, adat-istiadat, golongan atau suku.

Rasa kebangsaan kita sudah sejak dari zaman dahulu, demikian pula rasa prikemanusiaan. Kita bangsa Indonesia adalah satusatunya bangsa di dalam sejarah dunia, satu-satunya bangsa yang tidak pernah menjajah bangsa lain adalah bangsa Indonesia. Aku tantang orang-orang ahli sejarah yang bisa membuktikan, bahwa bangsa Indonesia pernah menajjah kepada bangsa lain.

Apa sebab? Oleh karena bansa Indonesia diatas dasar perikemanusiaan sejak dari zaman dahulu. Dari zaman Hindu kita sudah mengenal perikemanusiaan. Disempurnakan lagi rasa perikemanusiaan itudengan agama-agama yang kemudian.

Di dalam zaman Hindu kita telah mengenal ucapan: “Tat Twam Asi”. Apa artinya Tat Twam Asi? Tat Twam Asi berarti “Aku adalah dia”, dia adalah aku”. Dia pakai, aku ikut pakai. Dia senang, aku ikut senang. Aku senang, dia ikut senang. Aku sakit, dia ikut sakit. Tat Twam Asi–perikemanusiaan.

Kemudian datanglah disini agama Islam, mengajarkan pada perikemanusiaan pula. Malah lebih sempurnah. Diajarkan kepada kita akan ajaran-ajaran fardhukifayah, kewajiban-kewajiban yang dipikulkan kepada seluruh masyarakat. Misalnya, jikalau ada orang mati di kampungmu dan kalau orang mati itu tiada terkubur, siapa yang dianggap berdosa, siapa yang dikatakan berdosa, siapa yang akan mendapatkan siksaan daripada dosa itu? Bukan sekedar kerabata famili daripada sang mati itu, Tidak! Segenap masyarakat disitu ikut bertanggung jawab.

Demikian pula dengan agama Kristen. Tidakkkah agama Kristen kita itu diajarkan: cinta kepada tuhan lebih dari pada segala sesuatu; dan cinta kepada manusia lebih daripada cinta kita sendiri: Hebs U naasten lief gelijk U zelve, God boven alles”. Jadi rasa kemanusiaan bukan barang baru bagi kita.

Demikian pula rasa kedaulatan rakyat. Apa sebab pergerakan Nasional Indonesia laksana api mencetus dan meledakan segenap rasa kebangsaan Indonesia? Oleh karena pergerakan nasional Indonesia itu berdiri diatas dasar kedaulatan rakayat. Engkau ikut berjuang! Dai dahulu malu kita gandrung kepada kedaulatan rakayat. Apa sebab engkau ikut berjuang? Oleh karena engkau merasa memperjuangkan dasar kedaulatan rakyat.

Bangsa Indonesia dari dahulu mula telah mengenal kedaulatan rakayat, hidup di dalam alam kedaulatan rakayat. Demokrasi bukan barang baru bagi kita. Demikian pula cita-cita keadilan sosial, bukan cita-cita baru bagi kita. Jangan kira, bahwa cita-cita keadilan sosial itu buatan Bung Karno, Bung hatta, atau komunis atau kaum serikat rakyat, kaum sosialis, Tidak!

*) Pidato di Surabaya, 24 September 1955.

Apa Sebab Negara Republik Indonesia Berdasarkan Pancasila (Bagian Pertama)



Oleh : Ir. Soekarno

SAUDARA-SAUDARAKU sekalian

Saya adalah orang islam, dan saya keluarga Negara Republik Indonesia. Sebagai orang islam, saya menyampaikan salami slam kepada saudara-saudara sekalian, “assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sebagai warga Republik Indonesia, saya menyampaikan kepada saudara-saudara sekalian, baik yang beragama islam, baik beragama Hindu-Bali, baik yang beragama lain, kepada saudara-saudara sekalian saya menyampaikan salam nasional “Merdeka”!

Tahukah saudara-saudara, arti perkataan “salam” sebagai bagian daripada perkataan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu? Salam artinya damai, sejahtera. Jikalau kita menyebutkan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, berarti damai dan sejahterahlah sampai kepadamu. Dan moga-moga rahmat dan berkat Allah jatuh kepadamu. Salam ber-arti damai, sejahtera. Maka oleh karena itu, saya minta ke-pada kita sekalian untuk merenungkan benar-benar akan arti perkataan “assalamu alaikum”.

Salam—damai—sejahtera!
Marilah kita bangsa Indonesia terutama sekalian yang beragama islam hidup damai dan sejahtera satu sama lain. Jangan kita bertengkar terlalu-lalu sampai membahayakan persatuan bangsa. Bahkan jangan kita sebagai gerombolan-gerombolan yang menyebutkan assalamu alaikum, akan tetapi membakar rumah-rumah rakyat.

Salam—damai—sejahtera! Rukun—bersatu! Terutama sekali dalam didalam revolusi nasional kita belum selesai ini.

Dan sebagai warganegara yang merdeka, saya tadi memekikkan pekik “Merdeka” bersama-sama dengan kamu. Kamu yang beragama islam, kamu yang beragama Kristen, kamu yang beragama Syiwa Buddha, Hindu-Bali atau agama lain. Pekik merdeka adalah pekik yang membuat rakyat Indonesia itu, walaupun jumlahnya 80 juta, menjadi bersatu tekad, memenuhi sumpahnya “sekali merdeka tetap merdeka”!

Pekik merdeka, saudara-saudara, adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imprealisme—dengan tiada ikatan penjajahan sedikit pun. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional belum selesai, jangan lupa kepada pekik merdeka! Tiap-tiap kali kita berjumpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “merdeka”!

Tatkala aku mengadakan perjalanan ke tanah suci beberapa pekan yang lalu, aku telah diminta oleh khalayak Indonesia dikota Singapura untuk mengadakan amanat kepada mereka. Ketahuilah, bahwa di Singapura itu berpuluh-puluh ribu orang Indonesia berdiam. Mereka bergembira, bahwa Presiden Republiknya lewat Singapura. Mereka menyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia itu dengan gegap-gempita, dan diminta kepada Presiden Republik Indonesia untuk memberikan amanah kepadanya. Didalam amanah itu beberapa kali dipekikkan pekik “merdeka”.

Apa lacur? Sesudah bapak meneruskan perjalanan ke Bangkok ke Rangoon, ke New Delhi, Karachi, ke Bagdad, ke Mesir, ke Negara Saudi Arabia, sesudah bapak meninggalkan kota Singapura, geger….pers imprealisme Singapura, saudara-saudara. Mereka berkata: “Presiden Soekarno kurang ajar”. Presiden Soekarno menjalankan ill-behavior, katanya. ill-behavior itu artinya tidak tau kesopanan. Apa sebabnya pers imprealisme mengatakan bapak menjalankan ill-behavior, kurang ajar? Kata mereka, toh tahu Singapura ini bukan negeri merdeka? Toh tahu, bahwa disini masih didalam kekuasaan asing, kok memekikkan pekik “merdeka”?

Tatkala bapak kembali dari tanah suci, singgah lagi di Singapura, bapak dikeroyok oleh responden-responden dan wartawan-wartawan. Mereka menanyakan kepada bapak: “Tahukah PYM Presiden, bahwa tatkala PYM Presiden meninggalkan kota Singapura ddalam perjalanan ke Mesir dan tanah suci, PYM dituduh kurang ajar, kurang sopan, ill-behavior, oleh karena PYM memekikkan pekik merdeka dan mengajarkan kepada bangsa Indonesia disini memekikkan pekik merdeka? Apa jawab Paduka Yang Mulia atas tuduhan itu?”

Bapak menjawab: “jikalau orang Indonesia berjumpa dengan orang Indonesia, warganegara Republik Indonesia berjumpa dengan warganegara Republik Indonesia, pendek kata jikalau orang Indonesia bertemu dengan orang Indonesia selalu memekikkan pekik “merdeka”! Jangankan di sorga, didalam neraka pun”!

Nah…saudara-saudara dan anak-anakku sekalian, jangan lupa akan pekik merdeka itu. Gegap-gempitakan tiap-tiap kali pekik merdeka itu. Apalagi sebagai bapak katakan tadi dalam fase revolusi nasional kita yang belum selesai. Dus kuulangi lagi, sebagai manusia yang beragama islam, aku menyampaikan kepadamu salam “assalamu alaikum!” sebagai warganegara Republik Indonesia, aku menyampaikan kepadamu “merdeka!”

Saudara-saudara, aku pulang dari Bali—beristirahat beberapa hari disana—diminta oleh Kongres Rakyat Jawa Timur untuk pada inti malam memberikan sedikit ceramah, wejangan, amanah, terutama sekali mengenai hal “apa sebabnya negara Republik Indonesi berdasarkan kepada Pancasila? Dan memberikan penerangan tentang hal Panca Dharma.

Tadi, tatkala aku baru masuk gedung Gubernuran ini, hati kurang puas. Apa sebab? Terlalu jauh jarak rakyat dengan bung Karno. Maka oleh karena itulah saudara-saudaraku dan anak-anakku sekalian, maka bapak minta kepadamu pimpinan agar supaya saudara-saudara diberi izin lebih dekat. Sebab, saudara-saudara tahu isi hati bapak ini, isi hati Presiden, isi hati bung Karno, kalau jauh daripada rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari pertapaannya.

Permintaan Kongres Rakyat untuk memberikan amanat kepada saudara-saudara, insya Allah saya kabulkan. Dan dengarkan benar, aku berpidato disini bukan sekedar sebagai Soekarno. Bukan sekedar sebagai bung Karno. Bukan sekedar sebagai pak Karno. Aku berpidato disini sebagai Presiden Republik Indonesia! Sebagai Presiden Republik Indonesia aku diminta memberi penjelasan tentang Pancasila. Apa sebabnya negara Republik Indonesia didasarkan atasa Pancasila?

Apa sebab? Tak lain dan tak bukan ialah oleh karena aku ini Presiden Republik Indonesia disumpah atas Undang-Undang dasar kita. Saya tadi berkata, bahwa saya memenuhi permintaan Kongres Rakyat Jawa Timur dengan penuh kesenangan hati, ialah oleh karena saya ini sebagai Presiden Republik disumpah atas dasar Undang-Undang dasar kita. Disumpah harus setia kepada Undang-Undang dasar kita. Didalam Undang-Undang dasar kita, dicantumkan satu mukadimah, kata pendahuluan. Dan didalam kata pendahuluan itu dengan tegas disebutkan Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan Indonesia yang bulat, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”. Malahan bukan satu kali ini Pancasila itu disebutkan didalam Undang-Undang dasar kita. Sejak kita didalam tahun 1945 telah berkemas-kemas untuk menjadi suatu bangsa yang merdeka, sejak itu kita telah mengalami empat kali naskah.

Sebelum kita mengadakan proklamasi 17 agustus, sudah ada naskah. Kemudian pada tanggal 17 agustus, satu naskah lagi. Kemudian tatkala RIS dibentuk, satu naskah lagi. Kemudian sesudah itu, tatkala kita kembali kepada zaman Republik Indonesia Kesatuan, satu naskah lagi. Empat kali naskah, saudara-saudara. Dan didalam keempat naskah itu dengan tegas disebutkan Pancasila.

Pertama, tatkala kita didalam zaman Jepang, kita telah berkemas-kemas didalam tahun 1945 itu untuk menjadi bangsa yang merdeka. Pada waktu itu telah disusunlah satu naskah yang dinamakan “Charter Jakarta”. Didalam Charter Jakarta ini telah disebutkan dengan tegas lima azas yang hendak kita pakai sebagai pegangan untuk negara yang akan datang. “Ketuhanan yang maha esa, Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”.

Demikian pula tatkala kita telah memproklamirkan kemerdekaan kita pada tanggal 17 agustus 1945, dengan tegas pula keesokan harinya, saudara-saudara, kukatakan dengan Undang-Undang Dasar yang kita pakai ini. Yaitu undang-undang dasar yang kita rencanakan pada waktu zaman Jepang dibawah ancaman bayonet Jepang; kita rencanakan satu undang-undang dasar daripada negara Republik Indonesia yang kita proklamasikan pada tanggal 17 agustus 1945. Dan didalam Undang-Undang Dasar itu dengan tegas dikatakan Pancasila: “Ketuhanan yang maha esa, Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”.

Tatkala berhubung dengan jalannya politik, negara Republik Indonesia Serikat dibentuk (RIS), pada waktu itu dibentuklah Undang-Undang Dasar RIS. Dan didalam mukadimah Undang-Undang Dasar RIS ini disebutkan lagi dengan tegas Pancasila.

Kita tidak senang dengan federal-federalan. Segenap rakyat akan memprotes akan adanya susunan ini. Delapan bulan susunan federal ini. Delapan bulan susunan RIS berdiri, hancur lebur RIS, berdirilah negara Republik Indonesia Kesatuan. Dan Undang-Undang Dasar yang dipakai RIS ini diubah menjadi Undang-Undang Dasar Sementara daripada negara Republik Indonesia Kesatuan. Tetapi tidak diubah isi mukadimah yang mengandung Pancasila.

Jadi, dengan tegas, saudara-saudara, jelas! Empat kali didalam sepuluh tahun ini kita melewati empat naskah. Tiap-tiap naskah menyebutkan Pancasila. Dan tatkala aku dengan karunia Alla SWT dinobatkan menjadi Presiden, aku disumpah. Dan isi sumpah itu antara lain setia kepada Undang-Undang Dasar. Maka oleh karena itulah, saudara-saudara, rasa sebagai kewajiban jikalau diminta oleh sesuatu golongan akan keterangan tentang Pancasila, memenuhi permintaan itu.

Dan pada ini malam dengan mengucap suka syukur kehadira Allah SWT, aku berdiri dihadapan saudara-saudara. Berhadap-hadapan muka dengan kaum buruh, dengan pegawai, rakyat jelata, Pihak Angkatan Laut Republik Indonesia dan pihak tentara, dengan pihak Mobrig, pihak polisi, pihak perintis, dengan pemuda, dengan pemudi, berdiri dihadapan saudara-saudara dan anak-anak sekalian, yang telah datang membanjiri lapangan yang besar ini laksana air hujan. Aku mengucap banyak terima kasih kepadamu. Dan insya Allah, saudara-saudara, aku akan terangkan kepadamu tentang apa sebab negara Republik Indonesia didasarkan Pancasila.

Saudara-saudara. Ada yang berkata Pancasila ini hanya sementara! Yah….jikalau diambil didalam arti itu, memang Pancasila adalah sementara. Tetapi bukan saja Pancasila adalah sementara, bahkan ketentuan didalam Undang-Undang Dasar kita, bahwa Sang Merah Putih bendera kita, itupun sementara! Segala Undang-Undang Dasar kita sekarang ini adalah sementara.

Tidakkah tadi telah kukatakan, bahwa Undang-Undang Dasar yang kita pakai sekarang ini, malahan disebut Undang-Undang Dasar Sementara daripada negara Republik Indonesia? Apa sebab sementara? Yah…..oleh karena akhirnya nanti yang akan menentukan segala sesuatunya ialah konstituante.

Maka itu saudara-saudara, kita akan mengadakan pemilihan umum dua kali. Pertama, pada tanggal 29 september nanti, insya Allah, untuk memilih DPR. Kemudian pada tanggal 5 desember untuk memilih konstituante adalah Badan pembentuk Undang-Undang Dasar. Undang-Undang Dasar yang tetap. Konstituante adalah pembentuk konstitusi. Konstitusi berarti Undang-Undang Dasar. Undang-Undang Dasar tetap bagi negara Republik Indonesia, yang sampai sekarang ini segala-segalanya masih sementara.

Tetapi, saudara-saudara, jikalau ditanya kepadaku “Apa yang berisi kalbu bapak ini akan permohonan kepada Allah SWT? Terus terang aku berkata, jikalau saudara-saudara membelah dada bung Karno ini, permohonanku kepada Allah SWT ialah, saudara-saudara bisa membaca didalam dada bung Karno memohon kepada Allah SWT supaya negera Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila.

Yah…benar, bahwa segal sesuatunya adalah sementara. Tetapi aku berkata, bahwa Sang Merah Putih adalah sementara, adalah bendera Republik Indonesia pun sementara. Dan jikalau nanti konstituante bersidang, insa Allah, Saudara-saudaraku, siang dan malam bapak memohon kepada Allah SWT agar supaya konstituante tetap menetapkan bendera Sang Merah sebagai bendera negara Indonesia.

Aku minta kepadamu sekalian, janganlah memperdebatkan Sang Merah Putih ii . jangan ada satu pihak yang mengusulkan warna lain sebagai bendera Republik Indonesia.

Tahukah saudara-saudara, bahwa warna Merah Putih ini bukan buatan Republik Indonesia? Bukan buatan kita dari zaman pergerakan nasional. Apalagi bukan buatan bung Karno, bukan buatan bung Hatta! Enam ribu tahun sudah kita mengenal akan warna Merah Putih ini. Bukan beribu tahun, bukan dua ribu tahun, bukan tiga ribu tahun, bukan empat ribu tahun, bukan enam ribu tahun! Enaaaam….ribu tahun kita telah mengenal warna Merah Putih!

Tatkala disini belum ada agama Kristen, belum ada agama Islam, belum ada agama Hindu, bangsa Indonesia telah mengagungkan warna Merah Putih. Pada waktu itu kita belum mengenal Tuhan dalam cara mengenal sebagai sekarang ini. Pada waktu itu yang kita sembah adalah matahari dan bulan. Pada waktu itu kita hanya mengira, bahwa yang memberi hidup itu matahari. Siang matahari, malam bulan. Matahari merah, bulan putih. Pada waktu itu kita telah mengagungkan warna Merah Putih.

Kemudian bertambah kecerdasan kita. Kita lebih dalam menyelami akan hidup di alam ini. Kita memperhatikan segala sesuatu didalam alam ini dan kita melihat. Oh, alam ini ada yang hidup bergerak, ada yang tidak bergerak. Ada manusia dan binatang, makhluk-makhluk yang bergerak. Ada tumbuh-tumbuhan yang tidak bisa bergerak. “manusia dan binatang itu darahnya merah. Tumbuh-tumbuhan darahnya putih”. Getih-getah. Cuma i diganti a. Dulu kita mengagungkan matahari dan bulan yang didalam alam Hindu dinamakan Surya Chandra. Kemudian kita mengagunkan getah-getih. Merah-Putih, saudara-saudara, itu adalah fase kedua.

Fase ketiga, manusia mengerti akan kejadian manusia. Mengerti, bahwa kejadian manusia ini adalah daripada perhubungan laki dan perempuan, perempuan dan laki. Orang mengerti perempuan adalah merah, laki adalah putih.

Dan itulah sebabnya maka tidak turun-temurun mengagungkan merah putih. Apa yang dinamakan “gula-kelapa”, mengagungkan bubur bang putih. Itulah sebabnya maka kita kemudian tatkala kita, mempunyai negara-negara setelah mempunyai kerajaan-kerajaan, memakai merah putih itu sebagai bendera negara. Tatkala kita mempunyai kerajaan Singosari, merah putih telah berkibar terus dirampas oleh imprealisme asing. Tetapi didalam dada kita tetap hidup kecintaan kepada merah putih.

Dan tatkala kita, mengadakan pergerakan nasional sejak tahun 1908, dengan lahirnya Budi Utomo dan diikuti oleh Serikat Islam, oleh NIP (National Indische Party), oleh ISDP oleh PKI, oleh Serikat Rakyat, oleh PPPK, oleh PBI, oleh Parindra, dan lain-lain, maka rakyat Indonesia tetap mencintai merah putih sebagai warna benderanya.

Dan tatkala kita pada tanggal 17 agustus 1945 memproklamirkan kemerdekaan itu, dengan resmi kita menyatakan sang merah putih adalah bendera kemerdekaan kita.

Itu semua jika dikatakan sementara, ya sementara ! sebab konstituante belum bersidang. konstituate mau mengubah warna ini?? lho, kok menurut haknya, boleh saja. Sebab konstituante itu adalah kekuasaan kita yang tertinggi. penyusun, pembentuk konstitusi. Jadi konstituante misalnya hendak menentukan warna bendera Negara Republik Indonesia bukan merah putih, yah mau dikatakan apa?

Tetapi bapak berkata, bapak memohon kepada allah swt agar supaya warna merah putih tetap menjadi warna bendera bendera republik Indonesia.

Kembali lagi kepada Indonesia. Jika dikatakan sementara, yaaa….sementara!

Lagi-lagi bapak berkata ini berkata, allah swt, allah swt. Dan bapak pun bersyukur kehadirat allah swt, bahwa cita-cita bapak yang sudah bertahun-tahun untuk haji dikabulkan oleh allah swt. Lagi-lagi, allah swt.

Saudara-saudara, jikalau aku meninggalkan dunia nanti, ini hanya tuhan mengetahui, dan tidak bisa dielakkan semua orang, jikalau ditanya oleh malaikat: hai….Soekarno, tatkala engkau hidup di dunia, engkau telah mengerjakan beberapa pekerjaan. Pekerjaan yang paling engkau cintai? Pekerjaan apa yang paling engkau kagumi? Pekerjaan apa yang paling engkau ucapkan syukur kepada allah swt? moga-moga saudara-saudara aku bisa menjawab–ya…bisa menjawab demikian tau tidaknya itu tergantung dari pada allah swt: “tatkala aku hidup didunia ini, aku telah ikut membentuk negara republik Indonesia. Aku telah ikut membentuk satu wadah bagi masyarakat Indonesia”.

Sebagai sering kukatakan saudara-saudara, negara adalah wadah. Jikalau aku diberi karunia oleh allah swt mengerjakan pekerjaan satu ini saja, allahu akbar, aku akan berterima kasih setinggi langit. Yaitu untuk pekerjaan ini saja, ikut membentuk wadah. Wadahnya, wadahnya saja yang bernama negeri ini. Didalam wadah ini ada masyarakat. Wadah yang dinamakan negara ini adalah wadah untuk masyarakat.

Membentuk wadah adalah lebih mudah daripada membentuk masyarakat. Membentuk wadah adalah sebenarnya bisa dijalankan dalam satu hari—wadah yang bernama negeri itu.

Tidaklah, saudara-saudara, dari sejarah dunia kadang-kadang mendengar, bahwa oleh suatu konperensi kecil sekonyong-konyong diputuskan dibentuk negara ini, dibentuk negara itu. Misalnya, dahulu sesudah peperangan dunia yang pertama, tidakkah negara Cekoslowakia sekedar dengan coretan pena dari suatu konperensi kecil. Membentuk negara…., gampang! Dulu disini pernah dibentuk negara Indonesia Timur, negara Pasundan, hanya dengan dekrit Van Mook, saudara-saudara! Tetapi mencoba membentuk masyarakat, susah!.

Membentuk masyarakat, kita harus bekerja siang dan malam, bertahun-tahun, berpuluh-tahun, kadang-kadang berwindu-windu, berabad-abad. Masyarakat apapun tidak gampang dibentuknya. Itu meminta pekerjaan kita terus menerus. Baik masyarakat islam, maupun masyarakat kristen maupun sosialis. Bukan bisa dibentuk dengan satu dekrit saudara-saudara, dengan satu tulisan, dengan satu unjau nafas manusia. Membentuk masyarakat makan waktu!

Yah…, aku bermohon kepada tuhan, diperbolehkanlah hendaknya ikut membentuk masyarakat pula. Masyarakat di dalam wadah itu.

Tetapi aku telah bersyukur seribu syukur kepada tuhan, jikalau nanti aku bisa menjawab kepada malaikat itu, bahwa hidupku di dunia ini antara lain-lain ialah telah ikut membentuk wadah ini saja. Membentuk wadah yang bernama negara dan wadah ini buat suatu masyarakat yang besar. Walaupun rapat ini lebih daripada satu juta manusia saudara-saudara, wadah ini bukan kok cuma buat satu juta manusia itu saja. Tidak! wadah yang bernama negara, negara yang bernama republik Indonesia itu adalah wadah untuk masyarakat Indonesia yang 80 juta, dari sabang sampai marauke! Dan masyarakat Indonesia ini adalah beraneka ragam, beraneka adat-istiadat, beraneka suku. Bertahun-tahun aku ikut memikirkan ini. Nanti jikalau allah swt memberikan kemerdekaan kepada kita, dulu berpikiran demikianlah bapak, jikalau negara republik Indonesia telah berdiri, segenap rakyat Indonesia yang 80 juta. Negara harus didasarkan apa?

Tatkala aku masih berumur 25 tahun, aku telah memikirkan hal ini. Tatkala aku aktif didalam pergerakan, aku lebih-lebih lagi memikirkan hal ini. Tatkala dalam zaman Jepang, tetapi oleh karena tekad kita sendiri, usaha kita sendiri, pembantingan tulang sendiri, korbanan kita sendiri, tatkala fajar telah menyinsing, lebih-lebih kupikirkan lagi hal ini. Wadah ini hendaknya jangan retak. Wadah ini hendaknya utuh sekuat-sekuatnya. Wadah untuk segenap rakyat Indonesia, dari sabang sampai marauke yang beraneka agama, beraneka suku beraneka adat-istiadat.

Sekarang aku menjadi presiden republik Indonesia adalah karunia tuhan. Aku tidak menyesal, bahwa aku telah memfomulirkan pancasila. Apa sebabnya? barangkali lebih daripada siapa pun di Indonesia ini, aku mengetahui akan keanekaan bangsa Indonesia ini, aku mengetahui publik Indonesia aku berkesempatan sering-sering untuk melewat ke daerah-daerah. Sering-sering aku naik kapal udara. Malahan jikalau didalam kapal udara aku sering-sering, katakanlah, main gila dengan pilot. Pilot terbanglah tinggi, lalu akan tanya kepadanya:
“Saudara pilot, berapa tinggi ?”
“12.000 kaki paduka yang mulia”
“kurang tinggi, naikkan lagi”
“13.000 kaki”
“Hahaa…kurang tinggi bung!”
“14.000 kaki”
“kurang tinggi!”
“15.000 kaki”
“kurang tinggi”
“16.000 kaki”
“kurang tinggi”
“17.000 kaki”
“kurang tinggi”

“sudah tidak bisa lagi, paduka yang mulia. Kapal udara kita sudah mencapai plafon’.

Plafon itu ialah tempat yang setinggi-tingginya bagi kapal udara itu.

Aku terbang dari barat ke timur, dari timur ke barat. Dari utara ke selatan, dari selatan ke utara. Aku melihat tanah air kita. Allahu akbar, cantiknya bukan main! dan bukan saja cantik, sehingga benarlah apa yang diucapkan oleh Multatuli didalam kitab “Max Havelar”, bahwa Indonesia ini adalah demikian cantiknya, sehingga ia sebutkan “Indulinde de zich daar slingert om den evenaar als een gordel van smaragd”. Indonesia yang laksana ikat pinggang terbuat daripada zamrud berlilit-lilit sekeliling khatulistiwa! Indahnya demikian.

Ya…, memang saudara-saudara, jikalau engkau terbang 17.000 kaki diangkasa dan melihat kebawah, kelihatan betul-betul Indonesia ini adalaha sebagai ikat pinggang yang terbuat dari zamrud, melilit mengelilingi khatulistiwa, berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu-ribu pulau saudara melihat. Dan tiap-tiap pulau itu berwarna-warna. Ada yang hijau kehijauan, ada yang kuning kekuningan. Indah permai tanah air kita ini, saudara-saudara. Lebih daripada 3.000 pulau, bahkan kalau dihitung dengan yang kecil-kecil, 10.000 pulau.

*)Pidato di Surabaya, 24 September 1955

Marhaenisme Sebagai Marxisme Yang Diterapkan (Bagian Terakhir)



Oleh : Ir. Soekarno

Dan ini saudara-saudara, terus terang saja, ini yang ditakuti, ditakuti oleh musuh kita. Sudahlah jelas kepada saudara-saudara, bahwa perubahan sikap musuh kita itu karena konfrontasi politik kita? Dulu kita laksana dikentuti saudara-saudara, -maaf perkataan saya ini-oleh musuh kita. Tatkala kita tidak menyusun macht dan tidak akan menggunakan macht, tidak menjalankan machtvorming, tidak menjalankan machtsaanwending. Tatkala kita menyandarkan diri kita kepala hanya diplomasi, tatkala kita menyandarkan diri kita kepada anggar-lidah saja. Tatkala kita menyandarkan diri kita kepada PBB, kita selalu dikentuti oleh kaum imprealis. Bukan saja imprealis Belanda, tetapi imprealis, imprealis, imprealis seluruh dunia saudara-saudara. Boleh dikatakan mengkentuti kepada kita-maaf kalau saya memakai perkataan ini. Tetapi tidak ada lain gambaran yang lebih jelas daripada perkataan ini. Tetapi sikap ini saudara-saudara, sikap mereka ini berubah sudah, sesudah kita mengadakan konfrontasi politik, bahkan saudara-saudara konfrontasi politik ini harus memuncak lagi kepada benar-benar machtsaanwending.

Didalam pidato saya kepada saudara-saudara yang hadir pada peresmian pembukaan Subcritical Anatomic Reactor di Yogyakarta, saya sudah berkata : kata dulu, kemudian pukir, sekarang harus bertindak. “Woord, gedachte, daad”. Kata, pikir, tindak. Sekarang kita disini saudara-saudara, tindak, tindak, sekali lagi tindak, dan ini yang ditakuti oleh musuh kita.

Gubernur Belanda di Irian Barat, namanya Plattel saudara-saudara, Plattel, pernah dia berpidato….itu kan Cuma “bluff” saja. Hhh, Indonesia menjalankan itu tenaga politik, akan memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaannya, dengan betul-betul kekerasan. Satu minggu kemudian saudara-saudara, Plattel berkata lagi, bahwa dia akan mengungsikan orang-orang Belanda dari Irian Barat. Lho….bahwa Indonesia cuma gertak sambel yang besar.

Saya pernah juga diplakati satu Negara tetangga, dekat sini, diplakat tidak tahu siapa yang mlakat barangkali ya Belanda mlakat. Bunyinya plakat itu, “Soekarno bohong besar”. Saya tanya kepadamu apa saya bohong besar saudara-saudara !! (Tidak, jawab hadirin-red). Tidak, ini boleh dicatat dan dikatakan kepada pemerintah-pemerintahnya, bahwa Soekarno disini benar-benar menjadi penyambung lidah daripada rakyat Indonesia. Bukan dia cuma “bluff”.

Kita benar-benar saudara, tidak main-main didalam hal ini, dan saya keluarkan, sudah saya sambungkan dengan pidato saya membuka Subcritical Atomic Reactor pun sudah saya keluarkan, sudah saya sambungkan dengan pidato yang ilmiah. Karena Subcritical Atomic Reactor adalah satu hal ilmiah yang mengenai atom dan lain-lain sebagainya, dan oleh karena duduk disitu professor-profesor, mahasiswa-mahasiswa, saya gambarkan bahwa ada satu hukum didalam ilmu fisika itu dinamakan hukum Maxwell. Hukum Maxwell, orangnya yang mendapatkan hukum itu bernama Maxwell adalah begini, coba hebat apa tidak. Dan saya punya maha guru pada waktu itu memang dia dengan tepat berkata, dalam bahasa asing, “de geweldige wet van Maxwell”, wet hokum Maxwell yang hebat, maha hebat ini katanya. Bagaimana itu hukum Maxwell? Begini : kalau ton; saya tekan, karena tekanannya satu ton ini serambi muka daripada Istana Merdeka satu kilometer dari sini, bergerak satu kilometer. Saya tekankan disini dengan 1 ton, 1000 kilogram, disana bergerak satu kilometer. Maka sebaliknya, jikalau saya diserambi muka Istana Merdeka menekan disana dengan berat satu ton, microphone ini juga bergerak satu kilometer. Satu ton disini, sana 1 meter bergerak. Satu ton disana, satu millimeter disini bergerak. Ini adalah hukum Maxwell yang hebat, yang maha hebat. “Dit is de geweldige wet van Maxwell”.

Didalam pidato saya tarik terus garis, garis diatas politik moral. Moralitteit politiek. Saya adakan hukum Maxwell didalam moralitteit politiek. Artinya, jikalau pihak Belanda menjalankan kekerasan kepada Belanda di Irian Barat.
Hukum timbal balik. Yang sudah diterangkan oleh Bapak Menteri Luar Negeri Soebandrio—ada pak Soebandrio disini. Ada….duduknya wa dekat bu Subandrio.

Saudara Subandrio di PBB dengan jelas berkata, Irian Barat itu wilayah kita. Wilayah kita, oleh karena itu—saya sambung sebentar, saya selalu berkata—janganlah berkata memasukkan Irian Barat kedalam wilayah Republik. Itu perkataan adalah salah. Oleh karena Irian Barat sudah wilayah Republik, tidak perlu dimasukkan dalam wilayah Republik lagi. Saudara-saudara, masih ada saja yang berkata, ya masukkan Irian Barat kedalam wilayah Republik. Tapi Belanda menduduki wilayah itu dengan kekerasan senjata. Belanda disana mempergunakan ia punya meriam, mempergunakan ia punya militairemacht, mempergunakan ia punya pedang dan mesiu, menduduki wilayah kita.

Nah, lantas pak Bandrio berkata kepada PBB, jikalau PBB, membenarkan pihak Belanda menduduki wilayah kita dengan kekerasan senjata, dia berkata, illegale occupatie. Ya itukah occupatie daripada wilayah kita, malahan juga illegale occupatie, yaitu tidak menurut hukum, dengan kekerasan senjata.

Nah, maka oleh karena itu, jikalau Gubernur Plattel berkata, hh…bluff, ya, dengan tandas saya berkata, jangan anggap ini “bluff” saudara-saudara. Tetapi disini tempatnya saya tandaskan sekali lagi sebagai dikatakan oleh pak Bandrio juga, jikalau Belanda ia meneruskan punya niat untuk mendirikan Negara Papua, kita akan mempergunakan kekerasan untuk membatalkan perkataan itu. Karena itu, saya memberi komando, hayo gagalkan pendidirian Negara Papua, hayo kibarkan bendera Sang Merah Putih di Irian Barat dan didalam pidato saya pada hari ibu atau pada saya sudah lupa—saya tandaskan sekali lagi, sekali, sekali lagi, sekali lagi, juga kepada diplomat-diplomat asing, jangan mencoba mengajak kita, “persuade” untuk berunding dengan Belanda “ins Blaue hincin”. Berunding dengan Belanda tanpa dasar. Saya dengan tegas berkata, kita hanya bersedia berunding atas dasar penyerahan kekuasaan daripada tangan Belanda kepada Indonesia.

Yah, katan pada pemerintah-pemerintah saudara-saudara. Tegas bung Karno, Presiden Soekarno berkata kepada kami, jangan mencoba untuk persuade Indonesia. Persuade itu apa ? Membujuk Indonesia, mengajak Indonesia untuk mau berunding dengan Belanda “ins Blaue hincin” atas dasar apa, tidak terang. Hooo, ini saya tahu anjurkan sekarang ini dan pihak Belanda pun sudah menerangkan mau berunding dengan Indonesia tanpa dasar. Dan kita berkata dengan tegas, kita tidak mau berunding atas dasar penyerahan kekuasaan.

Kan sudah terang saya ucapkan dalam pidato RE-SO-PIM, dalam pidato Beograd dimuka konfrensi Non Aligned Nations, dimuka mahasiswa-mahasiswa di Tokyo, dengan tegas saya katakana, bahwa kita sudah mengulurkan tangan; mengulurkan tangan bagaimana? Dulu saudara-saudara, saya ulangi lagi biar terang gambling juga untuk Duta Besar-Duta Besar, dulu selalu kita berkata, eh mau bicara tentang kedaulatan. Saya sudah berkata, saya sekarang tidak akan bicara tentang kedaulatan. Saya mau bicara menuntut penyerahan administration, penyerahan kekuasaan, penyerahan pemerintahan di Irian Barat kepada kita. Ini uluran tangan saya. Malahan uluran tangan saya ini tidak saya tujukan kepada sekadar PM de Quay, tidak sekadar saya tujukan kepada Menteri Luar Negeri Luns, tidak saya tujukan kepada siapa pun juga, saya tujukan kepada seluruh rakyat Belanda di Nederland. Saya mengulurkan tangan, hayo serahkanlah pemerintahan atas Irian Barat kepada Indonesia, but we shall be good friends.

Tegas bagi kaum diplomat disini, jangan coba persuade kita untuk berunding dengan Belanda “ins Blaue hincin”. Dan jangan mencoba kita untuk suka menerima ide “self-determination”. Ide penentuan nasib sendiri sebagai yang digembor-gemborkan oleh Luns dan sebagai diulang-ulang sampai sekarang oleh pihak Belanda. Bahwa ia mau berunding dengan Indonesia tetapi atas dasar “self-determination”. Kan sudah saya terangkan dengan jelas, “self-determination” itu ada dua, “external self-determination”, “internal self-determination”. “self-determination” yang dipaksakan dari luar itu “external self-determination”. “internal self-determination” yang keluar dari kita sendirildan kita menolak “external self-determination” ini, oleh karena itu kita mengetahui bahwa “external self-determination” adalah tak lain dan tak bukan ialah neo-kolonialisme, neo-imprealisme, tipu muslihat mentah-mentahan.

Dengan tegas saya katakana, kita sudah mengalami, sudah mengalami “external self-determination”. Tatkala Van Mook misalnya, misalnya mengadakan he dengan rakyat Madura, “self-determination” rakyat Madura, bicara dengan haa terjadilah Negara Madura. Zoogemaamd bicara dengan Dr. Mansur, katanya, inilah rakyat Sumatra Timur, bicara, bicara, bicara “self-determination” Sumatra Timur, terjadilah Negara Sumatra Timur. Bicara, bicara, bicara “self-determination” dengan beberapa orang pemimpin dari Pasundan, dikatakan inilah “self-determination” rakyat Pasundan, terjadilah Negara Pasundan. Bicara dengan beberapa glintir orang Jawa Timur dikatakanlah inilah “self-determination” rakyat Jawa Timur, jadilah Negara Jawa Timur. Demikian pula bicara-bicara dengan orang-orang dari Indonesia Timur. Malahan, nah ini malahan dia berkata, tatkala di Denpasar dengan tegas mengatakan bahwa tidak ada maksud dari pihak Belanda untuk exclude, mengeluarkan, mengecualikan Irian Barat daripada penyatuan dengan seluruh bangsa Indonesia. Jelas yang dikatakan Van Mook di Denpasar. Malahan sebagai tahapan pertama Irian Barat itu dijadikan residentie Nieuw Guines, Resindentie Nieuw Guines dan perkataan residentie ini berarti bahwa kelak akan geincorporeerd dengan seluruh bangsa Indonesia.

Tetapi pada waktu itu Van Mook berkata, inilah “self-determination” daripada rakyat Indonesia Timur, terjadilah Negara Indonesia Timur.

Kita mengenal, kami mengenal, he tuan-tuan besar dari Negara-negara asing, kami mengenal “self-determination” itu, kami tolak dengan tegas “self-determination”, apalagi sebagai yang diusulkan oleh Luns. Dan didalam hal ini kami juga berkata, “please, please, please don’t tray to persuade us to accept self-determination for the people of Irian Barat”. Jangan mencoba mengajak kita, membujuk kita agar supaya kita mau menerima “self-determination” Irian Barat, bahwa kita harus menerima, bicara, bicara dengan Belanda atas dasar juga “self-determination”, tidak ! Dengan tegas kita berkata, dan saya sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia, sebagai Presiden Republik Indonesia, sebagai Panglima Tertinggi daripada seluruh Angkatan Perang Republik Indonesia, sebagai Mandataris MPRS, sebagai Panglima Besar memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik, sebagai Pemimpin Besar Revolusi, saya berkata dengan tegas dan tandas kami menolak untuk bicara “self-determination” dengan siapa pun.

Hanya dengan jalan demikianlah saudara-saudara kita akhirnya bisa memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik.

Kita memasuki satu tahapan daripada revolusi yang beslissend. Saya ulangi lagi kalau Partindo Berkata, berdiri dibelakang atau dimuka bung Karno. Jikalau Partindo berkata menjalankan Marhanisme ala Soekarno, ketahuilah he Partindo, bahwa saya alhamdulillah menurut anggapan saya selalu setia kepada Marhaenisme.

Saya bertanya kepadamu sekarang, apakah engkau pun selalu setia kepada Marhaenisme? Saya ulangi lagi, apakah engkau benar-benar radikal revolusioner, apakah engkau gandrung kepada Negara kesatuan Republik Indonesia yang berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke? Ya, gandrung. Ini bukan perkataan baru dari saya, perkataan gandrung saya ucapkan tahun 1927. Saya ulangi tahun 1928, saya ulangi tahun 1929, saya ulangi tahun 1930 dan seterusnya saya ulangi didalam zaman Republik. Saya gandrung Negara Republik Indonesia kesatuan yang berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Saya gandrung kepada satu masyarakat yang adil dan makmur, satu masyarakat yang didalamnya tiada orang yang menderita, satu masyarakat yang benar-benar sebagai diamanatkan oleh rakyat Indonesia kepada kami. Satu masyarakat yang memberikan kepuasan, kebahagiaan kepada rakyat Republik Indonesia. Saya gandrung, gandrung dalam arti, katakanlah dalam bahasa asing, boleh saya katakana saya ini menderita obsessie saudara-saudara. Obsessie idée Negara Republik Indonesia berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Obessie Negara sosialis. Obessie yang tiada lagi anak kecil menangis minta air susu daripada ibunya. Obessie tiada lagi orang Indonesia yang tidak mempunyai sinar lampu listrik didalam rumahnya. Obessie tiada lagi rakyat Indonesia, orang Indonesia yang tidak mempunyai radio didalam rumahnya. Obessie yang tiada lagi satu orang Indonesia yang berkata, pak aku lapar. Obessie bahwa segenap rakyat Indonesia didalam kehidupannya adalah terjamin, didalamnya kehidupannya benar-benar sesuai dengan ucapan leluhur kita “tata tentram kerta raharja”. Obessie artinya saya hidup dengan pikiran itu, saya hidup dengan angan-angan itu, saya menjadi besar dengan angan-angan itu, saya mohon kepada Tuhan, saya mati dengan angan-angan itu, saya melek dengan angan-angan itu, saya duduk dengan angan-angan itu, saya tidur dengan angan-angan itu, saya berjalan dengan angan-angan itu, saya bergerak didalam gerakan nasional dengan angan-angan itu, saya menjalankan darma bakti saya dengan angan-angan itu.

Aku bertanya kepadamu, apakah kamu sekalian sudah demikian pula? Jikalau kamu, kamu membuat bung Karno itu sebagai satu contoh, hanya jikalau engkau juga sudah ter- obessie dengan Marhaenisme yang sejati. Hanya jikalau engkau sudah ter- obessie dengan mengorbankan segala jiwa ragamu untuk mendirikan sekarang satu Negara Republik Indonesia yang benar, yang berwilayah kekuasaan antara Sabang dan Merauke. Hanya jikalau juga sudah ter- obessie untuk mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur tanpa penindasan dan penghisapan, satu masyarakat yang adil dan makmur tanpa exploitation de I’homme par I’homme hanya jikalau juga, juga, juga, juga ter- obessie, silahkanlah engkau boleh menamakan dirimu Marhaenis yang…….

Maka oleh karena itu, saudara-saudara dalam saya memberi pengestu kepada kongres Partindo ini, saya punya satu permintaan hanya satu itulah, satu itulah, engkau ingin setia kepada sumbermu dan engkau berkata bahwa sumbermu adalah Marhaenisme. Jikalau engkau ingin setia kepada sumbermu, berjalanlah sesuai dengan jalannya air sungai ini.

Jangan nyeleweng, jangan nyeleweng, tetapi berjalanlah dengan sungai ini sampai engkau menyamai laut. Saya pernah berkata karena sungai mengalir ke laut, maka ia setia kepada sumbernya. Buat orang yang tidak mengerti akan bertanya, lho, justru meninggalkan sumber menuju ke laut? Kok bung Karno mengatakan bahwa sungai yang menuju ke laut ini adalah setia kepada sumbernya.

Saudara-saudara, tetap saya berkata, jikalau engkau benar-benar Marhaenis sejati, jikalau engkau benar-benar ingin dinamakan Marhaenis sejati, ikutilah dengan sungai ini, janganlah sesuai dengan aliran sungai ini. Ikutlah dengan sungai ini masuk kedalam laut. Hanya jikalau demikian engkau setia kepada sumber, laut saudara-saudara, yang bebas, laut yang merdeka, laut yang samudera bergelora yang gelombang-gelombangnya membanting di pantai, laut yang tiada batas, laut induk, ibu daripada sekalian hal.

Sekalian hal materieel didunia ini saudara-saudara. Laut, sinar matahari menyinari laut itu. Sang surya menyinari laut ini dengan hawa panasnya. Timbullah uap dari laut ini, uap naik ke angkasa, uap ini mengumpul, mengumpul, mengumpul menjadi awan putih, menjadi yang gelap, asal dari laut saudara-saudara. Awan ini tertiup oleh angin sejuk, turun dia ke bumi sebagai hujan. Dan hujan ini airnya masuk kedalam gunung-gunung. Tetapi saudara-saudara air yang masuk ke gunung ini timbul lagi disana sini sebagai mata-mata air, sebagai sumber-sumber. Dan tiap-tiap tetes daripada air yang keluar daripada sumber ini, hanya mempunyai satu pikiran saudara-saudara, ingin ke laut, ingin kelaut, ingin kelaut, ingin kelaut kembali kepada asalnya yaitu laut, samudera yang hebat. Keluar dari sumber itu satu aliran yang kecil. Dari sumber san yang tiap-tiap tetes tiap-tiap atom dari airnya juga satu pikiran dan satu kehendak, satu keinginan, menuju ke laut, bersambung dengan air kecil sungai kecil yang keluar dari sumber itu, yang keluar dari sumber itu, akhirnya menjadi bersama satu sungai yang lebih besar ubu bergabung lagi dengan sunga yang lebih besar, berliter, tiap-tiap tetes, tiap-tiap atom daripada air didalam bengawan ini gandrung kepada laut saudara-saudara. Gandrung kepada laut, dan kita sebagai manusia tidak bisa membendung aliran sungai ini.

Saya seorang insiyur, kataku, perintah kepadaku untuk membuat dam didalam sungai besar itu. Kasih kepadaku alat membuat dam, saya bisa membuat dam dari beton. Saya bisa membuat dam dari besi. Saya bisa membuat dam dari baja. Membuat dam saya bisa saudara-saudara. Mungkin saya bisa sedikit mengalihkan sungai dengan dam itu, tetapi jikalau engkau perintahkan kepadaku, bendunglah sungai ini, janganlah sampai sungai ini mengalir ke laut. Maka saya berkata, jangan pun engkau hanya memberi aku uang untuk membeli besi, uang untuk membeli baja, uang untuk membeli semen, jangan pun engkau memberi kepadaku sekadar harga daripada dam yang besar, meskipun engkau kumpulkan segenap rakyat di bumi yang jumlahnya ribuan, jutaan, jutaan ribu, dan engkau berikan kepadaku agar supaya aku membuat dam yang terbuat daripada baja yang sekuat-kuatnya, tetapi kataku, tiap detik, apalagi tiap jam saudara-saudara, dibelakang dam ini akan terkumpullah ke laut, tiap-tiap tetes menghendaki ke laut, tiap-tiap atom menghendaki ke laut. Pendek kata, saudara-saudara segenap air dibelakang dam ini akan mendesak, mendesak, mendesak dengan semboyan ke laut, ke laut, ke laut, akhirnya pecah sama sekali dan in dan akhirnya sungai ini tidak boleh tidak masuk kedalam laut.

Tahukah saudara-saudara, dus, bahwa sungai ini setia kepada sumbernya, bahwa dengan mengalir ke laut, sungai ini akan setia kepada sumbernya. Sebab tatkala ia masih sebagai sumber sudah disitu tiap-tiap atom daripada air sumber itu berkata, kelaut, kelaut, kelaut. Yang dus, jikalau sungai ini menuju ke laut ia adalalah setia kepada sumbernya. Engkau juga he….anggota-anggota Partindo. Jikalau engkau berkata, bahwa engkau setia kepada sumbermu dan sumbermu adalah Marhaenisme sejati, pergilah kelaut, kelaut merdeka, kelaut bebas, kelaut Kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke, ke Irian Barat, kelaut Negara sosialis, kelaut masyarakat adil dan makmur. Jikalau kau menuju kesitu, barulah engkau setia kepada sumbermu, barulah engkau boleh dikatakan engkau adalah Marhaenis sejati.

Inilah amanatku kepada kongres Partindo. Maka sekarang saya tutup amanat saya yang singkat ini, oleh karena saya sudah cukup memberi amanat kepada saudara-saudara sekalian.

Terima kasih.

18 Januari 2011

Referendum Di Tengah Masa Jabatan

Oleh : Rudi Hartono

Salah satu kemajuan sangat penting dalam sistim pemilihan di Indonesia, sebagaimana sering diulang-olah oleh ilmuwan politik, adalah diperkenankannya pemilihan langsung di hampir semua tingkatan pemilihan (Presiden, Gubernur, Walikota/bupati).



Oleh presiden SBY dan kelompoknya, juga oleh banyak ilmuwan politik, model pemilihan langsung ini dianggap sangat demokratis dan legitimate. Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menyebut pemilihan langsung sebagai inti dari pembangunan demokrasi yang sehat.

Meskipun SBY dipilih secara langsung oleh rakyat dan berhasil mengumpulkan suara 60%, tetapi itu bukan berarti bahwa “dukungan itu bersifat tetap atau absolut”. Dukungan rakyat akan bersifat dinamis, bisa bergeser diantara dua imbangan kekuatan; pro-pemerintah atau oposisi.

Saya bisa memastikan bahwa dukungan rakyat pada saat SBY terpilih sebagai presiden akan sangat berbeda saat dia muncul di layar kaca TV untuk mengumumkan kenaikan harga BBM. Dalam sistim politik negeri ini, kita belum menemukan cara mengecek bagaiamana pergeseran dukungan itu terjadi, kecuali survey-survey terbatas yang dilakukan oleh kelompok tertentu.

Sistim Delegasi

Jika demokrasi dimaknai sebagai pendelegasian kekuasaan dari rakyat kepada wakil-wakil yang dipilih secara langsung, maka seharusnya rakyat punya kekuasaan penuh untuk memastikan bagaimana kekuasaan berjalan. Pada kenyataannya, mengacu kepada demokrasi yang dimpor dari Amerika, rakyat hanya diberi kesempatan sekali dalam lima tahun dan itupun hanya diberi waktu lima menit.

Setelah segelintir pejabat terpilih menjalankan kekuasaan, mereka bukan lagi sebagai pemegang mandat dari rakyat, tetapi secara ekslusif dan elitis memutuskan sendiri kebijakan-kebijakan. Sehingga, menurut saya, demokrasi ala Amerika ini bukanlah pendelegasian kekuasaan, melainkan “perampokan” kekuasaan dari rakyat.

Sistim delegasi atau sistim juru-bicara bukan temuan demokrasi liberal, tetapi sudah terbentuk sejak “Komune Paris”, yaitu sebuah sistim yang memungkinkan seluruh rakyat menjalankan kedaulatan mereka di seluruh level pemerintahan negara.

Sistim delegasi ini bukan hanya bentuk perwakilan politik, bukan pula sekedar elektoral, tetapi sebuah sistim yang seharusnya memungkinkan mayoritas, bukan segelintir elit berkuasa, yang menjalankan kekuasaan dan segala urusan publik.

Akan tetapi, demokrasi liberal menjadikan sistem delegasi menjadi kendaraan bagi segelintir elit untuk menjalankan kekuasaan, tanpa kontol langsung dari pemberi mandat, yaitu rakyat. Dalam pemilihan, seseorang kandidat menjanjikan apa saja agar dirinya terpilih sebagai perwakilan (anggota DPR/DPD), tetapi setelah si kandidat benar-benar terpilih dan menduduki jabatannya, maka ia tidak bisa lagi dikontrol atau di pegang oleh rakyat.

Beberapa masalah dalam sistim delegasi borjuis

Dalam sistim delegasi demokrasi borjuis, seorang politisi yang terpilih bertindak secara otonom atas nama rakyat, dan tidak mekanisme yang jelas tentang cara mengontrol politisi semacam ini.

Ada beberapa kelemahan yang patut dicatat di sini:

Pertama, delegasi yang terpilih kebanyakan tidak berasal dari tempat kerja atau masyarakat pemberi suara. kebanyakan kandidat adalah mereka yang ditunjuk oleh partai tertentu dan berkampanye atas nama rakyat setempat.

Kedua, delegasi yang terpilih tidak seluruhnya mewakili basis sosial tertentu atau kelompok sosial tertentu, terutama organisasi massa dan perkumpulan2 massa. Ada banyak kandidat yang terpilih tanpa mengetahui basis sosialnya, siapa pemilihnya, dan sebagainya.

Ketiga, hak untuk mencabut mandat pejabat terpilih tidak dimiliki oleh rakyat, melainkan oleh partai politik dari pejabat bersangkutan. Akibatnya, meskipun kinerja seorang delegasi sangat buruk dan tidak mewakili aspirasi pemilih, ia tetap saja dapat bekerja dengan tenang sepanjang partai belum mengeluarkan surat recall.

Keempat, kepentingan sosial para pemilih terdistorsi dan kehilangan keasliannya, lalu kemudian digantikan oleh kepentingan pihak-pihak tertentu dari partai politik dan segelintir pebisnis.

Kelima, adanya perlakuan “istimewa’ terhadap delegasi/perwakilan dalam bentuk pemberian gaji yang tinggi dan kedudukan istimewa menyebabkan jabatan ini diincar oleh banyak sekali orang. Ada banyak orang yang rela membayar ‘kursi” asalkan mereka mendapatkan nomor jadi, sehingga ketika berkuasa orientasinya pun berubah menjadi bagaimana ia harus mengembalikan duit.

Keenam, para delegasi/perwakilan dalam demokrasi liberal hanya menerima “blanko kosong” dari para pemilih, tidak disertai dengan kontrak perjanjian mengenai apa-apa yang harus dikerjakan saat menjadi parlemen. Para anggota parlemen terpilih juga tidak pernah bertanya kepada basis pemilih, tentang agenda apa yang harus dibawa dalam rapat-rapat dan harus dimenangkan.

Persoalan “elektoral” lima tahun

Menarik apa yang dikatakan oleh pemikir politik Perancis, Alexis de Tocqueville, bahwa demokrasi yang dipraktekkan di Amerika Serikat hanya sebatas apa yang disebut “proses demokrasi”. Akan tetapi, demokrasi amerika ini dianggap sebagai sesuatu yang universal, dan akan cocok untuk dipraktekkan di belahan dunia lainnya.

Salah satu bentuk dari demokrasi ala amerika ini adalah pelaksanaan pemilu yang reguler, yaitu biasanya 4-5 tahun sekali. Di Indonesia, demokrasi semacam ini menjadi persoalan besar, karena kesulitan untuk mengantisipasi aspirasi pemilih yang ditinggalkan oleh kandidat terpilih.

Jadi, dalam lima tahun masa jabatan pemegang mandat (ekskutif/legislatif), rakyat tidak punya ruang untuk memberikan penilaian dan memutuskan apakah melanjutkan mandat atau mencabut mandat.

Karena mekanisme semacam ini absen dalam sistim politik kita, maka seorang koruptor bisa berkuasa penuh selama lima tahun (satu periode), bahkan ada yang berkuasa hingga beberapa periode berikutnya. Seorang gubernur dan walikota penggusur bisa melaksanakan jabatannya selama lima tahun, meskipun aspirasi luas masyarakat sudah tidak puas terhadap kepemimpinannya.

Disamping itu, mekanisme elektoral ala demokrasi AS memecah belah masyarakat menjadi individu-induvidu, bukan sebagai rakyat atau sektor-sektor sosial dari rakyat banyak. Akibatnya, para individu-individu ini sulit mengartikulasikan kepentingan kolektif sektor sosialnya, tetapi mereka terpecah belah atas nama “hak pilih bebas”.

Dengan demikian, demokrasi liberal sebetulnya sangat anti dengan berbagai bentuk pengorganisasian rakyat, dan lebih memilih bentuk individu-individu bebas yang kurang politis (apolitis).

Referendum tengah jabatan

Kita perlu memikirkan sebuah mekanisme yang memungkinkan rakyat mengevaluasi kinerja politisi (eksekutif/legislatif) di tengah jabatan. Seorang politisi korup dan menindas rakyat, jikalau tidak ada mobilisasi dari gerakan rakyat yang kuat, dapat berkuasa selama lima tahun.

Oleh karena itu, saya berfikir tentang perlunya referendum di tengah masa jabatan, baik bagi eskekutif (presiden dan kepala daerah) maupun anggota parlemen (DPR/DPRD), untuk mempertanyakan kepada rakyat mengenai kinerja para pemegang mandat tersebut.

Dalam hal ini, ketika rakyat menilai bahwa kinerja mereka (eksekutif/legislatif) kurang sesuai dengan aspirasi pemilih, maka para penerima mandat tersebut bisa diturunkan dan digantikan dengan orang baru.

Di beberapa negara, khususnya Amerika Serikat, dikenal apa yang disebut “pemilu di tengah masa jabatan”, untuk mengukur tingkat kepuasaan pemilih terhadap pemerintahan.

Ada beberapa manfaat politik referendum di tengah masa jabatan bagi rakyat:

Pertama, referendum merupakan mekanisme demokratis bagi rakyat untuk bertanya di tengah masa jabatan, sekaligus punya kesempatan untuk mengoreksi jalannya pemerintahan (presiden/kepala daerah) atau mengevaluasi kerja-kerja wakilnya (DPR/DPD).

Kedua, rakyat mempunyai hak melalui referendum untuk menjatuhkan pejabat politik yang menghianati aspirasi rakyat, seperti koruptor, penggusur atau perampas tanah rakyat, dan lain sebagainya.

Ketiga, rakyat punya kesempatan untuk mengorganisir diri dan terlibat aktif dalam politik. Untuk mengorganisir referendum, misalnya, rakyat pula dikumpulkan tanda-tangan dan dinyatakan kesetujuannya.

Tidak sedikit diantara para politisi dan ilmuwan politik liberal yang menaruh kekhawatiran terhadap isu referendum semacam ini. Mereka mulai berkampanye bahwa pelaksanaan referendum akan menyedot anggaran baru, dan itu kurang tepat dalam situasi ekonomi negara yang sedang sulit.

Jika mau dihitung-hitung secara jujur, maka biaya referendum akan jauh lebih murah dan efisien ketimbang kerugian negara akibat praktek korupsi di seluruh level pemerintahan dan birokrasi, belum termasuk biaya politik yang ditanggung rakyat akibat kebijakan-kebijakan parlemen/eksekutif yang merugikan rakyat.

12 Januari 2011

Tentang Peranan, Lapangan Kegiatan dan Perkembangan Gerakan Koperasi (Bagian 2)


Oleh : DN Aidit

Adalah perlu mencatat perhatian dan harus dicegah bahwa elemen kapitalis dengan bersemboyan ,,untuk sosialisme Indonesia” menyelundup kedalam gerakan koperasi, berjubah koperasi , menjalankan praktek-praktek kapitalis atas nama koperasi, atas nama anggota-anggota koperasi yang terdiri daripada rakyat pekerja. Kita tidak menentang kaum kapitalis nasional yang benar-benar nasional , tetapi kita menentang jika mereka menyalahgunakan nama koperasi untuk melepaskan diri dari pembayaran bermacam-macam pajak kepada Negara dan untuk merampas fasilitas yang seharusnya hanya didapat oleh koperasi.

Dasar koperasi pada pokoknya ialah kerjasama antara mereka yang lemah ekonominya, agar dengan bersatu dan saling bantu mencapai perbaikan tingkat hidup. Orang-orang yang mempunyai kepentingan yang bersamaan berhimpun dalam suatu koperasi atas dasar sukarela. Syarat kepentingan yang bersamaan dan dasar sukarela ini perlu diperhatikan dalam mengorganisasi suatu koperasi.

Dalam satu koperasi kredit umpamanya adalah keliru jika dihimpun lintah darat dan tani miskin bersama-sama, karena kepentingan mereka sangat berbeda, bahkan bertentangan.

Kepentingan yang berbeda dan yang bertentangan daripada tuan tanah, tani kaya, tani sedang, tani miskin, dan buruh tani juga tidak bisa dipersatukan dalam satu koperasi pertanian.

Kepentingan yang berbeda dan bertetangan daripada pengusaha, tukang kerajinan tangan yang merupakan pekerja merdeka dan buruh kerajinan tangan tidak dapat dipersatukan dalam satu koperasi kerajinan tangan.

Kepentingan yang berbeda dan bertentangan daripada pengusaha-pengusaha pemilik alat produksi industri, pekerja merdeka dalam industri rumah tangga dan buruh industri tidak dapat dipersatukan dalam satu koperasi industri.

Kepentingan yang berbeda dan bertentangan daripada pengusaha penangkapan ikan, tengkulak, juragan pemilik alat perikanan, nelayan sedang, nelayan miskin dan buruh nelayan tidak dapat dipersatukan dalam satu koperasi perikanan atau koperasi nelayan.

Kepentingan yang berbeda dan bertentangan daripada pengusaha peternakan dan buruh peternakan tidak dapat dipersatukan dalam satu koperasi peternakan.

Pedagang yang mengumpulkan produksi pertanian (collecterende handle), tengkulak dan tani kaya, tani sedang serta tani miskin produsesn tidak dapat dipersatukan dalam satu koperasi penjualan bersama hasil pertanian.

Jika organisasi dalam satu koperasi orang-orang atau lapisan-lapisan rakyat yang kepentingannya berbeda atau bahkan bertentangan, koperasi itu dalam praktek pasti akan hanya menguntungkan orang-orang atau lapisan-lapisan rakyat yang ekonominya lebih kuat dan merugikan, bahkan bisa menindas secara kejam orang-orang atau lapisan-lapisan rakyat yang ekonominya lemah.

Saya hendak memberi satu ilustrasi tentang tidak mungkinnya orang-orang yang berbeda atau bertentangan kepentingannya diorganisasi dalam satu koperasi dari pengalaman praktis beberapa tahun yang lalu didaerah Purwokerto. Di salah satu desa di daerah tersebut dibentuk satu koperasi desa yang bergerak dibidang kredit atau simpan pinjam. Semua penduduka desa dianggap otomatis jadi anggota koperasi. Untuk modal pertama diambil dari hasil keuntungan penjualan gula distribusi kepada penduduk dan untuk modal tambahan dari uang tabungan para anggota. Golongan yang ber-uang, yaitu tuan tanah, tani kaya, lintah darat, tengkulak, dan orang-orang berada lainnya ,,menabung’’ dalam koperasi itu. Setiap anggota boleh meminjam dengan bunga 10% dalam 35 hari, artinya 104% setahun. Pengurus koperasi sebagian besar terdiri dari golongan-golongan pemeras. Terhadap peminjam dari kalangan tani sedang dan tani miskin pengurus bersikap keras, kadang-kadang dengan menggunakan intimidasi. Karena takut kena perkara, banyak peminjam yang menjual rumah, pekarangan dan pohon buah-buahan atau menggadaikan sawahnya dengan harga murah untuk melunasi pinjamannya. Barang-barang itu umumnya jatuh ketangan tuan tanah, tani kaya dan lintah darat yang diantaranya juga menjadi pengurus “koperasi”.

Saya kira masih banyak contoh tentang koperasi yang berkeanggotaan orang-orang yang bertentangan kepentingannya, yang dalam praktek tidak beda kegiatannya daripada badan-badan kapitalis, bahkan kadang-kadang lebih busuk dripada itu. Apalagi jika koperasi-koperasi itu pembentukannya tidak demokratis dan pengurusnya main tunjuk dari atas, misalnya dilapangan pengumpulan dan penjualan hasil-hasil produksi pertanian untuk perdagangan baik dalam negeri maupun untuk ekspor, kaum produsen yang menjadi ,,anggota” diharuskan menyerahkan produksinya kepada ,,koperasi’’ sehingga koperasi menjadi “single buyer”, dengan harga yang lebih rendah daripada jika dijualnya secara bebas. Dengan cara ini bukan saja tidak tercapai maksud berkoperasi daripada para produsen yaitu untuk mendapatkan nilai tukar daripada produksinya yang lebih tinggi, melainkan kebalikannya, nilai tukar daripada produksinya itu menjadi merosot, sedang pengurus-pengurus koperasi dimungkinkan untuk bermanipulasi dengan barang-barang yang dikuasainya.

Juga jelas bahwa pengaruh jahat kaum kapitalis birokrat yang bisa berhubungan dengan gerakan koperasi telah mendorong sementara gerakan koperasi kita kejurang yang bertentangan dengan kepentingan anggota-anggotanya dan kepentingan rakyat pada umumnya.

Dalam mengembangkan gerakan koperasi perhatian kita harus ditujukan kepada lapisan terbesar dari massa rakyat pekerja, yaitu kaum tani yang jumlahnya 60-70% dari penduduk Indonesia dan yang masih berada dibawah penghisapan-penghisapan tuan tanah, lintah darat dan kaum kapitalis. Dari kalangan kaum tani ini yang paling tepat diorganisasi dalam koperasi-koperasi adalah tani sedang dan tani miskin, karena mereka masih mempunyai tanah atau sedikit tanah dan alat-alat pertanian. Koperasi daripada kaum tani sedang dan tani miskin bisa berbentuk koperasi kredit atau simpan pinjam untuk melepaskan mereka dari cengkraman tukang-tukang idjon dan lintah darat, koperasi produksi untuk meningkatkan produksi pertanian mereka dan koperasi jual beli untuk mendapatkan pasar yang baik bagi barang-barang produksi pertanian mereka (cooperative marketing) dan sekaligus untuk dapat membeli bahan-bahan keperluan mereka seperti bibit, pupuk, alat-alat pertanian dsb., juga barang-barang kebutuhan konsumsi.

Multipurpose cooperative (koperasi serba-usaha) bagi kaum tani adalah tepat, tetapi untuk mencegah kegagalan-kegagalan yang bisa mengecewakan dan membikin kapok kaum tani berkoperasi, baik langkah-langkah permulaan dimulai dari koperasi kredit dan seterusnya dikembangkan betuk-bentuk lain, setelah mendapatkan pengalaman-pengalaman yang diperlukan.

Koperasi dikalangan kaum tani seperti halnya koperasi-koperasi lainnya banyak yang mengalami kegagalan. sebabnya adalah, bahwa disamping mendapat tekanan dari tuan tanah dan lintah darat dan modal monopoli asing kurang mendapat bantuan pemerintah, juga karena koperasi-koperasi itu dipimpin oleh elemen-elemen yang korup, yang tidak jujur dan tidak cakap. Karena itu masalah memilih pimpinan yang jujur, cakap dan manipolis adalah penting dalam koperasi.

saya berpendapat bahwa tenaga-tenaga pemuda dan wanita adalah efektif bila ditarik kedalam kegiatan koperasi.pemuda mempunyai kesanggupan bekerja yang lebih besar dan kejujurannya berguna untuk mencegah praktek-praktek korupsi yang mungkin terjadi. Kaum wanita yang pada umumnya lebih cermat dan teliti itu akan mendorong koperasi bekerja baik.

*) Diambil dari buku berjudul “Peranan Koperasi Dewasa ini”, ditulis Oleh DN. Aidit, diterbitkan oleh Dept. Agitprop CC PKI tahun 1963

Marhaenisme Sebagai Marxisme Yang Diterapkan (Bagian Kedua)


Oleh : Ir. Soekarno

Tetapi sekarang saudara-saudara machtsvorming kita harus benar-benar memuncak kepada machtsaanwending. Kita tidak hanya cukup untuk mempunyai tenaga kita. Menggempurkan tenaga kita kepada musuh agar musuh itu tunduk kepada kita. Karena itulah maka saya saudara-saudara dalam pidato saya pada hari ibu menegaskan, sekarang ini saya tidak puas dengan pertanyaan-pertanyaan, dukungan-dukungan komando, tetapi saya sekarang ini minta bukti.

Saya dulu itu sering diplakat, “bung Karno, rakyat gembel minta bukti”. Ada lagi sekarang ini, “bung Karno, rakyat gembel minta bukti harga emas turun”. Ya, minta bukti yang demikian saya terima, tapi sebaliknya bung Karno minta bukti ! He rakyat Indonesia, kataku, yang didalam Partindo, yang didalam PKI, yang didalam PNI, yang didalam NU, yang didalam Sobsi, yang didalam KBKI, yang didalam SBKA, yang didalam organisasi-organisasi tani, yang didalam organisasi mahasiswa, yang didalam golongan kaum terpelajar, yang didalam golongan pegawai, he semua rakyat Indonesia saya sekarang minta bukti atas ucapan dalam engkau mendukung Komando Rakyat.

Ya, tetapi sebetulnya ucapan pak Winoto, ya masih saya minta bukti. Pak Winoto, kalau pak Winoto berkata, he sekarang Partindo ingin berjalan dimuka bung Karno, oke, alright. Saya minta Partindo mendaftarkan nama orang sebanyak-banyaknya untuk menyerbu Irian Barat. Terang-terangan saja. Ini lho ada wakil-wakil daripada diplomatic corps, wakil daripada Negara-negara asing. Terang-terangan saja jikalau saya ditanya, apa artinya Komando 19 desember yang lalu. Komando untuk menggagalkan Negara Papua, komando untuk mobilisasi umum, apa artinya? Artinya tak lain tak bukan ialah kita rebut Irian Barat untuk tidak cukup hanya dengan pernyataan-pernyataan.

Karena itu, saya sudah memerintahkan kepada sekertaris Dewan pertahanan nasional, saudara Achmadi. Tidak tahu, hadir apa tidak dia. Kalau tidak hadir karena sibuk kerja. Dewan Pertahanan Nasional, sebaiknya kita singkat apa? Dewan Pertahanan Nasional ? Kalau disingkat DEPERNAS, kita sudah punya Depernas, Dewan Perancang Nasional. Dewan Pertahanan Nasional kita singkat dengan apa? Bagaimana kalau disingkat dengan Depertan? Depernal itu kok….nah…..Nah, sudah Depertan. Nah, saya sudah perintahkan kepada saudara Achmadi, Sekertaris Dewan Pertahanan Nasional, Sekertaris Depertan untuk dibeberapa tempat diseluruh Indonesia ini mengadakan pos-pos yang bersedia dijadikan tentara menjalankan komando. Menjalankan komando yaitu untuk mengibarkan sang merah putih di Irian Barat. Dan perintah itu bukan mengenai rakyat Indonesia didaerah sini saja, tetapi juga rakyat Indonesia di Irian Barat sendiri. Saudara bacalah naskah komando itu dengan jelas, juga kepada rakyat Indonesia di Irian Barat saya perintahkan komando itu. Dan Alhamdulillah saudara-saudara saya mendapat laporan, bahwa memang sesudah komando diucapkan, hari kemudian di Irian Barat dimana-mana berkibar Sang Merah Putih. Dan benar sebagai dikatakan, ditulis, didalam salah satu surat kabar, kalau tidak salah di Berita Minggu Ini. (salah seorang hadirin menjawab “Berita-Minggu”-redd). Ya, berarti dia baca berita minggu. Dikatakan bendera-bendera itu terbuat dari kertas. Ya dari kertas juga boleh. Tetapi kemudian bendera-bendera ini dirampas oleh pihak imprealis. Tidak jadi apa. Kalau dirampas, besok paginya dinaikkan lagi Sang Merah Putih itu.

Pendek kata perintah saya itu tidak hanya mengenai rakyat Indonesia sebelah sini, tetapi juga rakyat Indonesia di Indonesia di Irian Barat sendiri. Tetapi terutama sekali kepada rakyat Indonesia disebelah sini komando itu harus dijalankan. Maka oleh karena itu, dimana-mana diadakan tempat pendaftaran. Nah, disitu nama-nama akan diterima, kemudian orang-orang mendaftarkan dirinya itu akan diterima, kemudian orang-orang itu akan mendaftarkan dirinya itu akan diseleksi, dipilih, akan di-screen, sesudah diseleksi dan di-screen akan dilatih dibeberapa training center.

Saya, saudara-saudara, tadi telah membentuk lagi satu staf, yang dinamakan Staf Operasi. Staf Operasi atau dalam bahasa Inggrisnya “Operation Staff”. “Operation Staff” dari Panglima Besar. Tadi saya katakan, atau saudara-saudara mengetahui saya ini Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi, tapi bukan saja Panglima Tertinggi, sekarang pun saya dinamakan Panglima Besar memasukkan Irian Barat didalam wilayah kekuasaan Republik. Nah, sebagai Panglima Besar tadi saya membentuk satu “Operation Staff” yang terdiri atas saudara Yani, dari Angkatan Darat, dari Angkatan Udara saudara Wiryosaputro, dari Angkatan Laut saudara Subono, dari Kepolisian Negara saudara Sucipto dari Brimob.

Masih ada wartawan tulis Brigmob. Sudah saya peringatkan BRIMOB. He, wartawan, mbok ya perhatinkah toh, Brimob. Ya wartawan itu ada yang membandel saudara-saudara. Saya sudah berkata, jangan memakai perkataan darmawisata. Parawisata, kataku. Parawisata yaitu tourist, tourisme, pariwisata, tourist.

Saya mengenai Irian Barat ini sudah membentuk satu organisasi “Operation Staff” yang terdiri daripada Yani, Wiryosaputro, Subono, dan Sucipto membantu Panglima Besar. Nah, ini sekarang staff mulai bekerja antara lain merancang segenap usaha yang harus kita jalankan mengenai pelatihan daripada orang-orang yang sudah mendaftarkan diri. Maka oleh karena itu saya sekarang sekali lagi mengundang kepada PNI, he PNI, berapa orangmu yang didaftarkan, jangan cuma….ribuan pak!…Milyunan pak!….bung Karno minta bukti, namanya, adresnya, siapa? Demikian pula kepada PKI saya minta bukti, mana orangnya, mana namanya, mana adresnya. Nah, ini nanti kalau orang-orang itu dipanggil benar-benar untuk dilatih ya harus datang. Latihannya berat saudara-saudara, bukan latihan enteng. Bukan piknik didalam latihan itu, tetapi latihan berat benar. Demikian pula Sobsi. Demikian pulu NU. Demikian pula organisasi-organisasi lain, semua saya persilahkan memasukkan nama-nama didalam daftar-daftar ini, kemudian diseleksi, kemudian di-screen, kemudian dilatih, digembleng agar supaya bisa menjalankan Komando Presiden 19 desember yang lalu.

Dan didalam tempat-tempat latihan ini saudara-saudara tidak akan diadakan phobi-phobian, sama sekali tidak ada. Jangan nanti didalam tempat latihan pun lantas phobi-phobian. He aku orang Partindo lho, he engkau orang PKI, he engkau orang PNI, saya tidak mau. Dikatakan oleh Danuwinoto itu tadi akan mencari persatuan tenaga dengan semua golongan, demikianlah hendaknya.

Maka saudara-saudara jikalau didalam kalangan saudara-saudara belum yakin benar bahwa phobi adalah satu penyakit yang berbahaya bagi perjuangan kita, saya ingin mengulangi kepada saudara-saudara apa yang pernah saya katakan, baik di kongres Gerwani maupun didalam satu ceramah dihadapan para perwira-perwira di Seskoad-seskoad yaitu Sekolah Staff dan Komando Angkatan Darat. Saya katakan disitu, dan saya ulangi ini terutama sekali kepada kaum Marhaenis. Terutama sekali kepada kaum Marhaenis yang sebagai dikatakan oleh Asmara Hadi adalah kaum Marxis yang menjalankan Marxisme di Indonesia. Saya ulangi hal ini untuk member pengertian yang tegas tentang mutlaknya kita mengadakan persatuan dengan poros-Nasakom.

Sebab sering saya bertanya, he engkau berkata pro persatuan, he setuju persatuan, he pro persatuan, Pak! Apakah setuju dengan poros-Nasakom? Nanti dulu, pak. Padahal sudah sering saya katakan bahwa Nasakom itu adalah penggolongan-penggolongan pokok daripada rakyat Indonesia.

Saya hendak mengulangi apa yang saya katakan didalam kongres Gerwani dan didalam pidato saya dihadapan Seskoad:bahwa gerakan yang terkenal sebagai gerakan nasional di Asia dan Afrika ini—dus PNI masuk didalamnya, dus Partindo masuk didalamnya, dus NU masuk didalamnya, dus gerakan Katolik masuk didalamnya, dus gerakan Kristen masuk didalamnya, dus segala gerakan yang ada di Asia dan Afrika masuk didalamnya—bahwa gerakan-gerakan yang dinamakan gerakan sosialis di Eropa dan Amerika. Satu ibu, satu induk dari satu peterangan saudara-saudara.

Ya, itu sudah saya jelaskan, mula-mulanya saya katakan, kapitalisme di Eropa mulai tumbuh, mulai membumbung dan sebagai hasil daripada pembumbungan kapitalisme itu di Eropa timbullah satu klasse yang tertindas, klasse proletar, klasse yang menderita hukum verelendum, klasse yang menderita hisapan daripada hukum meerwaarde, klasse yang menderita sengsara, klasse yang tertindas, klasse yang terhina, klasse yang pendek kata tidak pernah melihat sinarnya matahari, oleh karena dihisap tenaganya oleh kapitalisme yang sedang membumbung ini.

Didalam pidato saya dihadapan para mahasiswa di Yogyakarta, saya mengatakan bahwa pada waktu kapitalisme membumbung di Eropa itu, benar-benar banyak sekali kaum proletar yang tidak bisa melihat sinarnya matahari. Oleh karena ia pagi-pagi sebelum matahari terbit haruslah sudah masuk didalam tambang. Dibawah tanah saudara-saudara, mencari arang batu. Nanti jikalau matahari sudah terbenam baru dia naik melihat sinar matahari. Masih gelap ia sudah masuk kedalam tambang. Dan ini bukan kaum proletar yang dewasa saja, tetapi bahkan anak-anak kecil. Bu Bandrio. Coba baca tulisan Keir Hardie adalah seorang pemimpin daripada kaum buruh Inggris, dia menulis satu kitab autobiography, sejarah hidupnya. Nanti jam 8 malam jikalau matahari sudah tenggelam dia keluar lagi. Jam 4 pagi sampai jam 8 malam, berapa jam itu? Berapa jam? 16 jam saudara-saudara, dibawah tanah.

Nah, ada klasse baru, klasse proletar. Tempo hari sudah saya kursuskan bahwa Marhaen adalah lebih luas daripada proletar. Marhaen adalah tiap-tiap orang kecil, tiap-tiap orang gembel di Indonesia. Marhaen adalah ya proletar, ya kaum yang kecil-kecil, yang gembel-gembel di Indonesia, itu semuanya adalah Marhaen.

Klasse baru di Eropa ini klasse yang tertindas. Tidak boleh tidak dia musti mengadakan suatu verzet, musti mengadakan sutu gerakan menentang kepada kapitalisme. Dan ini dinamakan kaum buruh atau gerakan sosialis.
Tapi akibat yang lain daripada kapitalisme saudara-saudara ialah, bahwa kapitalisme di Eropa ini menjadi padat. Oleh karena dia padat dia lantas mencari padang lain untuk dia punya usaha mencari uang. Membawa barang ke Asia dan Afrika. Dan disini menjadi alat penghisapan lagi. Maka juga rakyat Asia dan Afrika menjadi satu rakyat yang menderita.
Saya didalam pidato saya dihadapan para mahasiswa di Yogyakarta menceritakan bahwa tertulis didalam kitab The War Pearl and Gold sekarang saya ingat penulisnya yaitu Henry Brillsport. Brillsport menulis kita The War Pearl and Gold dan disitu dia ceritakan bagaimana menjadi tertindasnya papa sengsaranya rakyat-rakyat Asia dan Afrika itu. Oleh karena kita, Asia dan Afrika, juga menjadi satu bangsa, satu rakyat, satu golongan manusia yang jumlahnya berjuta-juta, yang juga tertindas papa sengsara, terhina, ”de verworpenen der aarde” maka juga di Asia dan Afrika timbul gerakan penentang. Gerakan penentang yang tidak boleh tidak di Asia dan Afrika dan terutama sekali di Indonesia, juga membawa tendensi-tendensi. Oleh karena di Indonesia Marhaen tercipta, oleh karena di indonesialah rakyat Indonesia papa sengsara, oleh karena di indonesialah rakyat tidak mempunyai rumah yang layak, oleh karena di indonesialah gubuk-gubuk doyong, oleh karena di indonesialah anak-anak kecil menangis karena tidak mendapatkan air susu (tetek) cukup dari ibunya, oleh karena di indonesialah rakyat hidup dengan sebenggol seorang sehari. Jadi, gerakan di Indonesia ini tidak bisa lain daripada juga bertendensi sosialisme. Maka oleh karena itu tahun 1927 saya sudah mengatakan, hhh…orang-orang yang mengatakan bahwa ia nasionalis, bahwa dia cinta tanah air. Tetapi dia bukan sosialis, tetapi dia bukan Marhaenis, tetapi dia tidak memikirkan nasibnya kaum gembel papa sengsara, orang yang demikian itu sekadar, kataku tahun 1927, nasionalis-klembek, wah, itu nasionalis. Wah, wong ngokok ya klembak, dikirakan demikian.

Tidak, saudara-saudara. Jikalau benar-benar, benar-benar cinta tanah air dan bangsa di Indonesia, dia tidak boleh tidak harus juga sosialis. Oleh karena keadaan imprealisme di Indonesia menghisap pula rakyat Indonesia ini secara ekonomi. Dan ini bukan mengenai Indonesia saja, juga mengenai bangsa-bangsa Asia yang lain. Mengenai bangsa India, mengenai bangsa Mesir yang keadaannya digambarkan oleh Henry Brillsport didalam ia punya kitab The War of Pearl and Gold. Mengenai bangsa Vietnam, mengenai bangsa Tiongkok, yang sekarang bernama RRC dan lain-lain sebagainya.

Nah saudara-saudara, ini yang dinamakan gerakan nasional, gerakan nasional yang bukan bikinan Sun Yat Sen, yang bukan bikinan Arabi Pasha, yang bukan bikinan Mahatma Gandhi, yang bukan bikinan Jose Rizal Y. Mercado, yang bukan bikinan Cokroaminoto atau Soekarno, yang bukan bikinan seorang pemimpin, tetapi hasil daripada keadaan masyarakat yang tertindas. Politik berubah, satu gerakan untuk merebut kemerdekaan daripada tanah air dan bangsanya, ekonomis, social ekonomis, berupa satu gerakan untuk menghancurleburkan kapitalisme dan membangun satu masyarakat yang adil dan makmur.

Nah, disana menimbulkan –kapitalisme itu tadi saudara-saudara gerakan kaum buruh, gerakan sosialis, disini menimbulkan gerakan nasional. Disana ia mula-mula kapitalisme, ia mengirim imprealisme ke sini, Asia-Afrika. Disana menimbulkan gerakan kaum buruh dengan teori yang abadi daripada gerakan kaum buruh yaitu Marxisme, disini menimbulkan gerakan nasional.
Benarkah tidak kata saya dus gerakan kaum buruh di Eropa dan itu apa? Bahasa indonesianya tempat ayam bertelur itu, tempat untuk mengerem telurnya. Keluar dari satu tarangan saudara-saudara. Anehnya, kalaupun sudah tahu, bahwa ini adalah hasil ini, ini adalah hasil ini, tetapi dua-duanya adalah keluar dari satu terangan, kok masih ada phobia-phobian. Itu yang aneh. Maka oleh karena itu, saya anggap sebagai satu kewajiban utama saya yang utama untuk memberantas phobi-phobian ini. Ketahuilah, baik gerakan kaum buruh di Eropa, maupun gerakan kaum buruh dilain-lain negeri adalah sebenarnya muka lain daripada gerakan kita juga. Oleh karena itu maka saya berkata, “trouw als ik ben aan het Marhaenisme”, setia saya kepada Marhaenisme, maka saya berkata, bahwa revolusi Indonesia ini sebenarnya adalah hanya satu bagian saja daripada revolusi dunia, hanya satu bagian saja daripada revolusi universal, hanya satu bagian saja daripada revolusi “of the consiennce of men”. Social consiennce of men adalah congruent, kataku dengan social conscience of men.

Maka jikalau kita sadar benar, bahwa kita ini adalah bagian daripada revolusi dunia, yang kataku ¾ daripada ummat manusia duduk di dalamnya. Jikalau kita sadar bahwa revolusi kita ini adalah congruent dengan “social conscience of men” kenapa kita phobi-phobian saudara-saudara. Maka saya ulangi lagi, jikalau kita benar-benar ingin memasukkan Irian Barat lekas, lekas, lekas didalam wilayah kekuasaan Republik, hilangkan segala phobi. Gemblenglah persatuan yang total.

*) Pidato Bung Karno di depan peserta Kongres Partindo, di Gedung Olahraga, Jakarta, tanggal 26 Desember 1961.

07 Januari 2011

Marhaenisme Sebagai Marxisme Yang Diterapkan (Bagian Pertama)




Saudara-saudara sekalian

Saya diminta untuk memberikan wejangan sekadarnya resepsinya dalam pendahuluan daripada kongres Partindo ini.

Wejangan atau pidato biasanya dimulai dari beberapa sudut. Dari sudut apa saya harus mulai pidato saya ini? Saya kira lebih baik saya mulai pidato saya ini dari sudut apa yang telah dikatakan apa yang dikatakan oleh saudara Asmara Hadi dan saudara Winoto, yang mengatakan bahwa Partindo berdiri diatas dasar Marhaenisme ajaran bung Karno. Malahan saudara Winoto ditandas-tandaskan beberapa kali, Marhaenisme Partindo adalah Marhaenisme ajaran bung Karno, Marhaenisme ala Sukarno, Marhanisme ala bung Karno. Itu beberapa kali ditandas-tandaskan. Sampai rasanya juga masuk tulang sumsum saya saudara-saudara. Masuk tulang sumsum saya.

Kemudian saya ngerogoh salira, meriksa saya punya diri sendiri. ”He Sukarno! Engkau diperingatkan oleh Asmara Danuwinoto, bahwa yang harus dipakai sebagai dasar, dus harus dilaksanakan adalah Marhanisme ala Sukarno. Sekarang Sukarno bertanya kepada Sukarno, apakah engkau menjalankan Marhaenisme ala Sukarno apa tidak? Itulah ragahan salira saya, waktu saya duduk disana mendengarkan pidatonya saudara Asmara Hadi dan saudara Asmoro Danuwinoto…..
Saudara-saudara menurut keyakinan saya, saya bediri melaksanakan Marhaenisme ala Sukarno. Sebab sebagai tadi dikatakan oleh Saudara Asmara Hadi, Marhaenisme adalah Marxisme yang dijalankan Indonesia.

Saya bertanya: He Sukarno, apakah engkau menjalankan Marhaenisme di Indonesia? Ya, kataku.

Nah, lantas urutan yang lain ialah, dua orang menamakan dirinya Marhanis. Tetapi tidak menjalankan Marxisme di Indonesia, apakah dia Marhaenisme apa tidak? Saya bilang bukan! Orang demikian itu Marhaenisme gadungan ! saudara-saudara.

Ada lagi pertanyaan: kalau Marxisme sejati, apakah Marxis sejati itu radikal revolusioner apa tidak ? saya kata, ya. Marxis sejati adalah radikal revolusioner. Dus orang yang menyebut dirinya radikal revolusioner tapi tidak Marxistis, apakah dia benar-benar radikal revolusioner? Saya berkata, tidak! Orang yang demikian itu, yang tidak radikal, tidak revolusioner adalah Marxisme gadungan.

Ada lagi urutan lain, kalau Marxis sejati, apakah dia menderita penyakit komunistophobi apa tidak. Dus, orang yang tidak menyebutkan dirinya Marxis, tetapi dia menderita penyakit komunistophobi, dia itu ? Marxis gadungan.
Nah, ini saya petani (teliti) saya punya diri sendiri. Saya ini Marhaenis, ya apa tidak? Ya. Saya ini menderita komunistophobi apa tidak? Tidak.

Nah, saya minta juga di dalam Partindo jangan ada orang yang menderita komunistophobi.

Dulu didalam kongres PNI saya pernah berkata, awas ada makelar gelap lho! Sekarang kepada kongres Partindo pun ada makelar-makelar gelap, sebab, makelar gelap itu dimana-mana ada. Karena itu, kita harus waspada benar, kata saudara Danuwinoto itu.

Saudara-saudara mengetahui, bahwa sebagai sebagai sudah saya katakan di dalam pidato saya pada hari ibu, revolusi Indonesia itu sekarang sedang memuncak lagi. Revolusi, kataku, tidak pernah dan tidak bisa, tidak dapat mandeg. Kalau sesuatu revolusi mandeg, maka itu bukan revolusi. Itu sekedar revolusi-revolusian, revolusi bikinan manusia, ya gadungan.
Tadi pak Winoto berkata, Partindo misalnya bukan bikinannya Winarno, bukan bikinannya Asmara Hadi, bukan bikinannya Winoto, bukan bikinannya siapa pun. Partindo, pak Winoto, adalah hasil daripada proses masyarakat. Benar kata pak Winoto itu.

Maka demikian pula revolusi. Revolusi bukan bikinan manusia, malah saya sebagai Marxis men-siteer Karl Marx itu berkata, bahwa revolusi bukanlah anggitan daripada seseorang didalam satu malam yang ia tidak bisa tidur. Ya ini perkataan Marx, revolusi bukanlah anggitan daripada seseorang, kata dalam bahasa asingnya, ”in een slapelozemacht”.

Maka demikian pula revolusi Indonesia bukan anggitan daripada seseorang manusia “in een slapezo macht”. Bukan bikinan Sukarno, bukan bikinan siapa pun, tetapi revolusi Indonesia, oleh karena revolusi Indonesia adalah benar-benar revolusi dan bukan revolusi gadungan, adalah hasil daripada satu “maatschappelijk process”, satu proses daripada masyarakat yang akhirnya meledak sebagai revolusi.

Nah kataku, revolusi yang demikian itu tidak mandeg, revolusi yang demikian itu berjalan terus sampai ia mencapai tujuan daripada proses masyarakat itu. Hanya benar jikalau orang berkata, suatu revolusi itu mengalami ups and down. Pasang naik dan pasang surut, pasang naik, pasang surut, pasang naik, pasang surut, tetapi pasang naik dan pasang surut tak lain bukanlah ialah laksana naik dan turunnya gelombang-gelombang didalam satu samudra yang maha sakti. Tetapi samudranya tetap ada dan akhirnya samudranya menjalankan darma baktinya sebagai samudra pula. Maka revolusi kita saudara-saudara, tidak pernah mandek, tidak akan mandek, tetapi akan mengalami ups and down, pasang naik, pasang surut, pasang naik, pasang surut.

Saudara-saudara mengetahui bahwa kita mengalami pasang naiknya revolusi kita sejak 17 agustus 1945 sampai pada akhir tahun 1949. Kemudian mengalamilah kita pasang surut, 1950 sampai kepada 1957. Alhamdulillah kita mengalami lagi pasang naik, dan pasang naik memuncak sekarang ini kepada persoalan Irian Barat.

Didalam alam pasang naik inilah saudara-saudara, kita harus dapat menempatkan kita punya diri didalam naiknya pasang revolusi Indonesia ini, kita akan tenggelam didalam revolusi, tenggelam dalam arti hilang. Tenggelam didalam arti kita digiling sama sekali oleh revolusi ini. Revolusi tenggelam didalam revolusi itu, hilang, sebagai sampah yang hilang ditelan samudera.

Nah, soal Irian Barat adalah demikian saudara-saudara. Saudara mengetahui segala saja-saja yang ikut-mengikuti satu sama lain daripada persoalan Irian Barat dan akhirnya kita menjalankan konfrontasi politik. Tidak perlu saya ulangi, semua saudara sudah mendengarkan pidato saya pada tanggal 11 desember yang lalu di Yogyakarta. Saudara-saudara bisa mendengarkan pidato saya dihadapan kaum wanita pada hari ibu. Jalannya gelombang perjuangan kita memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan republik saudara-saudara telah mengetahui semuanya. Dan akhirnya, kita pada saat sekarang ini mencapai satu tingkat yang tinggi dalam perjuangan itu.

Maka saudara-saudara, saya berkata dalam Kongres Gerwani dengan tegas agar supaya benar-benar kita memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan republic, maka kita harus menyelenggarakan satu persatuan total. Satu persatuan total, persatuan daripada segenap tenaga yang ada didalam bangsa kita Indonesia ini. Maka disinilah tempatnya pengertian benar-benar akan salahnya sesuai phobi.

Kalau orang bicara tentang persatuan total, jangalah bicara tentang phobi. Jangan kita menderita komunistophobi, jangan kita menderita nationalistophobi, jangan kita menderita islamophobi. Persatuan total hanyalah bisa kita selenggarakan benar-benar jikalau tidak ada manusia diantara bangsa Indonesia ini menderita suatu phobi.

Saya lihat kedalam nasionalis menderita islamtophobi. Hilangkan penderitaan yang demikian itu. Ada yang menderita dikalangan kaum nasionalis, komunistophobi. Hilangkan yang demikian itu, juga dalam Partindo. Sebab saya tahu, bung Karno ini meskipun sudah tua, 60 tahun, mungkin karena oleh bung Karno ini presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republic Indonesia, sekarang malah dikatakan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, ditambah lagi dengan title baru lagi Pemimpin Besar Pengerahan Tenaga untuk memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan republic. Mungkin karena itu, bung Karno ini tua-tua matanya seribu saudara-saudara, mata seribu, telinga dua ribu. Dan dengan mata seribu, telingan dua ribu itu bung Karno mengetahui bahwa didalam Partindo pun ada orang-orang yang menderita komunistophobi. Dengan terus terang saja saudara-saudara, didalam Partindo juga ada makelar-makelar gelap. Dan makelar-makelar gelap ini harus kita keluarkan dari Partindo. Makelar gelap daripada orang-orang yang yaitu “jangan sampai….komunistophobi, katanya ini, jangan sampai dapat pengaruh besar….he, Partindo jangan terlalu rapat sama PKI”.

Ini zaman bukan phobi-phobian, ini adalah zaman untuk mengadakan persatuan total diantara bangsa Indonesia. Saya menghendaki kepada PNI jangan menderita komunistophobi, saya minta kepada PNI jangan menderita komunistophobi, saya minta kepada Nahdatul Ulama jangan menderita nasionalistophobi, saya minta kepada Nahdatul Ulama jangan menderita komunistophobi, jangan ada phobi-phobian. Saya ulangi lagi bagaimana kita bisa menggembleng persatuan total jikalau kita masih phobia-phobian.

Nah, jikalau itu terang saudara-saudara, maka marilah kita laksanakan kita punya darma didalam sejarah, antara lain, saya kata, antara lain masukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan republic. Satu darma lain ialah untuk nanti membikin kuat kita punya Negara republic Indonesia kesatuan ini. Dharma lain ialah menyelenggarakan suatu masyarakat yang adil dan makmur, yang dengan tegas saya katakan ini adalah masyarakat sosialis. Dharma lain ialah untuk membangun satu dunia batu menurut kerangka nomor tiga daripada dharma bakti bangsa Indonesia.

Saudara-saudara dalam menjalankan dharma-dharma kita itu kita harus benar-benar berdiri diatas kewajiban-kewajiban yang diletakkan oleh sejarah diatas pundak kita.

Maka saudara-saudara, saya ulangi apa yang saya katakan dihari ibu. Sekarang pun habis waktunya untuk hanya pernyataan-pernyataan dukungan-dukungan. Komando Rakyat kami dukung sepenuhnya.

Saya tadi mengucapkan syukur Alhamdulillah, bahwa ucapan saudara Asmara Hadi sebenarnya dikoreksi oleh saudara Winoto. Pak Asmara ucapkan oleh presiden. Taat, taat itu seperti “inggih, semuhun dawuh”, abdi nah taat, nuwun inggih, dalem taat. Saya minta Partindo bukan hanya taat kepada Komando Rakyat yang diucapkan presiden pada tanggal 19 desember yang lalu, tetapi bahwa itu sebenarnya adalah pengutaraan dari hati Partindo sendiri. Lantas dikatakan pak Winoto tadi, malahan Partindo berjalan dimuka bung Karno. Ya memang, tetapi saya pun minta, jangan hanya Partindo saja berjalan dimuka bung Karno. Ya memang, tetapi juga saya minta, jangan hanya Partindo saja berjalan dimuka bung Karno, PKI dimuka bung Karno, PNI dimuka bung Karno, NU dimuka bung Karno, Sobsi dimuka bung Karno, seluruh rakyat Indonesia dimuka bung Karno. Sebab saudara-saudara, politik pada waktu sekarang ini sudah mencapai satu tingkat lagi yang lebih tinggi daripada yang biasa. Dulu, apa yang dinamakan politik? Politik dulu itu yah, siapa yang menulis disurat kabar…….politik……..adalagi, kalau ada orang pidato……..politik. sekarang ini sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi. Ingat, tahun 1927, 34 tahun yang lalu saya peringatkan buat pertama kali didalam pidato kursus saya di Cilentah-saya ingat benar, ya Cilentah Bandung-bahwa politik adalah sebagai yang sekarang saya ulangi beberapa kali, penyusunan tenaga dan penggunaan tenaga, ”machtsvorming dan machtsontplooing”. Sehingga saya berkata, siapa yang mengatakan dia menjalankan politik, tapi tidak menyusun macth, tidak menjalankan machtsvorming dan machtsontplooing, orang yang demikian itu, kataku, sekedar menjalankan politik-politikan.

*) Pidato Bung Karno di depan peserta Kongres Partindo, di Gedung Olahraga, Jakarta, tanggal 26 Desember 1961.

Perfect Day

BTricks


ShoutMix chat widget

Pengunjung

PENGUNJUNG

free counters